Laras, ibu rumah tangga yang setia, tak sengaja membaca pesan mesra di ponsel suaminya, Dimas. Perempuan di balik pesan itu ternyata Vania, tetangga baru yang selama ini bersikap ramah padanya.
Laras hancur, tapi ia memilih diam dan mengumpulkan bukti. Saat melihat Reza, suami Vania, yang tulus mencintai istrinya, ia memutuskan membalas dengan cara yang sama: merebut apa yang paling Vania sayangi.
Namun semakin dalam Laras bermain, semakin kabur batas antara dendam dan perasaan. Rahasia masa lalu Vania dan Reza mulai terbuka, dan Laras harus memilih antara menuntaskan pembalasan atau menyelamatkan dirinya dan Kenzo, anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DERMAGA TIGA
Pelabuhan lama itu berbau karat dan air asin yang membusuk.
Mira mematikan lampu mobil seratus meter sebelum gerbang kawasan dermaga, lalu membiarkan mesin menggelinding pelan hingga berhenti di balik tumpukan kontainer berkarat. Di depan mereka, deretan gudang tua berdiri berjajar seperti raksasa tidur, atap seng mereka berkilat samar di bawah sinar bulan yang mengintip dari celah awan.
"Gudang tujuh," bisik Mira, menunjuk tablet di tangannya. "Titiknya di situ. Paling ujung, yang pintunya hijau."
Laras memicingkan mata. Di kejauhan, satu-satunya gudang yang memancarkan cahaya hanyalah bangunan itu. Cahaya kuning redup merembes dari celah pintu dan dari beberapa jendela kecil di dekat atap. Di depannya terparkir dua mobil, satu sedan hitam yang ia kenal dan satu minibus tanpa tanda.
"Ada berapa orang?"
"Setidaknya tiga yang kelihatan." Mira menunjuk bayangan di dekat pintu. "Satu berjaga di depan. Dua di dekat mobil, merokok."
"Jaksa Hendarto sudah balas?"
Mira melirik ponsel Reza yang ia pinjam. Layarnya masih kosong. "Belum. Tim pengintai butuh minimal satu jam untuk bergerak. Dan mereka nggak akan mau bertindak tanpa konfirmasi visual bahwa Dimas benar ada di dalam."
"Berarti kita harus memastikannya."
"Ras." Mira meraih lengannya. "Kita sepakat hanya mengamati."
"Aku mengamati." Laras menatap sahabatnya tanpa berkedip. "Dari dekat."
"Itu bukan mengamati, itu bunuh diri."
"Mir, dia sedang dipukuli di dalam sana. Aku mendengar sendiri di telepon." Suara Laras bergetar, tapi tidak pecah. "Aku nggak minta kamu ikut. Aku cuma minta kamu tetap di sini dan terus hubungi Pak Hendarto. Kalau aku nggak kembali dalam tiga puluh menit, kamu tahu harus apa."
"Aku nggak akan tinggalkan kamu."
"Kamu harus. Karena kalau kita berdua terjebak, nggak ada yang bisa membawa bukti itu keluar." Laras mengangkat map cokelat dari jok belakang dan menyerahkannya. "Simpan ini. Kalau terjadi sesuatu, bawa ke Pak Hendarto, bukan ke polisi biasa."
Mira menatap map itu, lalu menatap Laras. Matanya merah. Dengan tangan gemetar, ia menerimanya.
"Tiga puluh menit," bisiknya. "Tidak lebih."
"Tidak lebih."
Laras turun dari mobil dan menutup pintu tanpa suara.
---
Ia merangkak di antara bayang-bayang kontainer, tubuh merapat ke tanah yang basah oleh sisa hujan. Setiap bunyi kerikil di bawah sandalnya terasa seperti ledakan. Jantungnya menghantam tulang dada, tapi kepalanya anehnya jernih.
Dulu, ia akan membeku. Dulu, ia akan menangis di sudut dapur dan menunggu orang lain menyelamatkannya. Tapi perempuan itu sudah mati sejak malam ia membaca pesan dari V.
Yang merayap di tanah malam ini adalah orang lain.
Ia berhenti di balik tumpukan drum bekas, sepuluh meter dari sisi samping gudang tujuh. Di dinding beton itu ada sebuah jendela kecil, berdebu, setengah terbuka, cukup tinggi untuk dijangkau dengan memanjat tumpukan palet kayu di bawahnya.
Dua penjaga di dekat mobil masih mengobrol. Satu tertawa keras, suaranya menggema di antara gudang-gudang kosong. Laras menunggu sampai tawa itu berhenti, lalu bergerak cepat, bungkuk, menyusuri tembok sampai ke bawah jendela.
Ia memanjat palet dengan pelan. Kayunya lapuk dan berderit sedikit. Ia menahan napas, menunggu. Tak ada teriakan.
Ketika matanya mencapai bibir jendela, ia mengintip ke dalam.
Gudang itu luas dan setengah kosong. Di tengahnya berdiri sebuah meja lipat dan beberapa kursi, diterangi satu lampu gantung kuning yang berayun pelan. Di sudut kiri, tumpukan peti kayu bertuliskan huruf asing. Dan di kursi tengah, dengan tangan terikat ke belakang dan kepala tertunduk, duduk seorang pria.
Dimas.
Kemejanya robek, wajahnya bengkak dan lebam. Darah mengering di sudut bibirnya. Satu matanya nyaris tertutup oleh bengkak biru kehitaman. Dadanya naik turun lambat, tanda ia masih hidup, tapi hampir tak sadar.
Laras menutup mulutnya dengan telapak tangan agar tak bersuara. Air matanya jatuh sebelum sempat ia cegah.
*Dia hidup.*
Seorang pria berdiri di dekatnya, bersandar santai ke meja sambil memeriksa ponsel. Tubuh besar, kepala botak, tato di leher. Sesekali ia melirik Dimas dengan jemu, seperti orang yang menunggu bus terlambat.
Hanya satu penjaga di dalam. Dua di luar. Dan satu lagi di pintu depan.
Laras menghitung dalam kepalanya. Terlalu banyak untuk satu orang. Tapi tidak terlalu banyak kalau ada pengalih perhatian.
Ia merogoh saku jaketnya. Perekam suara tua dari loker nomor 27 masih ada di sana. Ia memutar benda itu di tangannya, lalu tersenyum tipis. Di dasar tumpukan palet, matanya menangkap sebuah botol kaca kosong, tergeletak di antara sampah.
Pikiran itu muncul begitu saja, sederhana dan berbahaya.
---
Botol itu melayang dalam lengkungan pendek ke arah deretan drum di sisi lain gudang.
Bunyi pecahnya memecah malam seperti tembakan. Dua penjaga di luar langsung menoleh, tangan bergerak ke pinggang. "Siapa di sana?" salah satu membentak. Mereka berlari ke arah suara, senter menyapu di antara drum.
Di dalam gudang, pria botak itu mengangkat kepala dari ponselnya. Ia mendengus, berjalan ke pintu samping, dan membukanya setengah untuk memeriksa. Laras, yang sudah merunduk di balik tumpukan palet, menahan napas sampai dadanya perih.
Pria itu keluar. Pintu samping menganga.
Laras bergerak. Ia melompat dari palet, menyelinap melewati celah pintu yang terbuka, dan masuk ke dalam gudang dalam tiga langkah cepat. Bau debu, besi, dan sesuatu yang manis dan busuk menyergap hidungnya. Ia berlari ke kursi di tengah ruangan dan jatuh berlutut di depan Dimas.
"Mas. Mas Dimas."
Kelopak mata yang bengkak itu bergerak pelan. Satu mata terbuka sedikit, kabur, tak fokus. Bibir pecahnya bergerak.
"Ras...?"
"Ssst. Jangan bicara." Tangannya gemetar saat menarik tali yang mengikat pergelangan tangan suaminya. Simpulnya keras dan basah oleh darah. "Aku akan keluarkan Mas dari sini."
"Pergi..." Suara Dimas serak dan patah. "Ras, pergi... ini jebakan..."
"Aku tahu."
"Mereka... mereka tahu kamu datang... dari tadi..."
Tangan Laras berhenti.
Sesuatu di belakangnya menutup. Bunyi pintu samping yang dikunci dari luar, pelan dan pasti.
Lalu, dengan bunyi klik, semua lampu di gudang menyala sekaligus.
Cahaya putih menyilaukan menyapu seluruh ruangan, membuat Laras refleks menutup mata dengan lengan. Ketika ia membukanya lagi, ia melihat gudang itu sepenuhnya. Peti-peti kayu di sudut, deretan kursi di dinding, dan, di atas sebuah panggung kecil dari palet yang tadi tak terlihat dari luar, duduk seseorang di kursi lipat, kaki bersilang, secangkir kopi di tangan.
Rudi Hartanto tersenyum.
"Selamat malam, Bu Laras," katanya ramah, seolah menyambut tamu di ruang tamunya sendiri. "Saya sudah menduga Ibu akan datang. Malah, saya sempat bertaruh dengan diri sendiri soal berapa lama Ibu bisa menahan diri."
Pintu depan terbuka. Tiga pria masuk, termasuk si botak bertato yang kini menyeringai. Satu di antaranya membawa sesuatu di tangan: senter Mira. Ia melemparnya ke lantai, tepat di depan kaki Laras.
Jantung Laras berhenti.
"Teman Ibu yang di mobil sudah kami urus," kata Rudi lembut. "Jangan khawatir, dia baik-baik saja. Cuma sedikit... tertidur."
Laras merasakan seluruh darahnya mengering. Ia menatap Dimas, yang sekarang sepenuhnya sadar, mata biru kehitaman itu penuh penyesalan yang tak terucap. Lalu menatap Rudi.
"Dia tidak ada di dalam peta itu," bisik Dimas lemah. "Titik di tablet itu... Rudi yang menyalakannya. Sengaja. Supaya kamu datang."
"Betul sekali," kata Rudi, menyesap kopinya. "Sedikit umpan. Tablet tua di laci dapur. Saya tahu istri Anda cukup pintar untuk menemukannya, Pak Dimas. Anda sendiri yang pernah bilang."
Dimas memejamkan mata, seperti seseorang yang baru saja menerima vonis.
Rudi meletakkan cangkirnya di lantai, berdiri, dan merapikan jasnya. Ia berjalan pelan ke arah Laras, langkahnya tenang, sepatu kulitnya berketuk pelan di lantai beton.
"Sekarang, Bu Laras," katanya, berhenti dua langkah di depannya, "kita bisa bicara dengan lebih jujur. Di mana wasiat itu?"
Laras mengangkat dagu. Ketakutan masih menggenang di perutnya, dingin dan berat, tapi suaranya keluar tenang.
"Tidak di sini."
"Saya tahu." Rudi tersenyum tipis. "Pertanyaan saya adalah: di mana?"
"Kalau saya jawab, Bapak akan membunuh kami."
"Kalau Ibu tidak jawab, saya akan membunuh suami Ibu. Pelan-pelan. Di depan mata Ibu." Rudi mengatakannya dengan nada yang sama seperti ia menawarkan teh. "Pilihan ada pada Ibu."
Si botak melangkah maju, meraih rambut Dimas, dan menarik kepalanya ke belakang. Pisau kecil berkilat di tangan satunya, ditempelkan ke leher pria yang selama sepuluh tahun tidur di samping Laras.
Dimas tidak melawan. Ia hanya menatap Laras, dan di mata yang hampir tertutup itu, terbaca satu kalimat yang tak sanggup ia ucapkan.
*Maafkan aku.*
Laras menggigit bibirnya sampai berdarah. Di kepalanya, seluruh sepuluh tahun melintas dalam satu detik: gaun pengantin, tangis pertama Kenzo, pelukan di dapur, kebohongan, pengkhianatan. Semuanya bertumpuk menjadi satu pilihan mustahil.
Lalu, dari jauh, dari luar gudang, terdengar bunyi yang membuat semua kepala menoleh serentak.
Sirene. Banyak sekali. Semakin dekat.
Rudi mengerutkan dahi. Senyumnya, untuk pertama kalinya malam itu, menghilang.
"Siapa yang menelepon polisi?" desisnya.
Laras tidak tahu. Tapi di dalam dadanya, sebuah harapan kecil dan nekat menyala seperti api lilin di tengah badai.