Dijadikan ladang emas oleh sang paman. Fio yang semula setuju dijodohkan oleh anak politisi sekaligus pengusaha besar oleh pamannya memilih berontak.
Fio bersekutu dengan Gio, mafia yang ternyata sudah lama memendam perasaan padanya. Hingga, perlahan semua tabir keluarganya terungkap.
"Aku bukan laki - laki yang bisa menyentuh perempuan sembarang. Tapi, aku juga bukan laki - laki yang bisa menahan untuk tidak menyentuh kamu." -Giorgio Abraham-
Sequel Gairah Cinta Sang Pembalap
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan
“Gala!”
Teriakan ini memekikkan telinga Gala yang baru saja ingin naik tangga. Kamarnya berada di lantai dua. Dia baru saja tiba. Setelah menikmati makan malam di restoran tadi, Gala tidak langsung pulang ke rumah tapi mengantarkan Fio ke kediaman Arif.
“Ada apa, Pa?” tanya Gala malas.
“Ke ruang kerja sekarang.”
“Apa lagi sih, Pa? Gala ngantuk. Capek!” jawabnya malas.
Restu duduk bersama istrinya. Mereka memang sengaja di sana untuk menunggu putranya tiba.
“Kamu masih berhubungan dengan pemandu karaoke itu?” Anggi to the point. Dia langsung bertanya ke intinya. “Apa Fio tau hubungan kalian?”
“Jelas, tidak Ma.” Gala mendekati kedua orang tuanya dan duduk di depannya. “Fio terlalu lurus. Dia tidak akan curiga. Lagi pula, Gala sudah mengatakan padanya kalau Vania itu sepupu kita.”
“Sepupu? Apa kamu gil4? Tidak ada garis keturunan kita yang menjadi pemandu karaoke.”
Tiba – tiba, Anggi diam. Lalu, Gala menatap ibunya.
“Bukannya ... dulu Mama juga seorang LC?”
“Diam!” sentak Restu.
Gala pun tersenyum. “Tenang saja, Pa. Pernikahanku dengan Fio akan tetap terjadi. Tapi, hubunganku dengan Vania juga akan tetap berlangsung.”
“Papa pasti tahu kenapa Gala alasannya,” sambungnya dengan mengedipkan satu matanya pada sang ayah.
“Awas saja kalau sampai kamu mengacau.”
“Tenang saja, itu tidak akan terjadi,” jawabnya tenang. “Lagi pula, Fio juga tidak akan macam – macam. Dia tidak akan berani. Gala punya kartu As nya agar dia tetap menurut.”
Gala menyeringai. Kartu As yang dimaksud adalah Arif. Fio terlalu banyak berhutang budi pada sang paman sehingga tidak pernah bisa mengatakan tdak apalagi berkaitan dengan pekerjaan yang menekan pamannya.
“Gala!” Anggi kembali memanggil putranya. “Apa kurangnya Fio? Dia cantik, cerdas, anggun, dan menarik. Apa kamu tidak menyukainya?”
Gala menoleh, membalas tatapan sang ibu. “Aku menyukainya. Oleh karena itu, aku tidak menolak perjodohan ini. Fio memang perempuan yang pas untuk menjadi ratuku, memelihara dan menjaga singgasanaku nanti. Tapi, da urusan lain yang dia tidak bisa. Mama juga pasti mengerti.” P
ria itu menyeringai dan pamit lagi membuat Arif frustrasi dan menyalahkan sang istri, “ini akibat kamu yang terlalu memanjakannya dari kecil.”
Anggi diam.
Sementara di kediaman Arif, Fio baru saja membersihkan diri. Dia lupa mengunci pintu kamarnya dan terkejut dengan keberadaan Arif di sana.
“Paman.”
Beruntung, Fio sudah memakai pakaian lengkap sebelum keluar dari kamar mandi. Itu adalah kebiasaannya sejak kecil dan salah satu didikan sang ibu, dulu.
“Ada apa?” tanyanya mendekati Arif.
“Apa kamu terluka?”
Fio menyipit. “Maksudnya?”
“Yang terjadi di rooftof restoran. Itu ulah D4r4.”
Fio terkejut. Dia tidak berpikir sejauh itu.
“Benarkah?” tanya kemudian. “Paman tahu dari …”
“Apa yang tidak Paman tahu. Bahkan, Paman tahu hubunganmu dengan si Mafia itu.”
Fio langsung menggeleng cepat. “Tidak, Paman. Fio dan Gio tidak memiliki hubungan apa – apa. Demi Tuhan!”
Arif melipat kedua tangannya di d4d4. “Hanya Gala, pria yang tepat untukmu!”
Arif memberi ultimatum. Meski, suaranya tidak keras dan kasar tapi tersirat sebuah perintah yang harus dilaksanakan. Fio langsung mengangguk.
“Iya, Paman.”
Kepalanya tetap menunduk.
“Cepat! Buat Gala segera menikahimu. Kalau perlu, minggu depan sebelum peresmian perusahaan tambang agar Paman tidak mereka tendang.”
Fio masih menunduk. Dadanya bergemuruh. Namun, dia harus memberi jawaban.
“Iya, Paman.”
Arif menatap keponakannya yang masih menunggu, lalu pergi. Sungguh, sangat tidak enak memiliki hutang budi karena akan dibawa sampai m4ti. Andai, kedua orang tuanya masih ada. Mungkin, sekarang dia sedang melakukan apa yang dia mau dan memiliki pasangan seperti apa yang dia impikan.
Fio menutup pintu kamar dan merosot di baliknya. Sembari memeluk lututnya yang meringkuk, ia menangis sejadi – jadi. Sebenarnya, ia lelah. Ia ingin menjadi orang biasa tanpa ada beban dipundaknya. Meski, Fio tidak pernah menyesali untuk profesinya saat ini.
Dia suka menjadi dokter. Dia suka bermanfaat untuk orang lain. Fio suka menolong sesama. Tapi, bisa kah hanya sampai di sini saja? bisa kah dia tidak dilibatkan untuk urusan politik, intel, dan bisnis yang sebenarnya hanya menguntungkan sang paman saja?
Kring
Kring
Tiba – tiba, ponselnya berdering.
Mendengar panggilan itu, dia langsung menghapus jejak air mata yang membasahi pipinya. Bagi Fio, panggilan telepon tidak bisa diabaikan. Dia seorang dokter. Tidak kenal waktu dan jam istirahat jika pasien memanggil.
Akan tetapi, nama yang tertera di sana bukan rumah sakit.
“Halo.”
“Hai, masih sedih?”
Fio mengernyit. Ia memang tidak pernah menyimpan nomor telepon Gio, tapi Fio hafal betul suaranya.
“Jangan telepon aku!”
Fio hendak mematikan sambungan telepon itu. Namun, Gio berbisik cepat.
“Aku di depan jendelamu. Ayo buka! Sebelum penjaga rumah ini menemukanku.”
Sontak, Fio terkejut. Matanya tertuju langsung pada jendela besar itu. Benar saja, ada bayangan orang berdiri di sana.
Fio mematikan ponselnya dan segera mendekati jendela. Langkahnya cepat tapi tidak bersuara. Dengan pelan, dia membuka jendela dan …
“Mau apa kau di sini?” tanyanya tegas dengan suara lantang.
Seketika, Gio menutup mulut Fio dengan tangannya yang besar. “Kecilkan suaramu! Kalau tidak, aku akan ketahuan.”
Gio melompati jendela dan masuk ke dalam kamar Fio tanpa diberi aba – aba.
“Hei, apa – apan ini? Cepat keluar.”
Gio mengabaikan. Dia tetap berdiri di depan Fio, menatap perempuan tu dengan ketulusan dan secepat kilat menarik tubuh itu ke dalam pelukan.
Sedetik kemudian, Fio membeku. Setelah itu, tangisnya mengharu. Air matanya tumpah, beruntung suaranya tidak pecah.
Gio memeluk erat tubuh rapuh itu. Meski terlihat kuat, Fio tetap perempuan yang memiliki sisi kelemahan.