NovelToon NovelToon
Di Jodohkan Dengan Dokter Spesialis Dingin

Di Jodohkan Dengan Dokter Spesialis Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Perjodohan
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

-
Aini Zahra Wijaya, seorang dokter muda yang baru lulus, memulai masa koasnya di rumah sakit megah milik keluarga besar Wigunadi. Berharap fokus mengabdi, takdir justru mempertemukannya dengan Dr. Ivandra Arya Wigunadi—spesialis bedah saraf yang jenius, dikenal paling dingin, dan tak tersentuh.
-
Meski Ainu berusaha keras menghindari pria kejam itu, sebuah rahasia keluarga dan ikatan takdir memaksa mereka bersatu dalam ikatan pernikahan. Di balik dinding rumah sakit yang dingin, hubungan penuh ketegangan, batasan, dan emosi yang terpendam pun dimulai.
_

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 25

****

Tiga hari berlalu sejak jarum infus dilepaskan dari punggung tangan Aini. Meski demamnya telah mereda dan memar di kulitnya perlahan memudar, bekas luka tak kasatmata di dasar hatinya justru mengkristal kian pekat. Aini tak lagi sudi berlama-lama mengurung diri di dalam penthouse yang dipenuhi kenangan pahit itu. Dengan sisa-sisa tenaga dan keteguhan harga dirinya, Aini memaksa tubuhnya yang masih ringkih untuk kembali menginjakkan kaki di lorong-lorong RS Utama Wigunadi.

Di Poli mata, derap langkah Aini terasa amat pelan. Wajah cantiknya terbingkai pucat, dengan lingkaran hitam tipis di bawah matanya yang tertutup bedak tipis. Manik matanya yang dulu selalu memancarkan kehangatan kini meredup, berganti menjadi sorot redup yang amat tertutup.

"Aini... kamu beneran udah sehat?"

Suara Nina memecah keheningan di ruang istirahat staf. Sahabatnya itu melangkah mendekat dengan raut cemas yang teramat transparan, meletakkan telapak tangannya di dahi Aini. "Kemarin kamu izin sakit dua hari berturut-turut, terus sekarang pas masuk muka kamu pucat banget gini. Mending kamu istirahat lagi aja deh, Ni."

Aini tersenyum tipis, sebuah senyuman formal yang tak sampai ke matanya. "Aku udah nggak apa-apa, Nin. Demamnya udah turun kok. Cuma masih sedikit lemas aja gara-gara kurang tidur."

"Kurang tidur atau ada masalah lain?" cecar Nina pelan, menatap Aini penuh selidik. Nina masih ingat betul soal temuan cincin berlian yang sama persis dengan milik dr. Ivandra beberapa waktu lalu. "Ni, kamu... kamu nggak lagi nanggung beban berat sendiri, kan?"

Jemari Aini meremas ujung jas klinisnya. "Nggak ada, Nin. Cuma tugas stase yang makin padat. Makasih ya udah cemas."

Sebelum Nina sempat bertanya lebih jauh, pintu ruang istirahat terbuka. dr. Farhan melangkah masuk dengan senyum hangat khasnya. Namun, begitu matanya menangkap figur Aini yang bersandar kaku di tepi meja, senyum di bibir dokter anestesi muda itu seketika memudar, berganti raut khawatir yang mendalam.

"Aini?" sapa Farhan cepat, melangkah menghampiri Aini tanpa ragu. "Kamu sudah masuk dinas lagi? Astaga, wajah kamu pucat sekali. Kenapa tidak ambil izin pemulihan satu hari lagi?"

Aini merapatkan tubuhnya sedikit ke belakang, memasang garis batas yang sangat jelas. "Saya sudah merasa lebih baik, Dokter Farhan. Terima kasih atas perhatiannya."

Farhan merogoh saku jas dokter-nya, mengeluarkan sebuah vitamin cair dan segelas air hangat dari meja dispenser. Pria itu menyodorkannya ke hadapan Aini dengan tatapan penuh perhatian. "Minum ini dulu. Kamu terlihat sangat lemah. Kalau merasa tidak kuat saat visite nanti, biar saya yang menggantikan bagian pemantauan kamu."

Aini menatap gelas tersebut sejenak, lalu membungkukkan kepalanya santun tanpa menyentuh pemberian Farhan. "Terima kasih banyak, Dokter Farhan. Tapi saya masih bisa menjalankan kewajiban saya sendiri. Saya tidak ingin merepotkan rekan kerja lainnya."

Sikap dingin dan penolakan halus namun tegas dari Aini membuat Farhan tertegun sejenak. Ada jarak tebal yang mendadak dibangun oleh gadis itu—jarak yang terasa jauh lebih dingin daripada biasanya.

Sementara itu, di lantai dua yang berseberangan dengan stasiun perawat Poli Anak, berdiri sosok pria jangkung dalam balutan kemeja hitam yang dilapisi mantel putih dokter.

dr. Ivandra Arya Wigunadi berdiri mematung di balik pilar kaca tebal. Manik mata elangnya yang sarat akan rasa cemas, panik, dan penyesalan yang membakar tak pernah lepas menatap figur istrinya dari kejauhan. Wajah tampan Ivandra tampak jauh lebih kusam dan tirus. Lingkaran hitam tebal menyelimuti matanya akibat hari-hari tanpa tidur, dikuasai oleh bayang-bayang ketakutan dan rasa bersalah yang terus menggerogoti jiwanya.

Saat Ivandra melihat Farhan berdiri begitu dekat dengan Aini—menyorotkan perhatian lembut dan menyodorkan minuman—rahang tegas Ivandra seketika mengetat kaku. Jemari tangannya yang berada di dalam saku mantel mengepal amat erat, menggoreskan kepalan yang bergetar hebat.

Secara impulsif, naluri maskulin dan dorongan posesif yang mendiami dadanya mendesak Ivandra untuk melangkah maju, memutus interaksi itu, dan menegaskan haknya sebagai seorang suami. Langkah kakinya sempat terayun satu tapak ke depan dengan aura intimidasi yang mulai memekat.

Namun, di detik berikutnya, langkah Ivandra terhenti mendadak.

Greb.

Memori malam itu seketika berputar liar di dalam kepala Ivandra. Pekikan ketakutan Aini, isak tangis yang tertahan, serta tatapan trauma yang memancar dari mata istrinya saat melihat dirinya mendekat di tepi ranjang kemarin pagi mendadak menampar kesadaran Ivandra dengan kekuatan yang amat menghancurkan.

"Jangan sentuh saya! Tolong... jangan pernah sentuh saya lagi, Dokter Ivandra..."

Kalimat lirih yang dipenuhi benteng trauma itu bergema nyaring di telinganya, membekukan seluruh pergerakan Ivandra seketika.

Pria yang biasanya tak takut pada apa pun itu kini mendadak memucat. Ivandra menyadari sepenuhnya bahwa jika ia melangkah maju saat ini dan menggunakan otoritasnya untuk mengintimidasi Aini lagi, ia hanya akan memperdalam lubang trauma dan membuat istrinya makin membencinya.

Ivandra memundurkan langkahnya kembali ke balik pilar kaca, mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih. Dada pria itu berdesir hebat oleh rasa sakit yang luar biasa. Ia harus menahan gelombang cemburu dan kecemasan yang membakar dadanya sendiri demi menghormati batas aman yang dibutuhkan Aini.

Dari balik kegelapan pilar, Ivandra menatap Aini yang perlahan melangkah meninggalkan Farhan dan Nina untuk kembali bertugas. Setiap kali Aini melangkah dengan tubuh yang tampak kaku dan lelah, hati Ivandra bagaikan diiris sembilu tajam. Pria angkuh itu kini harus menelan kepahitan murni—melihat wanita yang dicintainya berada dalam jangkauan mata, namun terpisahkan oleh benteng trauma dan jarak yang ia ciptakan sendiri.

Siang harinya, suasana Poli Mata perlahan melengang saat jam istirahat tiba. Aini berjalan menyusuri koridor sepi menuju ruang arsip di ujung lantai dua untuk mengambil beberapa lembar rekam medis pasien rujukan.

Kondisi fisiknya yang belum pulih sepenuhnya membuat pandangan Aini mendadak kabur dan berkunang-kunang. Rasa pening yang menyengat menghantam kepalanya.

"Ngh..." gatau Aini pelan, menepuk pelipisnya sendiri.

Langkahnya sempoyongan. Papan jalan medis di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai dengan bunyi brak yang lumayan keras. Tepat saat tubuh mungil Aini kehilangan keseimbangan dan hendak rubuh ke lantai granit yang dingin, sebuah pasang lengan kokoh menangkap tubuhnya dari belakang dengan sangat sigap.

Aroma kayu cendana bercampur mint yang sangat khas seketika menyeruak, memenuhi indra penciuman Aini sebelum kesadarannya menghilang sepenuhnya.

Ivandra merekah tubuh mungil istrinya rapat ke dalam dekapan dadanya. Pria itu menyangga tubuh Aini dengan jemari yang gemetaran hebat, pancaran kepanikan murni memenuhi raut wajahnya yang pucat.

"Aini! Aini, bangun!" bisik Ivandra dengan suara berbariton parau yang bergetar penuh kepanikan, menatap wajah pucat pasi istrinya yang kini terkulai lemas tak berdaya di dalam pelukannya.

Bersambung...

1
Anonim
CRAZY UP THOR
Anonim
crazy up thor
Anonim
up thor
Shuttttttttttt
pls crazy up thooor
Anonim
crazy up
Anonim
crazy up thor
Ai Nurlaela Jm
karyamu kereen Thor
Anonim
crazy up thor
Anonim
crazy up
Putry Chan
dokter pria itu serem deh bikin merinding jangan sampai ketemu lagi
mampir ya ke novel ku
Putry Chan
Aini Mungkin kmu sedikit ceroboh
Putry Chan
maaf gak sengaja kau pikir aku buta 🙄
Putry Chan
semangat Aini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!