Serina Nirmala harus kehilangan suaminya, secara tragis tepat di hari ulang tahun putra mereka. Saat hendak membeli kue, Riki tewas tertabrak mobil Jovan Narendra, seorang pembalap muda yang saat itu kehilangan kendali akibat pengaruh obat yang diam-diam diberikan oleh seseorang yang ingin mencelakainya.
Dihantui rasa bersalah, Jovan berniat menebus kesalahannya dengan menikahi Serina, seorang wanita yang lima tahun lebih tua darinya. Awalnya Serina menolak, tetapi demi masa depan putranya dan karena Jovan bersedia bertanggung jawab atas kehidupan mereka, ia akhirnya menerima pernikahan tersebut.
Namun, pernikahan yang dimulai dari rasa bersalah perlahan berubah menjadi cinta bagi Jovan. Sementara Serina masih bergulat dengan luka kehilangan suaminya, sebuah pertanyaan terus menghantuinya.
Mampukah ia mencintai pria yang menjadi penyebab kematian suaminya, atau pernikahan ini justru menyimpan tujuan lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7
Pagi menjelang siang. Darren masih berada di ruang penyelidikan ketika salah seorang anggotanya datang membawa sebuah berkas.
"Pak, kami mendapatkan hasil penelusuran tambahan."
Darren segera menerima berkas tersebut.
"Apa yang kita punya?"
"Identitas pelayan wanita yang terekam memasukkan sesuatu ke minuman Jovan sudah kami dapatkan. Namanya Siska."
"Sudah ditemukan?"
"Belum, Pak. Tapi kami mengetahui bahwa sebelum menghilang, Siska menerima sejumlah uang dari sebuah rekening."
Darren membuka halaman berikutnya.
"Atas nama siapa?"
"Rekening tersebut menggunakan identitas orang lain, tetapi aliran dananya mengarah kepada sebuah perusahaan kecil yang ternyata memiliki hubungan dengan Gio."
Darren langsung mengangkat wajahnya.
"Gio?"
"Benar, Pak."
Darren terdiam.
Nama itu semakin memperkuat kecurigaannya.
"Bagaimana dengan pria yang merusak mobil Jovan?"
"Belum diketahui identitasnya. Namun kendaraan yang digunakannya terekam beberapa kali mengikuti mobil Jovan sejak sore."
"Dan kendaraan itu?"
"Terdaftar atas nama sebuah perusahaan yang pemiliknya memiliki hubungan bisnis dengan Gio."
Darren menutup berkas perlahan.
"Jadi mereka saling terhubung."
Iptu Darma mengangguk.
"Sepertinya begitu."
Darren berdiri. "Periksa Gio dan Jenika. Jangan lakukan penangkapan sebelum kita memiliki bukti yang cukup."
"Siap, Pak."
Darren menatap foto Jesika yang berada di atas meja.
"Kalau benar Jesika adalah dalangnya..."
Ia mengepalkan tangan. "...motifnya harus kita temukan."
Di rumah sakit, Jovan telah dipindahkan ke kamar rawat biasa. Ia duduk bersandar sambil menatap layar ponselnya. Berita tentang kecelakaan itu sudah menyebar luas.
Judul-judul berita bermunculan.
PEMBALAP MUDA TERLIBAT KECELAKAAN MAUT.
KECELAKAAN MENGAKIBATKAN SATU KORBAN MENINGGAL DUNIA.
Jovan mematikan layar ponselnya.Ia tidak sanggup membaca lebih banyak. Pintu kamar terbuka. Darren pun masuk.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Lebih baik."
Jovan menatap kakaknya.
"Ada perkembangan?"
Darren duduk di kursi.
"Ada."
Jovan langsung memperhatikan.
"Kecelakaanmu memang sangat mungkin bukan kecelakaan biasa."
Jovan terdiam.
"Kami menemukan rekaman CCTV yang menunjukkan seseorang memasukkan zat ke minumanmu."
Jovan mengepalkan tangan.
"Siapa?"
"Seorang pelayan wanita bernama Siska."
Jovan mengernyit.
"Gue nggak kenal."
"Dan ada seseorang yang merusak mobilmu di parkiran."
Jovan terdiam. Darren melanjutkan,
"Kami sedang mencari hubungan antara keduanya."
"Jadi benar ada yang menjebak gue."
"Indikasinya kuat."
Jovan menghela napas lega, tetapi wajahnya tetap murung.
"Kalau begitu, setidaknya keluarga Riki tahu gue nggak sengaja."
Darren menatap adiknya.
"Jangan berharap terlalu banyak."
Jovan menunduk.
"Gue tahu."
"Serina kehilangan suaminya. Tidak peduli siapa yang menjebakmu, secara emosional dia tetap akan menganggapmu sebagai orang yang menyebabkan kematian Riki."
Jovan terdiam lama. Kemudian ia berkata pelan,
"Gue ingin bertemu dengannya."
"Belum."
"Kak..."
"Belum saatnya."
Jovan mengepalkan tangan.
"Gue cuma mau meminta maaf."
"Aku tahu."
Darren menatap adiknya dengan serius.
"Tapi beri dia waktu."
Jovan akhirnya mengangguk.
"Baik."
*
*
Di rumah kontrakan, Serina sedang merapikan pakaiannya Riki. Setiap benda yang disentuhnya membuat kenangan lama kembali muncul. Kemeja yang biasa dikenakan Riki. Jam tangan yang selalu melingkar di pergelangan tangannya. Dompet yang masih berisi foto dirinya dan Farel. Serina menekan tangan ke dadanya.
"Mas..." Air matanya jatuh. "Kenapa semuanya masih terasa seperti mimpi?"
Farel datang membawa sebuah foto. "Bunda." Serina menoleh.
"Kenapa, Sayang?"
"Ini Ayah?"
Serina melihat foto tersebut.
"Iya."
"Farel boleh simpan?"Serina mengangguk.
"Ya."
Farel memeluk foto ayahnya.
"Farel kangen Ayah."
Serina langsung memeluk putranya.
"Bunda juga."
Keduanya menangis dalam diam.
Sementara itu, di sebuah tempat lain, Jesika menerima telepon.
"Bagaimana keadaan Jovan?" Suara Gio terdengar dari seberang. "Masih hidup."
Jesika terdiam.
"Dan polisi?"
"Mereka mulai curiga."
Jesika mengepalkan tangannya.
"Siapa?"
"Darren."
Mendengar nama itu, wajah Jesika berubah.
"Kakaknya?"
"Iya."
Jenika yang berada di dekat Gio langsung ikut berbicara.
"Kalau Darren terus menyelidiki, cepat atau lambat dia akan menemukan kita." Jesika berjalan mondar-mandir.
"Jangan panik."
"Tapi..."
"Aku bilang jangan panik!" Suara Jesika meninggi.
Ia kemudian menarik napas panjang.
"Jovan sudah kehilangan banyak hal."
Gio bertanya,
"Lalu apa langkah berikutnya?" Jesika tersenyum dingin.
"Biarkan publik percaya bahwa Jovan adalah penyebab kematian Riki."
"Dan kalau polisi menemukan bukti?" Jesika menatap kosong ke depan.
"Kalau begitu..." Senyumnya perlahan menghilang.
"kita harus memastikan tidak ada bukti yang tersisa."
Di ruang penyelidikan, Darren menerima sebuah pesan dari anak buahnya.
Pak, kami menemukan saksi baru. Ada seseorang yang melihat Gio berada di sekitar kendaraan Jovan sebelum keberangkatan menuju diskotik.
Darren membaca pesan itu berkali-kali.
Kemudian ia berdiri.
"Gio..."
Matanya menyipit.
"Sepertinya sekarang kita sudah mulai menemukan ujung benangnya." Namun Darren sadar, menghadapi keluarga Jesika tidak akan mudah. Mereka bukan sekadar ingin mencelakai Jovan. Mereka ingin menghancurkan seluruh kehidupannya. Dan Darren tidak akan membiarkan itu terjadi.
Terlebih lagi, ada seorang wanita bernama Serina yang tanpa sengaja kembali hadir dalam hidupnya.Wanita yang pernah menjadi cinta pertamanya. Wanita yang kini harus menghadapi kehilangan terbesar dalam hidupnya.
Darren menarik napas panjang.
"Jovan, bertahanlah." Ia menggenggam berkas tersebut. "Aku akan mengungkap semuanya."
Sejak keluar dari rumah sakit, pikiran Jovan tidak pernah benar-benar tenang.
Wajah Serina yang basah oleh air mata terus terbayang di benaknya. Begitu pula tangisan Farel ketika memanggil-manggil ayahnya.
Meski Darren telah memintanya untuk beristirahat dan tidak mengambil keputusan secara terburu-buru, Jovan merasa dirinya tidak sanggup hanya berdiam diri. Bagaimanapun juga, Riki meninggal setelah tertabrak oleh mobil yang dikendarainya.
Ada atau tidaknya orang yang menjebaknya, rasa bersalah itu tetap melekat di dalam dadanya.
Malam itu, setelah memastikan keadaan rumah sakit cukup tenang, Jovan diam-diam mengambil jaket dan kunci mobil pengganti yang diberikan keluarganya.
Ia membuka sebuah pesan yang dikirimkan Leo beberapa waktu sebelumnya.
Di sana terdapat alamat rumah kontrakan tempat Serina dan Farel tinggal. Jovan menatap alamat tersebut cukup lama. Tangannya mengepal.
"Aku harus bertanggung jawab. Aku tidak boleh menelantarkan mereka," batinnya.
Ia tahu kedatangannya mungkin akan membuat Serina semakin marah. Bahkan mungkin wanita itu akan mengusirnya. Namun Jovan tidak peduli. Ia hanya ingin berbicara. Bukan untuk membela diri.
Bukan pula untuk meminta Serina melupakan kematian Riki. Ia hanya ingin mengatakan bahwa dirinya tidak akan lari dari masalah ini.
Saat baru saja memasukkan ponsel ke dalam saku, tiba-tiba ponselnya berdering. Nama Leo muncul di layar. Jovan menghela napas sebelum mengangkatnya.
"Ya, Leo?"
"Jo, elo yakin mau ke sana sekarang? Mau gue temenin?" tanya Leo panik dari seberang telepon.
Jovan berjalan menuju lift dengan langkah mantap.
"Tidak perlu, Leo. Gue ingin menyelesaikan masalah ini sendiri."
"Jo, lo sadar kan siapa yang bakal lo temui?"
Jovan terdiam sejenak.
"Serina."
"Dan lo juga tahu dia masih berduka karena suaminya baru saja meninggal?"
"Gue tahu."
"Terus kalau dia marah lagi gimana?"
Jovan menundukkan kepalanya.
"Kalau dia mau marah, biarkan."
Leo menghela napas panjang.
"Lo benar-benar nekat."
Jovan tersenyum tipis.
"Gue memang harus menghadapi itu."
Sebelum menutup telepon, Jovan kembali teringat sesuatu.
"Oh iya, thanks ya sudah memberikan informasi alamatnya Serina!"
"Lo itu cowok paling nekat yang pernah gue temui," ujar Leo kesal. "Yasudahlah, terserah elo saja. Semoga tidak terjadi apa-apa dan wanita itu mau memaafkan elo!"
Jovan tertawa hambar.
"Gue nggak berharap dia langsung memaafkan gue."
"Terus?"
"Gue cuma ingin dia tahu kalau gue nggak akan kabur."
Sambungan telepon berakhir.
Jovan memasukkan ponselnya ke dalam saku.
Namun sebelum pergi, langkahnya tiba-tiba terhenti.
Ia teringat Farel. Bocah kecil yang tadi menangis sambil memanggil ayahnya.
Entah mengapa, sejak malam kecelakaan itu, wajahnya Farel selalu muncul di dalam pikirannya. Jovan kemudian berbelok menuju sebuah pusat perbelanjaan. Ia masuk ke sebuah toko mainan yang masih buka. Matanya menyusuri berbagai macam mainan yang tersusun di rak. Boneka, Robot, dan Pesawat. Hingga akhirnya pandangannya berhenti pada sebuah mobil mainan remote control keluaran terbaru.
Jovan mengambil kotaknya. Ia membayangkan Farel memegang remote tersebut dengan wajah gembira.
Seketika dadanya terasa sesak.
"Dulu mungkin dia menunggu ayahnya pulang membawa kue ulang tahun..." gumamnya lirih.
Pandangan Jovan jatuh pada mobil mainan di tangannya.
"Dan sekarang..."
Ia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Jovan membayar mainan tersebut.
Ketika keluar dari toko, ia memeluk kotak mobil remote control itu erat-erat. Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan tersebut, ada sedikit senyum di wajahnya. Meski senyum itu dipenuhi kesedihan.
"Ini buat kamu, Farel."
Ia berjalan menuju mobilnya.
"Semoga kamu suka."
Beberapa puluh menit kemudian, mobil Jovan berhenti tidak jauh dari sebuah rumah kontrakan sederhana.
Ia mematikan mesin.
Suasana di sekitar rumah tersebut jauh berbeda dengan lingkungan mewah yang biasa ia tinggali.
Rumah-rumah berdempetan. Lampu teras beberapa rumah masih menyala. Namun rumah Serina terlihat lebih redup dibandingkan rumah lainnya. Jovan menatap rumah tersebut dari balik kaca mobil.
Tangannya masih memegang kotak mobil remote control. Jantungnya berdegup semakin kencang.
Untuk beberapa saat, keberaniannya seakan menghilang.
"Apa yang sebenarnya gue lakukan?" Ia menelan ludah.
Namun kemudian terbayang kembali wajah Riki. Tangisan Serina. Dan suara Farel. Jovan menarik napas panjang.
"Aku datang bukan untuk meminta mereka melupakan Riki."
Ia membuka pintu mobil.
"Aku datang untuk bertanggung jawab."
Bersambung...
dia tidak pernah minta untuk dilahirkan di keluarga narendra...
mungkin blm karma menghampiri kamu jika seuatu saat nanti kebenaran tentang masal lalu narendra, mama kandung jovan dan kau marcella ada terkaitannya tidak mungkin jovan akan menutup mata dia pasti akan membalas perbuatan itu entah apa yg dilakukan
jovan setelah menikahi serina adakah kejutan buat keluarga narendra atau tentang masa lalu yang blm usai🤔🤔🤔🤔
benar kata leo bahwa kamu sudah mulai mencintai serina dan farel sebagai orang tercinta🤭🤭🤭🤭
mungkin setelah kamu menikah dengan serina adakah nanti kamu akan menggantikan mendiang riki🤔🤔🤔🤔🤔