NovelToon NovelToon
Lukisan Dari Tahun Yang Belum Lahir

Lukisan Dari Tahun Yang Belum Lahir

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:308
Nilai: 5
Nama Author: Diva Devira

SINOPSIS
.
.
.
.
.

Delapan tahun setelah dikirim ke Selatan, Shen Ruyin akhirnya kembali ke Chang’an.

Keluarganya mengatakan ia pergi karena sakit. Namun sejak kepulangannya, Ruyin mulai menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ingatannya.

Orang-orang di Chang’an mengingat masa kecilnya dengan cara yang berbeda. Ibunya terlalu berhati-hati saat membicarakan masa lalu, sementara kakaknya mengetahui hal-hal yang seharusnya tidak ia ketahui.

Lalu Ruyin menemukan sebuah lukisan tua.

Wajah perempuan di dalamnya sama persis dengannya—padahal lukisan itu dibuat bertahun-tahun sebelum ia lahir.

Jika semua orang menyimpan rahasia tentang dirinya, lalu siapa sebenarnya Shen Ruyin?

Dan apa yang terjadi pada malam ketika ingatannya mulai hilang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diva Devira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: PAGI YANG DIPILIH SENDIRI

Pagi setelah kunjungan Nyonya Qiao, Ruyin bangun lebih awal dari pelayan yang biasa membuka tirainya.

Ia membuka jendela sendiri. Udara dingin masuk membawa bau tanah dan daun ginkgo yang mulai membusuk manis di sudut halaman. Kabut belum terangkat dari kolam, dan di seberangnya lampu dapur baru dinyalakan satu per satu. Ia berdiri di sana sambil mengenakan jubah luar, memikirkan sesuatu yang sederhana: selama dua minggu lebih ia hanya menjawab. Menjawab pertanyaan, menjawab undangan, menjawab cerita orang tentang dirinya. Belum sekali pun ia memulai sesuatu.

Ia menyisir rambutnya sendiri, mengikatnya dengan pita kelabu, dan keluar sebelum Bibi Qin sempat menawarkan diri.

"Nona mau ke mana sepagi ini?"

"Ke pasar ujung jalan. Aku mau membeli benang dan sedikit madu."

"Pengurus rumah bisa menyuruh orang."

"Aku tahu, Bibi." Ruyin tersenyum. "Aku hanya ingin berjalan."

Bibi Qin memandangnya sebentar, lalu mengambil mantel tebal dari gantungan dan menyampirkannya di bahu Ruyin tanpa berkata apa-apa. Ia mengikuti setengah langkah di belakang, seperti biasa.

———

Pasar pagi di ujung jalan lebih kecil daripada pasar timur yang pernah ia datangi bersama Yucheng, dan lebih jujur. Penjual bubur mengaduk panci besar dengan sendok kayu sepanjang lengan, tukang sayur menata lobak seperti barisan prajurit, dan seorang kakek menjual telur asin dari keranjang yang dialasi jerami. Tidak ada yang mengenalnya. Tidak ada yang berkata *Nona Shen sudah kembali*. Seorang penjual benang hanya mengangkat wajah dan bertanya warna apa yang ia cari.

"Abu-abu muda. Dan satu gulung hijau lumut."

"Untuk menyulam atau menjahit?"

"Menyulam. Aku belum tahu apa yang akan kusulam."

Perempuan itu tertawa. "Itu cara terbaik memilih benang."

Ruyin membayar sendiri dengan keping tembaga yang dihitungnya di telapak tangan. Ia menawar madu dan kalah, dan pulang dengan perasaan yang tidak bisa ia namai, ringan dan sedikit konyol, seperti anak yang baru berhasil membawa pulang barang belanjaan pertamanya.

"Nona menawar buruk sekali," komentar Bibi Qin di jalan pulang.

"Aku tahu."

"Nyonya akan menertawakan."

"Biar saja."

Dan untuk pertama kalinya sejak pulang, Ruyin melihat sudut bibir Bibi Qin terangkat tanpa dipersiapkan.

———

Di rumah, Nyonya Lin sedang duduk di serambi dengan buku rekening pelayan. Ia mengangkat mata ketika Ruyin masuk membawa bungkusan kecil.

"Dari pasar?"

"Benang dan madu."

"Madu itu terlalu mahal." Nyonya Lin membuka bungkusannya, mengendus, dan mengangguk setengah hati. "Tapi baunya baik. Kau sudah sarapan?"

"Belum."

"Kalau begitu duduk. Dan sekalian bantu Ibu." Ia menggeser buku rekening itu. "Pelayan dapur minta persetujuan untuk pembelian garam dan minyak bulan ini. Biasanya Ibu yang memutuskan, tapi mataku lelah. Lihat angkanya. Kalau menurutmu terlalu banyak, coret."

Ruyin menerima buku itu. Deretan angka dan nama barang memenuhi halaman, ditulis dengan tulisan pengurus rumah yang kecil dan rapat. Ia membacanya perlahan, memilah mana yang wajar, dan mencoret satu baris minyak lampu yang dua kali lebih banyak dari bulan lalu.

"Ini berlebih, Ibu. Dapur tidak mungkin memakai sebanyak itu."

Nyonya Lin memeriksa coretan itu dan tidak mengatakan apa-apa selama beberapa saat. Lalu ia mengangguk. "Baik. Biar pengurus rumah yang menjelaskan nanti."

Hanya itu. Tetapi ketika pelayan dapur datang dan berdiri di ambang pintu, Nyonya Lin berkata, "Tanyakan kepada Nona Kedua," dan pelayan itu, tanpa ragu, berbalik dan memberi hormat kepada Ruyin.

———

Siang hari, Yucheng menemukannya di serambi barat sedang menyortir benang yang baru dibeli, menumpuknya menurut warna.

"Kau menyulam sekarang?"

"Belum. Aku baru membeli benang."

"Itu kebiasaan buruk. Aku juga membeli kuas sebelum tahu mau melukis apa." Ia duduk di anak tangga dan mengambil gulungan hijau lumut, memutarnya di jari. "Warna ini bagus. Seperti lumut di dinding sumur belakang."

"Itu yang kupikirkan waktu memilihnya."

"Kalau begitu selera kita masih sama." Yucheng tersenyum dan menyodorkan gulungan itu kembali. "Aku dengar kau menawar madu."

"Siapa yang bilang?"

"Bibi Qin tidak bilang apa-apa. Tapi ia sempat menyebut kata 'buruk sekali' kepada pelayan dapur dengan nada yang sangat senang."

Ruyin tertawa, dan tidak menanyakan apa pun yang sedang ia simpan. Ada banyak hal yang bisa ia tanyakan kepada kakaknya hari ini. Ia membiarkannya diam, seperti membiarkan teh mendingin sebelum diminum. Yucheng duduk di sebelahnya cukup lama, menyandarkan kepala ke tiang, dan mereka membicarakan hal-hal yang tidak berarti: harga madu, tukang kebun yang membenci kucing, kawan akademinya yang jatuh ke kolam saat mabuk.

Ketika pergi, Yucheng menepuk bahunya sebentar. "Bagus. Teruslah begitu."

"Begitu bagaimana?"

"Memutuskan sendiri apa yang kau beli."

———

Sore harinya, ketika ia kembali ke kamar untuk meletakkan benang, ia berhenti di ambang pintu.

Di bawah jendela, tempat kemarin hanya ada ruang kosong, kini berdiri sebuah meja kecil dari kayu nanmu, tidak lebih tinggi dari lutut, dengan bantalan duduk bersulam awan kelabu. Di sampingnya ada rak bambu bersekat tiga, dan di atas rak itu, sebuah kotak bersih kosong, entah untuk apa. Meja tulisnya yang lama sudah digeser sedikit ke samping untuk memberi ruang.

"Siapa yang menaruh ini?" tanyanya kepada pelayan yang sedang menyapu.

"Pengurus rumah yang memerintahkan, Nona." Pelayan itu menunduk. "Katanya, Nona sudah kembali dan akan tinggal di sini. Jadi kamar Nona harus punya tempat sendiri, bukan lagi kamar yang menunggu."

"Siapa yang bilang begitu kepadanya?"

"Saya tidak tahu, Nona. Hanya diperintahkan."

Ruyin masuk dan berlutut di depan meja kecil itu, menyentuh permukaannya dengan telapak tangan. Kayunya halus dan masih berbau damar. Ia duduk di bantalan, dan ternyata tingginya tepat.

Rumah ini mulai menyesuaikan diri dengannya. Ia seharusnya senang, dan ia memang senang, sedikit.

Tetapi sambil menata benang di rak, ia memikirkan hal lain. Delapan tahun rumah ini berjalan tanpa dirinya. Pelayan belajar tidak menunggunya, dapur belajar tidak menyiapkan bubur tanpa daun bawang untuknya, dan pengurus rumah belajar menghitung arang untuk tiga orang, bukan empat. Semua itu terjadi dengan tenang, tanpa ada yang memanggilnya. Dan kini, dengan tenang yang sama, rumah itu sedang belajar lagi bagaimana menyediakan tempat untuknya.

Entah mana yang lebih sulit: dilupakan dengan rapi, atau diingat kembali dengan rapi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!