Saga Mahendra percaya satu hal, pengkhianatan tidak pernah memiliki alasan. Itulah yang ia yakini sejak hari ia melihat Sahira, wanita yang ia cintai, berpelukan dengan sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Saga memilih pergi. Meninggalkan cinta, mimpi, dan masa lalu yang terlalu menyakitkan.
Lima tahun kemudian, ia kembali. Bukan lagi remaja yang rapuh, tapi seorang dokter dengan hati yang telah membeku. Namun, takdir mempermainkannya. Sahira muncul kembali bersama seorang anak berusia empat tahun.
Waktu tidak pernah berbohong. Lalu, siapa ayah dari anak itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Pagi hari di Rumah Sakit Kasih Ibu terasa sibuk seperti biasa.
Suara langkah perawat dan bunyi roda brankar memenuhi lorong rumah sakit sejak pagi. Beberapa keluarga pasien terlihat menunggu dengan wajah cemas di depan ruang rawat.
Di lantai VIP, Tuan Mahendra baru saja selesai menjalani pemeriksaan ulang setelah serangan jantung yang dialaminya semalam.
Nyonya Tatih duduk di sofa ruang rawat dengan wajah lelah dan pucat. Semalaman wanita itu hampir tidak tidur menjaga suaminya.
Sementara itu, Saga berdiri di depan jendela ruang kerja Dokter Mario dengan wajah tegang. Tangannya mengepal kuat sejak tadi.
Sedangkan Dokter Mario berdiri di dekat meja kerjanya sambil menatap Saga serius. Ruangan itu dipenuhi keheningan beberapa saat. Sampai akhirnya Dokter Mario membuka suara pelan,
“Ayah kamu syok semalam.”
Tatapan Saga langsung berubah.
“Karena apa?”
Dokter Mario menarik napas panjang sebelum menjawab,
“Karena Paman bilang kemungkinan besar Sahir itu anak kamu.”
Jantung Saga seperti dipukul keras.
“Apa?” suaranya meninggi.
“Selama ini Ayah kamu nggak pernah tahu kalau kamu punya anak di luar sana.”
Saga langsung menjauh beberapa langkah dengan napas mulai memburu.
“Semua orang ngomong hal yang sama!” bentaknya frustrasi. “Tapi aku ingat jelas aku nggak pernah nyentuh Sahira selama kami pacaran!”
Dokter Mario langsung menatapnya tajam.
“Bodoh!” Bentakan keras itu membuat Saga langsung diam. Sejak kecil, pamannya benar-benar memakinya tanpa menahan diri.
“Kamu pikir semua orang bohong?” lanjut Dokter Mario marah. “Atau kamu pikir Sahira perempuan murahan yang sengaja jebak kamu?”
Rahang Saga mengeras.
“Aku cuma nggak ingat!”
“Karena memang ada sesuatu yang nggak kamu ingat!” Suasana ruangan mendadak terasa semakin panas.
Dokter Mario berjalan mendekat dengan tatapan penuh emosi.
“Lima tahun lalu…” suaranya mulai lebih pelan, “Paman terakhir kali ketemu Sahira waktu pemeriksaan kehamilan.”
Tubuh Saga langsung membeku.
“Dia datang sama Revano.”
Tatapan Saga perlahan berubah.
“Revano ngaku sebagai wali.”
Dokter Mario tertawa hambar mengingat kejadian itu.
“Waktu itu Paman bahkan ngomong sinis sama dia.”
Tatapannya menatap Saga dalam.
“Paman tanya, kenapa dia nggak nikahin aja Sahira.”
Saga diam tanpa suara.
Dan kalimat berikutnya membuat dadanya terasa semakin sesak.
“Revano bilang…” Dokter Mario berhenti sejenak, “bukan dia yang diinginkan Sahira.”
“Dia cuma bertanggung jawab.”
Ruangan kembali sunyi, Saga perlahan menundukkan kepalanya. Dokter Mario belum selesai dan kembali berkata,
“Waktu Sahir lahir di rumah sakit ini…” suara pria itu berubah berat, “kondisi Sahira hampir nggak tertolong.”
Mata Saga langsung membesar.
“Apa?”
Dokter Mario menatapnya tajam.
“Selama hamil, dia sering dapat kekerasan fisik dari ibu dan adik tirinya.”
Tubuh Saga langsung menegang.
“Karena itu kondisi kandungannya lemah.” Suara Dokter Mario semakin berat sekarang.
“Persalinannya nggak mudah.” Tatapannya memerah menahan emosi.
“Paman bahkan sempat takut ibu dan anak nggak bisa diselamatkan.”
Napas Saga langsung tercekat. Dunia di sekelilingnya terasa seperti runtuh perlahan. Sementara Dokter Mario melanjutkan,
“Dan waktu Sahir lahir…”
Pria itu menghela napas panjang.
“Revano minta Paman nutup semua ini dari kamu.”
“Kenapa?” suara Saga terdengar serak.
“Karena dia nggak mau keluarga Mahendra ngambil Sahir dari tangan Sahira.”
Tatapan Dokter Mario melembut untuk pertama kalinya.
“Wanita itu udah berjuang terlalu banyak buat anaknya.” Keheningan panjang memenuhi ruangan. Saga berdiri diam tanpa mampu berkata apa pun.
Dadanya terasa sesak dan pikirannya kacau. Lima tahun Sahira menanggung semuanya sendiri. Dan dirinya malah membenci wanita itu selama ini. Perlahan Saga mengangkat wajahnya. Tatapannya terlihat hancur sekarang.
“Tapi…” suaranya lirih, “kenapa aku nggak inget apa pun?”
Tatapan Dokter Mario berubah rumit.
“Tentang aku dan Sahira…”
Suara Saga mulai bergetar.
"Pernah ngelakuin itu.”
Hening beberapa saat. Lalu Dokter Mario berjalan menuju meja kerjanya. Pria itu membuka laci perlahan sebelum mengambil sebuah amplop coklat tebal.
“Pagi tadi Revano datang ke sini,” ucapnya pelan.
Saga langsung menoleh.
“Nggak lama. Mungkin cuma dua puluh menit.”
“Ngapain dia ke sini?”
“Bahas kerja sama rumah sakit.”
Dokter Mario menatap amplop itu beberapa detik sebelum akhirnya menyerahkannya pada Saga.
“Tapi sebelum pergi…”
Tatapannya perlahan bertemu dengan Saga.
“Dia nitip ini buat kamu.”
Dengan tangan sedikit gemetar, Saga menerima amplop coklat itu. Dan begitu membukanya napasnya langsung berhenti sesaat.
Akta kelahiran Sahir, dengan tanggal lahir yang membuat kepala Saga terasa berdengung. Di dalamnya juga ada beberapa lembar kertas lain.
Tulisan tangan Sahira, tentang anak yang ia kandung. Tentang rasa takutnya tentang pria yang masih ia cintai dan alasan kenapa ia memilih untuk putus dari Saga. Tangan Saga gemetar saat membaca lembar demi lembar isi amplop coklat itu. Tatapannya terpaku pada tulisan tangan Sahira yang masih sama seperti dulu. Namun, setiap kalimat di sana terasa seperti menghantam dadanya tanpa ampun. Tentang rasa takut Sahira saat mengetahui dirinya hamil. Tentang ketakutannya menghancurkan masa depan Saga. Tentang bagaimana wanita itu memilih pergi sambil menanggung semuanya sendiri. Dan yang paling membuat napas Saga terasa sesak, Sahira tidak pernah sekalipun membencinya.
Saga langsung menutup map itu keras, matanya memerah. Tangannya mencengkeram rambutnya sendiri frustrasi.sz
“Bodoh…” Suara pria itu terdengar serak.
"Aku bodoh…”
Selama lima tahun, dia membenci Sahira. Menuduh wanita itu berselingkuh. Bahkan, memandang rendah dirinya padahal selama ini Sahira justru melindunginya. Dan Sahir, anak itu benar-benar darah dagingnya.
Saga langsung berdiri dari duduknya dengan napas memburu.
“Aku harus ketemu Sahira.”
Dokter Mario menatap keponakannya diam-diam. Tatapan Saga sekarang berbeda. Bukan lagi penuh kebencian melainkan penyesalan yang menghancurkan.
“Aku harus ngomong sama dia,” lanjut Saga cepat. “Tentang Sahir.”
“Dan tentang kejadian malam itu.” Saga mengepalkan tangannya kuat.
“Kenapa aku nggak bisa inget…”
Tanpa menunggu jawaban lagi, pria itu langsung berjalan cepat keluar dari ruangan Dokter Mario sambil membawa amplop coklat tersebut.
Pintu ruangan tertutup cukup keras setelah kepergiannya. Dan beberapa detik kemudian seseorang perlahan muncul dari balik lorong dekat ruangan itu.
Seorang pria muda dengan wajah tegang berdiri dengan terdiam, Aldi anak Dokter Mario. Sejak tadi dia ternyata menguping semua pembicaraan mereka.
Tatapannya berubah rumit, tangannya perlahan mengepal kuat.
“Jadi…” gumamnya pelan, “Sahir anak Saga.”
Wajah Aldi perlahan mengeras. Lalu tanpa membuang waktu, ia segera mengeluarkan ponselnya dari saku jas. Satu nama langsung ia hubungi. Panggilan tersambung beberapa detik kemudian.
[Halo?]
“Aku perlu ketemu kamu sekarang.” Suara Aldi terdengar serius.
Clara langsung mengernyit bingung di seberang sana.
[Ada apa?]
Tatapan Aldi berubah tajam.
“Ini tentang Saga.”
orang yang terobsesi bisa melakukan hal yang sangat berbahaya.
Takut kalau keluarga tiri dan Clara menemukan mereka di bali