NovelToon NovelToon
SALAH KAMAR BERUJUNG IJAB KABUL SANG HABIB

SALAH KAMAR BERUJUNG IJAB KABUL SANG HABIB

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Aisyah menjual kecantikannya sebagai 'Nayla' demi membayar utang judi ayahnya senilai miliaran rupiah. Tapi satu kesalahan kamar di hotel bintang lima mengubah segalanya.
Ia tertangkap basah di atas tubuh Habib Ammarullah seorang Habib muda tampan nan taat oleh Abahnya sendiri yang merupakan seorang Syech terpandang.
Demi menanggung akibat fitnah tersebut, Habib Ammar mengambil keputusan nekad: Menikahi sang kupu-kupu malam malam itu juga. Mampukah seorang Habib muda membimbing wanita keras hati yang telah membenci Tuhan, atau justru masa lalu kelam Aisyah yang akan menghancurkan nama besar keluarganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERMAINAN PERAN DAN PERASAAN YANG TERJEPIT

Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar utama, membiaskan garis-garis cahaya ke emas di atas lantai marmer. Suara deru halus mesin pendingin udara adalah satu-satunya bunyi yang mengisi kesunyian di antara dua manusia yang terikat pernikahan tanpa landasan cinta.

Aku terbangun lebih awal. Di atas sofa kulit yang sempit, Ammar masih berbaring miring. Kakinya yang panjang tertekuk canggung, dan selimut tipis menutup hingga batas dadanya. Dalam lelapnya, wajah Ammar yang biasa diliputi ketegangan dan tatapan dingin tampak jauh lebih lembut. Alis tebalnya tak menegang, dan helai rambut hitamnya yang sedikit berantakan jatuh di atas kening.

Sekilas, ia hanyalah seorang pria muda berusia dua puluh lima tahun yang menanggung beban nama besar keluarga di atas pundaknya. Bukan sosok 'Habib yang kaku dan tajam' seperti yang ditunjukkannya setiap kali menatapku.

Aku beringsut turun dari kasur sepelan mungkin. Mengingat Ibu dan Awan ada di lantai bawah, aku harus membiasakan diri bertindak sesuai skenario yang sudah kususun semalam: menjadi seorang istri.

Usai membersihkan diri dan mengenakan pakaian paling rapi yang aku miliki—sebuah gamis katun simpel berwarna biru dongker pemberian Ibu dari kampung—aku melangkah turun ke dapur.

Ibu ternyata sudah ada di sana. Wajahnya yang kemarin pucat pasi kini memancarkan rona kehidupan. Dengan gerakan perlahan, Ibu sedang merapikan beberapa piring di atas konter dapur.

"Pagi, Bu," sapa ku seraya memeluk bahu kurusnya dari belakang.

Ibu menoleh, mengulas senyum paling hangat yang tak pernah kulihat selama berminggu-minggu. "Pagi, Aisyah... Masya Allah, anak Ibu cantik sekali pagi ini. Mana Mas Ammar? Sudah bangun?"

"Mas Ammar masih di kamar, Bu. Lagi siap-siap," bohongku lancar. "Ibu jangan cape-cape dong, kan kata dokter harus banyak istirahat."

"Ibu cuma menyiapkan air hangat buat teh," kekeh Ibu pelan. Mata tua Ibu lalu menatapku dengan binar keharuan yang mendalam. "Aisyah... Ibu senang sekali melihat kamu punya suami sebaik dan sebertanggung jawab Mas Ammar. Jangan lupa siapkan sarapan buat suamimu ya, Nak. Patuh sama Mas Ammar. Surga kamu sekarang ada di dia."

Kata 'surga' yang diucapkan Ibu terasa bagaikan duri tajam yang menusuk dadaku. Jika Ibu tahu bagaimana 'suami bertanggung jawab' itu menatapku seperti noda kotor di kamar hotel semalam, mungkin jantung Ibu akan hancur seketika.

"Iya, Bu. Aisyah ingat," jawabku mengangguk pelan.

Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari tangga. Ammar turun dengan pakaian rapi—baju koko putih bersih berkerah shanghai, celana bahan gelap, serta peci hitam yang terpasang sempurna. Aromanya yang khas, perpaduan wangi kayu cendana dan sabun alami, langsung menyeruak memenuhi area dapur.

Saat matanya beradu dengan pandanganku, Ammar sempat membeku sejenak. Namun, begitu menyadari keberadaan Ibu di dekat konter dapur, raut wajah Ammar berubah dalam hitungan detik. Senyuman tipis dan sangat sopan langsung terukir di wajah tampannya.

"Assalamu'alaikum, Ibu," sapa Ammar dengan suara lembut dan santun, melangkah mendekati Ibu.

"Wa'alaikumussalam warahmatullah, Mas Ammar," jawab Ibu berseri-seri. Ibu meraih tangan Ammar hendak menciumnya sebagai bentuk rasa hormat pada sang menantu, namun Ammar dengan cepat menahan tangan Ibu dan justru membungkuk, mencium tangan tua Ibu dengan penuh takzim.

"Jangan, Bu. Ammar yang harus cium tangan Ibu," ucap Ammar halus.

Aku yang berdiri di dekat kompor menatap adegan itu dengan takjub sekaligus sinis. Sandiwara pria ini benar-benar kelas atas, batinku. Ia bisa berakting menjadi menantu idaman dalam hitungan detik.

Ibu tersenyum haru, matanya berkaca-kaca. "Masya Allah... Mas Ammar sudah mau ke pesantren pagi ini?"

"Iya, Bu. Ada beberapa jam mengajar kitab di pesantren Abah sampai siang," jawab Ammar. Tangannya lalu bergerak secara alami meraih bahuku, merangkulnya dengan lembut.

Deg!

Tubuhku tegang seketika. Sentuhan telapak tangan Ammar yang hangat di bahuku terasa seperti sengatan listrik. Napasku tercekat saat Ammar mendekatkan tubuhnya, membuat aroma tubuhnya mengurungku sepenuhnya.

"Aisyah..." panggil Ammar dengan suara bariton yang teramat halus di dekat telingaku. "Mas berangkat dulu ya. Kamu jaga Ibu di rumah baik-baik."

Mataku membelalak pelan menatapnya. Ammar menatapku lurus, memperingatkanku lewat binar matanya agar aku menyambut aktingnya dengan sempurna.

Aku menelan ludah, menekan gejolak aneh di dalam dadaku. "I-iya, Mas. Hati-hati di jalan."

Secara refleks dan demi meyakinkan Ibu yang menonton kami dengan tatapan berbinar, aku mengulurkan tanganku, meraih jemari kanan Ammar, lalu mencium punggung tangannya dengan takzim.

Saat bibirku menyentuh kulit punggung tangannya, aku merasakan tubuh tegap Ammar sedikit tersentak kaku. Jemarinya bergetar halus di dalam genggamanku sebelum akhirnya ia menarik tangannya perlahan.

"Ammar pamit dulu, Bu. Assalamu'alaikum," ucapnya cepat seraya berbalik melangkah menuju pintu depan dengan terburu-buru, seolah-olah ia baru saja melarikan diri dari medan perang.

Ibu menghembuskan napas lega, memegangi dadanya. "Lihat kan, Sya? Mas Ammar itu romantis dan sangat menghargai kamu. Beruntung sekali kamu, Nak."

Aku hanya bisa tersenyum kaku seraya mengusap bekas sentuhan Ammar di bahuku. Romantis? Ini bukan romansi. Ini adalah pertunjukan sandiwara terhebat demi menutup skandal terbesar dalam hidupnya.

Siang hari, rumah terasa sepi. Awan sedang asyik bermain dengan mobil-mobilan baru yang dibelikan pengawal Abah, sementara Ibu tertidur pulas di kamarnya usai minum obat dari dokter.

Aku duduk di teras samping rumah, menikmati angin sayup-sayup yang bertiup di antara tanaman hias. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, aku merasakan ketenangan tanpa perlu cemas dikejar debt collector atau memikirkan dari mana mendapatkan uang lima puluh ribu rupiah untuk sekadar makan besok.

Namun, ketenangan itu terusik saat sebuah mobil sedan perak memasuk halaman depan rumah.

Seorang pria paruh baya bertubuh tegap turun dari mobil tersebut. Pria itu menggunakan jubah putih dan peci khas Abah Syekh Ali. Beliau datang sendirian tanpa pengawal.

Jantungku berdebar pelan. Aku segera berdiri dan melangkah ke pintu depan untuk menyambutnya.

"Assalamu'alaikum, Aisyah," sapa Abah dengan suara yang sangat teduh dan bijaksana.

"Wa'alaikumussalam, Abah," balasku seraya menundukkan kepala hormat. "Mari masuk, Bah."

Abah melangkah masuk ke ruang tamu, mendudukkan tubuh tuanya di sofa. Pria yang memegang tongkat kayu itu memperhatikan sekeliling ruangan sebelum akhirnya matanya tertuju padaku.

"Bagaimana keadaan ibumu, Nak?" tanya Abah lembut.

"Alhamdulillah sudah jauh lebih baik, Bah. Dokter tadi pagi bilang tekanan darah dan detak jantung Ibu sudah stabil," jawabku jujur. "Terima kasih banyak atas semua bantuan Abah... Saya... saya tidak tahu harus membalasnya seperti apa."

Abah tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak perlu membalas apa pun, Aisyah. Ini semua sudah menjadi suratan takdir dari Allah. Abah datang ke sini bukan cuma untuk menanyakan kabar ibumu, tapi juga ingin bicara empat mata denganmu."

Aku menelan ludah, mendudukkan diriku di sofa yang berhadapan dengan Abah. "Bicara soal apa, Bah?"

Abah meletakkan tongkat kayunya di samping sofa, menatapku dengan pandangan mata tua yang sarat akan pengalaman dan kearifan hidup.

"Soal Ammar... dan masa depan kalian," ucap Abah pelan.

Dadaku terasa agak menyempit. "Masa depan kami? Bukankah... bukankah pernikahan ini cuma siri dan dirahasiakan seperti syarat yang saya ajukan?"

"Pernikahan siri tetaplah pernikahan yang sah di mata Allah, Aisyah," tegur Abah halus namun tegas. "Mungkin awal dari pertemuan kalian ternoda oleh sebuah kesalahan fatal dan tipu daya dunia. Tapi tidak ada satu pun daun yang gugur di bumi ini tanpa izin Allah, apalagi sebuah ikatan pernikahan."

Abah menghela napas panjang, tatapannya menerawang sejenak.

"Ammar itu putra tunggal Abah," lanjut Abah. "Sejak kecil, dia dibesarkan dalam lingkungan ilmu agama yang sangat ketat. Dia anak yang taat, cerdas, dan tidak pernah membantah orang tua. Tapi karena hal itu pula... Ammar tumbuh menjadi pribadi yang kaku, keras pada dirinya sendiri, dan tertutup."

Aku membisu, mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut pria tua terhormat ini.

"Abah tahu," Abah menatap mataku dalam-dalam. "Ammar bersikap dingin padamu. Dia menganggapmu sebagai noda yang merusak garis hidupnya. Tapi Abah mohon padamu, Aisyah... jangan benci putraku."

"Saya tidak membencinya, Bah," bisikku jujur. "Saya cuma sadar diri di mana posisi saya. Saya bukan wanita baik-baik dari keluarga terpandang seperti Syarifah Zahra."

Mendengar nama Zahra disebutkan, raut wajah Abah menyiratkan sedikit rasa bersalah.

"Zahra adalah anak sahabat Abah, gadis yang memang sejak lama dijodohkan dengan Ammar oleh keluarga kami," akuisisi Abah jujur. "Tapi takdir berkata lain. Allah menutup jalan Ammar dengan Zahra, dan membuka jalan Ammar bersamamu melalui pintu ujian ini. Abah melihat sesuatu di dalam dirimu, Aisyah... Di balik pakaianmu yang dulu dan bahasa tubuhmu yang keras, kamu punya hati yang sangat suci demi memuliakan ibumu."

Air mata merebak hangat di sudut mataku. Belum pernah ada orang asing—terutama ulama besar yang memandang jiwa kelamku dengan tatapan seindah dan sehalus ini.

"Abah tidak akan memaksa kamu untuk langsung berubah menjadi wanita berhijab atau ahli ibadah," lanjut Abah lembut. "Sesuai syarat pertama yang kamu minta, tidak ada paksaan. Tapi Abah minta satu hal padamu sebagai seorang suami dan istri..."

"Apa itu, Bah?"

"Berikan waktu untuk saling mengenal. Buka sedikit celah di hatimu untuk Ammar, sebagaimana Abah meminta Ammar untuk belajar membimbingmu dengan kasih sayang, bukan dengan keangkuhan ilmunya."

Abah merogoh saku jubahnya, mengeluarkan sebuah kotak beludru hijau kecil dan meletakkannya di atas meja di depanku.

"Ini hadiah dari Abah untuk pernikahan kalian. Simpanlah."

Setelah mengucapkan kalimat itu dan mendoakan kesehatan Ibu, Abah pamit pulang. Aku berdiri di pintu, menatap mobil Abah melaju meninggalkan halaman. Tanganku menggenggam kotak beludru hijau itu dengan hati yang berkecamuk hebat.

Malam hari kembali menyelimuti rumah. Pukul sembilan malam, Ammar baru kembali dari pesantren. Pria itu tampak sangat lelah. Wajah tampannya kusam, dan langkah kakinya melambat saat menaiki tangga menuju kamar utama di lantai dua.

Aku sedang duduk di tepi ranjang saat Ammar masuk ke dalam kamar. Pria itu melonggarkan kancing atas baju kokonya, melepaskan peci, lalu menyisir rambut hitamnya ke belakang dengan jemari tangan.

Ammar melirikku sekilas, lalu berjalan menuju meja kerja untuk meletakkan tas jalanya.

"Abah datang tadi siang?" tanya Ammar datar tanpa menoleh.

"Iya," jawabku pelan. "Abah cuma nanya kabar Ibu dan ngobrol sebentar."

"Ngobrol apa?" Ammar berbalik, menatapku dari balik meja kerja dengan pandangan menyelidik.

Aku diam sejenak. Aku mengambil kotak beludru hijau dari meja rias dan meletakkannya di atas kasur. "Abah memberikan ini."

Kening Ammar berkerut. Ia melangkah mendekati ranjang, mengambil kotak kecil itu lalu membukanya.

Di dalam kotak beludru tersebut, terbaring sepasang cincin emas putih dengan desain simpel namun sangat elegan. Di bagian dalam lingkar cincin itu, terukir nama kami dalam bahasa Arab: Ammar & Aisyah.

Ammar terpaku menatap sepasang cincin itu. Garis rahangnya mengeras, dan pendar matanya memancarkan gejolak emosi yang rumit.

"Abah benar-benar serius dengan semua ini..." bisik Ammar lirih, lebih kepada dirinya sendiri. Suaranya terdengar frustrasi.

"Kamu gak perlu pakai cincin itu kalau gak mau," cetusku tenang, berdiri dari tepi kasur. "Aku tahu kamu tertekan dengan semua permainan ini."

Ammar mendongak, menatap mataku dengan tajam. "Kamu pikir ini permainan, Aisyah?! Pernikahan ini menghancurkan seluruh rencana masa depanku! Bulan depan seharusnya saya melamar Zahra secara resmi! Seluruh jamaah pesantren dan keluarga besar sudah menunggu momen itu!"

Mendengar nama Zahra kembali terucap dari mulutnya dengan nada penuh kerinduan dan penyesalan, dadaku mendadak terasa nyeri sebuah rasa sakit asing yang seharusnya tidak kuarasa.

"Kalau begitu ceraikan aku!" seruku, emosiku mendadak terpancing naik. Aku menatap Ammar dengan mata menyalang. "Ceraikan aku sekarang juga! Biarkan aku pergi bawa Ibu dan Awan! Kamu bisa balik ke Syarifah Zahra kesayanganmu itu dan pura-pura kalau malam di hotel itu gak pernah terjadi!"

"Kamu pikir membuang pernikahan semudah itu?!" bentak Ammar keras, melangkah maju mendekatiku hingga jarak kami hanya tersisa beberapa senti. Aura keberadaannya yang dominan dan marah mengurungku seketika. "Abah tidak akan pernah meredhai perceraian tanpa alasan syar'i! Kamu mau saya menjadi anak durhaka pada Abah?!"

"Lalu kamu mau apa?!" teriakku tepat di depan wajahnya, air mata amarah menetes di pipiku. "Kamu benci sama aku! Kamu mandang aku kayak kotoran! Tapi kamu juga gak berani nolak keinginan Abahmu! Kamu cuma pria penakut yang berlindung di balik jubah dan peci mahalmu itu, Ammar!"

PLAK!

Suara makianku terhenti. Ammar tidak memukulku, melainkan mencengkeram kedua bahuku dengan sangat kuat, menghentak tubuhku hingga punggungku membentur dinding kamar yang dingin.

Napas Ammar memburu, terasa panas mempa pipiku. Mata cokelat mewahnya yang biasa dingin kini berkilat-kilat penuh amarah, kekecewaan, dan gairah tertahan yang teramat sangat. Pria itu menatap bibirku yang gemetar, lalu mengalihkan pandangannya ke mataku.

"Saya bukan pria penakut, Aisyah!" bisik Ammar dengan suara rendah yang sangat berbahaya, terdengar dalam dan serak di kegelapan kamar. Cengkeramannya di bahuku perlahan melunak, berubah menjadi elusan halus yang membuat bulu kudukku berdiri. "Kamu tidak tahu... seberapa keras saya menahan diri setiap malam berada satu kamar dengan wanita sepertimu..."

Jantungku berdegup kencang bagaikan drum yang ditabuh bertubi-tubi. Tatapan mata Ammar malam ini berbeda. Tidak ada lagi rasa benci kaku seorang Habib, melainkan tatapan seorang pria dewasa yang dinding pertahanannya mulai runtuh diterjang gelombang godaan.

Ammar mendekatkan wajahnya perlahan. Jarak di antara bibir kami makin mengikis... hingga aku bisa merasakan kehangatan dari embusan napasnya.

1
Lilis Ilham
kasihan juga zahra
falea sezi
lanjut q kriim bunga
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!