Mati di medan perang modern, Alvaro sang prajurit pasukan khusus elit terlahir kembali di Aetheria—dunia yang dikuasai oleh sihir dan aura. Sialnya, ia terjebak dalam raga "Arya Denwick" Anak bangsawan 17 tahun berpenyakitan pewaris desa rawa miskin, yang baru saja didorong ke jurang kematian oleh Musuh yg tidak diketahui.
Tanpa "sistem" ajaib layaknya kisah pahlawan lain, Arya menolak takdir pecundangnya. Memadukan pernapasan yang ia ketahui di militer untuk memanipulasi energi aura dan mematikannya seni pedang dari Bumi, ia merakit ulang tubuh rusaknya.
dan menjadi penguasa sejati di kerajaan bahkan dunia tersebut!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Tarikan Napas Sang Singa
Lantai kayu terasa terlalu dingin menyentuh kulitnya yang bersimbah keringat. Dengan napas yang masih sedikit memburu akibat kegagalan teknik pernapasan Denwick, Arya memaksa dirinya berdiri. Ia berjalan gontai menuju ranjangnya, menepis sisa debu di pakaiannya, lalu naik ke atas kasur jerami tersebut.
Duduk bersila di atas ranjang memberikan pijakan yang lebih empuk dan stabil. Ia memejamkan mata, membiarkan keheningan malam menenangkan telinganya yang sempat berdenging. Rasa perih di dada dan ulu hatinya masih tersisa, sebuah pengingat betapa berbahayanya memaksa tubuh lemah ini dengan metode yang salah.
"Mari kita coba cara yang rasional," gumamnya pelan.
Di kehidupan sebelumnya, ia menyebut metode ini dengan sebutan Lion Breathing atau pernapasan singa. Nama itu diberikan oleh instruktur taktisnya bukan karena teknik ini agresif atau mematikan, melainkan karena filosofinya. Seekor singa yang sedang beristirahat di padang rumput bernapas dengan sangat lambat, dalam, dan rileks, menghemat setiap tetes energi di dalam ototnya. Namun, tepat pada saat relaksasi itu mencapai puncaknya, tubuh mereka berada dalam kondisi paling siap untuk meledak dalam satu serangan presisi.
Ini adalah teknik parasimpatik. Tujuannya adalah membanjiri aliran darah dengan oksigen secara maksimal, menurunkan detak jantung secara drastis, dan memaksa sistem saraf tubuh masuk ke mode pemulihan total. Di Bumi, teknik ini sering ia gunakan setelah latihan fisik yang menghancurkan otot, atau saat mencoba tidur di tengah zona konflik yang bising.
Arya meluruskan tulang belakangnya. Ia menempatkan kedua tangannya dengan santai di atas lutut, merilekskan rahangnya, dan memastikan tidak ada satu pun otot di tubuhnya yang tegang.
Mulai.
Ia menarik napas melalui hidung. Sangat lambat, tanpa suara. Ia membiarkan udara mengisi perut bagian bawahnya terlebih dahulu, lalu perlahan naik mengembangkan rongga dadanya. Empat detik tarikan napas yang sangat konstan.
Kemudian, ia menahan udara itu di dalam paru-parunya selama empat detik. Tidak ada paksaan. Ia tidak menekan oksigen itu seperti yang ia lakukan pada teknik Denwick. Ia hanya membiarkan udara tersebut membaur dengan darahnya, membiarkan sel-sel tubuhnya menyerap oksigen murni itu dengan rakus.
Setelah itu, ia menghembuskannya melalui mulut secara perlahan selama empat detik. Udara keluar dengan desisan yang sangat halus, membawa serta semua ketegangan, rasa sakit, dan karbon monoksida dari dalam tubuhnya.
Ia menahan paru-parunya dalam kondisi kosong selama empat detik berikutnya, sebelum mengulangi siklus tersebut.
Tarik. Tahan. Hembuskan. Kosong.
Lima menit pertama, Arya tidak merasakan hal yang magis. Ia hanya merasakan detak jantungnya yang tadi berpacu liar kini melambat dan teratur. Denyut di pelipisnya mereda. Rasa sakit di tulang rusuknya perlahan memudar, tergantikan oleh sensasi hangat yang nyaman. Otot-ototnya yang tegang kini terasa seringan kapas.
Namun, memasuki menit kesepuluh, anomali dunia Aetheria mulai merespons.
Berbeda dengan teknik Denwick yang berusaha "memeras" energi dengan paksa dari dalam otot, Lion Breathing bekerja dengan cara mengumpulkan dan memusatkan energi kehidupan. Tubuh Arya yang sedari tadi meresap oksigen dalam kondisi rileks total, tiba-tiba mulai menarik partikel-partikel energi dari udara di sekitarnya.
Sensasinya tidak lagi hanya sekadar relaksasi fisik. Arya merasakan sebuah aliran hangat merayap dari setiap ujung saraf di jari tangan dan kakinya, bergerak naik menyusuri pembuluh darah, dan berkumpul di satu titik persis di bawah ulu hatinya.
Aliran itu terasa sejuk sekaligus bertenaga. Energi itu mengalir menutupi luka-luka mikroskopis di organ dalamnya yang sempat robek akibat latihan sebelumnya, merajutnya kembali dengan kecepatan yang tidak wajar. Arya terus mempertahankan ritme napasnya, tidak membiarkan keterkejutannya merusak konsentrasi.
Setengah jam berlalu, aliran energi itu semakin padat.
Dalam buku Kronik Aetheria yang ia baca sore tadi, disebutkan bahwa seorang ksatria pemula yang baru pertama kali berhasil membangkitkan aura biasanya hanya akan menghasilkan energi sebesar ujung jarum. Sebuah titik cahaya kecil di dalam tubuh yang harus dipupuk berbulan-bulan hingga seukuran kerikil agar bisa dialirkan ke senjata.
Tetapi apa yang dirasakan Arya saat ini sama sekali bukan setitik jarum.
Energi yang berkumpul di ulu hatinya semakin membesar dan berputar lambat, memadat setiap kali ia menyelesaikan satu siklus pernapasan singa. Dari seukuran kerikil, membesar menjadi sebesar kelereng, lalu terus membengkak padat hingga seukuran bola bekel.
Kulit di sekitar dada dan lengan Arya mulai memancarkan pendaran cahaya merah pekat—crimson—yang sangat tipis menembus pori-porinya. Suhu tubuhnya meningkat, tetapi tidak menyakitkan. Rasanya seolah ada tungku perapian kecil yang menyala dengan tenang di dalam dadanya, memberikan suplai tenaga yang tidak ada habisnya ke setiap otot dan tulangnya yang rapuh.
Ketika siklus pernapasan itu berjalan selama hampir dua jam, Arya perlahan membuka matanya.
Pendaran cahaya merah tipis di kulitnya meredup dan kembali terserap ke dalam tubuh. Namun, ia bisa merasakannya dengan sangat jelas. Di dalam pusat tubuhnya, tepat di bawah tulang dada, sebuah gumpalan aura berwarna merah pekat telah terbentuk. Ukurannya bukan lagi sebesar jarum, melainkan seukuran kepalan tangan manusia dewasa. Padat, tenang, dan sepenuhnya tunduk pada kendalinya.
Arya menunduk menatap kedua telapak tangannya. Ia mengepalkan tangannya perlahan. Ada tenaga yang sebelumnya tidak pernah ada di tubuh ini. Sendi-sendinya tidak lagi berderit. Pergelangan kakinya yang bengkak terasa sembuh total, dan napasnya kini sangat ringan.
Sebuah senyum getir perlahan terbentuk di bibirnya, disusul oleh tawa pelan yang tertahan di tenggorokan.
"Ironis sekali," bisiknya di tengah kesunyian kamar.
Keluarga bangsawan di dunia ini menghabiskan waktu bertahun-tahun merancang teknik pernapasan yang menyiksa tubuh demi membangkitkan aura. Mereka memaksakan tenaga dari otot yang keras. Sementara itu, sebuah teknik relaksasi militer dari dunianya—yang awalnya hanya dirancang untuk mendinginkan suhu tubuh sehabis latihan lari—ternyata menjadi katalis yang paling sempurna dan efisien untuk menyerap dan memadatkan aura di dunia Aetheria.
Alasannya sangat logis secara anatomi. Aura adalah energi kehidupan. Jika seseorang menekan dan memeras tubuhnya terlalu keras, energi kehidupan itu akan melawan dan bocor. Tetapi dengan Lion Breathing, Arya memanipulasi tubuhnya untuk masuk ke dalam kondisi relaksasi absolut, membuat tubuh ini menjadi wadah yang terbuka lebar dan sangat reseptif terhadap energi. Ia tidak memeras aura, ia mengundangnya berkumpul.
Tawanya mereda, digantikan oleh sorot mata yang kembali tajam dan kalkulatif.
Ia memegang dadanya, merasakan gumpalan aura seukuran kepalan tangan itu. Ini adalah sebuah lompatan raksasa. Dengan jumlah aura sebesar ini, ia telah melampaui fase berbulan-bulan latihan yang harus dilalui oleh ksatria pemula. Otot dan tulangnya mungkin masih kecil dan kurang massa, tetapi dengan suplai aura padat ini yang terus mengaliri darahnya setiap detak jantung, memperkuat fisik tubuh ini hanya tinggal masalah rutinitas.
Arya menoleh ke arah jendela. Kegelapan malam mulai memudar, digantikan oleh semburat biru gelap di ufuk timur. Pagi hampir tiba.
Ia menyibakkan selimut dan turun dari ranjang. Langkah kakinya tidak lagi terseret atau bergetar seperti kemarin sore. Pijakannya kini kokoh dan seimbang. Ia mengepalkan tangannya sekali lagi, merasakan sensasi tenaga yang mengalir di balik kulit pucatnya.
Teori sudah terbukti. Intrik politik sudah ia pahami. Kini saatnya untuk aplikasi praktis.
Ia butuh sebuah pedang, dan ia perlu tahu apakah aura berwarna merah pekat di dalam tubuhnya ini bisa dialirkan selaras dengan teknik bela diri historis yang telah mendarah daging di kepalanya.
Tanpa membangunkan siapa pun, Arya mengganti pakaian tidurnya dengan kemeja dan celana linen yang lebih leluasa untuk bergerak. Ia melangkah keluar dari kamar, menyusuri lorong kastil yang masih sepi, dan menuju ke arah lapangan latihan di halaman belakang.
👍