Takdir mempertemukan Andien, gadis desa polos, dengan Carlo, pewaris konglomerat yang sekarat akibat pengkhianatan. Usai merawatnya hingga pulih, Andien dinikahi Carlo secara rahasia di desa—tanpa tahu bahwa di kota, Carlo sudah memiliki istri sah bernama Laras, seorang dokter muda berprestasi dengan karier yang gemilang.
Kehidupan Andien seketika berubah menjadi neraka saat Carlo membawanya ke kota dan menyembunyikannya sebagai "orang luar". Di balik kemewahan, Andien harus menelan pahitnya dituduh sebagai pengganggu, sementara Carlo bersikap dingin di depan publik demi menjaga nama baik dan posisinya di mata Laras. Namun, saat Laras yang cerdas mulai mencium aroma pengkhianatan di rumah tangganya, permainan rahasia Carlo terancam hancur. Akankah ketulusan Andien menang, atau ia hanya menjadi bayangan di tengah ambisi dan pernikahan megah Carlo?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Sungai Meluap
Hujan pertama bulan Desember turun tepat dua minggu sebelum hari perkiraan lahir.
Andien berdiri di ambang pintu gubuk dengan tangan menopang pinggang, memandangi langit kelabu yang menggantung rendah di atas Karang Sewu. Perutnya sudah sebesar labu, kebayanya dilonggarkan Bu Rukmini di bagian pinggang, dan kakinya bengkak sedikit di sore hari. Tetapi ia bersikeras pulang ke desa. Ia ingin anak ini lahir di tempat yang dulu menyelamatkannya, kata Andien, dan tak satu pun dari mereka sanggup membantah.
Rencananya terdengar masuk akal. Puskesmas kecamatan hanya empat puluh menit dari desa, ambulans sudah dipesan siaga, dan Laras sendiri datang Jumat sore dengan tas medis besar dan wajah dokter yang tak mau dibantah.
"Hanya akhir pekan," katanya waktu itu. "Setelah itu kita pindah ke rumah sakit kabupaten."
Tetapi hujan pertama itu tidak berhenti.
Sabtu pagi masih gerimis. Sabtu siang, air turun seperti ditumpahkan dari ember raksasa. Sabtu sore, Pak Lurah datang tergopoh-gopoh dengan jas hujan plastik, mengabarkan bahwa sungai meluap di hulu dan jembatan bambu di ujung desa terancam hanyut.
"Sungainya naik cepat sekali, Nak Carlo," katanya, napas terengah. "Kalau malam ini hujan terus, jembatan putus. Desa kita terputus dari jalan raya."
Carlo dan Laras bertukar pandang.
"Berapa lama biasanya surut?" tanya Laras.
"Biasanya semalam. Kalau parah, dua hari."
"Dua hari." Laras mengulang pelan, lalu menoleh ke dalam gubuk, tempat Andien duduk di bale-bale dengan satu tangan di atas perutnya. "Aku harap kita tidak membutuhkannya."
---
Kontraksi pertama datang pukul sembilan malam.
Andien sedang menyisir rambut di depan pelita ketika perutnya mengeras tiba-tiba, seperti tali yang ditarik dari dalam. Ia menahan napas, mencengkeram tepi bale-bale, dan menunggu sampai rasa itu mereda. Delapan menit kemudian, ia datang lagi.
"Bu Laras," panggilnya, suaranya sengaja dibuat datar. "Mungkin saya perlu bicara."
Laras sudah berdiri di sisinya dalam sepuluh detik. Jemarinya menyentuh perut Andien, matanya menatap jam di pergelangan tangan. Setelah dua kontraksi lagi, wajahnya berubah, bukan panik, tetapi sangat fokus.
"Jaraknya lima menit," katanya. "Dan kuat."
"Masih tiga puluh enam minggu, Bu."
"Bayi tidak pernah membaca kalender." Laras tersenyum tipis, lalu menoleh pada Carlo yang sudah berdiri kaku di ambang pintu. "Telepon puskesmas. Minta ambulans datang sekarang."
Carlo menelepon dengan jari yang gemetar. Ia berbicara cepat, mendengarkan, lalu menurunkan ponsel perlahan. Wajahnya memucat.
"Jembatannya sudah putus," katanya. "Sepuluh menit lalu. Ambulans tertahan di seberang. Mereka bilang tidak bisa menyeberang sampai air surut."
Hening. Hujan menghantam atap seng seperti ribuan kerikil.
"Baik." Laras menarik napas dan mulai menggulung lengan bajunya. "Kalau begitu kita lakukan di sini."
---
Gubuk bambu itu berubah menjadi ruang bersalin dalam hitungan menit.
Bu Rukmini merebus air di tungku, mengeluarkan kain-kain bersih dari peti kayu yang disimpannya selama bertahun-tahun, dan mengatur bale-bale dengan tikar baru dan sehelai kain bekas kebaya Andien yang pertama. Laras membuka tas medisnya di atas meja, memeriksa instrumen satu per satu, tangannya bergerak tenang dan terlatih. Carlo, yang tak punya tugas apa pun, berdiri di sudut ruangan sampai Bu Rukmini menyerahkan sebuah baskom padanya.
"Isi air hangat. Jangan berdiri seperti tiang."
Pukul sebelas, kontraksi datang setiap tiga menit. Andien menggenggam tepi bale-bale, napasnya pendek dan berat, rambutnya basah oleh keringat. Pelita minyak bergoyang di dinding anyaman, melemparkan bayangan yang menari-nari di atap seng.
"Mas," panggilnya di antara dua kontraksi.
Carlo berlutut di sampingnya, menggenggam tangannya yang dingin dan basah. "Aku di sini."
"Janji satu hal."
"Apa pun."
"Jangan bilang janji." Andien terengah, tersenyum di tengah rasa sakit. "Cuma... tetap di sini."
"Aku tidak ke mana-mana."
Laras, yang sedang memeriksa pembukaan, melirik mereka sekilas dan membuang muka dengan senyum kecil. "Pembukaan delapan," katanya. "Cepat sekali untuk anak pertama. Andien, kamu hebat. Sebentar lagi."
Pukul dua belas kurang sepuluh, Andien mengejan untuk pertama kalinya.
---
Bayi itu lahir pukul dua belas lewat dua puluh tiga menit, tepat saat petir menyambar dan menerangi seluruh lembah.
Tangisnya pecah keras dan jernih, mengalahkan deru hujan, dan Bu Rukmini, yang berdiri di dekat tungku dengan kain di tangan, menjatuhkan kain itu dan menutup mulutnya dengan kedua telapak, bahunya berguncang.
"Perempuan," kata Laras, suaranya bergetar. Ia mengangkat bayi mungil itu, kemerahan dan berlumur, dan meletakkannya di dada Andien. "Perempuan, Andien. Sehat. Lihat, dia marah sekali pada dunia."
Andien menatap makhluk kecil di dadanya, dan seluruh kelelahan, seluruh rasa sakit, seluruh bertahun-tahun ketakutan, lenyap sekaligus. Tangannya yang gemetar menyentuh pipi bayi itu, selembut sayap kupu-kupu.
"Halo," bisiknya. "Akhirnya."
Carlo tak bisa bicara. Ia hanya berlutut dengan wajah basah, menatap dua makhluk di hadapannya seolah dunia baru saja dibentuk ulang di depan matanya. Tangannya terulur, ragu, lalu menyentuh telapak kecil yang menggenggam jari Andien.
Jari bayi itu, sekecil ujung korek, membungkus jari Carlo erat-erat.
"Dia memegangku," bisiknya, tak percaya.
"Dia mengenalimu," kata Bu Rukmini sambil menyeka mata.
Untuk beberapa menit, tak ada yang berbicara. Hanya tangis bayi, desis tungku, dan hujan yang masih deras di luar. Dan di tengah semua itu, Laras, yang tangannya masih bekerja membereskan, tiba-tiba terdiam.
Ia menatap tikar di bawah Andien. Warna merah yang menyebar terlalu cepat, terlalu banyak.
"Carlo," katanya, dengan suara yang sengaja dibuat datar. "Ambil bayinya."
"Apa?"
"Ambil bayinya. Sekarang. Pelan-pelan."
Carlo menurut, tangannya gemetar saat menerima bungkusan kecil hangat itu. Ia menoleh pada Andien, yang wajahnya mendadak pucat, bibirnya mulai membiru.
"Dien?"
"Saya... agak pusing, Mas."
"Perdarahan," kata Laras pelan, dan jari-jarinya sudah menekan perut Andien dengan gerakan keras dan dalam. "Rahimnya tidak berkontraksi dengan baik. Aku butuh oksitosin dan cairan infus. Tasku hanya membawa satu ampul, dan itu sudah kupakai."
"Di mana ada lagi?" Carlo berdiri, bayi masih di dadanya.
"Puskesmas. Ambulans membawanya, tapi tertahan di seberang jembatan." Laras mengangkat wajah, dan untuk pertama kalinya malam itu, Carlo melihat ketakutan di mata dokter yang selalu tenang itu. "Aku bisa menahannya dengan pijat selama mungkin, tapi tidak lebih dari tiga puluh menit."
Hening, sepersekian detik.
Lalu Bu Rukmini mengambil bayi itu dari lengan Carlo dengan gerakan lembut dan tegas. "Pergilah."
"Bu..."
"Pergi, Nak. Ibu jaga mereka berdua."
---
Carlo berlari menembus hujan dengan hanya jas hujan plastik di bahunya dan senter di tangan.
Jalan desa sudah berubah menjadi aliran lumpur cokelat. Di ujungnya, jembatan bambu itu tinggal tiang-tiang miring yang menyembul dari air bergolak. Di seberang, sorot lampu ambulans berkedip merah di tepi jalan raya, dua ratus meter jauhnya, terpisah oleh sungai yang kini selebar lapangan dan sederas amukan.
Pak Lurah berdiri di tepi air dengan belasan warga, semuanya basah kuyup. Ia melihat Carlo dan langsung mengerti.
"Tidak ada rakit, Nak Carlo. Airnya terlalu deras."
"Aku harus menyeberang."
"Kamu akan mati."
"Istriku akan mati kalau aku tidak menyeberang." Suara Carlo tidak keras, tetapi menghentikan semua suara lain. "Ada tali?"
Hening. Lalu seorang pria tua berotot, Pak Slamet, tukang kebun yang dulu membuka ventilasi atap Rumah Pulang, melangkah maju dengan segulung tali tambang besar di bahunya.
"Ada," katanya. "Tali tambang kapal, dari gudang balai desa."
"Diikat ke pohon di seberang?"
"Siapa yang berani berenang membawanya?"
Carlo menatap sungai. Air cokelat menggulung di depannya, membawa dahan-dahan patah dan batang bambu yang berputar-putar. Persis di sini, ia pernah tergeletak setahun lebih lalu, setengah mati, menunggu seseorang menemukannya.
"Aku."
"Nak Carlo..."
"Ikat ujungnya ke pinggangku." Carlo melepas jas hujannya dan melemparkannya ke tanah. "Kalau aku hanyut, tarik."
Tak ada waktu untuk membantah. Pak Slamet dan tiga pria lain mengikat tali ke pinggang Carlo dengan simpul yang hanya diketahui para nelayan. Carlo menarik napas dalam, menatap langit hitam di atas, dan melangkah ke dalam air.
Dinginnya menusuk sampai tulang. Arus menghantam pahanya seperti tangan raksasa yang ingin mendorongnya mundur. Ia terhuyung, menancapkan kaki di dasar licin, dan terus melangkah. Air naik ke pinggang, ke dada. Sesuatu menabrak bahunya, sebatang bambu besar, dan ia nyaris terbalik. Lengan kirinya, yang dulu tertembak, berdenyut seperti dibakar.
*Satu langkah lagi,* katanya pada diri sendiri. *Cuma satu.*
Ia teringat suara Andien di malam badai itu. *Mas, dengar saya?* Teringat tangan kecil yang menggenggam ujung jaritnya, teringat bayi yang tadi memegang jarinya erat-erat. Ia menutup mata, menendang keras, dan berenang.
Beberapa menit, atau beberapa abad kemudian, tangannya menyentuh akar pohon di seberang.
Ia merangkak ke tepi, terbatuk-batuk, lumpur menutupi wajahnya. Seorang petugas puskesmas berseragam hujan menariknya berdiri. "Pak! Pak Carlo?"
"Oksitosin," Carlo tersengal. "Infus. Cairan. Perdarahan pasca persalinan. Cepat."
Petugas itu tidak bertanya. Dalam dua menit, sebuah kantong plastik kedap air berisi ampul, selang, dan kantong cairan sudah terikat di punggung Carlo, ditutup berlapis-lapis agar tidak basah. Ia menyeberang kembali, tali menegang di pinggangnya, belasan tangan di tepi seberang menariknya perlahan.
Ketika ia akhirnya merangkak naik di sisi desa, Pak Slamet menangkapnya di bawah ketiak dan berteriak sesuatu yang tak ia dengar. Ia hanya berlari, kantong plastik itu didekapnya seperti nyawa, menembus lumpur dan hujan menuju satu-satunya cahaya kecil di ujung desa.
---
Laras menangkap kantong itu dari tangannya tanpa berkata apa-apa. Dalam hitungan detik, jarum infus telah terpasang di lengan Andien, ampul oksitosin telah disuntikkan, dan tangannya kembali menekan perut dengan gerakan mantap.
Menit-menit berikutnya adalah yang paling panjang dalam hidup Carlo.
Ia berdiri kaku di sudut, basah kuyup dan menggigil, memegangi dinding anyaman karena tak percaya pada kakinya sendiri. Bu Rukmini duduk di bale-bale dengan bayi di pangkuan, bibirnya bergerak tanpa suara dalam doa panjang. Laras tidak bicara. Hanya tangannya yang bergerak, dan matanya yang menatap wajah Andien, mengukur warna dan napas.
Lalu, perlahan, rahim di bawah telapak tangannya mengeras.
"Berhenti," bisik Laras. Ia mengulangi dengan suara yang pecah. "Berhenti. Perdarahannya berhenti."
Carlo menjatuhkan diri ke lantai tanah, wajahnya tersembunyi di antara lutut. Bahunya berguncang. Bu Rukmini menangis terang-terangan. Dan di atas bale-bale, Andien membuka mata perlahan, bibirnya masih pucat, tetapi tersenyum samar.
"Mas," bisiknya. "Basah semua."
Carlo tertawa dan terisak sekaligus. "Aku berenang."
"Berenang?"
"Menyeberangi sungai."
"Sungai itu?" Andien menatapnya, mata berkaca-kaca. "Mas yang dulu... di sungai itu..."
"Dia mengembalikan aku, Dien. Hari ini." Carlo merangkak mendekat, menyentuh dahi istrinya yang dingin. "Dan sekarang dia mengembalikanmu."
---
Hujan reda menjelang subuh.
Langit di timur memucat perlahan, dari hitam menjadi kelabu, lalu menjadi warna susu yang lembut. Burung-burung mulai bernyanyi di pohon randu, ragu-ragu pada mulanya, lalu semakin berani. Dari celah dinding anyaman, cahaya pertama jatuh di atas bale-bale tempat Andien tertidur lelap dengan wajah damai, selang infus masih terpasang di lengannya.
Carlo duduk di sampingnya dengan bayi di pelukan. Pakaiannya masih lembap, rambutnya kusut, lengan kirinya berdenyut. Tetapi ia tidak peduli. Ia hanya menatap wajah mungil di dadanya, yang tidur nyenyak dengan bibir sedikit terbuka.
Bu Rukmini muncul di sampingnya dengan dua gelas wedang jahe, dan tanpa berkata apa-apa, menunjuk ke luar jendela dengan dagunya.
Carlo berdiri pelan, melangkah ke ambang pintu, dan berhenti.
Kebun sayur di samping gubuk berkilau di bawah cahaya pagi pertama. Setiap helai daun kangkung, setiap tangkai bayam, setiap kuncup cabai, ditutupi butiran embun yang bergetar halus, memantulkan warna jingga dari langit timur, seperti ribuan permata kecil yang ditaburkan semalam.
"Embun," bisik Carlo.
Bu Rukmini menoleh. "Apa?"
"Namanya." Carlo menunduk menatap bayi di pelukannya. "Embun. Ringan. Gampang dipanggil dari jauh. Datang pagi-pagi, setelah malam yang paling panjang."
Bu Rukmini menatapnya lama. Lalu, perlahan, senyumnya merekah, senyum lebar yang membuat semua keriput di wajahnya naik.
"Embun Pulang," katanya. "Supaya dia selalu tahu jalan kembali."
Dari dalam gubuk, terdengar suara serak Andien, setengah tertidur. "Embun?"
Carlo menoleh. Istrinya membuka mata, menatap mereka dari bale-bale dengan senyum lemah.
"Embun," ulang Carlo.
Andien mengangguk pelan, tak berkata apa-apa, lalu memejamkan mata lagi dengan wajah yang damai.
Di luar, matahari akhirnya naik. Cahayanya menembus sisa awan, menimpa sungai yang kini surut dan kembali cokelat jernih, menimpa kebun yang basah, menimpa gubuk bambu dengan atap seng baru, tempat seorang bayi bernama Embun menarik napas pertamanya di dunia yang telah menunggu lama untuk menyambutnya pulang.
---
*Bersambung ke Bab 32...*
mampir juga di karyaku "Rotinya Manis, Rin! ya