NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Dokter Dingin

Istri Kontrak Dokter Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dydy_ailee

Amora terjebak dalam lilitan utang dan tak punya banyak pilihan ketika Damian, seorang dokter bedah tampan, kaya, dan dingin, menawarkan pernikahan kontrak dengan bayaran yang mampu menyelesaikan semua masalahnya.
Syaratnya sederhana: menikah, tinggal serumah, dan jangan pernah jatuh cinta.
Bagi Damian, Amora hanya istri sementara. Bagi Amora, Damian hanyalah jalan keluar dari kesulitan hidupnya.
Namun tinggal bersama perlahan membuat hubungan mereka berubah. Terlebih ketika masa lalu Damian, penolakan sang ibu, dan perasaan yang semakin sulit disembunyikan mulai menguji kesepakatan mereka.
Bagaimana jika pernikahan yang awalnya hanya sebuah kontrak justru berubah menjadi cinta yang nyata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB-14 Rasa Hangat

Damian membuka pintu mobil untuk Amora. Meski dengan sedikit canggung, Amora masuk dan duduk di kursi penumpang. Begitu Damian duduk di kursi pengemudi, suasana langsung terasa hening.

“Hari ini kita latihan skinship. Bahasa Korea-nya, sentuhan pasangan,” ujar Damian sambil mengencangkan sabuk pengaman.

“Wah, Dokter nonton drama Korea juga?” Amora menoleh dengan tatapan jahil. “Dokter... Anda jangan-jangan mantan penggemar drama ‘Crash Landing on You’, ya?”

Damian mendesah. “Bisa tidak kamu fokus?”

“Bisa, bisa... ayo mulai. Saya harus nyender ke bahu Anda, kan?” Amora bergeser mendekat. Tapi saat pundaknya hampir menyentuh Damian, ia berhenti. “Tapi Dokter tinggi banget sih. Bahu Anda tuh... tinggi kayak tiang listrik.”

Damian menggeleng pelan, menahan senyum. “Nyender saja, tidak usah banyak komentar.”

Amora akhirnya menyender pelan. Diam beberapa detik. Tapi jantungnya berdetak kencang. Ia bisa mencium aroma cologne Damian yang khas—dingin, bersih, tapi... bikin bingung.

“Dokter Damian,” gumam Amora pelan.

“Hm?”

“Saya takut... ketiduran di sini. Bahu Anda nyaman juga ternyata,” katanya dengan nada dibuat-buat.

Damian menoleh sedikit, menatap Amora yang sedang pura-pura menutup mata. “Kalau kamu ketiduran, aku lempar keluar.”

“Wah... sadis.” Amora mengangkat kepala dan duduk tegak. “Oke, latihan selanjutnya apa?”

Damian menatap lurus ke depan. “Pegang tanganku. Tapi bukan dengan cara kaku seperti tadi siang. Kamu harus kelihatan natural, seperti orang jatuh cinta.”

Amora menghela napas dan menyentuh tangan Damian. Perlahan. Tapi genggamannya ragu-ragu.

“Lepas rasa risi kamu,” kata Damian datar. “Anggap saja ini tangan cowok yang kamu suka.”

Amora menoleh cepat. “Tapi ini tangan Dokter.”

Damian menoleh juga, mata mereka bertemu sesaat. Ada jeda. Hening. Dan kali ini... bukan karena canggung biasa. Tapi ada sesuatu yang menggantung di udara.

Damian yang lebih dulu mengalihkan pandangan. “Latihan selesai untuk malam ini.”

“Lho, baru juga seru.”

Damian sudah menarik tangannya. “Kalau kamu terlalu menikmati, nanti kamu baper.”

Amora terdiam sejenak. Lalu tertawa. “Tenang saja, Dokter Damian. Saya tidak gampang baper. Saya hanya... profesional banget kalo urusan akting.”

“Tapi kamu bukan aktris,” Damian menyambar kalem.

Amora mengencangkan sabuk pengaman. “Makanya, saya belajar dari ‘sutradara’ ganteng ini.”

Damian lalu melajukan mobilnya. “Besok kita lanjut latihan lagi. Aku antar ke kafe tadi untuk mengambil motormu.”

“Oke,” singkat Amora.

********

Setelah sampai di kafe, Amora segera pulang. Damian pun berlalu setelah menurunkan Amora. Namun, Amora harus menjemput Azka dulu. Kebetulan hari itu Amora mendapat jatah libur, jadi ia memutuskan untuk menjemput Azka di sekolah. Dengan motor bututnya yang penuh goresan kenangan, Amora menyusuri jalanan kota dengan semangat seperti biasa, seolah tidak pernah ada luka atau kesedihan dalam hidupnya.

Damian ternyata tidak langsung pulang. Akan tetapi, ia diam-diam mengamati dari kejauhan—masih berada di mobilnya—mengernyit. “Dia bilang punya adik, tapi... kenapa aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan?”

Entah dorongan dari mana, Damian mengikuti Amora. Rasa penasaran mengalahkan gengsi dan keangkuhannya. Ia mengatur jarak, cukup jauh agar tidak ketahuan, tapi cukup dekat untuk tetap mengawasi.

Tak lama, Damian melihat Amora memarkir motor di depan sebuah sekolah dasar. Beberapa anak mulai keluar, dan di antara mereka, ada satu anak laki-laki yang langsung berlari menghampiri Amora.

Azka.

Wajah polosnya bersinar saat melihat sang kakak. Tapi Damian yang menyipitkan mata dari kejauhan, terperangah saat mengenali anak itu.

“Itu… anak penjual tisu itu?” gumam Damian. Ingatannya kembali pada siang hari sebelumnya saat ia bertemu seorang anak lelaki yang menjajakan tisu di lampu merah. Anak itu memaksakan senyum sambil menawarkan tisu yang bahkan tak ia tahu apakah akan laku atau tidak. Damian yang kasihan waktu itu, memilih membeli semua tisu dan memberi lebih. Kini, ternyata bocah itu… adik Amora?

“Gila…” Damian menolehkan wajahnya sejenak. “Jadi, ini alasan dia butuh uang?”

******

Amora membonceng Azka menuju warung nasi padang langganan mereka. Tidak mewah, hanya sebuah warung kecil di pinggir jalan dengan papan menu yang mulai pudar warnanya. Tapi bau rendangnya bisa bikin lupa kalau dompet sedang tipis.

“Ka, kita rayakan ya… kakak lagi bahagia hari ini,” ujar Amora dengan senyum lebar.

“Kenapa, Kak?” tanya Azka polos.

“Karena hidup kita sudah mulai membaik,” ucapnya, sambil mengacak rambut adiknya yang lepek karena keringat. “Kita makan rendang dan telur dadar padang ya! Nggak cuma kuah sama sambal doang.”

Damian berhenti tak jauh dari warung itu. Dari balik kaca mobil, ia mengamati keduanya. Melihat Amora merangkul Azka dengan kasih sayang, memilih lauk dengan ekspresi heboh, dan sesekali mencubit pipi adiknya sambil bercanda. Pemandangan yang terasa asing sekaligus menampar.

Damian jadi bingung sendiri. Selama ini ia melihat Amora sebagai perempuan berisik dan seenaknya. Tapi kini ia menyaksikan sisi yang berbeda—sisi penuh perjuangan dan cinta. Tanpa sadar, Damian memegang dada kirinya. Ada sesuatu yang bergetar.

“Kenapa aku… ikut merasa hangat ya?” bisiknya, lirih.

*****

Selesai membeli makanan, Amora dan Azka pulang ke rumah. Rumah tua di gang sempit itu masih berdiri walau dindingnya mulai terkelupas. Tapi hari itu, suasana terasa berbeda—ada tawa kecil, aroma nasi padang, dan harapan yang mengambang di udara. Damian menghentikan mobil tak jauh dari sana. Ia mematikan mesin dan memperhatikan dari kejauhan.

Azka segera masuk ke dalam rumah. Amora memarkir motor lalu duduk di bangku kayu di depan rumah, menghela napas lega. Ia mengeluarkan ponselnya, membuka kembali bukti transfer dan surat pelunasan dari rentenir.

“Terima kasih ya, Dokter Damian... meskipun hubungan kita palsu, tapi bantuanmu nyata,” bisiknya, tulus.

Damian memperhatikan dari kejauhan, diam. Kali ini, bukan rasa penasaran yang mendorongnya. Tapi rasa iba, dan entah kenapa... kekaguman yang sulit ia bantah. Ia membuka ponselnya, menatap nomor Amora. Jemarinya nyaris menekan tombol telepon, tapi ia urungkan. Ia hanya ingin mengamati lebih lama.

Amora lalu berdiri dan masuk ke dalam rumah. Damian tahu ini saatnya pergi sebelum ketahuan. Tapi sebelum menyalakan mesin, ia sempat menatap rumah itu sekali lagi.

“Gadis itu… berbeda,” ucapnya pelan.

Ia tak tahu, mulai kapan Amora berhenti menjadi hanya sekedar aktris dalam permainan perjanjian mereka. Dan tanpa ia sadari, perlahan, Amora mulai masuk ke dalam ruang paling rapat di hatinya.

Damian menyalakan kembali mesin mobilnya dan menyusuri jalanan sempit itu keluar dari gang. Wajahnya datar seperti biasa, namun pikirannya masih tertinggal di rumah tua tadi.

“Hanya kontrak, Damian. Jangan libatkan perasaan,” gumamnya, seperti sedang mengingatkan diri sendiri.

Ponselnya bergetar. Nama "Mama Diana" muncul di layar. Dengan satu helaan napas, ia menekan tombol hijau.

“Iya, Ma?”

“Damian, mampir ke rumah ya. Mama baru saja menyiapkan makan malam,” suara lembut sang mama terdengar penuh semangat.

“Makan malam? Sekarang masih jam empat sore, Ma.”

“Pokoknya mampir! Mama juga mau ngomong sesuatu. Jangan pakai alasan sibuk!”

Damian memutar setirnya, meluncur ke arah kediaman mamanya yang megah di kawasan elite.

1
Suhartini hartini
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!