NovelToon NovelToon
GARIS DEPAN ( Misi Senyap )

GARIS DEPAN ( Misi Senyap )

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Kehidupan Tentara / Cintapertama
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bojone_Batman

Penugasan di medan perang adalah hal biasa. Namun, menghadapi pengkhianatan di dalam barak asrama dinasnya sendiri adalah pertempuran yang tak pernah ia duga.

Ketika ia memergoki lettingnya sendiri menelantarkan dan menyakiti seorang wanita di sudut pangkalan militer akibat hasutan keluarga, naluri pelindungnya bangkit. Dalam sebuah tindakan nekat demi menyelamatkan kehormatan sang wanita, ia mengambil alih takdir itu. Ia membawanya pergi, melindunginya di garis depan hidupnya, dan menikahinya.

Di bawah naungan seragam lorengnya, ia memulai misi paling rahasia dalam hidupnya.. Menyembuhkan luka batin gadis itu, namun, ia harus menghadapi dendam dari rekan satu lettingnya, dan mencintainya setulus hati tanpa syarat.

Sebab di garis depan hatinya, keselamatan wanita itu adalah perintah mutlak haram untuk gagal.

KONFLIK.. SKIP bagi yang tidak sanggup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Emosional.

Bang Oscar yang syok menunduk setengah memejamkan matanya. Telunjuknya mengarah pada kaki Pitta.

Dokter berpangkat Mayor itu segera melihat arah yang di tunjuk Bang Oscar. Dokter kemudian melihat dengan teliti hingga setengah ternganga.

"Ini.. Hanya buah merah yang terinjak. Tidak masalah." Kata dokter senior.

Tapi Bang Oscar yang terlanjur kaget, syok dan takut sampai benar-benar lemas. Rasanya hal serupa pun di rasakan Bang Satria hingga suaranya juga tercekat.

Bang Oscar menghela napas panjang, tubuh tegapnya seketika terkulai lemas di tepi brankar. Kakinya terasa tak bertulang, dingin menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun. Peluh dingin membasahi keningnya.

"Buah.....merah????" gumamnya tak percaya, tangannya gemetar pelan menyentuh kaki Pitta yang ternyata hanya ternoda warna merah pekat dari buah yang terinjak tadi. Ia menatap Pitta dengan mata yang masih melebar, napasnya perlahan mulai teratur kembali.

Pitta sendiri masih bingung, lalu tersenyum lembut melihat suaminya yang wajahnya masih pucat pasi. "Abang takut ya?? Pitta nggak apa-apa. Pitta sengaja bohong karena Abang terus saja marah." tanyanya lirih.

Pitta tak menyangka, jawabannya itu membuat amarah Bang Oscar semakin menjadi. Belum sempat senyum itu lenyap dari bibir Pitta, tatapan Bang Oscar berubah tajam. Genggaman tangannya lebih erat dari sebelumnya. Bukan menyakiti, tapi menunjukkan betapa gemetar dan amarahnya meledak seketika.

Mata elang itu memerah menatap istrinya. "Kamu kira ini lucu, Pitta?? Kamu tau bagaimana takutnya Abang melihatmu celaka????? Abang kira kamu terluka parah, Abanh kira kamu......." Ia tak sanggup melanjutkan kalimatnya, menelan ludah dengan susah payah.

Bang Oscar berdiri perlahan, membalikkan badan membelakangi Pitta. Ia menarik napas dalam-dalam berusaha meredakan emosinya yang begitu menekan rongga dada. Emosinya naik turun merasakan ulah sang istri. Bukan karena noda buah itu, tapi karena ketakutan yang sungguh-sungguh ia rasakan, lalu ternyata itu hanyalah cara agar dirinya tidak menghajar orang lain yang jelas sudah melecehkan istrinya.

Bang Satria di sampingnya ikut menghela napas berat, menggeleng tak percaya. Wajahnya serius, senyum leganya hilang seketika. "Pitta... itu bukan hal yang pantas untuk dijadikan candaan. Tadi Oscar hampir pingsan karena takut kamu kenapa-napa. Kami semua benar-benar cemas." ucapnya tegas namun nada suaranya tetap menahan kekesalan.

"Abang kecewa sama kamu, Pitta..." ucapnya pelan, namun terdengar begitu berat dan menyakitkan. "Bukan saja karena kamu membuat Abang takut. Tapi karena Abang sadar betapa lemahnya Abang saat menyangkut nyawa kamu. Dan kamu... kamu menggunakannya untuk menenangkan Abang yang benar-benar sedang kesal karena ada laki-laki yang melecehkan kamu. Itu justru membuat Abang merasa kamu rendahkan karena tidak bisa membelamu, melindungi kamu."

Suara Bang Oscar yang bergetar namun tajam itu menembus dada Pitta lebih dalam dari apapun. Senyum tipis di bibirnya luntur seketika, digantikan rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit dadanya begitu kuat. Napasnya tertahan di tenggorokan, matanya terbelalak menatap suaminya yang memunggunginya, lalu perlahan tangan Pitta bergerak memegangi perutnya erat-erat. Wajahnya seketika berubah pucat pasi, keringat dingin mulai menetes di pelipisnya.

"Abang... sakit..." suaranya tercekat, hampir tak terdengar. Tubuhnya meringkuk pelan di atas brankar, wajahnya meringis menahan rasa nyeri yang tiba-tiba menyergap.

Bang Oscar menoleh seketika. Amarahnya yang tadi membara langsung terhenti di udara saat melihat wajah istrinya yang berubah drastis. "Nggak usah main-main. Abang nggak mau dengar drama mu lagi." Ia melangkah menghindar, menenangkan diri yang emosi karena ulah sang istri.

Dokter senior berpangkat Mayor yang sedari tadi berdiri di sisi lain brankar segera melangkah cepat mendekat. Ia melihat jelas bagaimana tangan Pitta menekan perut bagian bawahnya dengan napas yang memburu dan tak teratur.

"Tolong... sakit sekali..." rintih Pitta, air matanya jatuh tanpa suara, kali ini bukan karena sedih, tapi karena dirinya benar-benar merasa kesakitan.

"Sabar ya, saya periksa." Dokter kemudian memeriksa Pitta. "Kencang sekali perutmu."

Langkah Bang Oscar seketika terhenti, ia melirik dan memastikan bahwa dokter tidak bercanda dengan pernyataannya.

"Tenanglah sedikit, rileks kan badanmu, biar saya bisa periksa perutmu dengan baik." Pinta dokter karena Pitta terus merintih.

Bang Oscar langsung berbalik badan dan melupakan amarahnya. Ia kembali menghampiri Pitta dan berlutut di tepi brankar, tangannya gemetar ingin menyentuh namun takut salah. "Pitta... Sayang, kenapa?? Pitta sakit betulan?? Karena dengar suara Abang????" paniknya bukan kepalang, wajahnya kembali pucat bak kehilangan darah.

"Suaramu memang b*****t. Tidak bisakah kau bedakan suara untuk perempuan dan suara tarzan mu itu..!!" Bang Satria menegur keras Abangnya.

"Kau tau apa tentang istriku???? Jangan ikut campur..!!!!" Ucap tegas Bang Oscar.

"Karena saya tau, saya menegurmu."

"Saya sudah bilang, jangan ikut campur..!!!!" Bentak Bang Oscar. "Apa kau pikir, kau yang lebih tau segalanya di banding saya???"

Suara Bang Oscar kembali memicu kontraksi di perut Pitta.

Dokter langsung menoleh dengan tegas. "Kalian berdua bisa diam atau tidak..!! Suara kalian justru memperburuk kondisinya..!!"

Bang Oscar terdiam seketika, matanya melebar melihat Pitta yang meringis semakin kesakitan. Tangan kecil istrinya mencengkeram selimut dengan kuat. Napasnya terengah, keringat dingin membasahi seluruh wajahnya yang pucat.

"Abang minta maaf ya, Pitta..!!" bisiknya parau, suaranya kini nyaris tak terdengar. Ia mendekat perlahan, menekuk kaki tepat di samping brankar, wajahnya semakin dekat dengan wajah istrinya. "Abang nggak akan bicara keras lagi."

"Pitta susah napas, Bang." Kata Pitta.

"Pelan-pelan..!! Tarik nafas, terus buang perlahan..!!" Arahan Bang Oscar.

Pitta membuka matanya sedikit, menatap suaminya dengan pandangan yang kabur dan menahan rasa sakit. Ia mencoba mengikuti arahan suaminya, menarik napas dengan susah payah lalu membuangnya perlahan.

Dokter mengangkat kepalanya, wajahnya serius. "Kau tahan sedikit lah emosimu, istrimu mendadak kontraksi karena syok mental. Tekanan darahnya naik, dan ini berisiko bagi kandungannya. Sekarang saya butuh suasana yang benar-benar tenang. Tolong, kendalikan diri kalian masing-masing..!!"

Tak banyak kata dari Bang Oscar, tangannya gemetar memegang tangan Pitta yang terasa dingin juga berkeringat. Ia menatap adiknya, Letnan Satria sekilas. Tatapannya penuh penyesalan namun juga permohonan agar saudaranya mengerti dengan situasi.

Bang Satria menghela napas panjang, lalu mundur menjauh dari pandangan Abangnya, Ia bersandar di sisi ambulans sambil memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.

'Kenapa rasa ini tak juga hilang?? Kenapa bisa suka dengan istri Abangku sendiri, padahal aku tau resikonya mendekati istri Abangku.'

.

.

.

.

1
Maysuri
alah.... dalah tambah runyam iki toh thor.....
𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋"Asti"•§͜¢•🦢🍒
maulah aku tugasnya cuma rebahan sama scroll hp
dyah EkaPratiwi
😭😭😭 gimana ini ceritanya
Maysuri
thor aq sampai ikut gemetar,lah kok bisa gitu loh.....kmn aj ajudannya
Tanti
mba Nara....konfliknya udah mulai naik yaaa🥹🥹...perasaanq udaah campur aduk bacanya..
ditunggu lanjutanya mba
Tanti
wadooohhh....gawat!!!
Maysuri
wow.....ternyata....
Maysuri
eng....iiii.....eng.....thor🤦
Tanti
luar biasa hukuman yg diberikan pak Dante...selain dapet pahala jg bs perbaiki diri..mantappp

ditunggu lanjutannya mba Nara
Maysuri
klw engk mau sakit hati,lebih baik mundur bang,jngn 1 wilayah,lebih baik menjauh unk menata hati ....🤭
Bojone_Batman: Harusnya yaaa.. tapi SKEP yang menentukan dari pusat
total 1 replies
dyah EkaPratiwi
jangan berdinas disitu bang satria semakin dekat pasti sulit melepas perasaan
Bojone_Batman: Iya, karena pasti akan sering ketemu.
total 1 replies
Tanti
semoga mama dan calon baby nya ga kenapa-napa
Bojone_Batman: Aamiin.. Semoga selalu baik-baik saja.
total 1 replies
Maysuri
aq kira si fita pura" pusing dan keram perut..🤔
dyah EkaPratiwi
semoga kuat ya pitta
Maysuri
semangat buat kapan ber2,...💪💪
Septi Astuti
semoga lekas sembuh dan sehat kembali untuk orang tua mbak Nara.. Aamiin
Septi Astuti: sama-sama mb...
total 2 replies
Tanti
Tetap semangat semua...ingat pesannya mama Dilan💪💪💪
Tanti
seneng lihatnya...Bang Dante, Dilan, dan Bian bs rukun ky gini

lanjut mba Nara👍
dyah EkaPratiwi
semangat pitta
dyah EkaPratiwi
🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!