NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Di Pabrik Sawit

Cinta Terlarang Di Pabrik Sawit

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cinta Terlarang
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Siska Delvi

Nadia seorang gadis yang diterima kerja sebagai admin di sebuah pabrik sawit di kabupaten Dharmasraya sumatera Barat terlibat cinta terlarang dengan asisten manager di pabrik sawit tersebut yang bernama Arif, mereka sama-sama tidak bisa memendam perasaan karena sering bertemu di tempat pekerjaan, padahal mereka sama-sama punya tunangan di kampung nya masing-masing siapa kah nanti yang akan di pilih Nadia apakah Arif Assisten Manager atau Tunangannya yang bernama Rizki seorang guru sejarah di kampung halamannya di padang panjang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska Delvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 Kamu Masih Peduli

Nadia baru saja menyelesaikan pekerjaannya ketika ponselnya bergetar di atas meja.

Satu pesan masuk dari Arif.

Arif: Jadi makan siang bareng atau tidak, Bu Krani?

Nadia menahan senyum. Sejak tadi laki-laki itu terus mengganggunya lewat pesan, padahal ruang kerja mereka tidak terlalu jauh.

Nadia: Katanya bosan makan sendirian. Kenapa malah maksa aku?

Arif: Karena kalau makan sama kamu, setidaknya ada yang bisa diajak berdebat.

Nadia tertawa kecil.

Nadia: Cari teman berdebat kok aku.

Arif: Kalau bukan kamu, siapa lagi yang berani melawan asisten manajer?

Nadia menggeleng sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia tidak ingin Arif tahu betapa mudahnya laki-laki itu membuat suasana hatinya membaik.

“Sudah siap, Mbak Nadia?”

Suara Mbak Sari membuatnya menoleh.

“Mau ke mana?” tanya Nadia.

“Makan siang. Katanya ada menu gulai ayam di kantin. Kamu ikut?”

Nadia sempat melirik ponselnya lagi. Ia sudah terlanjur berjanji kepada Arif, meskipun tidak pernah benar-benar mengatakan iya.

“Duluan saja, Mbak. Aku mau menyelesaikan satu berkas.”

Mbak Sari menyipitkan mata. “Berkas atau seseorang?”

“Mbak Sari!”

“Ya sudah, ya sudah. Aku tidak tanya lagi.” Mbak Sari tertawa sambil berjalan keluar.

Nadia menghela napas, lalu mengirim pesan kepada Arif.

Nadia: Aku ke kantin lima menit lagi.

Balasannya muncul hampir seketika.

Arif: Aku tunggu.

Dua kata sederhana itu entah kenapa membuat Nadia tersenyum lagi.

Kantin pabrik cukup ramai saat Nadia tiba. Beberapa karyawan bagian produksi sedang makan sambil membicarakan pekerjaan mereka.

Arif duduk di meja dekat jendela, masih mengenakan seragam kerjanya. Di sampingnya ada dua gelas air mineral dan dua piring makanan.

Nadia berhenti di depan meja.

“Kamu pesan makanan untuk dua orang?”

Arif mendongak. “Kalau cuma pesan satu, nanti kamu marah karena tidak dibelikan.”

“Siapa juga yang akan marah?”

“Kamu.”

Nadia menarik kursi dan duduk di hadapannya.

“Percaya diri sekali.”

Arif tertawa kecil, lalu mendorong salah satu piring ke arahnya.

“Makan dulu. Dari pagi kamu mondar-mandir mengurus dokumen.”

Nadia menatap makanan itu, kemudian menatap Arif.

“Kamu memperhatikan pekerjaanku juga?”

“Memangnya aku asisten manajer apa kalau tidak tahu kegiatan karyawanku?”

“Alasan.”

“Memang.”

Jawaban Arif begitu cepat sampai Nadia kehilangan kata-kata.

Laki-laki itu malah terlihat puas melihatnya salah tingkah.

Mereka mulai makan. Obrolan ringan mengalir di antara mereka, mulai dari pekerjaan Nadia yang kadang harus berpindah bagian hingga kebiasaan Arif yang sering lupa waktu ketika mengawasi proses produksi.

Nadia bahkan sempat tertawa ketika Arif bercerita tentang seorang operator yang pernah salah memasukkan laporan karena mengantuk.

Namun, suasana santai itu tidak berlangsung lama.

“Pak Arif!”

Seorang staf produksi menghampiri meja mereka.

“Maaf mengganggu. Ada masalah di bagian proses. Salah satu mesin pengangkut mengalami gangguan, dan kepala regu meminta Bapak memeriksa.”

Arif langsung meletakkan sendoknya.

“Sudah dihentikan sesuai prosedur?”

“Sudah, Pak. Mereka sedang menunggu arahan.”

“Baik. Saya ke sana sekarang.”

Arif berdiri, lalu menoleh kepada Nadia.

“Maaf, makan siangnya harus dipotong.”

Nadia mengangguk. “Tidak apa-apa. Kerjaanmu lebih penting.”

Arif memandangnya sesaat.

“Nanti kita lanjutkan.”

Nadia mengangkat alis. “Lanjut makan?”

“Kalau kamu mau.”

Sebelum Nadia sempat membalas, Arif sudah berjalan mengikuti staf produksi.

Nadia memperhatikannya pergi.

Ia tahu pekerjaan Arif tidak ringan. Sebagai asisten manajer, laki-laki itu harus memastikan proses di dalam pabrik berjalan aman dan lancar. Masalah bisa muncul kapan saja, bahkan ketika ia sedang makan.

Entah mengapa, melihat Arif kembali ke pekerjaannya justru membuat Nadia semakin menyadari satu hal.

Ia mulai terbiasa menunggu laki-laki itu.

Dan kebiasaan seperti itu bisa berbahaya jika perasaan mereka ternyata tidak pernah benar-benar dibicarakan.

Menjelang sore, Nadia sedang merapikan dokumen di ruang administrasi ketika Karin muncul di ambang pintu.

“Nadia, bisa bicara sebentar?”

Jari Nadia berhenti di atas papan ketik.

Ia mengangkat wajah, menatap perempuan yang dulu pernah mengirim foto dirinya bersama Arif di gudang arsip kepada Rizki. Foto itulah yang menjadi salah satu penyebab pertunangannya berakhir.

Nadia masih ingat jelas bagaimana hidupnya berantakan setelah foto itu tersebar.

Ia tidak akan berpura-pura bahwa semuanya sudah baik-baik saja.

“Ada perlu apa, Dok?” tanyanya dengan nada sopan.

Karin masuk dan menutup pintu, tetapi tidak sampai menguncinya.

“Aku ingin membicarakan sesuatu.”

“Silakan.”

Karin tampak mencari kata-kata. Untuk sesaat, ia terlihat tidak setegas biasanya.

“Aku tahu kamu masih mengingat kejadian waktu itu.”

Nadia menatapnya tanpa menjawab.

“Foto di gudang arsip,” lanjut Karin. “Foto kamu dan Arif yang kukirim kepada Rizki.”

Nadia meletakkan berkas di tangannya.

“Kalau Dokter sudah tahu apa yang terjadi, seharusnya Dokter juga tahu kenapa aku sulit melupakannya.”

Karin menarik napas.

“Aku tidak akan mengatakan bahwa tindakanku benar.”

“Bagus. Karena memang tidak benar.”

Jawaban Nadia terdengar tenang, tetapi tegas.

Karin terdiam.

“Aku kehilangan pertunanganku setelah itu,” lanjut Nadia. “Rizki mungkin memang bukan orang yang tepat untukku. Tapi keputusan untuk mengirim foto itu tetap keputusan Dokter. Aku harus menghadapi akibatnya, sementara Dokter pulang ke Medan dan melanjutkan hidup seperti biasa.”

Wajah Karin menegang.

“Aku tidak pernah bermaksud membuat semuanya sejauh itu.”

“Tapi Dokter tetap melakukannya.”

Tidak ada teriakan dalam suara Nadia. Justru ketenangannya membuat setiap kalimat terasa lebih tajam.

Karin menunduk sebentar.

“Aku cemburu,” akunya akhirnya. “Waktu itu aku melihat Arif semakin dekat denganmu. Aku merasa kehilangan dia, dan aku ingin kamu merasakan sesuatu yang sama.”

Nadia menghela napas pelan.

“Kalau Dokter ingin aku mengerti perasaan Dokter, aku bisa mengerti. Tapi mengerti bukan berarti membenarkan.”

Karin mengangkat wajah.

“Aku tahu.”

“Dan satu lagi, Dok. Aku tidak pernah meminta Arif meninggalkan Dokter. Hubungan kalian adalah urusan kalian berdua. Aku tidak mau dijadikan alasan untuk semua yang terjadi di antara kalian.”

Kalimat itu membuat Karin terdiam cukup lama.

Untuk pertama kalinya, ia tidak punya jawaban yang bisa langsung digunakan untuk membela dirinya sendiri.

“Aku belum meminta kamu memaafkanku,” katanya kemudian. “Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku sadar tindakanku salah.”

Nadia mengangguk tipis.

“Kalau begitu, tunjukkan lewat tindakan. Aku tidak bisa langsung percaya hanya karena Dokter mengatakan itu.”

Karin menerima jawaban tersebut tanpa membantah.

“Aku mengerti.”

Ia berbalik menuju pintu, tetapi sebelum keluar, ia berhenti sebentar.

“Nadia, aku tidak tahu bagaimana hubunganmu dengan Arif sekarang. Tapi aku harap kamu tidak perlu mengalami apa yang pernah kualami.”

Nadia mengernyit.

“Maksud Dokter?”

Karin menatapnya, lalu menggeleng pelan.

“Tidak apa-apa. Anggap saja aku sedang bicara tentang sesuatu yang sudah lewat.”

Setelah Karin pergi, Nadia tetap duduk di tempatnya.

Ia tidak tahu apakah permintaan maaf itu tulus atau hanya awal dari masalah baru. Namun, satu hal sudah pasti: ia tidak akan membiarkan siapa pun mengendalikan hidupnya lagi.

Termasuk jika orang itu adalah Arif.

Malam mulai turun ketika Nadia keluar dari ruang administrasi.

Ia baru saja hendak berjalan menuju mess perempuan saat melihat Arif berdiri di dekat tempat parkir. Seragamnya masih sama, tetapi lengan bajunya sudah digulung sampai siku.

“Kamu belum pulang?” tanya Nadia.

Arif menoleh.

“Baru selesai memeriksa mesin. Ada beberapa hal yang harus dipastikan sebelum pergantian sif.”

Nadia mengangguk. “Sudah makan?”

Arif tersenyum kecil.

“Sekarang giliran kamu yang bertanya begitu?”

“Kalau tidak mau menjawab, ya sudah.”

Nadia hendak melanjutkan langkah, tetapi Arif menyentuh ringan pergelangan tangannya.

“Tunggu.”

Nadia berhenti.

Sentuhan itu tidak kuat, tetapi cukup membuatnya menoleh. Arif segera melepaskan tangannya, seolah baru menyadari apa yang dilakukannya.

“Karin bicara apa sama kamu tadi?”

Nadia menatapnya.

“Kamu tahu?”

“Aku melihat dia keluar dari ruang administrasi. Wajahnya tidak seperti biasanya.”

“Dia membicarakan kejadian foto itu.”

Rahang Arif mengeras.

“Dia mengganggumu lagi?”

“Tidak. Kali ini dia mengakui bahwa tindakannya salah.”

Arif tampak tidak sepenuhnya percaya.

“Dan kamu percaya?”

“Aku bilang aku akan melihat tindakannya, bukan hanya mendengar perkataannya.”

Arif mengangguk pelan.

“Itu lebih baik.”

Nadia memperhatikan wajahnya.

“Kamu masih marah sama dia?”

Arif terdiam sesaat sebelum menjawab.

“Aku tidak bisa menghapus apa yang sudah terjadi. Tapi aku juga tidak mau menghabiskan hidupku dengan terus marah.”

Nadia menunduk, memainkan tali tasnya.

“Kadang aku juga berpikir begitu tentang Rizki.”

Arif tidak langsung menanggapi. Ia memberi Nadia waktu untuk melanjutkan.

“Aku tidak menyesal pertunangan itu berakhir,” kata Nadia. “Tapi aku menyesal pernah membiarkan orang lain menentukan terlalu banyak hal dalam hidupku.”

Arif menatapnya dengan serius.

“Sekarang kamu sudah bisa menentukan pilihanmu sendiri.”

“Belum tentu semudah itu.”

“Memang tidak mudah.” Arif tersenyum tipis. “Tapi setidaknya sekarang kamu tahu kamu berhak memilih.”

Nadia terdiam.

Ada sesuatu dalam cara Arif berbicara yang membuatnya merasa dipahami, tanpa harus menjelaskan semuanya panjang lebar.

“Arif,” panggilnya pelan.

“Ya?”

“Kalau suatu hari aku memilih seseorang lagi, aku tidak mau kehilangan diriku sendiri.”

Arif menatapnya lekat-lekat.

“Jangan kehilangan dirimu demi siapa pun, Nadia.”

Jawaban itu membuat dada Nadia terasa hangat.

Untuk beberapa saat, mereka hanya berdiri berhadapan. Angin malam berembus melewati halaman pabrik, membawa aroma tanah dan sisa hujan dari sore tadi.

Arif mengangkat tangan, seolah ingin menyentuh pipi Nadia. Namun, ia berhenti sebelum benar-benar melakukannya.

Nadia melihat gerakan itu.

“Kenapa?” tanyanya lirih.

Arif tersenyum samar.

“Aku sedang berusaha tidak melakukan sesuatu yang mungkin membuatmu tidak nyaman.”

Nadia menahan napas.

“Siapa bilang aku tidak nyaman?”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Arif terdiam. Tatapannya berubah, membuat Nadia sadar betapa dekat jarak mereka sekarang.

“Nadia,” ucapnya pelan.

“Ya?”

“Jangan membuatku salah mengartikan perkataanmu.”

Nadia menelan ludah, tetapi ia tidak mundur.

“Kalau aku memang tidak keberatan, bagaimana?”

Untuk sesaat, Arif tampak kehilangan kata-kata. Laki-laki yang biasanya begitu tenang menghadapi masalah produksi itu justru terlihat gugup di hadapannya.

Nadia hampir tertawa melihat perubahan wajahnya.

“Kenapa diam? Katanya kamu selalu punya jawaban.”

Arif menggeleng kecil sambil tersenyum.

“Kamu memang suka membuatku kesulitan.”

“Padahal aku cuma bertanya.”

“Justru itu masalahnya.”

Mereka tertawa pelan.

Arif akhirnya mengulurkan tangan, kali ini dengan gerakan yang jelas memberi Nadia kesempatan untuk menolak. Nadia menatap tangannya sejenak sebelum meletakkan tangannya di sana.

Genggaman mereka sederhana, tetapi cukup membuat jantung Nadia berdebar.

Arif tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menggenggam tangan Nadia dengan hangat, seolah sedang menyampaikan sesuatu yang belum berani diucapkannya.

Dan Nadia, untuk pertama kalinya, tidak ingin buru-buru melepaskannya.

Namun, ketika mereka akhirnya berpisah malam itu, masing-masing membawa pertanyaan yang sama.

Sampai kapan mereka bisa berpura-pura bahwa kedekatan ini tidak berarti apa-apa?

Sementara jauh di Medan, ayah Karin baru saja menerima kabar mengenai penugasan putrinya di Dharmasraya. Ia mengenal baik direktur pabrik pusat, dan ia tahu kepulangan Karin bukan sekadar perpindahan tempat kerja biasa.

Ia hanya berharap putrinya mampu bersikap profesional.

Sebab jika urusan pribadi mulai bercampur dengan kepentingan perusahaan, akibatnya bisa jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan.

Bersambung

1
𝐀⃝🥀Weny
semoga kalian berjodoh🤲 tambah up lagi dong thor 😊
𝐀⃝🥀Weny: 😊😊😊😊😊
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!