Yurinika tak mengira akan di labrak oleh selingkuhan suaminya. bukan hanya sekali tapi berkali-kali selingkuhannya itu datang dan melabrak dia. memintanya meninggalkan sang Suami Abimana. pria bingung itu justru tak mau meninggalkan keduanya.
hingga akhirnya Yuri benar-benar kecewa kepada Abimana dan saat tahu Sandra adalah anak dari atasannya di kantor membuat Yuri memiliki ide untuk memanfaatkannya.
apa yang akan di lakukan Yuri atas rasa kecewa yang dia dapat dari suami yang sudah dia bersamai dari titik nol sampai mereka menikah dua tahun? ikuti terus ceritanya.
dan jangan lupa baca karya othor lainnya dengan mencari nama pena Yam_zhie.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yurinika 5
Abimana merengkuh bahu ibunya dengan gestur menenangkan, lalu menatap Yuri dengan pandangan memohon sekaligus menuntut.
"Yuri, kamu jangan keterlaluan sama Ibu," ujar Abimana, nada suaranya berubah tegas.
"Zaki itu adik aku satu-satunya. Masa urusan gengsi dan kenyamanan dia di sekolah harus kita sepelekan? Kamu kan tahu sendiri jabatan aku di kantor sekarang apa. Kalau sampai teman-teman Zaki tahu adiknya Wakil Manajer naik angkot, yang malu juga aku!"
Ibu Gina mengangguk mantap, menepuk dada Abimana bangga. "Nah! Denger itu! Suamimu aja mikir panjang. Kamu ini jadi istri bukannya dukung, malah bikin pusing!"
"Tapi Mas," Yuri menahan napas, menatap pria yang dulu pernah berjanji akan melindunginya itu.
"Gaji kamu bulan ini kan belum turun full, dan bonus kenaikan jabatan baru cair minggu depan. Kalau dipaksa beliin Zaki motor cash hari ini, uang dari mana? Memangnya semua uang gaji dna bonus kamu cukup untuk memenuhi semua kebutuhan rumah kita? Belum lagi buat memenuhi kebutuhan rumah tangga oran tuamu. Nanti nambah lagi uang jajan dan besin. Belum lagi nambah uang buat nongkrong adik kamu itu!"
Abimana melepaskan cangkir kopinya, lalu tersenyum tipis, senyuman yang biasa ia pakai saat hendak membujuk Yuri memberikan tabungannya.
"Ya kamu kan ada gaji dari tempat kerja kamu, Yuri," kata Abimana tanpa beban.
"Gaji kamu bulan ini belum dipakai kan? Kamu transfer dulu ke aku tiga puluh juta. Sisanya dari tabungan kecil aku. Nanti kalau bonus aku cair minggu depan, baru aku ganti uang kamu. Gimana?"
Mendengar ucapan itu, Zaki langsung bersorak girang.
"Nah gitu dong, Mbak Yuri! Transfer sekarang aja, biar nanti siang Zaki bisa langsung bawa motornya ke sekolah!"
Ibu Gina melipat tangan di dada, menatap Yuri dengan dagu terangkat.
"Tuh, kan ada solusinya! Lagian uangmu itu uang Abi juga. Istri itu tugasnya bantu suami, jangan dikuasai sendiri tabungannya!"
Yuri berdiri membeku. Tiga puluh juta itu adalah seluruh sisa uang tabungan pribadinya yang ia kumpulkan dari sisa gaji, uang belanja uang lembur di kedai kopi, dan hasil jualan kue kering kecil-kecilan. Uang yang rencananya akan ia pakai untuk dana darurat kesehatan dan renovasi atap dapur yang bocor.
Dulu, Yuri pasti akan mengalah. Ia akan tersenyum canggung, merogoh ponselnya, dan menransfer seluruh uangnya demi menjaga nama baik Abimana dan keharmonisan keluarga. Tapi detik ini, matanya terpejam sejenak. Bayangan Sandra yang melemparkan amplop uang lima puluh juta dan cemoohan Ibu Gina menari-nari di kepalanya.
Yuri membuka mata. Sorot matanya kini bukan lagi milik wanita penurut yang bisa mereka peras sesuka hati.
"Nggak bisa," sahut Yuri singkat, tenang, dan teramat dingin.
Suasana meja makan seketika hening. Abimana mengerutkan dahi, merasa pendengarannya bermasalah.
"Maksud kamu gimana, Yur? 'Nggak bisa' apa?"
"Aku nggak akan kasih uang gaji atau tabungan aku sepeser pun lagi, Mas," tegas Yuri, menatap Abimana lurus tanpa berkedip.
"Uang itu milik aku. Dan aku nggak ada kewajiban membelikan adikmu motor. Lagian nggak malu banget kamu minta uang tabungan aku yang bahkan selama kamu kerja aja, uang gaji kamu selalu minus. Bahkan kita tak punya tabungan masa depan selain rumah KPR ini yang masih nyicil! Kamu juga cuma omong doang mau renovasi dapur kita, dan sekarang malah dengan entengnya mau beli motor udah kayak beli permen aja. Minta langsung di beliin,"
"Yuri!" bentak Abimana, wajahnya langsung memerah karena terkejut dan malu di depan ibu serta adiknya.
"Kamu kok jadi pelit dan membangkang begini, sih?! Biasanya juga kamu nurut kalau aku minta tolong!"
"Beda cerita, Mas!" potong Yuri cepat, suaranya menekan namun sarat akan wibawa.
"Dulu aku bantu kamu karena kamu berjuang buat rumah tangga kita! Tapi sekarang? Kamu minta uang istri sah kamu buat menuruti gengsi adikmu yang malas, sementara cicilan rumah dan uang sekolah dia aja masih kamu telantarkan! Bahkan kebutuhan kebutuhan rumah kita saja belum karuan bisa kamu cukupi selama satu bulan kedepan!"
"Kurang ajar kamu ya, Yuri!" teriak Ibu Gina sambil bangkit berdiri dan menunjuk muka Yuri.
"Berani-beraninya kamu ngatain anak Saya malas! Kamu itu cuma menumpang hidup sama Abi! Jangan belagu karena pegang uang sedikit!"
"Saya nggak menumpang hidup, Bu!" Yuri melangkah mendekati Ibu Gina, membuat wanita paruh baya itu terkejut dan refleks mundur satu langkah.
"Saya juga kerja! Rumah ini dicicil pakai uang DP dari saya! Makan kalian tiap minggu di sini pakai uang belanja saya! Selama dua tahun ini, siapa yang nambal kebodohan dan pemborosan keluarga Ibu kalau bukan saya?! Jadi jangan pernah bicara seperti itu kepada saya! Harusnya ibu berkaca kepada diri ibu sendiri! Justru kalian lah yang menumpang pada kami!"
"YURI, CUKUP!" Abimana menggebrak meja makan hingga cangkir kopi berguncang hebat.
"Jaga mulut kamu sama Ibu aku! Kamu udah keterlaluan!"
Abimana merogoh dompetnya dengan kasar, menarik beberapa lembar kartu kredit dan menunjukkan ke wajah Yuri.
"Kalau kamu nggak mau kasih uang kamu, ya udah! Aku bisa gesek kartu kredit aku! Aku bisa usahakan sendiri tanpa perlu ngemis bantuan dari kamu! Tapi kamu jangan bersikap kayak gini ke ibu, Yuri! Kamu ini kenapa sih kok tiba-tiba jasi sensi banget. Biasanya juga kamu nggak pernah protes! Kebanyakan gaul sama Ajeng jadinya kamu seperti ini!" gertak Abimana penuh emosi.
Yuri justru tersenyum miring, sebuah senyuman yang membuat Abimana mendadak merinding.
"Jangan bawa-bawa Ajeng! Silakan, Mas. Beli motornya pakai kartu kredit. Beli dua sekalian buat Ibu," bisik Yuri santai.
"Tapi ingat ya... limit kartu kredit itu ada batasnya, dan tagihannya bakal datang bulan depan. Jangan pernah berniat pakai uang gaji aku buat bayar tagihan itu. Dan jangan lupa, limitnya juga sisa sedikit! Aku perlu ingatin kamu kalau dua minggu lalu kamu sudah pakai untuk beli banyak baju, sepatu, jas dan jam tangan. Katanya untuk menopang karir kamu kan?"
Yuri berbalik, mengambil tas kerjanya di sofa, lalu berjalan menuju pintu depan. Sebelum membuka pintu, ia menoleh kembali pada Abimana yang masih berdiri terpaku dengan wajah tegang.
""Aku berangkat kerja dulu. Aku cuma mengingatkan jangan lupa dari mana asal kita dan diman kita berpijak. Jangan karena baru bisa mendapatkan jabatan yang ta seberapa ini kamu sampai lupa daratan. Hati-hati jatuhnya pasti sakit banget dan nggak main-main!"
Tanpa menunggu balasan dari siapa pun, Yuri melangkah keluar rumah dan menutup pintu dengan dentuman keras, meninggalkan Abimana, Ibu Gina, dan Zaki dalam keributan yang baru saja ia sulut.
km udh gx bisa keluar dr cengkraman nenek lampir berkedok malaikat mu😏
knp km nekat ,, gila gilaan bersama nenek lampir ,, gila gilaan ,, gila gilaan ,,
lama2 km jd gila beneran Abimana😏😏😏