NovelToon NovelToon
Tuan Muda Kota Terjebak Di Desa

Tuan Muda Kota Terjebak Di Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sibee

Gara gara terlibat balapan liar berujung skandal di ibu kota, Arkananta Dewangga Tuan muda berusia 25 tahun yang tampan, angku, dan gila hormat. Harus menerima hukuman paling gila dalam hidupnya. Sang ayah membekukan fasilitas mewahnya dan membuangnya ke sebuah desa terpencil. Perintahnya mutlak: "Jangan kembali ke Jakarta sebelum bisa hidup mandiri."

Di Desa Sukmawarna, semua uang dan keangkuhan Arkan tidak berlaku, alih-alih hidup manja. ia harus menghadapi di siplin ketat dari Pak Barkah, yang tidak mempan di sogok. Dirumah pedesaan yang sederhana itu, Arkan di paksa turun ke ladang berlumpur jika tidak ingin kelaparan dan tidur di teras bersama nyamuk kebun.

Di tengah siksaan fisik dan kejutan budaya yang menguras emosi, takdir mempertemukannya dengan Nayla Rahmadania, gadis desa lulusan sarjana yang mandiri dan begitu tegas.

sanggupkah sang tuan muda bertahan melewati ujian berat ini, ataukah ia memilih menyerah dan memilih cara untuk kabur kembali ke kemewahan kota?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Bayang Penyesalan dan Sawah yang Kian Riuh

Keheningan malam di kamar sederhana rumah Mbah Harjo malam itu terasa begitu mencekik bagi Arkan. Kipas angin dinding tua yang berputar lambat dengan bunyi berdecit konstan biasanya sukses membuatnya terlelap dengan cepat karena kelelahan fisik yang mendera, namun malam ini alat elektronik itu gagal total menjalankan tugasnya. Pria bertubuh tinggi tegap itu berulang kali membalikkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri di atas kasur kapuk yang terasa begitu keras dan tidak nyaman di punggungnya. Tatapan matanya tertuju kosong pada langit-langit balok kayu yang gelap, namun seluruh pikirannya justru tertancap kuat pada raut wajah penuh luka milik Nayla di depan pagar bambu senja tadi.

Rasa sakit hati dan amarah yang terpancar jelas dari sepasang mata manis milik gadis berkulit putih bersih itu terus membayangi benak Arkan tanpa henti. Kalimat terakhir Nayla yang menyatakan penyesalan mendalam karena telah menolong mengobati tangannya kemarin sore terus bergema berulang kali, lurus merobek benteng logikanya yang kokoh. Arkan mengangkat tangan kanannya yang masih terbalut rapi oleh kain kasa putih bersih, merasakan sisa sensasi sejuk dari sisa lumatan daun binahong yang kini entah kenapa justru terasa getir di hatinya. Ego nya yang setinggi langit mencoba bertahan dengan dalih bahwa ia hanya bicara jujur tentang apa yang dilihatnya di pinggir jalan. Namun, rasa sesak yang asing di dalam dadanya tidak bisa berbohong sama sekali. Ada sekelumit bayang penyesalan mendalam yang mulai mengikis dinding keangkuhan kaku sang Tuan Muda Jakarta.

Keesokan paginya, Arkan terpaksa bangun dengan kondisi kantung mata yang agak menghitam akibat kurang tidur semalaman. Setelah menghabiskan sarapan menu nasi uduk kampung buatan Bude Lastri dalam keheningan yang kaku, ia kembali dipaksa oleh Pak Barkah untuk ikut turun ke ladang luar. Kain kasa di telapak tangan kanan Arkan kini sudah diganti dengan balutan baru yang jauh lebih tipis agar ia bisa mulai belajar memegang peralatan pertanian yang lebih ringan.

"Hari ini kita harus membersihkan saluran air di perbatasan sawah luar, Arkan. Fisikmu sudah mulai terbiasa dengan hawa terik matahari, jadi jangan malas-malasan lagi," tegur Pak Barkah dengan nada suara beratnya yang tegas saat mereka mulai berjalan kaki menyusuri jalan setapak desa di bawah sengatan fajar pagi yang mulai meninggi.

Arkan hanya menganggukkan kepalanya sedikit dengan kaku, menolak untuk mendebat ucapan pria paruh baya itu. Kaus oblong hitam dan celana kain longgar yang dikenakannya hari ini sudah tampak lebih pas melekat di tubuh atletisnya. Namun, langkah kaki jangkung Arkan mendadak melambat hingga akhirnya berhenti total begitu langkah mereka tiba di area perbatasan sawah berair yang berbatasan langsung dengan lahan milik keluarga Pak Suryo.

Manik mata cokelat gelap milik Arkan seketika menyipit tajam, dan rahang tegasnya mengeras dalam sekejap mata karena kejutan visual di depannya. Di tengah petak sawah yang berair dangkal itu, tampak Pak Suryo sedang sibuk menata pematang tanah basah. Namun, pria tua itu tidak bekerja sendirian pagi ini. Di sebelah pilar tubuhnya, ada Dimas Dananjaya yang sedang ikut turun langsung ke dalam lumpur cokelat pekat. Ketua pemuda karang taruna desa itu tampak sangat cekatan membantu memotong rumput liar dengan celana panjangnya yang digulung tinggi hingga ke paha.

Interaksi di antara kedua pria lokal itu terlihat sangat akrab, penuh dengan tawa renyah, dan kebersamaan yang natural khas masyarakat pedesaan. Pak Suryo sesekali menepuk pundak sawo matang milik Dimas yang berkilau karena peluh dengan raut wajah yang dipenuhi oleh kebanggaan dan kepuasan—sebuah ekspresi penerimaan hangat yang sangat kontras dengan tatapan mata mengintimidasi yang diberikan Pak Suryo kepada Arkan di ladang timur tempo hari.

"Wah, Kang Suryo! Rajin sekali pagi-pagi begini sudah dibantu oleh calon menantu idaman seisi kampung!" seru Pak Barkah dari atas pematang jalan setapak yang kering, sengaja melempar candaan dengan suara lantangnya yang khas untuk memecah keheningan pagi.

Pak Suryo menolehkan kepalanya ke arah sumber suara lalu terkekeh lebar, menyeka tetesan keringat di dahinya dengan handuk kecil yang melingkar di leher. "Eh, Barkah. Iya ini, Nak Dimas kebetulan sedang punya waktu luang sebelum jadwal penyuluhan pertanian kelompok wanita nanti siang. Dia sengaja datang ke mari sejak subuh untuk membantu saya memperbaiki saluran pembuangan air yang kemarin sempat tersumbat."

Dimas ikut menolehkan kepalanya, menegakkan tubuh tegap proporsionalnya di tengah sawah lalu melemparkan sebuah senyuman yang sangat ramah ke arah Pak Barkah dan Arkan. "Selamat pagi, Pak Barkah. Selamat pagi juga, Mas Arkan," sapa Dimas dengan nada suara yang sangat sopan, jujur, tanpa ada sedikit pun rasa canggung atau hawa permusuhan hulu dari raut wajah manis khas jawanya.

Arkan tetap berdiri mematung di atas tanah pematang yang kering dengan wajah ditekuk dingin tanpa ekspresi. Sifat gila hormat dan keangkuhan kotanya bergejolak hebat mendapati dirinya diabaikan dalam dinamika kehangatan keluarga petani tersebut. Alih-alih menyahuti sapaan ramah yang diberikan oleh Dimas, Arkan justru memalingkan wajah tampannya ke arah barisan pohon kelapa di kejauhan dengan gaya ketus yang dipaksakan demi menutupi salah tingkahnya. Gejolak emosi panas yang asing kembali meremas dadanya dengan kuat, memicu rasa dongkol yang amat sangat melihat betapa alaminya posisi Dimas di dalam lingkungan hidup keluarga Nayla.

"Ayo, Arkan. Malah melamun melihat orang lain bekerja di sawah. Ladang bagian kita masih seratus meter lagi di depan jalan raya ini," tegur Pak Barkah sambil menepuk punggung Arkan dengan cukup keras, membuyarkan lamunan penuh gengsi dari sang Tuan Muda Jakarta.

Arkan mendengus samar, kembali melangkah kaki dengan hentakan kasar ke tanah basah menyusuri jalan setapak, mengekor di belakang langkah tegap Pak Barkah. Namun, begitu tiba di petak sawahnya sendiri dan mulai memegang sekop kecil untuk membersihkan rumput liar di tepi parit, fokus Arkan benar-benar buyar. Pria kota itu berulang kali tertangkap basah oleh Pak Barkah sedang berdiri diam, menatap kosong ke arah genangan air parit sambil melamun panjang.

Isi kepala Arkan sepenuhnya dipenuhi oleh tanda tanya besar yang mengusik ketenangannya. Pikirannya terus berputar pada satu nama: Nayla. Ia mulai bertanya-tanya di dalam hati, apa benar Dimas dan Nayla memang sedekat itu? Apakah senyuman manis yang diperlihatkan Nayla kemarin sore adalah bukti bahwa gadis berkulit putih itu memang memiliki perasaan khusus pada si ketua karang taruna? Membayangkan kemungkinan itu membuat cangkul kecil di tangan kiri Arkan diremas dengan begitu kuat.

Semakin lama melamun, rasa bersalah yang sempat ia tepis malam tadi justru kembali merayap naik dengan lebih pekat. Arkan mengingat kembali bagaimana getaran suara Nayla yang menahan tangis saat membentaknya kemarin senja. Tuduhannya yang menyebut Nayla perempuan genit dan bermuka dua jelas sudah keterlaluan dan tidak berdasar. Di tengah deru angin sawah, sebuah pergolakan batin yang hebat melanda sang Tuan Muda Jakarta.

Apa saya harus meminta maaf atas ucapan kasar saya kemarin terhadap Nayla? pikir Arkan bimbang. Sisi keangkuhan di dalam dirinya berteriak menolak keras ide tersebut; seorang pewaris Dewangga Group tidak pernah meminta maaf pada orang lain, apalagi pada seorang gadis desa. Namun, sisi hatinya yang mulai melunak oleh kebaikan-kebaikan kecil di Desa ini justru mendesaknya untuk menurunkan gengsi demi menebus kesalahan. Logika berpikirnya yang kaku masih menolak keras untuk mengakui rasa cemburu nyata yang sedang membakar hatinya sendiri saat ini, namun lamunan tentang Nayla dan Dimas sukses membuat mood Arkan hancur lebur berkeping-keping di tengah pematangan sawah pagi ini.

1
Tina
Hallo semuanya... semoga suka sama bukunya ya, kalo ada masukan ataupun kritikan dari kalian Author sangat menerima ya, kedepannya nanti bakal diperbaiki, soalnya Author juga baru belajar nih🥰🫶🏻
Tina
Hallo semuanya... semoga suka sama bukunya ya, kalo ada masukan ataupun kritikan dari kalian author sangat menerima ya, kedepannya nanti bakal diperbaiki, soalnya author juga baru belajar nih🥰🫶🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!