Aku mulai tertarik dengan sosok wanita yang duduk disebelah ku dibangku delapan delapan C dalam penerbangan pesawat Jakarta ke Makassar. Dia duduk diam, mengunakan baju serba hitam, sepintas ku melihat ada air mata yang membasahi pipinya. Hatiku mulai ibah, siapa kamu manis, ingin rasanya aku mau menenangkanmu.
Ini perasaan yang dirasakan oleh Kapten Marinir Martinus Revelino. Yang sedang dalam perjalanan menuju tempat tugas baru di Papua. Saat ini dia ditugaskan sebagai Komandan Intel pada kesatuan angkatan laut di Papua.
Dalam penerbangan ini, dia bertemu dengan Gracia Natasya, seorang apoteker yang harus kembali ke papua karena duka yang dia alami.
Apakah Ino dan Cia bisa menjalin hubungan cinta??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Akibat perbuatan Mersi kepada Cia, membuat kembali pasangan suami istri ini bertengkar. Max dibelai oleh mamanya. Membuat Mersi merasa tersisi.
"Anak menantu kamu siapa sih, kenapa harus dia yang kamu bela." Tangan Max menyentuh pipi Mersi.
"Kurang ajar kamu ya. Seumur saya hidup dan kedua kakak saya, bersama ipar - ipar saya, mereka tidak perna kurang ajar kepada mama saya. Kamu tahu, saya bisa ceraikan kamu sekarang dan memulangkan kamu kepada orangtuamu. KAMU TAHU SAYA BISA." Max sangat marah sekali.
Mamanya langsung menenangkan Max. Dan membawa dia kekamar mereka.
"Kamu tahu nak, baru kamu anak mantunya yang kurang ajar sama mama dari ketiga anak laki - laki saya."
"Maafkan saya pa."
"Arnold mama, apa yang mau kamu cemburui dari Cia.... Kamu tahu perbuatan kalian membuat saya malu kepada Cia juga orangtuanya."
"Mersi mohon maaf pa."
"Kalau pun Cia tidak bersama Max, namun anak itu mendapat tempat dihati kami. Dia dari bayi sudah digendong di rawat oleh mamanya Max sampai tante dan omnya datang dari kampung untuk menjaga.Jadi kalau sayang, iya Cia mempunyai tempat khusus di hati kami."
"maafkan Mersi pa."
"Kamu masuk tidur, besok pagi baru kamu mohon maaf sama istri saya." Papa mertuanya meminta Mersi untuk istirahat. Menenangkan pikirannya, karena saat ini diliputi kegelisahan.
Sementara di rumah kediaman komandan intel. Ino sedang memanjakan istrinya, memeluk dan menanyakan apakah ada kekasaran yang lakukan. Namun Cia menjawab tidak.
"Mas lihat, mamanya Max sayang sama kamu sayang."
"Kapan mas lihat?"
"Waktu kita menikah."
"Dulu waktu Cia lahir, mama harus prajabatan, yang jaga Cia adalah mamanya Max sampai mama Ice dan papa Buce dari kampung datang."
"Kalau kamu dijaga, baru anak mereka??"
"Ya katanya mamanya menjaga kami berdua."
"Mas cemburu sayang, kamu dari kecil sudah ditakdirkan bersama Max."
"Mas.... Kan yang ade sayang dan cinta sekarang itu Mas Martinus Revelino Rehata yang menjadi suaminya aku."
"Kamu memang paling pintar mengambil hati. Untung tadi baru selesai dua ronde kalau tidak besok pagi kamu ngak jalan sayang." Cia langsung memeluk suaminya. Dan malam ini mereka tidur bersama dalam cinta mereka yang terus bersemi.
Mersi tidak bisa tidur, dia hanya mondar mandir melihat foto anak laki - lakinya. Karena setiap malam Arnold tidur bersama omanya di kamarnya sendiri yang disiapkan oleh papanya sebelum mereka datang ke kota ini. Sedangkan Max tidur sambil memeluk Arnold anaknya.
Ada rasa bersalah yang dia simpan, ketika memandang Arnold anaknya, dia tidak menyangka bahwa buah hatinya akan bernasib malang ketika egois kedua orangtuanya masih ada di diri mama dan papanya.
"Maafkan papa sayang, maafkan papa yang belum bisa memberi kenyamanan kepada kamu dan mama kamu. Maafkan papa."
Nasehat mamanya tadi membuat Max sadar, bahwa ini terjadi karena kesalahannya. Dia yang berbuat, maka dia yang harus bertanggung jawab. Jam dua belas malam, dia tahu bahwa Mersi mamanya Arnold belum tidur.
"Boleh saya masuk." Max mengetuk pintu kamar tidur Mersi dan dirinya.
"Masuk Mas." Max pun masuk.
"Kita berdua harus berbicara." Mersi duduk di kursi yang Max siapkan, berhadapan dengannya. Max mengangkat wajahnya dan menarik nafas panjang.
"Aku mohon maaf mas, karena sudah kurang ajar kepada mama."
"Pagi hari baru kamu ngomong langsung ke mama. Mer... Terus terang, kami tiga bersaudara tidak perna berkata kasar kepada perempuan yang sudah melahirkan kami. Bahkan ke dua istri kakak - kakakku juga."
"Mohon maaf mas." Mersi meneteskan air matanya.
"Saya mohon maaf karena belum bisa menjadi yang kamu harapkan.... Saya akui Cia itu perna mendapat perhatian penting dalam diri saya, bahkan keluarga saya. Bukan saya saja yang sayang kepadanya, kamu lihat sendiri waktu dia menikah kedua mas ku yang ada di luar kota ini datang bersama istri mereka untuk menghadiri pernikahannya. Bahkan mas Cristian yang menjadi saksi.Tetapi saya tahu, untuk memiliki Cia lagi tidak bisa karena ada suaminya. Kalau kamu mau menunggu saya agar bisa merubah perasaan saya.... Tolong jangan sakiti Cia. Karena orangtuaku kedua kakakku juga akan sakit. Tetapi jika kamu tidak bisa menunggu saya merubah perasaan itu. Kamu akan saya kembalikan ke orangtuamu secara baik - baik."
"Aku mau menunggu kamu mas. Aku ngak mau pulang ke orangtuaku."
Mersi hidup bersama papa dan mama tiri juga kedua adik tirinya. Sejak kecil orangtuanya sudah berpisah, umur delapan tahun mamanya meninggal dan Mersi dibawa oleh papanya. Hidup bersama mama tiri, tentu tidak enak. Kesalahan yang di perbuat oleh kedua adiknya, dia yang disalahkan oleh mamanya. Tentu Mersi lebih memilih mati dari pada kembali ke orangtuanya.
"Aku mau menunggumu mas...."
"Mungkin sakit hatimu, karena cemburu tetapi jangan melampiaskan kepada Cia. Dan aku berjanji akan berusaha agar kamu tidak cemburu."
"Terima kasih mas."
"Kamu boleh tidur sekarang, aku akan tidur bersama Arnold." Mersi sudah naik di atas tempat tidurnya. Dan Max menutup tubuhnya dengan selimut lalu keluar dari kamar itu.
Akhirnya sekarang, Cia ke kantor selalu di antar oleh suaminya. Semenjak peristiwa itu. Ino tidak bisa membayangkan di tempat yang sepi istrinya di pukul oleh seseorang yang perna menekuni olah raga bela diri.
"Mas.... Aku aman."
"Ada apa - apa langsung hubungi mas sayang. Ingat mas ngak mau kamu terluka."
"Iya suamiku sayang."
Sehari, tidak bisa mengubah sifat sesorang. Meskipun dia berjanji untuk tidak mencelakai Cia, namun kebenciannya kepada sosok Cia tetap ada. Itu yang Mersi alami ketika melihat Cia lewat dihadapannya. Namun dia harus tahan mengingat kata suaminya, bahwa Cia itu mendapat peran penting di dalam keluarga suaminya.
Siang jam satu, selesai makan siang, Cia tidak sengaja melihat mama dan papanya Max sedang berada di ruang UGD.
"Ma... Siapa sakit." Mamanya Max langsung memeluk Cia, waktu disapa olehnya.
"Mama sehat sayang." Mamanya Max mencium Cia.
"Puji Tuhan... Baru ngapain kesini."
"Anaknya Max sakit demam tinggi mengigau bahkan kejang - kejang. Lagi di berobat."
"Semoga cepat sembuh ya ma.. Salam buat papa dan kakak - kakak."
Cia mengerti, dia harus bisa jaga jarak. Karena mengingat Mersi yang cemburuan. Juga dia harus menjaga perasaan suaminya. Meskipun Ino suaminya akan mengerti, namun dia tidak mau suaminya berpikir yang tidak - tidak. Cia sudah kembali ke ruangan kerjanya. Dia tidak tahu, bahwa suaminya juga memperhatikan dia diam - diam. Ino tersenyum.
"Terima kasih sayang sudah menjaga perasaan suamimu." Ino kembali ke kantornya setelah tadi mengantar Cia ke rumah sakit. Tadi jam makan siang, Ino sengaja menjemputnya untuk makan siang bersama di kantin yang dekat dengan aula hang tua.
Anaknya Max sekarang ada di ruangan khusus di rumah sakit, ruangan yang membutuhkan perhatian para medis. Ya ruangan ICU. Infomasi ini terdengar sampai di kantor intel. Dan Ino selaku komandan datang bersama anggota yang lain memberi dukungan kepada Max. Karena sudah waktu jam pulang, Ino ke ruangan menjemput istrinya.
"Anaknya Max ada di ICU." Cia kaget, ternyata penyakitnya parah dan perlu perhatian.
"Mas dari sana?"
"Iya sayang. Kamu ngak mau lihat Arnold anaknya Max dan Mersi."
"Mas aku ngak mau tambah rumit suasana. Kamu mengertikan."
"Iya sayang."