NovelToon NovelToon
GADIS KECIL SANG PEMBUNUH BAYARAN

GADIS KECIL SANG PEMBUNUH BAYARAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Isekai / Romansa Fantasi
Popularitas:441
Nilai: 5
Nama Author: Rienza27

Dendam akibat pembantaian keluarganya menjadikan Leo Cristian Theodore (18) seorang pembunuh bayaran berdarah dingin sejak usia sepuluh tahun. Namun, hidupnya berubah drastis saat ia menjalankan misi membasmi sebuah keluarga dan menemukan seorang anak perempuan bernama Vellora Zavendra (5thn) bersembunyi di dalam lemari.

Alih-alih merasa takut saat ditodong pistol, Vellora justru memeluk erat Leo dan memohon untuk dibawa pergi karena sebatang kara. Pelukan polos tersebut meruntuhkan pertahanan sang pembunuh bayaran, membuatnya melihat bayangan dirinya sendiri di masa lalu.

Sejak pertemuan dengan gadis kecil itu kini mengubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. INSIDEN

Di dalam kabin mobil sport mewah yang melaju membelah jalanan pagi, Vellora duduk bersandar dengan kaki mungil yang berayun-ayun gembira. Matanya yang bulat menatap pemandangan dari balik kaca jendela sambil bergumam menyanyikan lagu anak-anak yang nadanya sumbang. Di kursi kemudi, Leo menyetir dengan satu tangan, wajahnya datar tertutup kacamata hitam, kontras dengan suasana ceria di sebelahnya.

"Bagaimana sekolahmu? Apa kau sudah memiliki banyak teman di sana?" tanya Leo tiba-tiba, memecah keheningan. Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibirnya, sedikit dipicu oleh memori masa lalunya sendiri. Ia ingat betul bagaimana dirinya sering bolos hingga akhirnya dikeluarkan dari sekolah saat baru menginjak kelas satu SMA, sangat sering dikeluarkan dari sekolah hingga dia tidak diterima di sekolah mana pun.

Vellora menoleh. "Teman, yah? Eummm... aku punya banyak teman di sekolah!" jawabnya dengan senyuman lebar. Namun, di balik senyuman yang terkesan dipaksakan itu, ia menyembunyikan kenyataan pahit. Di sekolah, ia sering diejek sebagai anak yatim piatu yang menyedihkan karena diantar oleh kakeknya yang sudah tua.

"Baguslah," sahut Leo singkat. Mobil perlahan menepi di depan gerbang taman kanak-kanak yang ramai oleh anak-anak dan orang tua pengantar. "Sudah sampai, anak kecil. Ayo turun."

"Emm, baiklah! Dadah, Kak Leo!" Vellora tersenyum, lalu membuka pintu dan melompat turun dari mobil dengan tas ransel beruangnya.

Leo tidak langsung melajukan mobilnya. Ia diam sejenak, menyalakan mesin perlahan sambil menatap ke arah spion.

Di depan gerbang, kedatangan Vellora rupanya sudah ditunggu oleh sekelompok anak laki-laki dan perempuan. Begitu Vellora mendekat, raut wajah mereka berubah mengejek.

"Yahh, lihat siapa yang datang! Dia diantar aki-aki tua lagi? Dasar anak yatim bau tanah!" pekik seorang anak laki-laki gempal sambil menunjuk-nunjuk Vellora.

"Ahahahaha! Kasihan sekali tidak punya ayah dan ibu! Pantesan cuma punya kakek-kakek yang hampir mati!" timpal seorang anak perempuan bernama Ara dengan nada melengking. Tanpa aba-aba, Ara mendorong bahu Vellora dengan kasar hingga gadis kecil itu kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di aspal.

Lutut Vellora bergesekan dengan jalanan. Air matanya langsung menggenang di pelupuk mata. Ia menatap tajam ketiga anak nakal itu, bibirnya bergetar menahan tangis.

Di dalam mobil, jantung Leo seakan berhenti berdetak. Matanya membelalak tajam di balik kacamata hitamnya saat melihat adegan itu dari kaca spion. Detik itu juga, insting pelindungnya meledak.

CIIIT!

Leo menarik rem tangan dengan kasar. Ia membanting pintu mobil dan berlari menghampiri Vellora bagaikan badai yang mengamuk. Dengan gerakan lembut yang sangat kontras dengan amarah di wajahnya, Leo meraih lengan Vellora dan membantunya berdiri.

"Kau tidak apa-apa? Kenapa kau terjatuh?" tanya Leo, suaranya terdengar dingin namun menyimpan kekhawatiran yang dalam. Ia membersihkan debu dari rok Vellora.

Mata Vellora sudah basah oleh air mata, bibirnya melengkung cemberut.

Leo menoleh perlahan. Tatapan matanya yang setajam elang pemangsa kini tertuju pada ketiga anak nakal yang mendadak kaku seperti patung. "Siapa yang berani menjahilimu?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan mematikan itu. "Jangan takut. Ada aku di sini."

Vellora menunjuk dengan jari telunjuknya yang mungil. "Mereka... mereka jahat. Dari hari pertama aku masuk, mereka selalu mengejekku karena aku tidak diantar orang tuaku. Mereka bilang aku anak yatim yang cuma punya aki-aki tua yang hampir mati," adu Vellora dengan suara serak.

Mendengar itu, urat di leher Leo menonjol. Darahnya mendidih. Ia tidak peduli ini adalah area sekolah dan mereka hanya anak usia lima tahun.

"Berani sekali bocah-bocah ingusan seperti kalian berkata begitu?!" bentak Leo dengan suara baritonnya yang menggelegar, membuat burung-burung di pohon beterbangan. "Apa orang tua kalian di rumah tidak mengajarkan sopan santun sama sekali, HAA?!"

Teriakan Leo bergema di seluruh pelataran sekolah. Sontak, para orang tua murid dan anak-anak lain menoleh ngeri ke arah pemuda berwajah pembunuh yang sedang mengamuk di depan gerbang itu. Ketiga anak nakal itu langsung pucat pasi, tubuh mereka bergetar hebat sebelum akhirnya menangis sejadi-jadinya dan menunduk ketakutan.

Melihat keributan itu, seorang guru wanita tergopoh-gopoh berlari menghampiri mereka. "Ma-maaf, Pak! Ada apa ini? Kenapa Bapak membentak anak-anak?" tanyanya panik melihat murid-muridnya menangis.

Leo menatap guru itu dengan pandangan merendahkan. "Anda gurunya, bukan?! Kalau begitu, ajarin anak-anak sialan ini sopan santun! Jangan biarkan mereka merundung murid lain! Hanya karena adik saya tidak punya orang tua, bukan berarti dia sendirian dan bisa diinjak-injak!" cecar Leo dengan nada kasar yang membuat guru itu kicep.

"Saya kakaknya! Dan camkan ini," Leo menunjuk ketiga bocah yang menangis tersedu-sedu itu, "Sekali lagi saya mendengar adik saya dirundung oleh kalian bertiga... awas saja kalian!" ancamnya tanpa ampun.

"S-sudah, Pak... kita bisa selesaikan masalah ini secara kekeluargaan di ruang guru—" bujuk sang guru, wajahnya memucat melihat aura membunuh dari Leo.

Vellora menarik-narik ujung kemeja Leo. "Kakak... sudah... jangan marah-marah di sini. Semua orang melihat kita," cicit Vellora cemas.

Leo mendengus kasar. Ia menatap Vellora lalu menggandeng tangannya erat-erat. "Sudah. Kau tidak usah sekolah hari ini. Tempat ini sampah. Mending kau pindah sekolah saja!" seru Leo mantap. Tanpa memedulikan guru yang terus memanggil-manggilnya, Leo menarik Vellora kembali menuju mobil.

"T-tapi, Kakak... bagaimana kalau aku dikeluarkan? Nanti Kakek bisa marah besar!" pekik Vellora saat ia sudah duduk manis di dalam mobil, menatap Leo dengan cemas.

Leo menyalakan mesin dan tersenyum miring, sebuah senyuman arogan khas Tuan Muda Theodore. "Tidak apa-apa. Nanti Kakak daftarkan kau di sekolah elit yang lebih layak, tempat di mana tidak ada bocah kurang ajar yang berani menyentuhmu. Biar Kakak yang mengantarmu setiap hari."

Mendengar janji manis itu, rasa sedih di hati Vellora menguap, digantikan oleh senyuman simpul yang lega.

"Lalu... bagaimana dengan Kakek?" tanya Vellora lagi, masih was-was membayangkan wajah murka Liam.

"Emm... soal Kakek tua itu, tenang saja. Biar Kakak yang urus," sahut Leo enteng, menginjak pedal gas menjauhi sekolah.

Tiga puluh menit kemudian, alih-alih pulang ke rumah, mobil sport Leo malah terparkir cantik di depan sebuah taman hiburan akuarium raksasa.

"Kakak, kita mau ke mana?" tanya Vellora bingung melihat patung ikan hiu besar di atas gedung.

"Kita main di sini sepuasnya seharian! Besok baru Kakak antar kau mendaftar ke sekolah baru," ujar Leo sambil tersenyum lebar. Ia menggandeng tangan Vellora, dan keduanya melangkah masuk ke dalam taman hiburan dengan bahagia, melupakan segala drama pagi itu.

Sementara itu, di sekolah TK...

Liam berdiri kaku di ruang kepala sekolah. Wajah tua keriputnya yang biasanya memancarkan aura mengintimidasi, kini harus rela ditekuk dalam-dalam. Ya, Sang Penguasa Keluarga Theodore baru saja ditelepon mendadak dan terpaksa meminta maaf kepada pihak sekolah karena ulah cucu sulungnya.

Setelah keluar dari ruangan dengan urat dahi yang berkedut hebat, Liam berjalan menghentak-hentakkan tongkatnya menyusuri lorong sekolah. Bara, tangan kanannya yang setia, berjalan mengekor di belakang dengan wajah menahan tawa.

"Anak kurang ajar itu benar-benar mesin pembuat masalah!" gerutu Liam dengan napas memburu.

"Sudahlah, Tuan Kakek. Tolong kendalikan emosi Anda, jangan marah-marah. Nanti darah tinggi Anda kumat lagi," bujuk Bara setengah mati menenangkan bos besarnya.

"Bagaimana aku tidak kesal, Bara?!" Liam berbalik, menatap Bara dengan mata melotot. "Dulu, bocah tengik itu bolos terus sampai dikeluarkan dari berbagai macam sekolah SMA sampai tidak ada yang mau menerimanya lagi disekolah mana pun, dan dia bahkan menolak untuk sekolah lagi! Sekarang, apa dia mau menjadikan Vellora putus sekolah sepertinya, HAA?!"

Bara hanya bisa menghela napas panjang dan memijat pelipisnya. Sepanjang perjalanan menuju mobil, lorong sekolah itu penuh dengan ocehan dan omelan Liam yang tiada henti, mengutuk kelakuan cucu kesayangannya yang sama sekali tidak punya bakat menjadi wali murid yang normal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!