Season pertama mengisahkan kejatuhan tragis klan mafia termasyhur, Valenti, akibat pengkhianatan terencana pada malam penyerahan takhta kepemimpinan. Leo Valenti, pewaris tunggal yang dituduh membunuh ayahnya sendiri, diburu oleh gabungan faksi rival dan terlempar ke titik terendah setelah terluka parah. Di tengah keputusasaan, Leo bersimpangan jalan dengan Elena, seorang peretas dan pemilik jaringan informasi independen yang memiliki masa lalu kelam dengan pelaku kudeta tersebut. Mereka sepakat membentuk aliansi rahasia yang dingin dan saling memanfaatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TEMBAKAN PERTAMA
Leo melempar seluruh berat tubuhnya ke depan, mencoba menutupi tubuh Don Antonio dengan badannya sendiri. Namun, kecepatan peluru berkaliber tinggi yang meluncur dari kegelapan luar gedung jauh melampaui refleks manusia mana pun.
DOR!
Suara tembakan ganda memecah kegelapan ballroom seperti guntur yang membelah langit malam. Peluru pertama menembus sisa kaca jendela yang retak, melintas di atas pundak Leo, dan menghantam mimbar kayu hingga hancur berkeping-keping.
Namun peluru kedua... menghantam sasaran dengan sangat presisi.
DOR!
Ceceran darah hangat mendadak menyembur, memercik tajam mengenai pipi dan leher Leo.
"Nghh...!" sebuah erangan berat dan sesak terdengar dari bawah tubuh Leo.
Jantung Leo seakan berhenti berdetak seketika. Seluruh persendian tubuhnya mendadak kaku. Dengan tangan yang mendadak gemetar hebat, Leo meraba dada ayahnya di tengah kegelapan pekat yang masih menyelimuti panggung. Tangannya langsung disambut oleh cairan kental berbau tembaga yang merembes deras, membasahi kemeja putih dan jas mahal Don Antonio.
Peluru berkaliber besar itu telah menembus tepat di tengah dada Antonio, merobek arteri utama sebelum bersarang di lantai marmer di bawahnya.
"Ayah!" teriak Leo dengan suara tercekat di tenggorokan, kepanikan luar biasa mendadak menguasai seluruh pikirannya. "Ayah! Tetap buka matamu!"
Leo mengangkat kepala ayahnya dari lantai marmer yang dingin, menopang tengkuk Antonio dengan lengan kirinya yang kini sudah bersimbah darah kental. Tangan kanan Antonio yang gemetar berusaha terangkat, jemarinya yang makin melemah mencengkeram erat kerah jas Leo.
Mata sang Don tua melotot menatap langit-langit panggung yang gelap. Napasnya terdengar tersengal-sengal, diiringi suara bisikan darah yang menyumbat tenggorokannya.
"L-Leo..." bisik Antonio dengan vokal yang amat tipis, hampir tak terdengar di antara jeritan histeria para tamu yang masih berlarian di bawah panggung.
"Jangan bicara, Ayah! Tahan!" jerit Leo seraya menekan luka tembak di dada Antonio dengan telapak tangannya, berusaha keras menahan aliran darah yang tak berhenti menyembur. "Dokter! Mana tim medis?! Bawa medis ke panggung sekarang juga!"
Namun tidak ada siapa pun yang menjawab. Di bawah panggung, ratusan orang saling injak dan saling dorong dalam gelap, berusaha menyelamatkan diri mereka masing-masing menuju pintu keluar. Suara pecahan piring, benturan meja, dan teriakan minta tolong menutup rapat seruan histeris Leo.
Antonio menatap wajah putranya untuk terakhir kali. Jemari sang Don tua yang mencengkeram kerah Leo mendadak perlahan melembut dan meluncur jatuh ke lantai. Binar kehidupan di sepasang mata tegas itu padam seketika, meninggalkan tatapan kosong yang mengarah ke kegelapan.
"Ayah...?" bisik Leo dengan vokal berguncang hebat. Ia menepuk-nepuk pipi Antonio yang mendadak terasa dingin. "Ayah! Buka matamu! Ayah!"
Hening. Tidak ada embusan napas, tidak ada denyut nadi di leher Antonio. Sang Don legendaris yang menguasai dunia gelap kota selama tiga dekade itu tewas seketika di panggung perayaannya sendiri, hanya beberapa menit setelah menyerahkan kekuasaannya.
Leo terpaku kaku di atas panggung. Tubuhnya gemetar hebat, menunduk memeluk jasad ayahnya yang terkulai lemas. Rasa tidak percaya, duka mendalam, dan amarah membakar dadanya hingga ia hampir kesulitan bernapas.
Tepat pada saat itu, lampu darurat generator berdaya rendah di sudut-sudut gedung mendadak menyala secara bertahap.
Zzzzt... Zzzzt...
Cahaya temaram berwarna kekuningan mulai menyinari Grand Ballroom yang kini berantakan seperti medan perang. Meja-meja terguling, gelas-gelas pecah berserakan, dan bercak darah melumuri lantai marmer dari para tamu yang terluka akibat desakan massal.
Di atas panggung utama, cahaya lampu darurat itu jatuh tepat di atas Leo yang berlutut memangku jasad Antonio. Seluruh tubuh bagian depan Leo—wajah, leher, kemeja putih, hingga kedua tangannya—terlapis darah merah pekat milik ayahnya.
Di dekat lutut kanan Leo, sebuah pistol revolver rakitan berbahan perak mengilat tergeletak terbuka di lantai marmer—pistol jebakan yang diam-diam dijatuhkan oleh salah satu algojo Ares Group saat kegelapan berlangsung.
"Jangan bergerak!" sebuah teriakan keras dan tegas mendadak bergema dari arah tangga panggung sebelah kanan.
Leo mengangkat kepalanya yang terasa amat berat. Pandangannya yang buram oleh air mata dan emosi mencoba fokus pada sosok yang baru saja melangkah naik ke panggung.
Marco berdiri di sana. Tangan kanannya memegang pistol Glock yang mengarah lurus ke dada Leo. Di belakang Marco, belasan pengawal elit Valenti bersenjata lengkap berbaris merapat, seluruh moncong senapan otomatis mereka terkunci pada tubuh Leo.
Mata Marco melotot lebar, menatap jasad Antonio yang bersimbah darah, lalu mengalihkan pandangannya ke wajah Leo dengan ekspresi shock yang sangat meyakinkan.
"Tuhan... Don Antonio!" jerit Marco dengan vokal bergetar sarat ketakutan dan amarah. "Apa yang sudah kamu lakukan, Leo?!"
Leo menatap Marco dengan kerutan kening tebal, kebingungan setengah mati dengan respons tangan kanan ayahnya itu.
"Marco... Ayah tertembak..." ucap Leo dengan suara serak dan terengah-engah. "Panggil medis sekarang! Seseorang menembak Ayah dari luar jendela!"
"Bohong!" potong Marco dengan teriakan memekakkan telinga seraya melangkah maju dua tindak. "Jangan berbohong, Leo! Kami semua melihatnya saat lampu darurat menyala!"
Marco menunjuk dengan jarinya yang gemetar ke arah pistol rakitan perak yang tergeletak tepat di samping lutut Leo.
"Senjata itu... senjata perak rahasia milik Don Antonio yang selalu disimpan di brankas pribadinya!" seru Marco seraya menoleh ke arah belasan pengawal di belakangnya. "Hanya Leo yang tahu kode brankas itu! Dia memanfaatkan kegelapan untuk mengeksekusi ayahnya sendiri agar bisa menguasai klan secara mutlak!"
Leo membelalakkan matanya tidak percaya. Otaknya yang sempat lumpuh akibat rasa duka mendadak bekerja cepat menyambungkan setiap keanehan yang terjadi malam ini. Mati lampu yang sangat presisi, tidak adanya respons pengawal, hingga pistol yang mendadak berada di dekat kakinya.
"Apa yang kamu bicarakan, Marco?!" bentak Leo seraya berdiri dari lantai panggung, tangannya melayang menunjuk Marco. "Kamu yang mengatur semua ini! Kamu sengaja mengalihkan pengawal saat listrik padam!"
"Lihat! Dia mencoba melawan!" teriak Marco kepada para pengawal dengan nada panik yang dibuat-buat. "Pangeran muda ini sudah gila! Dia membantai ayahnya sendiri demi takhta dan sekarang mencoba menuduhku!"
Para pengawal Valenti yang berdiri di belakang Marco saling pandang dengan raut ragu dan terkejut. Mereka melihat Leo yang penuh lumuran darah berdiri di atas jasad Don Antonio, dengan senjata pembunuh terletak persis di sampingnya. Di mata para pengawal yang tidak tahu apa-apa, pemandangan itu adalah bukti yang amat tidak terbantahkan.
"Kalian semua, dengarkan perintahku!" seru Marco dengan vokal berwibawa khas pimpinan interim. "Sebagai tangan kanan Don Antonio, aku memerintahkan kalian untuk menahan pengkhianat ini! Jika dia melawan, tembak di tempat!"
"Marco, kamu pengkhianat busuk!" jerit Leo dengan amarah yang meledak dari dadanya.
Tanpa berpikir panjang, Leo merogoh sarung pinggangnya untuk menarik Glock pribadinya. Namun sebelum senjatanya berhasil terangkat, Marco lebih dulu menarik pelatuknya.
DOR!
Peluru dari pistol Marco menyambar tepat di pundak kanan Leo.
"Ugh!" erang Leo keras saat hantaman peluru melemparkan tubuhnya mundur dua langkah. Rasa panas membakar mendadak menjalar di bahunya, membuat tangan kanannya kehilangan daya dan menjatuhkan senjatanya ke lantai.
"Tembak! Tahan pengkhianat itu!" teriak Marco lagi.
Belasan pengawal mulai menarik pelatuk senapan mereka. Tembakan demi tembakan mulai berhamburan menyasar panggung, memaksa Leo yang terluka parah melemparkan tubuhnya ke balik mimbar kayu untuk menghindari hujan peluru yang siap merenggut nyawanya.
Di bawah kilatan lampu tembakan dan gemuruh suara peluru, Leo menyadari satu hal pahit: dalam hitungan menit, ia telah kehilangan ayahnya, kehormatannya, dan kini menjadi buronan utama di kotanya sendiri.