NovelToon NovelToon
Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO

Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Sekuel ketiga dari buku sebelumnya: 'Cinderella Ubi Rebus dan Kutukan Mbah Golok Sakti'

Niatnya kuliah desain di Paris, Sella (19 tahun) malah terjebak skandal gara-gara nekat meminum setengah gelas jus jeruk sisa milik Raditama Abraham (25 tahun), seorang CEO muda yang kaku sekaku robot.

Siapa sangka, jus itu ternyata sudah dicampur obat halusinasi oleh musuh bisnis Adit!

Akibat salah kamar dan kehilangan kendali, malam itu berubah jadi bencana. Bukannya romantis, Sella yang berhalusinasi malah menjadikan Adit kuda tunggangan dan mengakhirinya dengan tendangan maut ke area vital Adit sampai sang CEO pingsan!

Kiamat tiba esok paginya. Papa Kaizen, mantan komandan militer yang galak, mendobrak pintu hotel. Melihat kamar berantakan dan bercak merah misterius di seprai, vonis mati langsung dijatuhkan: PULANG KE JAKARTA DAN NIKAH BESOK PAGI!

Bagaimana nasib rumah tangga paksa antara CEO Robot Kaku dan Istri Bar-bar ini? Apalagi, rahasia malam itu sebenarnya murni salah p

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7. Aksi Nekat Toko Buku dan Skandal Gelas Bekas

Buset, nih cewek tampang polos cantik-cantik tapi bacaan sastranya level nuklir! batin Adit syok berat.

Tembok kekakuan formalitas yang selama ini ia bangun kokoh mendadak runtuh seketika, digantikan oleh rasa usil yang mendadak muncul di kepalanya.

"Ehem!"

Adit berdeham dengan sangat keras dan lantang, mirip seperti suara komandan kompi yang sedang memimpin apel pagi di barak militer.

BRAK!

Sella tersentak hebat karena kaget. Buku dewasa yang ada di genggamannya terlepas dan jatuh ke atas lantai kafe dengan posisi terbuka lebar—memperlihatkan ilustrasi gambar halaman tengah yang makin tidak tertolong tingkat sensornya.

Sella membeku total. Rasa malu yang luar biasa merayap cepat dari leher hingga ke ujung ubun-ubunnya. Rasanya detik itu juga ia ingin membelah lantai kafe menggunakan kekuatannya sendiri, lalu mengubur dirinya hidup-hidup di dalam sana agar tidak perlu melihat dunia lagi.

Adit melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Sella dengan pandangan menghakimi yang dibuat-buat, namun ada kilat jenaka yang tertahan di balik matanya.

"Waduh, hawa siang hari di Paris ini ternyata panas banget ya, Mbak? Siang-siang bolong begini bacanya literatur yang... bikin gerah begitu. Saya yang cuma kebetulan lewat di lorong ini aja mendadak butuh AC tambahan karena ikutan kepanasan," ucap Adit dengan nada bicara kaku yang disengaja.

Sella merasa harga diri dan kehormatannya sebagai wanita terhormat sudah hancur berkeping-keping menjadi debu kosmik. Namun, karena dasarnya Sella adalah gadis yang ogah terlihat kalah dalam situasi apa pun, ia mendadak mengganti mode 'malu tingkat dewa' menjadi mode 'nekat berani malu'.

Sella membungkuk mengambil buku tersebut. Dengan ekspresi wajah yang sudah merah padam namun dipaksakan untuk tetap terlihat tenang dan elegan, ia mengibas-ngibaskan tangan kanannya di depan wajah. Ia menyeka keringat dingin di pelipisnya, lalu melangkah satu tindakan maju mendekati posisi berdiri Adit.

Sella sedikit berjinjit agar bisa menyamai tinggi badan pria itu, lalu berbisik dengan nada suara yang ia buat-buat sensual—padahal aslinya lebih mirip suara orang yang sedang tersedak atau asma—tepat di dekat daun telinga Adit.

"Iya, Mas... emang panas banget di sini. Saya aja sampai keringetan seluruh badan pas bacanya. Panasnya... beneran nyaingin kawasan Jakarta kalau lagi ada demo buruh."

Adit langsung mematung seketika bagai patung lilin. Napasnya tertahan di tenggorokan. Ia sama sekali tidak menyangka kalau gadis ajaib di depannya ini bakal nekat membalas godaannya dengan cara sefrontal dan seberani itu. Mental kakunya langsung berantakan.

"S-saya... saya mohon permisi mau melanjutkan baca komik saya di tempat lain!"

Adit mendadak salah tingkah total. Langkah kakinya yang tadi terlihat sangat berwibawa berubah menjadi kaku berantakan mirip robot rusak yang korsleting saat ia berbalik arah dengan cepat, hingga bahunya hampir menabrak ujung rak buku.

Sella mendengus menang dengan senyum penuh kemenangan, meskipun di dalam lubuk hatinya ia sedang menjerit histeris: MAMA, SELLA MAU PULANG AJA KE JAKARTA SORE INI! SELLA MALU BANGETTT!

****

Malam harinya, aula utama hotel bintang lima tempat keluarga Saputra dan Raditama Abraham menginap telah berubah menjadi lautan kemewahan kelas atas. Lampu kristal gantung berukuran raksasa memantulkan cahaya keemasan yang megah ke seluruh penjuru ruangan.

Sementara itu, alunan musik dari kelompok orkestra mengalun lembut, menyelimuti riuhnya obrolan para pengusaha kelas kakap, taipan multinasional, dan selebriti papan atas Eropa.

Raditama Abraham berdiri tegak di tengah kerumunan tamu dengan setelan tuxedo hitam premium yang melekat sempurna di tubuh tegapnya. Di hadapannya, berdiri Mr. Michael Lee, seorang taipan bisnis terkenal yang memiliki aura kepemimpinan sangat mengintimidasi.

"Strategi dan langkah korporasi yang Anda susun untuk ekspansi pasar di wilayah Asia Tenggara menurut saya cukup... berani dan berisiko, Raditama," ucap Mr. Lee menggunakan bahasa Inggris dengan aksen Prancis yang kental.

Adit memberikan anggukan kaku yang formal, kedua tangannya terkepal mantap di samping tubuh—gaya tubuh andalannya agar tetap terlihat berwibawa dan penuh kendali di depan para pebisnis senior.

"Nilai integritas tinggi dan progresivitas yang terukur adalah pilar utama dari visi perusahaan kami, Mr. Lee. Kami tidak hanya sekadar menjual komoditas produk, melainkan juga menawarkan sebuah ekosistem visi jangka panjang yang... memiliki kredibilitas korporat yang kuat."

Gavin yang berdiri setia di belakang Adit hanya bisa memijat pelipisnya yang mendadak pening. Bahasanya bos muda gue kaku banget, berasa kayak lagi dengerin pembacaan kamus besar ekonomi edisi revisi terbaru! keluh Gavin dalam hati.

Seorang pelayan pria dengan pakaian rapi lewat di dekat mereka sambil membawa nampan berisi deretan gelas wine mahal. Adit, yang memang sangat ketat menjaga kesehatan lambungnya demi performa kerja kantor yang optimal, menolak tawaran alkohol tersebut dengan lambaian tangan sopan.

"Maaf, saya memiliki prinsip untuk tidak mengonsumsi minuman beralkohol saat sedang membahas dedikasi dan masa depan bisnis."

Melihat hal itu, si pelayan pria dengan sigap segera membawakan segelas jus jeruk segar dari bar khusus untuk sang CEO muda. Adit meminum cairan oranye itu sebanyak setengah gelas—sekadar untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak kering akibat terlalu banyak menggunakan kosakata korporat yang berat—lalu mengembalikan gelas yang masih berisi setengah jus tersebut ke atas nampan pelayan dengan gerakan tangan yang sangat formal.

Di sudut ruangan yang berbeda, Thania Arshila Sella Saputra justru sedang berada dalam mode "perang kelaparan". Sementara Kaizen dan Aulia sedang sibuk beramah-tamah dan tertawa bersama kolega lama militer mereka, Sella justru sibuk menimbun puluhan kue macaron warna-warni dan dessert manis lainnya ke atas piring keramiknya hingga menggunung tinggi.

CUK!

"Uhuk! Uhukk! Uhukkk!"

Sella tiba-tiba memegangi lehernya sendiri dengan wajah memerah. Saking banyaknya ia melahap kue-kue kering manis tersebut tanpa jeda minum, tenggorokannya mendadak serasa disumbat oleh adonan semen kering. Ia panik setengah mati, kedua matanya bergerak liar mencari keberadaan air mineral di sekitar meja.

Namun, sialnya, yang ia lihat di atas meja panjang hanyalah deretan botol champagne mahal yang haram untuk ia sentuh.

Tepat pada momen genting di mana nyawanya berada di ujung tanduk, seorang pelayan pria melintas di sampingnya dengan nampan yang berisi sisa gelas minuman. Mata Sella yang sudah berlinang air mata saking seretnya tenggorokan, langsung menangkap segelas cairan berwarna oranye segar yang isinya tinggal setengah—yang tidak lain adalah gelas bekas pakai milik Adit beberapa menit yang lalu.

Tanpa babibu, tanpa permisi, dan tentu saja tanpa sisa rasa malu yang tertinggal, Sella menyambar gelas berisi sisa jus jeruk tersebut secepat kilat dari atas nampan.

GLUK! GLUK! GLUK!

Sella menenggak cairan oranye itu dengan rakus sampai benar-benar tandas tidak bersisa setetes pun. Ia menghela napas lega yang sangat panjang, merasakan sensasi dingin jus buah itu meluncur mulus menyelamatkan tenggorokan dan nyawanya yang hampir melayang.

"Hah... Merci beaucoup, Mas Pelayan Ganteng! I love you deh pokoknya!" seru Sella dengan riang sambil mengembalikan gelas kosong tersebut ke atas nampan dengan senyuman lebar tanpa dosa sedikit pun.

Si pelayan pria asing itu seketika melotot sempurna, kedua matanya nyaris melompat keluar dari kelopaknya melihat aksi nekat gadis tersebut. Dengan tubuh gemetar, ia langsung menggerutu panjang lebar menggunakan bahasa Prancis dengan nada panik yang terdengar seperti sedang memaki-maki.

"C'est incroyable! Mademoiselle, c'était le verre de Monsieur Abraham! Vous êtes complètement folle?!" (Luar biasa gila! Nona muda, itu kan gelas bekas minum milik Tuan Raditama Abraham! Apakah Anda sudah benar-benar gila?!)

1
meimei
lanjut😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!