Yurinika tak mengira akan di labrak oleh selingkuhan suaminya. bukan hanya sekali tapi berkali-kali selingkuhannya itu datang dan melabrak dia. memintanya meninggalkan sang Suami Abimana. pria bingung itu justru tak mau meninggalkan keduanya.
hingga akhirnya Yuri benar-benar kecewa kepada Abimana dan saat tahu Sandra adalah anak dari atasannya di kantor membuat Yuri memiliki ide untuk memanfaatkannya.
apa yang akan di lakukan Yuri atas rasa kecewa yang dia dapat dari suami yang sudah dia bersamai dari titik nol sampai mereka menikah dua tahun? ikuti terus ceritanya.
dan jangan lupa baca karya othor lainnya dengan mencari nama pena Yam_zhie.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yurinika 20
Lima menit kemudian, Yuri melangkah menghampiri meja sudut di dekat jendela. Di atas nampan kayu yang dibawanya, tersaji secangkir Americano panas yang mengepulkan aroma pekat serta sepinggan croissant keemasan.
"Pesanan Mas Adhiyaksa," ujar Yuri datar seraya meletakkan cangkir dan piring itu di atas meja.
"Terima kasih, Mbak Yuri," jawab Adhiyaksa ramah. Ia menggeser sedikit laptopnya yang sudah menyala, lalu menunjuk kursi kosong di hadapannya menggunakan pulpen emas.
"Silakan duduk. Jangan berdiri seperti terdakwa yang sedang menunggu vonis."
Yuri menarik napas perlahan, melirik sekilas ke arah meja kasir tempat Ajeng sedang mengacungkan dua jempolnya dengan wajah penuh godaan. Yuri menggeser kursi kayu tersebut dan duduk berhadapan langsung dengan Adhiyaksa.
"Jadi, apa yang mau Mas bicarakan?" tanya Yuri langsung pada intinya, melipat kedua tangannya di atas meja.
"Uang satu miliar itu kan belum cair penuh dari Sandra. Kenapa Mas kelihatan yakin banget kalau dia akan memberikan uang sebanyak itu kepada saya? Saya saja santai kenapa Masnya yung malah exited?"
Adhiyaksa menyesap kopi Americanonya perlahan, menikmati aroma pahitnya sejenak sebelum meletakkan kembali cangkir seramik itu ke tatakannya.
"Karena psikologi wanita seperti Sandra itu sangat mudah ditebak, Mbak Yuri," tutur Adhiyaksa dengan intonasi berat dan teratur.
"Wanita yang terbiasa hidup dengan gengsi tinggi dan harga diri berlebihan tidak akan sanggup menanggung malu jika reputasi ayahnya hancur. Foto Mbak tidur bersama Abimana semalam adalah pukulan telak yang meremukkan logikanya. Dia sedang panik luar biasa."
Yuri tertegun sejenak. "Mas tahu soal foto itu?"
Adhiyaksa menyunggingkan senyum miring yang sarat akan intrik. "Saya tidak perlu mengintip ponsel Mbak Yuri untuk tahu. Dari wajah Mbak yang begitu puas dan rileks pagi ini saja, saya tahu Mbak baru saja memberikan racun dosis tinggi yang membuat musuh Mbak tidak tidur semalaman."
"Mas ini benar-benar seram ya..." gumam Yuri sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Analisis Mas terlalu detail buat ukuran orang asing. Mas ini bukan Mbah dukun kan?" Adhiyaksa terkekeh saat Yuri malah mengira dirinya dukun.
"Bukan seram, tapi terukur dan tentu saja saya lebih berpengalaman dari kamu!," potong Adhiyaksa seraya membuka map dokumen kulit hitamnya di atas meja. Ia mengeluarkan tiga rangkap berkas tebal berstempel hukum dan menggesernya tepat ke hadapan Yuri.
"Ck! Sombong dan menyebalkan sekali anda Pak Analis dan pengacara. Pengangguran yang acaranya nongkrong aja di sini setiap hari!" Oceh Yuri.
"Kamu bawel juga Mbak Yuri!"
"Namanya juga wanita, Mas. Pasti bawel mah! Katanya lebih berpengalaman, tapi kok nggak tahu?"
"baiklah... silahkan buka halaman pertama," perintah Adhiyaksa lembut namun tegas.
Yuri meraih berkas tersebut dan membacanya. Matanya menyipit saat membaca judul di bagian atas surat: Draft Surat Perjanjian Kemitraan Hukum, Gugatan Cerai Perceraian dengan Tuntutan Nafkah Mut'ah, serta Permohonan Pemblokiran Aset Bersama atas Nama Abimana Pratama.
"Ini..." Yuri mendongak menatap Adhiyaksa.
"Itu adalah benteng pertahanan Mbak Yuri," jelas Adhiyaksa, membetulkan letak kacamatanya.
"Begitu uang satu miliar dari Sandra ditransfer ke rekening Mbak Yuri, Sandra atau ayahnya mungkin akan sadar dan mencoba menuntut balik atas tuduhan pemerasan atau pengancaman. Tapi dengan draf perjanjian di tangan Mbak ini, uang satu miliar itu secara hukum akan dilegalkan sebagai pembayaran ganti rugi imateriil dan kesepakatan damai di luar pengadilan atas perselingkuhan Abimana."
Adhiyaksa menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap Yuri lekat-lekat dengan pandangan yang amat dalam.
"Dengan kata lain... begitu Mbak tanda tangani berkas ini dan uangnya masuk, Sandra tidak bisa menuntut Mbak, Abimana tidak bisa meminta bagian sepeser pun dari satu miliar itu, dan Mbak sah menjadi janda kaya yang bebas murni."
Yuri menatap lembaran-lembaran kertas di tangannya. Suasana di meja sudut mendadak hening. Di balik sikap arogan dan gaya bicaranya yang menyebalkan, Adhiyaksa ternyata telah merancang skenario hukum yang begitu rapat dan tanpa celah sedikit pun untuk melindunginya.
"Kenapa Mas Adhiyaksa melakukan semua ini buat saya?" tanya Yuri pelan, menatap lurus ke manik mata pria di hadapannya.
"Diskon fee, menyiapkan berkas secepat ini, bahkan memasang badan dari ancaman hukum keluarga Sandra... Apa keuntungan Mas yang sebenarnya?"
Adhiyaksa tersenyum tipis, senyuman yang kali ini terasa lebih hangat dan jujur. Pria itu memajukan tubuhnya sedikit ke arah Yuri, memelankan suaranya.
"Keuntungan saya sederhana, Mbak Yuri," bisik Adhiyaksa dengan nada mantap.
"Saya suka bekerja sama dengan wanita cerdas yang tahu cara berdiri di atas kakinya sendiri. Dan melihat pria parasit seperti Abimana kehilangan istri terbaiknya sekaligus ditinggalkan selingkuhannya... adalah pementasan hukum terbaik yang tidak ingin saya lewatkan."
"Tapi kenapa saya merasa tak percaya seratus persen? Saya masih harus memikirkan ulang, karena saya takut nanti ada udang di balik bakwan, atas tindakan anda itu!"
"Wah boleh tuh! Bakwan udang di cocol sambal, apa anda mau membuatkan untuk saya? Di tambah dengan nasi hangat!"
"Minta sama istri anda! Ck. Simpan dulu saja, Mas! Kok saya malah makin mumet ngomong sama anda! Jangan membuat mood saya ambyar pagi-pagi ya!"
Di lain tempat, di area perkantoran yang megah, suasana ruangan kerja Abimana mendadak tegang.
Tanpa mengetuk pintu, Sandra melangkah masuk dengan langkah lebar dan angkuh. Wajahnya yang sembab dan pucat akibat menangis serta kurang tidur semalaman dipoles tebal dengan riasan. Kendati demikian, sorot matanya yang tajam dan menahan amarah tidak bisa disembunyikan sama sekali.
Pintu kantor dibanting pelan, membuat Abimana yang sedang bersandar santai di kursi kerjanya tersentak kaget.
"Sandra?" Abimana buru-buru berdiri, memasang raut cemas sekaligus gugup.
"Kamu... kamu dari mana aja? Semalaman telepon aku enggak diangkat, terus pesan aku cuma centang satu! Kamu tahu enggak, aku pusing banget mikirin..."
"Stop! Mas Abimana!" potong Sandra dingin, suaranya bergetar menahan luapan emosi yang hampir meledak. Ia berjalan mendekati meja kerja Abimana, meletakkan kedua tangannya di atas meja kayu yang dipoles mengilap itu, lalu menatap Abimana dengan pandangan menusuk.
Abimana mengerutkan kening, kebingungan setengah mati melihat sikap selingkuhannya yang tidak seperti biasa.
"San, kamu kenapa sih? Ada masalah di kantor Papa kamu? Atau..."
"Peluk aku Mas... Aku sedang butuh pelukan kamu..." pinta Sandra.
"Tapi..."
Akhirnya Abimana memeluk Sandra, daripada wanita itu marah dan mengambil kartunya. Apalagi berkat Sandra, dia bisa membayar tagihan rumah dan juga belanja bulanan di rumah. Dia tak boleh membuat Sandra marah dulu, apalagi ayahnya juga sedang mengusahakan promosi jabatan manager untuknya. Walau baru beberapa bulan menjabat menajdi wakil manager.
"Ada apa sih? Kenapa kamu manja sekali?" tanya Abimana mengurai pelukan dan bicara sangat lembut.
"Kamu tidak lupa kan? Kalau besok kamu akan ajak aku bertemu dengn kedua orang tua kamu sebelum kamu datang menemui Papa untuk melamar aku..."
DEGH
km udh gx bisa keluar dr cengkraman nenek lampir berkedok malaikat mu😏
knp km nekat ,, gila gilaan bersama nenek lampir ,, gila gilaan ,, gila gilaan ,,
lama2 km jd gila beneran Abimana😏😏😏