Ketika nama seorang Kaisar Langit mengguncang seluruh Alam Fana, sebuah rahasia tua mulai bergerak di balik dunia yang dikuasai sekte, kekaisaran, dan para kultivator.
Di tengah pusaran kekuasaan itu, Ye Chan, mendapati jalan hidupnya berubah setelah sebuah tragedi menghancurkan segalanya.
Dari sana, ia melangkah kembali ke dunia kultivasi, berhadapan dengan kekuatan yang jauh melampaui pemahamannya, sembari perlahan menyadari bahwa di balik Takhta Kaisar Langit tersimpan rahasia yang menghubungkan nasib seluruh Alam Fana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Sisa peradaban
Langkah kakinya nyaris tanpa suara saat ia menyelinap melewati celah batu yang sempit. Di belakangnya, gema merayap dari makhluk berkaki banyak itu perlahan menjauh, tenggelam ke dalam kegelapan lembah yang dingin. Ye Chan menyandarkan punggungnya pada dinding lorong yang kasar, mencoba mengatur napasnya yang masih terasa berat dan pendek.
Tangannya meraba sebuah cincin perunggu kusam di jari manisnya. Itu hanyalah cincin penyimpanan tingkat rendah, sisa kejayaannya yang kini berfungsi sebagai wadah penyimpanan luar untuk barang-barang biasa.
Sementara itu, di lubuk kesadarannya yang paling dalam, Giok Kehampaan bersemayam dengan tenang. Benda pusaka itu bukan lagi alat fisik yang bisa disentuh tangan, melainkan sebuah ikatan jiwa yang menyatu dengan sukmanya, selalu mengirimkan getaran hangat yang samar ke seluruh meridiannya yang rusak.
Ia mulai menghitung kembali persediaan yang tersisa di dalam cincin. Hanya tersisa beberapa persediaan bertahan hidup.
Sangat menyedihkan untuk ukuran seorang mantan kultivator tingkat pembentukan Inti sepertinya.
'Sungguh kacau, andaikata meridianku tidak rusak mungkin melangkah keluar reruntuhan ini begitu saja bukanlah solusi yang buruk,' pikirnya sambil menatap lurus ke dalam kegelapan koridor yang membentang di hadapannya.
Targetnya kini harus bergeser. Menemukan jalan keluar tidak lagi menjadi prioritas utama jika tubuhnya tidak mampu bertahan dari kejaran predator di luar sana.
Ia membutuhkan obat, herba, atau apa pun yang bisa menambal meridiannya yang hancur. Dengan keputusan bulat itu, langkah kakinya kembali bergerak, menelusuri lorong yang mengarah ke bagian terdalam reruntuhan.
Pintu kayu yang telah melapuk setengah hancur menghalangi jalan di ujung koridor. Ye Chan mendorong sisa daun pintu itu dengan bahunya, menimbulkan suara berderit halus yang segera ditelan keheningan udara malam.
Di balik pintu, sebuah ruangan yang tampak seperti gudang penyimpanan kuno terbentang dengan sebagian atap yang runtuh di satu sisi.
Lantai ruangan tertutup oleh tumpukan debu tebal dan sisa-sisa kotak kayu yang telah membusuk menjadi tanah.
Ye Chan berlutut, mengabaikan debu yang mengotori jubahnya yang sudah compang-camping, lalu mulai memilah runtuhan itu dengan saksama.
Beberapa wadah porselen kosong berserakan, beberapa di antaranya pecah berkeping-keping karena tertimpa kayu penyangga.
Beruntung, ketelitiannya membuahkan hasil. Di bawah tumpukan kayu, ia menemukan tiga ikat tanaman obat kering yang aromanya masih menyengat pahit—rumput penenang jiwa—serta beberapa bongkah mineral mentah berenergi rendah.
Ia juga menemukan sisa bahan makanan, namun semuanya sudah berubah menjadi gumpalan hitam yang berjamur dan tidak layak konsumsi.
Saat menyapu sudut rak yang hampir roboh, selembar perkamen kulit binatang yang kaku menarik perhatiannya. Lembaran itu dipenuhi noda tinta yang memudar, namun beberapa baris kalimat masih bisa dibaca dengan jelas.
"Pemulihan jalur meridian yang retak tidak dapat diselesaikan dengan satu jenis herba saja. Dibutuhkan kombinasi dari tiga unsur berbeda: penstabil aliran darah, penguat dinding luar, dan pemicu api murni untuk menyatukan kembali serat yang putus..."
Ye Chan membaca tulisan itu perlahan. Seulas senyum tipis yang getir menghiasi wajahnya yang pucat.
'Kombinasi tiga unsur,' gumamnya dalam hati. 'Berarti aku harus mencari lebih banyak jenis tanaman spiritual sebelum bisa mengalirkan Qi dengan bebas.'
Ia memasukkan perkamen dan herba kering itu ke dalam cincin penyimpanannya, bersiap untuk melanjutkan pencarian.
Lantai batu di bawah kakinya mendadak bergetar hebat. Sebelum ia sempat melangkah keluar dari gudang kuno tersebut, sesosok bayangan besar melompat dari celah lantai yang retak di sudut ruangan dengan raungan rendah yang menggetarkan dinding gua.
Itu adalah seekor Hewan Buas Bertubuh Batu. Kulitnya yang tebal dilapisi lempengan batu hitam, dan sepasang matanya menyala merah di kegelapan. Kekuatannya setara dengan pendekar tahap Pengumpulan Qi Menengah—jelas berada di atas kondisi Ye Chan yang sekarang.
Bukannya panik, Ye Chan justru memundurkan langkahnya dengan tenang. Ruangan sempit ini adalah sekutunya. Di tempat dengan langit-langit rendah seperti ini, monster berukuran besar tidak akan bisa bergerak dengan bebas.
Monster itu menerjang maju, membawa embusan angin berbau tanah basah yang pekat. Ye Chan memutar tubuhnya ke samping, memanfaatkan sebuah pilar batu tebal di tengah ruangan sebagai tameng.
Benturan keras terdengar saat kepala keras monster itu menghantam pilar, meninggalkan retakan dalam dan membuat debu berjatuhan dari atap.
Ye Chan bergerak cepat saat monster itu masih limbung. Dengan sisa kekuatan fisiknya, ia mengalirkan setitik Qi yang tersisa di ulu herba menuju pisau batu pendek di tangan kanannya.
Pisau itu memancarkan kilatan redup saat ia mengarahkannya tepat ke sela-sela lempengan batu di leher bagian bawah—satu-satunya titik tanpa perlindungan keras.
CRASS!
Pisau batu itu menembus kulit lunak monster tersebut. Binatang itu melolong kesakitan, meronta-ronta dengan liar hingga cakarnya sempat menyambar bahu Ye Chan.
Rasa perih menyengat, namun Ye Chan tidak melepaskan genggamannya. Ia memutar pisau itu lebih dalam hingga monster itu akhirnya tumbang dengan tubuh yang mengejang sebelum benar-benar kaku di lantai tanah.
Napas Ye Chan memburu. Ia segera terduduk di dekat bangkai, buru-buru mengoleskan sisa obat murah ke luka barunya untuk menghentikan darah yang mulai membasahi pakaian.
Setelah kondisinya agak stabil, ia mulai bekerja. Menggunakan pisau batu yang kini berlumuran darah hitam, ia memotong bagian daging yang masih segar, mengambil beberapa bongkah tulang penyangga yang keras, mengalirkan darah monster itu ke dalam botol kosong, serta mengambil inti energi berwarna kelabu redup dari kepalanya.
'Ini akan menjadi bahan tambahan yang bagus untuk ramuan obat nanti, meskipun tak akan sebaik milik kultivator alkemis,' pikirnya sembari menyimpan semua hasil buruan itu.
Setelah menembus lorong sempit di belakang ruang penyimpanan yang runtuh, Ye Chan menemukan dirinya berdiri di tepi sebuah tebing dalam ruangan yang sangat luas. Matanya melebar perlahan saat memandang ke depan.
Di bawah sana, terbentang sisa-sisa peradaban kota kuno yang mati.
Cahaya remang dari tanaman pendar yang menempel di langit-langit gua menerangi deretan jalan batu yang membujur rapi.
Ada bangunan bertingkat yang sebagian telah runtuh, area pemukiman yang luas, tempat latihan luar ruangan dengan sisa-sisa sasaran kayu, serta gudang-gudang besar yang setengah tertimbun tanah.
Di pusat kota, sebuah struktur bangunan raksasa berdiri kokoh seolah-olah mengawasi kehampaan di sekelilingnya.
Tata letak kota ini terlalu teratur untuk ukuran pemukiman biasa. Setiap bangunan diletakkan dengan perhitungan yang matang, membentuk pola pertahanan yang sangat kokoh.
'Ternyata tempat ini bukan hanya kuil kuno yang ditinggalkan,' batin Ye Chan sembari menatap jalan-jalan sepi di bawah sana. 'Ini adalah kota mati yang dilusrnya terlihat seperti kuil biasa.'
Ia tidak terburu-buru untuk turun. Dengan saksama, ia menandai jalur aman dari kejauhan, mencari jalan yang memiliki risiko runtuh paling kecil.
Langkah kakinya membawa Ye Chan sampai ke gerbang luar kota kuno tersebut. Di sana berdiri sebuah prasasti batu besar yang miring ke satu sisi, tertutup tebal oleh lumut dan debu berabad-abad.
Ye Chan mendekati prasasti itu, lalu menggunakan pisau batunya untuk mengerik lapisan lumut yang menutupi permukaan batu. Sebagian besar tulisan di sana telah terkikis habis oleh waktu dan kelembapan, menyisakan coretan tak bermakna yang sulit dipahami.
Namun, di bagian paling atas, dua karakter besar yang dipahat sangat dalam masih bisa terbaca dengan jelas.
"Kaisar..."
Ye Chan menyentuh pahatan batu tersebut dengan ujung jarinya. Permukaannya terasa sangat dingin. Ia mencoba mencari tanda-tanda lain, barangkali ada petunjuk yang berhubungan dengan Giok Kehampaan yang ada di dalam kesadarannya. Namun, tidak ada satu pun simbol yang merujuk pada pusaka tersebut.
'Kaisar siapa yang dimaksud?' tanyanya dalam hati. 'Apakah kehancuran peradaban sebesar ini disebabkan oleh perselisihan para penguasa di masa lalu?'
Rasa penasaran mulai tumbuh, menggantikan kepasrahan yang sempat membayangi pikirannya sejak terbangun di lembah ini.
***
Ye Chan menyusuri jalan utama kota mati itu dengan kewaspadaan penuh. Di kiri dan kanannya, bukti-bukti kehancuran terlihat semakin jelas.
Dinding-dinding bangunan besar tidak runtuh karena usia. Banyak di antaranya yang hancur berkeping-keping seolah-olah dihantam oleh gelombang energi dari dalam.
Di beberapa lapangan latihan, ia melihat sisa-sisa tulang belulang manusia yang telah memutih, berdampingan dengan senjata-senjata kuno yang telah berkarat dan kehilangan sisa keajaibannya.
Tempat ini hancur karena perang yang sangat dahsyat. Entah entitas seperti apa yang bisa memusnahkan peradaban ini.
Langkahnya akhirnya terhenti di depan bangunan pusat kota yang paling megah. Di depan anak tangga utama, sebuah lempengan batu hitam berdiri tegak, hampir bersih dari timbunan debu karena embusan angin lorong yang konstan.
Ye Chan maju beberapa langkah, lalu menyapu sisa debu tipis yang menutupi baris kalimat terakhir di bagian bawah lempengan itu. Hanya ada satu kalimat yang tersisa, namun maknanya seolah mampu menembus waktu ratusan tahun.
"Ketika hak untuk berkultivasi dirampas, kehancuran telah dimulai."
Ye Chan terpaku menatap tulisan itu. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang di balik dadanya yang sesak. Kehancuran kota ini, dan mungkin seluruh peradaban kuno ini, tidak disebabkan oleh musuh dari luar, melainkan karena akar dari kekuatan itu sendiri.