Aria Utama, seorang arsitek bertangan dingin, mendadak terjebak dalam pusaran konflik dua pria paling dominan di kota. Di satu sisi ada Adrian Mahardika, CEO dingin dari Mahardika Group yang menawarkan perlindungan, kestabilan, dan cinta yang tenang. Di sisi lain ada Dante Vance, pemimpin sindikat kejahatan paling tak tersentuh yang siap menghancurkan dunia demi mendapatkan Aria. Saat rahasia masa lalu terkuak, Aria harus memilih antara kepastian yang aman atau gairah yang mematikan di tengah pertumpahan darah dan perebutan kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aletaia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Di Pintu Maut
Sirene darurat melengking memecah keheningan koridor pusat Rumah Sakit Mahardika. Roda-roda stretcher medis berderit kencang saat tim dokter bedah senior berlari menuntun tubuh Aria yang tak sadarkan diri menuju ruang operasi VIP lantai tiga.
Lampu operasi merah menyala terang, memotong garis batas antara hidup dan mati.
Di luar pintu kaca yang terkunci rapat, Adrian Mahardika dan Dante Vance berdiri membeku. Setelan jas hitam Adrian dan kemeja taktis Dante dipenuhi oleh sapuan warna merah pekat—darah Aria yang mengering dan melekat di pakaian mereka.
Adrian menyandarkan keningnya di dinding kaca tebal, jemarinya mengepal rapat hingga buku-buku jarinya memutih. Air mata meluncur kencang tanpa henti melewati pipinya yang pucat. Rasa bersalah yang amat dahsyat meremukkan dadanya.
"Ini semua salahku..." bisik Adrian, suaranya parau dan pecah oleh histeria yang tertahan. "Seharusnya peluru itu menembus dadaku... Dia mengorbankan nyawanya demi menghentikan kegilaan kita..."
Dante berdiri menyandarkan punggungnya di pilar koridor yang dingin. Sepasang mata abu-abunya menatap lurus ke arah lantai marmer, memperlihatkan kekosongan jiwa dan rasa panik mendalam yang belum pernah singgah dalam hidupnya. Sang Raja Mafia yang biasanya tak terstruktur oleh emosi kini gemetar hebat; jemarinya yang bernoda darah meraba cincin perak bertanda naga yang pernah melingkar di jari Aria.
"Dia tidak akan mati," suara Dante terdengar sangat rendah, bergetar oleh perpaduan antara ketakutan dan penyangkalan yang memekakkan telinga. "Dia adalah istriku... dia tidak akan meninggalkanku di tengah kegelapan ini."
Dua jam berlalu dalam keheningan yang menyiksa. Tidak ada pertengkaran, tidak ada ancaman, dan tidak ada lagi perebutan kekuasaan di antara dua pria paling berkuasa di kota ini. Yang tersisa di koridor sunyi itu hanyalah dua jiwa yang sama-sama hancur, menanti keajaiban di balik pintu operasi.
Tiba-tiba, lampu indikator merah di atas pintu berkedip cepat, berganti menjadi warna kuning darurat. Suara alarm indikator detak jantung bersuara nyaring berpip cepat dari dalam ruangan!
Pintu operasi terbuka mendadak. Dokter bedah kepala keluar dengan gaun medis bersimbah darah dan raut wajah yang amat panik.
"Dokter! Bagaimana keadaannya?!" teriak Adrian dan Dante serentak, merangsek maju mencengkeram lengan dokter tersebut.
"Proyektil peluru berhasil diangkat dari rongga dadanya, Tuan-Tuan," ujar dokter bedah dengan napas memburu dan keringat dingin membasahi pelipisnya. "Namun... peluru itu menyambar bagian atas katup jantung. Nona Aria mengalami pendarahan hebat dan detak jantungnya mendadak berhenti (cardiac arrest)!"
Mendengar hal itu, dunia seolah runtuh di bawah kaki Adrian dan Dante.
"Lakukan apa saja! Gunakan seluruh alat paling canggih, panggil dokter terbaik di dunia, aku akan membiayai semuanya!" jerit Adrian histeris, meremas kerah gaun dokter.
"Jika dia sampai tidak selamat... aku akan membumihanduskan tempat ini dan memastikan kalian semua menyusulnya!" ancam Dante dengan mata merah menyala dan suara menggelegar bagaikan Iblis dari neraka.
"Kami sedang melakukan prosedur defibrillation (pacu jantung) sekarang, Tuan-Tuan!" jelas dokter panik seraya kembali berlari ke dalam ruangan. "Berdoalah agar tubuhnya memberikan respons!"
Dari balik kaca pengawas ruangan steril, Adrian dan Dante menyaksikan pemandangan yang paling mengerikan dalam hidup mereka. Tubuh halus Aria terbaring lemah dengan puluhan selang medis terpasang di tubuhnya. Alat pacu jantung dihantamkan ke dadanya berkali-kali, membuat tubuh wanita itu terangkat kaku lalu terkulai kembali.
BZZZT!
Garis di monitor detak jantung masih membentang lurus (flatline).
Adrian menyandarkan dadanya ke kaca, menangis sesenggukan dan memukul kaca tebal itu dengan telapak tangannya yang berdarah. "Aria... aku mohon padamu... kembalilah... Jangan tinggalkan aku..."
Dante memejamkan matanya rapat-rapat, meremas dadanya sendiri yang terasa dihantam godam raksasa. Untuk pertama kali dalam hidupnya, sang Raja Mafia bertelut melipat kedua tangannya di atas lantai koridor yang dingin, memanjatkan doa kepasrahan demi keselamatan wanita yang memegang seluruh jiwanya.
Di batas antara kesadaran dan kegelapan abadi, bayangan Aria melayang di dalam ruang hampa yang dingin. Namun di tengah kegelapan itu, gema suara tangisan dua pria yang mencintainya memanggil namanya tanpa henti, memanggilnya untuk kembali ke dunia nyata.
BZZZT!
Dada Aria terangkat sekali lagi di bawah hantaman kejutan listrik terakhir.
Monitor detak jantung yang tadinya bergaris lurus seketika mengeluarkan bunyi bip samar yang sangat lambat.
Bip... Bip... Bip...