Ia mengenal dunia ini sebagai permainan. Kini, setiap kesalahan bisa merenggut nyawanya.
Setelah meninggal saat mengejar quest rahasia, Lin Feng terbangun di dunia Eternal Heaven Online, game kultivasi yang telah ia mainkan bertahun-tahun. Pengetahuannya tentang peta, sekte, dungeon, dan alkimia memberinya bekal untuk bertahan. Namun, dunia ini nyata: tak ada tombol keluar atau kesempatan respawn.
Lebih buruk lagi, peristiwa mulai menyimpang dari ingatannya. Orang-orang yang dulu ia anggap karakter permainan memiliki kehendak sendiri, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Untuk bertahan dan mengungkap misteri dunia barunya, Lin Feng menempuh jalan alkimia—dari meracik pil sederhana hingga mengejar puncak yang disebut Pill Sovereign.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 - UPAH SEHARI
Pemilik penginapan membangunkan Lin Feng sebelum matahari benar-benar naik.
“Tempat tidurmu sudah dibayar sampai pagi,” katanya. “Kalau kau ingin tinggal lagi, bayar dulu.”
Lin Feng duduk dan menggosok wajah. Tubuhnya kaku setelah tidur di atas alas tipis. Ia merogoh kantong, meski sudah tahu tidak ada uang di sana.
“Aku akan keluar.”
Pemilik penginapan mengangguk, tidak bertanya lebih jauh. Di ruangan bersama, beberapa orang sudah menggulung alas tidur. Seorang buruh mengikat kantongnya, sementara pedagang yang semalam berbisik tentang kain telah pergi sebelum fajar.
Lin Feng mencuci muka di sumur umum. Air dingin menyadarkannya lebih cepat daripada tidur yang pendek. Ia memakan sisa roti kering dari bungkusan, menyimpan bekal nasi ibunya untuk nanti, lalu mengikuti petunjuk menuju papan kuning di dekat pasar timur.
Papan itu dipasang di bawah atap rendah. Beberapa lembar kertas berisi pekerjaan harian: mengangkat karung, membersihkan saluran, membongkar gerobak, mengantar barang. Di depannya, para pekerja berkumpul sambil menunggu pemilik usaha datang memilih. Kebanyakan bertubuh kuat. Beberapa membawa alat sendiri.
Lin Feng membaca daftar yang masih kosong. Ia tidak memiliki pengalaman mengangkat muatan berat, dan rusuknya masih terasa kaku. Pekerjaan membersihkan saluran mungkin lebih ringan, tetapi papan menyebut upah dibayar setelah satu hari penuh.
“Bisa mengangkat karung?” tanya seorang mandor yang datang membawa papan catatan.
“Tidak berat. Saya baru pulih dari cedera.”
“Kalau begitu, jangan ambil pekerjaan bongkar muat.” Mandor itu memandang barisan, lalu menunjuk beberapa pemuda yang lebih tinggi. “Aku butuh orang yang bisa menyelesaikan pekerjaan hari ini.”
Lin Feng mengangguk. Ia tidak mencoba meyakinkan lelaki itu bahwa ia kuat. Menyembunyikan cedera hanya akan membahayakan dirinya dan barang orang lain.
Pekerjaan membersihkan saluran belum ada yang mengambil, tetapi mandornya membutuhkan pekerja sampai senja dan tidak menyediakan makanan. Lin Feng belum tahu berapa banyak tenaga yang dibutuhkan. Ia berjalan menyusuri papan, bertanya kepada dua orang lain. Yang satu mencari pengalaman, yang lain menyarankan agar ia menunggu sampai rusuknya benar-benar pulih.
Menjelang tengah pagi, ia belum memperoleh pekerjaan.
Ia hampir kembali ke penginapan, lalu teringat pasar bahan obat yang ia lihat dari jauh. Ia mengikuti kanal dan berhenti di deretan toko yang menjual akar kering, kulit kayu, daun, serta botol-botol kecil berisi bubuk. Beberapa papan nama memakai lambang tungku. Yang lain hanya menampilkan nama keluarga atau gambar tanaman.
Lin Feng memperlambat langkah di depan sebuah toko sempit. Di meja dekat pintu tersusun buntalan rumput berurat perak. Di antara yang kering, beberapa lembar tampak lebih gelap. Ia mengira itu rumput yang berasal dari lereng basah, seperti yang dijual di pasar dusun.
“Yang di kiri berkualitas rendah,” katanya. “Uratnya terlalu rapuh.”
Suara tua menyahut dari dalam. “Kau bisa mengetahui kualitas bahan hanya dengan berdiri di luar?”
Seorang pria berambut kelabu muncul dari balik tirai. Usianya sulit dipastikan, tetapi tubuhnya tegak dan langkahnya mantap. Jemarinya berwarna kecokelatan, seolah lama terkena asap atau ramuan. Ia memandang Lin Feng dengan mata yang tidak mudah dibuat kagum.
“Aku melihat daun-daunnya,” jawab Lin.
“Kau pernah mengolahnya?”
“Belum.”
“Pernah mengeringkannya?”
“Belum.”
“Pernah menguji khasiatnya?”
“Belum.”
“Lalu dari mana kesimpulanmu?”
Lin Feng ragu. “Dari bentuk dan informasi yang pernah saya pelajari.”
Pria itu mengangkat satu bundel dan membukanya di atas meja. “Ini rumput urat perak dari lereng lembap. Daunnya memang tipis, tapi uratnya tidak rapuh. Yang tampak gelap itu sudah terlalu lama kena panas.”
Lin Feng memperhatikan lagi. Bundel yang ia kira buruk justru memiliki serat lebih utuh. Ia tak bisa membedakan perubahan warna karena pengeringan dari kualitas bahan.
Pria tua itu meletakkan bundel di antara mereka. “Kalau kau berbicara seolah tahu, orang akan menyangka kau tahu. Itu bisa membuat seseorang rugi.”
“Saya belum pernah melihat yang dikeringkan seperti ini.”
“Lalu jangan berpura-pura sudah melihat.”
Ucapan itu membuatnya teringat Wu Shun. “Saya belajar membedakan rumput urat perak dari rumput duri kelabu di dusun. Hanya itu.”
“Nama saya Mo,” ujar pria itu. “Aku menjalankan toko ini. Kalau kau mencari pekerjaan, aku butuh orang untuk membersihkan dan memilah bahan. Bukan untuk menilai kualitasnya.”
Lin Feng menatap tumpukan keranjang di belakangnya. “Saya bisa mencoba.”
“Berapa lama pengalamanmu?”
“Tidak ada pengalaman kerja.”
Mo mendengus. “Setidaknya kau memperbaiki jawabanmu.” Ia menarik bangku pendek. “Duduk. Rusukmu sakit?”
“Sedikit.”
“Kalau kau menjatuhkan keranjang karena rasa sakit, upahmu habis. Kalau kau pingsan, aku kehilangan waktu. Kerjakan yang bisa dilakukan sambil duduk.”
Tugasnya sederhana: memisahkan tangkai patah dari daun kering yang masih dapat dijual, lalu membersihkan tanah dari beberapa akar. Mo menunjukkan tiga jenis bahan dan nama yang dipakai toko. Satu di antaranya memiliki dua sebutan berbeda di dusun dan di kota. Lin Feng membuat catatan kecil pada kertas bekas.
Ia mengira tugas itu akan mudah. Setelah beberapa menit, jari-jarinya mulai terasa kebas oleh debu halus. Bau akar memenuhi hidungnya. Ia beberapa kali salah menaruh tangkai yang tampak sehat, tetapi ternyata sudah menghitam di bagian dalam.
Mo memeriksanya tanpa mengangkat suara. “Kau melihat permukaannya saja.”
“Bagian dalamnya tidak tampak.”
“Kalau begitu, belah satu untuk belajar. Jangan membelah semuanya hanya karena penasaran.”
Lin Feng menahan pertanyaan berikutnya dan mengikuti arahan. Ia membelah satu tangkai, mengamati warna bagian dalam, lalu mengulang pada bahan lain. Perlahan ia mulai memahami bahwa pekerjaan tersebut bukan sekadar mengelompokkan benda yang sama. Ada perbedaan antara bahan rusak, bahan kering, dan bahan yang memang warnanya lebih gelap sejak awal.
Menjelang sore, Mo menimbang hasil kerjanya. “Lambat, tapi tidak merusak banyak.”
“Berapa yang rusak?”
“Dua tangkai. Aku tidak akan membebankan semuanya kepadamu. Kau masih baru.” Ia meletakkan satu keping tembaga di meja. “Upah hari ini. Kalau mau datang besok, datang sebelum toko dibuka. Tidak ada janji aku akan terus mempekerjakanmu.”
Lin Feng mengambil uang itu dengan hati-hati. “Terima kasih.”
“Jangan berterima kasih. Kau bekerja.” Mo kembali ke meja. “Dan lain kali, jangan menilai bahan dari pintu.”
Dengan satu keping, ia membeli semangkuk bubur dan membayar tempat tidur di ruang bersama untuk malam itu. Uang kembali habis, tetapi kali ini ia tahu dari mana satu keping tersebut berasal.
Saat ia berbaring, bau akar kering masih melekat di ujung jari. Ia belum membuat pil, belum mendekati asosiasi, bahkan belum memahami semua nama bahan yang ia sortir.
Namun untuk pertama kalinya sejak tiba di kota, seseorang membayarnya atas pekerjaan yang benar-benar ia lakukan.
Besok, jika Mo mengizinkan, Lin Feng akan kembali ke toko itu.