Tubuh Elisa bergetar hebat di ambang pintu kamar hotel. Di depannya, seorang pria berdiri tegap menatapnya dingin. Asing. Berbahaya dan malam ini, pria itulah yang memegang nyawa ibunya.
Satu malam. Jika Elisa berhasil memuaskan pria itu, ibunya tetap hidup. Jika ia gagal, selang dan alat-alat medis ibunya akan dicabut.
Elisa tidak punya pilihan. Gadis lugu yang bahkan belum pernah pacaran itu harus menukar kesuciannya demi napas ibunya.
"Mandilah. Aku benci menyentuh perempuan kotor!"
Suara itu dingin, menghina, menusuk sampai tulang.
Demi selamatkan ibunya, Elisa terpaksa melakukan ini, hanya satu malam. Tak disangka pria itu menagihnya seumur hidup. Karena pria itu tidak hanya menginginkan tubuhnya. Dia menginginkan seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kotor Dan Hina
Anggara mundur, mengambil gelas di meja, menuang minuman warna merah dan meminumnya. Ia menatap Elisa dari atas ke bawah dengan tatapan menilai dan merendahkan.
"Aku paling benci buang-buang waktu. Kalau dari awal tidak niat, jangan ambil job ini."
Kata-kata itu menusuk Elisa lebih dalam dari apa pun. Anggara memalingkan wajah. Menahan rasa kesal. Lalu ia menatap Elisa yang masih menunduk.
"Kau masih mau melanjutkan apa tidak? Atau ganti rugi atas waktu dan biaya membeli mu?" celetuk Anggara setelah selesai meneguk minumannya sampai tetesan terakhir.
Elisa sontak mengangkat wajahnya. Jika dia mundur sekarang, semuanya akan celaka. Hatinya benar-benar bertarung saat ini. Maju atau mundur, dia akan tetap jadi korbannya.
Dengan tangan gemetaran, ia melepaskan cengkraman erat-erat nya dari bath robe. Sementara itu, dari posisinya berdiri, sudut bibir Anggara mulai naik sedikit, senyum jahat.
"Bagus ... jangan membuang waktu!"
Tangan Anggara langsung menarik lengan Elisa, sekali tarikan langsung dihempasankan ke tempat tidurnya yang super empuk dan nyaman. Elisa tak akan kesakitan saat badannya jatuh ke ranjang itu.
Mata Elisa langsung menutup rapat. Berharap semuanya langsung selesai.
(Tutup mata segala!)
"Buka mata mu! Tatap wajah ku!" titah Anggara.
Perlahan kelopak mata Lisa terbuka, bibirnya mengunci rapat. Namun, bibir pria itu kembali menyerang. Tak hanya menyesap bibirnya, tapi juga memberikan cap di bagian lehernya yang putih. Menyisakan jejak warna merah.
Elisa memejamkan mata lagi, sudut matanya mengalir bulir bening. Habis sudah, dia sudah habis malam ini. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan segala rasa, Elisa merasa ini adalah malam kehancurannya.
Sedangkan Anggara, ia menelan ludah. Menikmati pemandangan di bawahnya. Putih bersih. Tapi dia akan mencoba dulu, benar tidak masih tersegel.
Tanpa pengaman yang biasanya dia gunakan, saat itu Anggara langsung saja menekan Elisa.
Gadis itu sampai menahan jeritan, mencengkram kain seprai. Sementara Anggara, wajahnya semakin memanas. Makin lama semakin kepalanya ingin meledak.
Sampai akhirnya tubuhnya melemas dan tergeletak di samping Elisa. Rasanya lain, berbeda. Karena baru pertama dia dapat gadis yang masih suci. Tak sia-sia dia bayar sangat mahal.
Anggara menoleh, dilihatnya wajah Elisa yang matanya terpejam tapi keluar air mata.
"Apa yang kamu tangisi? Hem? Karena tugasmu bagus, aku akan kasih bonus!" ucap Anggara lalu berdiri. Mau ke kamar mandi.
Ditinggalah Elisa yang masih menangis dalam diam dan kesakitan.
(Ibu ... Aku mengecewakanmu)
Matanya terpejam, bulir bening tak berhenti mengalir dari matanya. Untuk pertama kalinya, dia merasa dirinya sangatlah kotor. Hina dan tidak berharga.
Beberapa saat kemudian. Elisa dengan rasa sakit yang masih terasa, mencoba mengambil bath robe yang tadinya dibuang ke lantai oleh Anggara.
Ia memakainya, duduk di tepi ranjang dengan mata sembab. Hidungnya memerah, matanya juga demikian. Ia mengusap pipinya, menyeka air matanya yang mengalir.
"Masih menangis?"
Elisa menoleh ke belakang. Dilihatnya Anggara yang sudah selesai membersihkan diri.
"Lebih baik kau bersihkan tubuhmu! Daripada menangis tanpa ada gunanya!" ujar Anggara.
Dia puas dengan Elisa, tapi tak suka melihat wanita itu menangis. Seolah dia pria jahat yang memaksa perempuan itu. Bukankah mereka sudah sepakat soal harga juga. Jadi menangis setelah transaksi selesai, rasanya kurang enak.
"Sana! Mandi lagi!"
Elisa mencoba berjalan, meskipun terasa ada bagian tubuhnya yang begitu perih dan nyeri.
Anggara meliriknya sekilas, kemudian menuang minuman kembali ke gelasnya. Selang beberapa menit, dia langsung menyusul Elisa ke dalam sana.
Dan terjadi lagi, sesuatu yang membuat Elisa tidak ingin hidup lagi, karena tubuhnya yang merasa begitu kotor dan bernoda.
Elisa terbangun karena sinar matahari yang menyelinap dari balik gorden tebal kamar hotel. Wangi yang asing, ranjang yang terlalu empuk, selimut yang terlalu tebal. Rasa sakit di seluruh badannya. Lalu semua ingatan malam tadi kembali.
Elisa meringkuk di dalam selimut, menangis tapi air matanya sudah kering.
Di atas meja, ada sesuatu yang membuat Elisa terdiam.
Sebuah amplop coklat tebal. Di atasnya ada secarik kertas dengan tulisan tangan.
(Ambil uang ini, anggap bayaran lembur semalam!)
Di dalam amplop coklat, ada uang. Jumlahnya jauh lebih banyak dari yang dijanjikan Tante Rita malam itu. Cukup untuk melunasi tunggakan rumah sakit dan menebus obat ibunya untuk sebulan ke depan.
Elisa menatap nanar pada amplop tersebut, daripada mengambil amplop tersebut, ia terlihat mengacuhkannya.
Dengan menahan sakit, dia mencari pakaiannya. Pergi ke kamar mandi, langsung berganti dengan baju semalam.
Kamar hotel itu masih sepi, tidak ada pria yang membayarnya semalam. Pria itu sudah pergi saat Elisa terbangun. Baguslah, setidaknya Elisa tak perlu menyembunyikan tangisnya.
(Cukup sekali ini aku menjual diri! Ibu ... aku berjanji, hal ini tidak akan terulang lagi!)
Elisa mengusap pipinya sebelum benar-benar keluarga dari kamar hotel tersebut.
Sementara Anggara, di mana lelaki tersebut? Sejak Elisa membuka mata, dia tidak kelihatan di kamar hotel itu.
Elisa tidak ingin tahu dan tak mau tahu. Setelah urusannya selesai, dia langsung ke kost. Ganti pakaian yang menurutnya sangat terbuka dan tak nyaman.
Ada satu jam dia mengurung diri di kamar mandi. Membiarkan tubuhnya menggigil, kejadian semalam cukup membuatnya terguncang. Tidak menyangka, kesuciannya hilang begitu saja.
(Ibu ... aku merasa kotor sekali!)
Tangisnya tertahan, hanya ada suara kran.
Sore harinya.
Rumah sakit.
Elisa pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi ibunya. Saat dia datang, di sana sudah ada Tante Rita. Sontak membuat wajah Elisa pucat. Takut kalau Tante Rita cerita kejadian semalam.
"Eh ... Lisa, baru ke sini? Kamu kelihatan kurang tidur," celetuk Tante Rita.
Elisa panik, tapi mencoba tetap tenang.
"Lisa ..." panggil ibu Lisa dengan suara lemah. Lisa langsung mendekati ranjang sang ibu.
"Lisa di sini, Bu."
"Kata Tante mu, kamu ... kamu ...kemarin datang ke rumahnya?" tanya ibunya dengan terbata.
Elisa mengangguk. "Lisa kasih kabar, kalau ibu sakit."
"Sudah, tidak apa-apa. Kita kan keluarga. Sudah selayaknya keluarga saling menguatkan. Cepat sembuh Mbk... sudah ya. Saya ada urusan. Nanti saya berkunjung lagi. Oh, ya ... sekarang kalian tinggal di mana? Biat komunikasi kita lancar lagi."
Elisa menelan ludah. Maunya dia putus hubungan selamanya dengan sang Tante. Karena wanita itu sudah menjualnya. Tapi, ia tak bisa mengatakannya di depan sang ibu. Akhirnya harus bersandiwara.
"Nanti Elisa WA Tante."
"Bagus. Jaga ibumu baik-baik. Mbak aku permisi dulu."
Ibu Elisa mengangguk lemah. Sementara Tante Rita, dia melirik Elisa.
"Lisa ... Tante mau bicara sebentar saja, mari kita keluar. Biar ibumu istirahat!"
Ajakan Tante Rita membuat jantung Elisa berdegup kencang.
Depan kamar rawat inap sang ibu, Elisa berdiri dengan gelisah.
"Ini uang yang Tante janjikan! Lain kali, kalau Tante telpon. Angkat! Hoki kamu gede! Tekuni pekerjaan ini, Tante yakin. Hitungan bulan kamu sudah naik level. Bisa beli mobil dan tempat tinggal layak!"
Tawaran yang menggoda bagi Tante Rita, tapi terdengar menjijikan bagi Elisa.
"Tante, tolong jangan bilang apapun pada ibu. Masalah kemarin, tolong jadi rahasia kita."
Tante Rita tersenyum remeh. "Ngomong apa kamu ini! Jangan munafik! Oh ya ... banyak juga bekas ciuman di leher kamu!"
Elisa langsung menutupinya dengan rambut.
"Tidak usah ditutupi! Tante sudah lihat! Sudahlah. Jangan sok suci lagi! Nanti kalau ada langganan Tante yang berani bayar mahal, pasti Tante hubungi kamu!"
"Tidak Tante! Cukup. Elisa tidak mau lagi!"
Wanita paruh baya itu malah terkekeh.
"Sudah ... jangan pura-pura. Kerja apa cuma semalam langsung jadi jutawan. Tinggal buka paha saja!"
Elisa langsung menoleh kanan dan kiri, ada perawat lewat, mulut Tante Rita memang tidak pakai rem. Loss tanpa kontrol.
"Oh ya, satu lagi. Ingat! Pakai KB. Jangan sampai kamu hamil!" ucap Tante Rita lalu pergi dengan santainya.
Elisa terdiam, menatap gelisah punggung tantenya.
Bersambung
\*\*\*😁
Bukan nya minta maaf ini koq malah semakin semena mena yak
tenin ki loe,,,,jangan di hina kan Loe tau lagi hamil muda hormon ambur adul jangan selalu nya menyamakan wanita di masa lalu nya yang lihat duit loe ijo mirip
kolor ijo,,, Anissa beda paham salah haduhhh mumet mumet,, bolak balik di kandani ga mudeng mudeng,,😇😇😇😇lope yuuuuuu sekebon bunga' buat,,, BESTie. Sept iki wis Oktober 🤣🤣
di kurung emang manuk Podang aiiiss,,,MBG parah Mas Bro Gara ga ngenai odol usus bukan Pepsodent,,,Mas Bro pisan kolo bikin ketawa Elisa jangan cuma di takuti 😂 ya emang fasilitas dan segala di penuhi Mergo GEMBOL Anaknya saja ,,,
cuma coba yen ga Gung karuan,,,Elisa dah
gadis gini saja di suruh tanda tangan dan Kamu juga usul kalau yang tidak sesuai,,,loh ko enak sing karep sopo Yo ga Elisa,,, jangan mau ya siap perang tak ewangi wis GE endang,,,jaluk rujak jingur
apel malang sing lagi metik tapi kudu moro kapok koen Mas Bro Gara,,