Sahabat ku bernama Fitriani Septian adalah seorang yang asik kita bersahabat dari kecil bermain bersama bersekolah bersama.
sampai setelah aku kelas 6 SD dan sahabat ku kelas 5 ada siswa baru di kelas 5
sahabatku mereka saling berkenalan dengan siswa baru bernama megiani satu hari itu mereka sudah sangat akrab.
dan hari demi hari sahabat ku yang pernah bersamaku kini dengan murid baru itu. kita jarang bertemu walau rumah kita saling dekat bahkan jika bertemu kita sudah asing tidak seperti dahulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Priska Heriska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Tepat waktu kelompok yang gaya
Aku mengambil pisau kecil dan membantu ibu memotong wortel. aroma tumisan bawang yang harum memenuhi dapur, membawa rasa nyaman yang selalu kurindukan setiap kali pulang ke rumah. ibu mendengarkan dengan seksama sekali mengangguk dan tertawa kecil saat aku menceritakan tingkah lucu beberapa teman baru dan bagaimana ramah-ramanya wali kelas kami yang baru.
"baguslah kalau kamu senang" kata ibu sambil memasukkan sayuran ke dalam panci yang mulai mendidih.
"bapak pasti senang sekali mendengar nanti malam, kamu tahu sendiri kalau bapak selalu bersemangat kalau cerita tentang sekolah kalian syukurlah di SMP punya teman baik"
aku tersenyum menyendokan sayur yang sudah matang ke dalam mangkuk besar. di tengah kesederhanaan ini aku sadar bahwa setiap bapak yang mengayuh grobak bubur sejak subuh, dan setiap lelah ibu yang tak pernah mengeluh di dapur, adalah bahan bakar bagi impian-impianku rasa lelah setelah seharian di sekolah tadi benar-benar tidak ada apa-apanya dibanding perjuangan mereka.
setelah matang aku makan siang bersama ibu, selesai makan aroma masakan ibu masih membekas di udara aku merapikan piring-piring di meja makan. setelah memastikan dapur kembali bersih, aku bergegas menuju kamar dan membuka tas sekolahku lembar tugas yang diberikan oleh Bu Ita guru bahasa Indonesia tadi pagi kini terhampar di atas meja belajar kayu yang sudah agak usang.
aku mencoba Fokus, untuk mengusir rasa kantuk yang biasanya menyerang setelah makan. jam dinding menunjukkan pukul dua siang. aku punya waktu beberapa jam sebelum bapak pulang dari pekerjaannya aku ingin saat bapak melangkah masuk ke rumah nanti ia bisa melihatku sedang giat belajar, bukan bermalas-malasan.
satu persatu soal bahasa Indonesia mulai aku kerjakan, awalnya terasa sulit beberapa tidak ku mengerti namun setiap kali rasa jenuh atau merasa putus asa datang aku langsung teringat bapak berkerja keras di bawah terik matahari, juga tangan ibu yang melepuh karena setiap hari menyiapkan dagangan. mereka tidak pernah menyerah.
masa hanya karena soal bahasa Indonesia ini aku mau menyerah?
pena di tanganku terus menari di atas kertas. lembar demi lembar berhasilku selesaikan dengan penuh ketelitian tepat saat jarum jam menunjukkan angka empat sore. aku berhasil menyelesaikan soal terakhir, aku mengulas kembali bukuku untuk memastikan soal-soal sudah terjawab lalu aku menutup buku. merasa puas karena berhasil menepati janji pada diriku sendiri untuk menyelesaikannya tepat waktu.
tiba-tiba terdengar suara derit pintu depan terbuka, disusul suara langkah kakinya terdengar agak berat, mungkin sama lelahnya denganku yang seharian ini bergelut dengan soal-soal. aku bangkit dari kursi, merapikan meja yang sedikit berantakan lalu berjalan menuju ruang depan untuk menyambutnya.
"baru selesai belajar?" tanya kakak sambil melepas tas ranselnya yang tampak penuh. wajahnya terlihat letih tetapi senyuman tipis langsung mengembang begitu saja saat melihatku.
"iya, akhirnya soal-soal yang ku jawab selesai juga dengan tepat" jawabku bangga rasa puas tadi masih membekas di hati.
kakak berjalan ke dapur meneguk segelas air putih untuk mengusir dahaga, lalu menghampiriku lagi.
"bagus ingatkan. bapak sedang bekerja dan ibu sedang masak lagi di dapur tadi. pasti lagi sibuk-sibuknya kita harus bisa diandalkan minimal dengan menyelesaikan tugas kita sendiri.
mendengar ucapan kakak rasa lelah menghilang begitu saja. benar kata kakak perjuangan di kamar mengerjakan tugas-tugas dan di sekolah tidak ada apa-apanya dibanding keringat bapak dan ibu yang berkerja terus untuk menghidupi kami.
Bapak pun pulang berkerja ia tampak lelah wajahnya kusam karena debu di jalanan, wajah bapak berupa cerah saat sampai di depan pintu rumah. iya meletakkan kunci motor di meja, lalu mengusap keringatnya sambil tersenyum hangat kepada kami.
"Baunya harum sekali masak apa?" tanya bapak dengan suara baritonnya yang khas, dan sedikit serak.
Ibu yang sedang menatap piring di meja makan langsung menyambut bapak.
"masak tumis kangkung"
Kakak mengambil segelas air putih untuk bapak, sementara aku mengambil lauk ke piring.
Kami makan malam bersama.
Suasana ruang makan yang penuh kesederhanaan itu seketika terasa penuh dan hangat. aroma masakan ibu yang menggugah selera berpadu dengan suara denting sendok.
Di sela-sela suapan bapak bercerita tentang kejadian lucu di tempat bekerjanya sebagai buruh harian lepas, suasana itu di sambut dengan tawa ibu, sesekali menambahkan lauk di piring bapak.
Rasa lelah bapak seolah menguap begitu saja, digantikan oleh kebahagiaan sederhana dari sebuah keluarga yang utuh.
Malam pun tiba membawa kesunyian khas di desa yang perlahan menyelimuti rumah berdinding papan itu. suara jangkrik di luar mulai bersahutan, menggantikan bisingnya mesin dan deru kendaraan yang seharian ini menemani kepenatan bapak saat bekerja.
Di dalam rumah ruang tengah yang sempit diubah menjadi kamar tidur. dengan digelarnya tikar berukuran kecil di lantai semen yang dingin itu.
Bapak dan ibu tidur di ruang tengah itu, angin malam yang sesekali menyelinap dari celah-celah pintu.
Pagi tiba, suasana rumah terasa lebih hidup.
kata-kata kakak semalam masih terngiang di kepalaku, menjadi bahan bakar baru yang membakar semangat ku. Saat sarapan tadi, aku sempat memperhatikan tangan ibu yang sedikit kasar karena terlalu lama memegang sodet, dan guratan lelah di wajah bapak yang tersamarkan oleh senyuman bangganya saat melihat ku dan kakak berseragam lengkap. Aku berjanji dalam hatiku untuk tidak mengeluh.
"Belajar yang benar" ucap kakak sambil menepuk pundakku saat kami tiba di persimpangan jalan menuju sekolah yang berbeda. aku mengangguk, membalas senyumannya sebelum kami berpisah arah kakak yang menuju SMA di pertigaan jalan dan aku berjalan menuju ke gerbang SMP ku.
Hari ini di sekolah terasa berbeda. pelajaran matematika yang biasanya membuatku ingin cepat pulang, kini ku hadapi dengan fokus penuh. pelajaran kedua dimulai, Bu Lily melangkah masuk ke kelas membawa pengumuman yang langsung membuat seisi ruangan kelas riuh. Kami diminta untuk membentuk kelompok berisi empat anggota untuk tugas membuat jus buah Minggu ini.
Seketika, suasana kelas menjadi sangat sibuk.
Semua siswa langsung bergerak cepat, saling menunjuk dan memanggil nama teman dekat mereka untuk diajak bergabung. disitulah hatiku berdegup kencang trauma masa SD dulu tiba-tiba menyerang di kepala, saat ini dimana aku berdiri di pojok kelas mematung menjadi orang terakhir yang tidak mendapatkan kelompok di masa SD "apa aku tidak akan mendapatkan kelompok lagi".
Aku berusaha menepis rasa takut itu. Untungnya nasib baik berpihak padaku hari ini, sebelum lambaian tangan menyelamatkanku. aku mendapatkan kelompok. Rasa lega langsung mengalir aku tidak sendirian lagi.
Namun, rasa lega itu perlahan berubah menjadi rasa cemas baru saat aku duduk bersama mereka. Tiga anggota kelompok ku dian, amel dan Nayla sebangku adalah tipe murid yang dikenal suka berpergian, jalan-jalan dan nongkrong nongkrong di luar setelah pulang sekolah. Pikiran mereka selalu ke tempat baru yang seru untuk dikunjungi untuk ikut-ikutan gaya.
"Wah pas banget tugasnya buat jus!" ucap dian dengan semangat.
pokoknya harus Sampek ending