[SEASON 2]
Sekuel kedua dari cerita 'Pegasus From Diamond Planet'
"Aroma jiwamu sudah menyatu dengan kegelapanku. Aku akan menjemputmu saat rembulan memerah."
Sebuah mawar hitam misterius di atas meja akademi menghancurkan penyamaran gender White. Gadis berambut putih perak itu mengira ia hanyalah manusia biasa, sampai takdir menyeretnya ke dalam pusaran cinta posesif Ethan, calon Alpha serigala cahaya (Werewolf), dan kerajaan obsesif Aslan Dexter, sang raja iblis (Demon).
Di balik wajah sucinya, ada rahasia mengerikan: White terlahir dari sebuah kristal misterius yang jatuh dari langit, membawa esensi jiwa parasit masa lalu yang di cari oleh seluruh klan imortal.
Saat kutukan darah mulai bangkit dan aliansi antarras terancam pecah, White di hadapkan pada dua pilihan: menyerah pada kegelapan masa lalu, atau bertahan di bawah perlindungan pelukan sang Alpha?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29.
'Tunggu... tunggu dulu sejenak... sepertinya aku tidak asing dengan rupa struktur wajah pria itu... dia... dia memiliki kemiripan wujud yang teramat sangat persis dengan sosok pria yang terbaring kaku di pinggir aliran air sungai beberapa hari lalu...'
Pancaran tatapan mata tajam White perlahan-lahan mulai berubah menjadi sebaris keraguan mendalam yang membakar dada. Ia terus melakukan pengamatan intens pada fitur-fitur wajah pria berkerudung katun merah muda tersebut.
Memori kepalanya secara otomatis melayang kembali pada rentetan kejadian menegangkan di tepi sungai bawah ladang, pada sesosok tubuh pucat misterius yang penampilannya tampak tidak nyata.
'Ah... tapi berdasarkan hukum logika, tidak mungkin juga kalau pria berbaju merah muda konyol itu adalah sosok pria misterius dari sungai itu, kan?' batin White berusaha keras menepis dugaan supernatural yang bergejolak di kepalanya.
Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan gerakan cepat, berusaha sekuat tenaga mengusir bayangan delusi tersebut dari dalam benak pikirannya.
Dengan pasokan napas yang masih terasa sedikit memburu akibat efek konfrontasi fisik tadi, ia segera merajut untaian kalimat untuk menjawab pertanyaan Alan demi membela hak dirinya.
"Aku juga ingin memberikan penegasan yang jelas kepada Anda semua, Tuan-tuan, bahwa aku bersumpah tidak akan pernah mau melakukan tindakan fisik sejauh itu jika tidak dipicu oleh sebab yang jelas," ujar White dengan nada suara yang terdengar lantang, tegas, namun tetap berada dalam kontrol kesadaran penuh.
Ia berdiri tegak dengan dagu terangkat, meskipun jemari tangan kirinya sesekali bergerak mengusap permukaan kulit lehernya yang tampak memerah akibat sisa efek cengkeraman tangan Ethan sebelumnya.
"Sebelum insiden ini terjadi, aku sudah melontarkan pertanyaan dengan cara yang baik-baik kepadanya. Namun, alih-alih memberikan jawaban yang sopan, dia justru mengabaikan keberadaanku dan malah mengeluarkan suara tawa ejekan seolah-olah eksistensi diriku di tempat ini hanyalah serupa lelucon konyol. Tidak berhenti sampai di situ saja, dia juga dengan lancang mengatai diriku sebagai seorang bocah ingusan lalu menarik kerah baju olahragaku dengan satu sentakan yang begitu kencang. Kondisi fisikku sempat tercekik parah!" cecar White membela diri.
"Oleh karena alasan darurat itulah, aku terpaksa melayangkan tendangan pertahanan diri untuk membela hak keselamatanku. Sebenarnya, aku sama sekali tidak memiliki niat untuk membuang-buang waktu berhargaku hanya demi meladeni pria arogan sepertinya, karena dalam beberapa jam ke depan aku sudah harus segera bertolak berangkat menuju ke akademi baruku yang berada di Kota Vespera."
Mendengar bait kalimat terakhir dari remaja di hadapannya, tubuh Alan seketika terkesiap hebat. Sepasang manik mata ungunya membelalak sempurna dilingkupi rasa tidak percaya saat memalingkan wajahnya menatap lurus ke arah Ethan. Selama bertahun-tahun menjalin ikatan persahabatan, ia selalu mengenal dan memahami sosok Ethan sebagai pria werewolf yang memiliki pembawaan watak yang teramat tenang dan lembut pada kalangan yang lebih muda.
Namun, setelah mendengar kesaksian jujur dari remaja di depannya, Alan merasa teramat sangat kecewa atas penurunan kontrol emosi sahabatnya. Ia kemudian mengalihkan sorot matanya, memperhatikan detail penampilan fisik White dengan jauh lebih seksama; setelan seragam olahraga berbahan katun tebal berwarna biru navy dengan aksen garis putih vertikal di bagian lengan, serta tas ransel hitam yang tersampir miring di bahu rampingnya.
Pemandangan visual itu membuat Alan kian yakin bahwa remaja di hadapannya ini benar-benar merupakan seorang pelajar akademi murni yang sedang berada dalam kondisi bersiap memulai hari pertamanya.
Di posisi seberang halaman, Damian Dexter tetap memilih untuk berada dalam kondisi bergeming sekaku patung. Pria berbaju katun merah muda itu berdiri tegak dengan kedua belah tangan terlipat santai di depan dada, sementara jalinan rambut cokelat sebahunya tampak bergerak tertiup oleh embusan angin fajar yang dingin menusuk.
Sepasang manik mata hitam pekatnya yang sayu tampak menatap datar dan dingin ke arah puing-puing pembatas besi halaman rumah yang kini telah roboh berantakan di atas tanah, seolah-olah isi kepalanya saat ini sedang lebih sibuk menghitung kuantitas kerugian materi bangunan, daripada harus memedulikan drama pertengkaran fisik yang sedang terjadi di sekitarnya.
Jiwa bocah sepuluh tahunnya mengambil keputusan bijak untuk tidak ikut campur dalam urusan orang dewasa pagi ini.
Namun, bentuk reaksi psikologis yang paling kontras dan dramatis justru datang dari arah Ethan. Pemuda berambut biru terang itu mendadak merasakan seluruh jalinan otot di tubuh tegaknya berubah menjadi sangat kaku, seolah-olah ia baru saja tersambar oleh kilatan petir di pagi buta.
Inti jantung werewolf-nya mencelos jatuh—sebuah keterkejutan dahsyat yang muncul bukan disebabkan oleh sisa efek rasa perih tendangan fisik White tadi, melainkan lebih karena hantaman kenyataan logis dari bait kalimat yang baru saja ia dengar dari mulut remaja itu. Kota Vespera? Akademi baru?
Sepasang manik mata merah pekat milik Ethan bergerak lekat-lekat, menatap intens tanpa berkedip ke arah detail logo lambang akademi yang terbordir rapi menggunakan benang perak di bagian dada sebelah kiri jaket olahraga yang dikenakan White.
Pupil matanya bergetar hebat menahan syok. Logikanya mengenali dengan sangat baik bentuk desain struktur logo seragam tersebut—itu adalah seragam olahraga resmi milik institusi Akademi Vesperania, sebuah akademi tingkat atas elite tempat adik perempuan kandungnya menimba ilmu selama ini!
Dan fakta realitas yang jauh lebih gawat serta mengerikan lagi di atas segalanya bagi nasibnya adalah; mulai pagi hari ini juga, Ethan seharusnya sudah harus resmi bertugas untuk pertama kalinya sebagai seorang pengajar muda baru di akademi tersebut!
'Sialan... demi Dewi Bulan, tolong jangan pernah katakan padaku kalau bocah kurang ajar yang menjadi pasangan jiwaku ini... akan berakhir menjadi salah satu murid di kelas tempatku mengajar beberapa jam lagi?!' jerit batin Ethan dilanda kepanikan absolut.
"Ethan! Coba tolong jelaskan dengan jujur kepadaku sekarang juga! Kenapa kamu bisa tega melakukan tindakan sekasar itu dan mengabaikan etika kesopanan pada anak remaja ini, hah?!" desak Alan dengan nada suara yang sengaja ditinggikan penuh penekanan, menuntut pertanggungjawaban mutlak dari sahabatnya.
Ethan tersentak hebat dari keterpakuannya. Rona di wajah rupawannya yang beberapa menit lalu sempat terlihat teramat garang dan menantang, kini secara instan langsung berubah menjadi gelagapan penuh rasa canggung. Ia meremas jalinan jemari tangannya sendiri dengan gerakan gusar, berusaha keras menghindari kontak mata langsung dengan Alan maupun dengan White yang saat ini sedang setia menatap lurus ke arahnya menuntut kalimat penjelasan.
"Emm... Aku... itu..." Ethan terbata-bata kaku, seluruh kosakata di lidahnya mendadak terasa teramat kelu dan terkunci rapat.
Bagaimana mungkin ia menjelaskan bahwa ia bersikap kasar karena merasa kecewa setelah mengira Mate-nya adalah seorang laki-laki? Atau bagaimana ia harus bersikap sekarang, mengetahui bahwa remaja yang baru saja ia serang dan ia hina adalah orang yang kemungkinan besar akan ia temui kembali di koridor akademi beberapa jam lagi?
Suasana di halaman itu menjadi semakin canggung. Langit mulai menampakkan semburat jingga di ufuk timur, menandakan bahwa waktu bagi mereka semua untuk berangkat semakin mendesak, sementara pagar besi yang hancur masih menjadi saksi bisu atas pertemuan pertama yang kacau tersebut.
Derap... Derap... Derap...
Suara derap langkah kuda yang dipacu cepat bersahutan dengan deru roda kereta kuda barang milik keluarga White mendadak memecah ketegangan atmosfer yang mencekam di halaman rumah kayu. Angkutan roda empat pengangkut hasil pertanian tersebut bergerak melambat sebelum akhirnya mengerem tepat di depan area pembatas pagar besi yang kondisinya kini sudah bengkok miring tak keruan akibat hantaman tubuh Ethan sebelumnya.
Lucas Emerson buru-buru turun dari atas bangku kendali kereta kuda. Gurat wajah paruh bayanya memancarkan kelelahan fisik yang teramat sangat setelah menempuh perjalanan fajar dari pasar kota, namun sepasang matanya tampak membelalak panik melihat kerumunan kecil di halaman rumahnya, dan terutama pada pagar rumahnya yang sudah hancur berantakan.
"Ada kejadian apa sebenarnya di tempat ini? Dan kenapa kalian semua mendadak sudah berkumpul di halaman sepagi ini?!"