NovelToon NovelToon
Hasrat Cinta Sang Pendosa

Hasrat Cinta Sang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:821
Nilai: 5
Nama Author: A_ntalus

"Halo! Makasih udah mampir ke [Hasrat Cinta Sang Pendosa]. Update tiap Hari. Jangan lupa save dan ramaikan kolom komentar ya. Happy reading!"

_________________

Berstatus sebagai istri kontrak dari Oscar—sang penguasa malam yang bengis—seharusnya membuat Anisa aman dari masa lalu.


Namun, An Liu Li datang membawa obsesi buta yang menjungkirbalikkan segalanya.Niat hati ingin menjauh dari konflik, Anisa justru terseret dalam permainan ego dua pria berkuasa yang menolak melepas kepemilikan mereka atas dirinya.


Terjebak dalam pusaran kegilaan ini, siapakah yang akan memenangkan hati Anisa?An Liu Li yang mengejarnya dengan cinta pertama yang destruktif, atau Oscar yang mulai luluh oleh kehadiran sang istri sewaan?

꧁ঔৣ☬HCSP☬ঔৣ꧂

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A_ntalus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

꧁ঔৣ [Chapter 7] ঔৣ꧂

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

Langkah kaki Anisa terasa begitu ringan menelusuri koridor mansion yang dingin. Harapan sederhana mekar di dadanya; sebuah niat murni untuk menghidangkan masakan hangat sebagai tanda permohonan maaf kepada Oscar, suaminya. Bagi Anisa, kesempatan kecil ini adalah segalanya—pintu maaf yang akhirnya terbuka sedikit setelah ketegangan di antara mereka pagi tadi.

Namun, kehangatan di dadanya mendadak menguap saat ia tiba di depan gudang bahan makanan.

Pintu kayu tebal itu sedikit terbuka. Sebelum jemarinya menyentuh daun pintu, aroma asing yang tajam sudah lebih dulu menyeruak keluar—amis, menyengat, dan berbau darah pekat yang langsung menusuk hingga ke pangkal hidung.

"Bau apa ini...?" bisiknya pelan.

Dengan lengan baju yang menutupi sebagian hidungnya, Anisa mendorong pintu kayu itu perlahan.

Kreeeek...

Engsel pintu berdecit, membongkar pemandangan horor di balik kegelapan ruangan. Wajah Anisa seketika kehilangan seluruh warnanya.

Di dalam gudang yang temaram, potong-potongan daging tergantung liar. Namun, yang membuat seluruh persendiannya membeku adalah sebuah kepala babi berukuran raksasa yang dipajang brutal pada kait besi di dinding. Cairan merah pekat bercampur sisa-sisa daging masih menetes lambat, menggenang di atas lantai batu yang dingin.

"Ya Allah..." Anisa membekap mulutnya. Matanya membelalak ketakutan. "Ini... ini benar-benar daging babi?"

Ia terhuyung mundur. Pekatnya aroma amis darah menusuk lambungnya tanpa ampun.

"Ugh...!" Anisa membungkuk dalam-dalam, menahan rasa mual yang mendesak kuat di tenggorokannya. "Siapa... siapa yang menyimpan ini di sini?!"

Hanya keheningan yang menjawabnya.

Anisa tidak tahu bahwa pemandangan mengerikan itu hanyalah hasil keteledoran bawahan Oscar. Bagi para pria berkulit kasar itu, selama daging pesanan sudah masuk ke dalam gudang, tugas dianggap selesai—tanpa peduli sisa darah yang belum dibersihkan.

Namun bagi Anisa, ruangan itu bertransformasi menjadi ruang jagal yang mengerikan dan penuh tekanan.

"Kenapa harus sebesar ini...?" Tubuhnya menggigil hebat. "Dan kenapa harus dipajang seperti ini...?"

Ia segera memalingkan wajah, tak lagi sanggup menatap kengerian itu. Napasnya mulai memburu, dangkal, dan tak beraturan. Dengan jemari gemetar, ia mengusap dadanya sendiri, berusaha memompa ketenangan yang kian menipis.

"Tenang, Anisa... tenang," gumamnya, menenangkan diri sendiri. "Kamu cuma perlu minum sesuatu yang hangat."

Ya, secangkir teh hangat mungkin bisa mengusir rasa mual dan gemetar di tubuhnya. Dengan langkah terburu-buru, Anisa melarikan diri dari depan gudang menuju dapur.

Namun, takdir seolah sengaja mengujinya hari ini.

Saat ia membuka salah satu lemari atas untuk mencari daun teh, tubuhnya kembali membeku kaku. Bukan daun teh, bukan kopi, ataupun cangkir yang menyambutnya. Di dalam lemari itu, tersusun rapi puluhan botol minuman beralkohol dengan kadar tinggi dari pelbagai merek ternama.

Mata Anisa melebar sempurna. Tangannya yang mengudara perlahan gemetar hebat sebelum akhirnya terkulai lemas.

"...Tidak," bisiknya, hampir tak bersuara.

Ia mundur satu langkah. Lalu satu langkah lagi, seolah lemari itu memancarkan bahaya yang mematikan.

"Ti-tidak... aku tidak mau melihat ini..."

Namun, dinding pertahanan mentalnya sudah telanjur runtuh. Memori kelam yang selama ini ia kubur rapat-rapat mendadak meledak di dalam kepalanya. Bau alkohol yang tajam. Gemerincing botol-botol kaca. Tangisan histeris seorang wanita dalam ingatan samar. Suasana masa lalu yang penuh teror.

Dada Anisa serasa dihantam beban ton-tonan. Sesak.

"Tidak... Jangan...!" Ia meremas jemarinya sendiri hingga memutih. "Jangan muncul lagi...!"

Ia memejamkan mata rapat-rapat, namun bayangan trauma itu justru semakin benderang dan mencekik. Napasnya tercekat di tenggorokan. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya lolos, membasahi pipinya.

Anisa berbalik dan berlari. Kakinya lemas tak berdaya, membuatnya terhuyung dan hampir tersandung berulang kali sepanjang koridor.

Begitu berhasil menerobos masuk ke dalam kamarnya, pintu segera ia kunci rapat. Dan di balik pintu yang tertutup itu, seluruh ketahanannya hancur berkeping-keping.

Anisa ambruk ke lantai. Dengan kedua tangan menutupi mulutnya, tangisnya pecah. Sebuah tangisan yang teramat lirih dan tertahan—seolah-olah dalam kehancurannya pun, ia masih sangat ketakutan jika ada orang lain yang mendengarnya.

"Aku takut..." bisiknya di sela isakan yang menyayat hati. "Tolong... jangan lagi..."

Ia memeluk kedua lututnya erat-erat, meringkuk di atas lantai dingin, membiarkan ingatan kelam itu menggerogoti jiwanya hingga kesadarannya perlahan meredup.

Beberapa jam kemudian, langkah sepatu beradu dengan lantai granit mansion. Oscar baru saja melepas jas luarnya saat melangkah ke ruang makan.

Namun, ruangan itu sunyi. Meja makan besar di hadapannya kosong melompong. Tidak ada hidangan hangat, tidak ada Anisa.

Oscar mengernyitkan alisnya. Pria itu menduga, dengan postur tubuh Anisa yang kecil dan rapuh, wanita itu mungkin kesulitan mengolah bahan makanan dan akhirnya terlambat menyajikannya.

"Di mana dia? Apa dia belum selesai memasak?" gumam Oscar dengan nada datar. "Atau dia sendiri belum makan?"

Seorang pelayan bergegas mendekat dengan kepala tertunduk dalam. "Maaf, Tuan. Kami... belum melihat Nyonya Besar sejak sore."

Oscar menoleh cepat, tatapannya menyipit. "Belum melihatnya?"

"Tidak, Tuan."

"Dia tidak keluar dari kamar sama sekali?" tanya Oscar lagi, menuntut kepastian.

"Kami tidak tahu pasti, Tuan..."

Sekilas kilatan tajam terpancar dari mata Oscar. "Kalau begitu, kenapa tidak ada satu pun dari kalian yang mengeceknya?!"

Pelayan itu makin menundukkan kepala, tak berani bersuara.

Oscar menghela napas berat. Mungkin dia cuma ketiduran, batinnya mencoba merasionalisasi. Namun, sebuah firasat buruk yang asing mendadak mencengkeram dadanya. Tanpa mengulur waktu, pria itu melangkah lebar menaiki tangga menuju kamar utama.

"Anisa?" panggilnya di depan pintu.

Hening.

Tok. Tok. Tok.

"Anisa, aku masuk."

Masih tidak ada sahutan. Oscar memutar gagang pintu dan membukanya perlahan.

Namun, begitu pintu terbuka, langkah Oscar mendadak terkunci di tempat.

"...Anisa?"

Di atas lantai yang dingin, wanita itu tergeletak lemas tak berdaya. Wajahnya pucat pasi bagai mayat, dan tubuhnya sama sekali tidak bergerak.

Untuk pertama kalinya malam itu, topeng ketenangan yang selalu dikenakan Oscar hancur tanpa sisa. Kepanikan mendadak menguasai dirinya.

"Anisa!"

Oscar berlutut seketika di samping tubuh Anisa. Jemarinya yang biasanya tenang kini gemetar saat memeriksa urat nadi di leher wanita itu. Napasnya masih ada, namun begitu tipis dan lemah.

Oscar mengepalkan rahangnya hingga urat-urat di lehernya menegang. "Panggil dokter!" teriaknya pada pelayan di luar. "Dokter wanita. Sekarang juga!"

"Baik, Tuan!"

Oscar menatap wajah Anisa yang tertutup kain cadar. Tangannya sempat terangkat, berniat melepaskan kain itu agar wanita di hadapannya bisa bernapas lebih lega. Namun, jarinya terhenti di udara.

Tidak. Pria itu menahan diri. Ia tahu betapa Anisa menjaga batasan itu, dan ia tidak boleh merusak kepercayaan yang baru saja coba mereka bangun.

"Bertahanlah..." suara Oscar merendah, sarat akan kecemasan yang tak mampu ia sembunyikan lagi. "Aku di sini."

Tidak butuh waktu lama hingga seorang dokter wanita datang dan segera melakukan pemeriksaan intensif di dalam kamar. Selama proses itu, Oscar berdiri membisu di luar pintu, menyandarkan punggungnya pada dinding koridor.

Pikirannya berputar hebat. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa wanita yang tadinya baik-baik saja bisa mendadak ambruk seperti ini?

Ketika pintu akhirnya terbuka dan dokter melangkah keluar, Oscar langsung menegakkan tubuhnya.

"Bagaimana keadaannya?"

Dokter wanita itu melepas sarung tangannya pelan. "Untuk sementara kondisinya sudah stabil, Tuan."

Oscar menghembuskan napas panjang, melepaskan sebagian beban tebal di dadanya. "Lalu kenapa dia bisa pingsan?"

Dokter menatap Oscar rapat-rapat sebelum menjawab, "Nyonya mengalami panic attack—serangan panik yang sangat hebat."

Dahi Oscar berkerut dalam. "Serangan panik?"

"Ya. Dari gejala klinisnya, kemungkinan besar ada sesuatu yang menjadi pemicu kuat (trigger)."

"Pemicu?"

"Bisa berupa aroma tertentu, bentuk benda, tempat, suara, atau apa pun yang terhubung langsung dengan trauma masa lalu yang amat buruk," jelas dokter itu lugas.

Mata Oscar berganti redup. "Masa lalu...?"

Dokter mengangguk pelan. "Sepertinya Nyonya menyimpan luka emosional yang sangat berat dari masa lalunya."

Oscar bungkam. Tatapannya tertuju pada daun pintu kayu di sampingnya. Selama ini... rahasia gelap apa yang disembunyikan wanita rapuh itu?

"Dan satu hal lagi yang sangat penting, Tuan," potong dokter itu dengan nada tegas.

"Apa?"

"Jangan pernah memaksa beliau untuk bercerita," peringatnya. "Jangan terus-menerus bertanya tentang penyebabnya. Jika trauma itu kembali tertekan, kondisinya justru bisa jauh lebih memburuk."

Oscar terdiam dalam waktu yang cukup lama. Ada dorongan kuat di dalam dirinya untuk mengikis habis misteri itu, untuk mengetahui setiap incil kenangan buruk yang mengganggu istrinya. Namun, mengingat bagaimana Anisa selalu menatap dunia dengan pandangan waspada dan ketakutan, Oscar akhirnya menurunkan ego.

"Baik," sahut Oscar pendek.

"Biarkan Nyonya sendiri yang datang dan bercerita ketika dia sudah benar-benar siap."

Oscar menatap pintu kamar itu sekali lagi, lalu mengangguk lambat. "...Aku mengerti."

Malam semakin meninggi dan hawa dingin kian menusuk. Anisa masih belum sadarkan diri.

Oscar tidak meninggalkan kamar itu. Pria itu duduk diam di kursi kayu samping ranjang, menatap lekat deru napas Anisa yang naik-turun dengan teratur. Dokter sempat memperingatkan bahwa pola tidur wanita ini sangat buruk, dan jika terus dibiarkan, fisiknya akan hancur. Karena itulah, Oscar memilih untuk tetap tinggal.

Tanpa menyentuh.

Tanpa bertanya.

Tanpa menuntut.

Hanya hadir sebagai penjaga di tengah kegelapan malam.

Hingga ketika jam dinding menunjukkan pukul dua pagi, jemari Anisa di atas seprai mulai bergerak kecil. Kelopak matanya bergetar pelan.

"Ugh..."

Oscar langsung menegakkan posisinya. "Anisa?"

Manik mata wanita itu terbuka perlahan. Namun, alih-alih ketenangan, iris matanya seketika dipenuhi ketakutan liar begitu menyadari keberadaan seseorang. Air mata kembali mengalir deras di pipinya tanpa sanggup ditahan.

Oscar terpaku. Ketenangannya terkoyak melihat ketakutan murni di mata istrinya. "Hey..." bisiknya lembut, menahan diri untuk tidak mencecar dengan pertanyaan.

Anisa menggigit bibir bawahnya erat-erat. "Aku..." Suaranya pecah, bergetar hebat. "Aku takut..."

Ada rasa cengkeraman tak kasat mata yang mendadak menekan dada Oscar. Pria yang biasanya penuh dengan kata-kata dominan itu kini kehilangan lidahnya.

Pada akhirnya, tanpa mengintimidasi, Oscar hanya merentangkan kedua tangannya perlahan di udara.

"Kalau begitu... kemarilah."

Anisa menatap sepasang lengan itu. Ada keraguan yang begitu besar menahannya. Namun saat melihat tidak ada paksaan atau tuntutan di mata Oscar, tubuh Anisa yang lemas perlahan bergerak mendekat.

Dan ketika tubuh rapuh itu akhirnya bersandar di dada tegap Oscar, pertahanan terakhir Anisa runtuh sepenuhnya.

Tangisnya meledak kembali—kali ini melepas seluruh beban, rasa takut, dan bayangan hitam yang mengejarnya sejak sore. Dan Oscar membiarkannya. Pria itu tidak bertanya, tidak menyela, tidak pula memaksa.

Hanya satu tangannya yang terangkat perlahan, memberikan usapan lembut dan konstan di punggung Anisa.

"Tidak apa-apa," bisik Oscar dengan suara berat dan hangat. "Kamu aman."

Isakan Anisa semakin menjadi, menumpahkan segala kepedihan di atas pakaian suaminya.

"Malam ini tidak akan ada yang menyakitimu," janji Oscar seraya menatap lurus ke kegelapan kamar. "Aku janji."

Lama-kelamaan, tangisan histeris itu mulai mereda menjadi isakan-isakan kecil. Tubuh Anisa perlahan melonggar dan melemas dalam dekapan hangat itu, terlalu lelah untuk terus bertarung melawan rasa kantuk dan trauma yang menguras tenaganya.

Namun, satu detail masih tersisa. Kain cadar wanita itu tampak bergeser dan berpotensi menyulitkan napasnya yang belum sepenuhnya stabil.

Oscar memalingkan wajahnya ke arah lain. Dengan satu tangan yang bebas, ia meraih dasi kerja yang sempat diletakkannya di meja samping, lalu mengikatkan kain hitam itu menutupi kedua matanya sendiri.

"Aku tidak akan melihatmu," ujar Oscar tegas dari balik kegelapan ikat matanya.

Anisa yang sudah setengah sadar tak mampu lagi membalas dengan kata-kata.

Oscar memastikan kain yang menutupi matanya terikat sempurna sebelum kembali menopang tubuh Anisa. "Tidurlah. Kamu tidak perlu memakai cadar malam ini kalau itu membuatmu sulit bernapas."

Tangannya tetap berada di punggung Anisa. Tetap menjaga jarak yang terhormat. Tidak mengambil keuntungan sedikit pun dari kerapuhan wanita itu.

Ia hanya berada di sana—menjadikan dirinya benteng dari dinginnya malam, dari teror masa lalu, dan dari ketakutan Anisa sendiri.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang penuh luka, Anisa menyadari satu hal: bahwa pelukan seorang pria tidak selalu berarti ancaman atau paksaan. Ada pula pelukan yang hadir tanpa menuntut apa-apa—hanya menawarkan tempat berlindung yang aman untuk beristirahat.

Dan malam itu, Oscar memilih untuk menjadi tempat tersebut.

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

1
A_ntalus
wah sebelumnya makasih udah mampir kak...aku sengaja menyimpan Plot wist di antara Plot wist 🤣💪
falea sezi
😒 ed kok jahat sih ma adek ipar
falea sezi
kok Edward dingin tp erhhhhhh sukak🤣🤣
falea sezi
adeknya beristri dua kah🤣
falea sezi
katanya ngrti agama bercadar🤣 tp pacaran katanya bercadar tp suami liat muka aja gk boleh🤣🤣 perbaiki agama dlu deh baru pake cadar jangan jangan cadar buat gaya doank ya biar keliatan alim🤭
falea sezi
nyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!