Dika Pratama, penjaga baru yang mulutnya nggak pernah diam dan kelakuannya selalu nyeleneh, ditugaskan menjaga kantor milik Vanesha Aurelia — CEO termuda, tercantik, dan paling ditakuti seantero kota. Cantiknya kayak lukisan, tapi kalau ngomel bisa bikin orang langsung kicep sampai lupa napas.
Satu terlalu santai dan sok asik, satu lagi perfeksionis dan gampang meledak. Setiap hari pasti ada aja alasan buat berantem — dari sepatu yang bunyi, senyum yang terlalu lebar, sampai tatapan yang katanya "terlalu lama natap bos".
Tapi di balik omelan dan tatapan tajam itu, perlahan tumbuh rasa yang nggak bisa dijelasin pakai kata. Siapa sangka hati bos yang galak itu akhirnya luluh sama senyum kuda seorang penjaga yang nggak pernah nyerah
"Diamlah, Nona Bos. Ngomel terus nanti kerut lho."
"Kamu... siapa yang kasih izin ngomong gitu sama saya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Rapat Penuh Tekanan dan Ide Sederhana yang Berani
Matahari pagi menyinari ruangan kerja Vanesha, tapi suasana di dalamnya sama sekali nggak terasa cerah. Surat ancaman dari Raka tergeletak di meja — tulisan tangan kasar, penuh nada paksaan seakan perusahaan dan Vanesha sendiri itu barang dagangan yang bisa diambil kapan saja. Vanesha duduk di kursi kerjanya, wajah serius banget sambil menatap kertas itu tanpa berkedip.
Dika berdiri di dekat pintu, diam tapi waspada. Dia nggak mau ganggu, tapi nggak mau juga pergi jauh — tahu kalau Vanesha lagi nanggung beban berat sendirian.
"Kamu pikir saya harus menyerah?" tanya Vanesha tiba-tiba, suaranya pelan tapi jelas terdengar di ruangan hening itu.
"Menyerah? Nggak pernah! Nona Bos bangun perusahaan ini dari nol, kerja keras siang malam, lalu kasih ke orang yang cuma mau ambil untung doang? Itu namanya nggak adil!" ucap Dika mantap.
"Tapi kalau tidak... banyak yang bisa rusak. Reputasi perusahaan, kepercayaan klien, bahkan pekerjaan ratusan orang," ucap Vanesha pelan, matanya menunduk ke surat itu. "Raka tahu persis di mana letak titik lemah saya."
"Justru karena dia tahu, dia main pakai perasaan Nona Bos! Itu bukan keberanian — itu licik!" sahut Dika tegas. "Kalau dia berani beneran, lawan secara jantan — di meja rapat, pakai aturan, bukan ancam pakai nama keluarga!"
Vanesha tersenyum tipis walau matanya masih berat. "Kata-katamu selalu tegas, Dika. Seolah semua masalah bisa selesai dengan semangat saja," ucap Vanesha lembut.
"Semangat itu bahan bakar, Nona Bos! Tapi otak dan keberanian Nona Bos yang kemudi kapal ini! Jangan biarkan orang lain pegang setirnya!" ucap Dika sambil menepuk dada sendiri pelan.
Belum sempat Vanesha menjawab, telepon di mejanya berdering. Dia mengangkat, dan wajahnya perlahan berubah tegang. "Baik, saya turun sekarang," ucap Vanesha singkat lalu meletakkan gagang telepon.
"Rapat pemegang saham mendadak. Raka sudah di ruang rapat. Dia panggil semua orang," ucap Vanesha sambil berdiri dan merapikan pakaiannya — seakan sedang pasang zirah tak kasat mata. "Ikut saya. Jangan jauh dari saya hari ini," ucap Vanesha tegas.
"Siap! Di mana Nona Bos berdiri, di situ saya jaga!" ucap Dika mantap.
Mereka berjalan menuju ruang rapat di lantai bawah. Langkah Vanesha tegak dan tenang, tapi Dika tahu — di dalam hati dia sedang berjuang keras. Dika berjalan di samping sedikit ke belakang, mata awas menatap ke kiri dan kanan.
Saat pintu ruang rapat terbuka, semua mata langsung beralih ke Vanesha. Di ujung meja panjang, Raka duduk santai sambil senyum kemenangan — dikelilingi beberapa pemegang saham lain yang wajahnya ragu-ragu.
"Ah, akhirnya datang juga," ucap Raka santai, suaranya penuh kepuasan. "Kita semua sudah menunggu, Vanesha. Mari kita bicarakan — baik-baik, seperti keluarga."
Vanesha duduk di kursi kepala di seberang Raka, Dika berdiri di belakangnya di dekat pintu. "Bicara apa? Surat ancaman yang kamu kirim? Atau ambil alih perusahaan dengan cara paksa?" tanya Vanesha dingin dan tegas.
Beberapa orang di ruangan saling pandang. Raka tertawa pelan sambil mengangkat kedua tangan seakan tak bersalah. "Ancaman? Itu cuma peringatan supaya kamu sadar, Nes! Perusahaan ini terlalu berat buat kamu sendirian. Dan pertunangan kita — itu penyatuan keluarga yang akan bikin perusahaan makin besar!" ucap Raka lantang.
"Penyatuan keluarga bukan berarti saya jadi barang jaminan!" ucap Vanesha tegas, suaranya nggak bergetar sedikit pun. "Dan perusahaan ini berdiri karena kerja keras, bukan karena perjodohan!"
"Kamu terlalu keras kepala! Kalau kamu menolak, saya terpaksa tarik saham keluarga dan bawa klien pergi! Kamu pikir perusahaan ini bisa berdiri sendiri tanpa dukungan saya?" teriak Raka, wajahnya langsung merah padam.
Suasana di ruangan langsung tegang. Dika mengepal tangan erat, siap maju kapan saja kalau Raka berbuat nekat. Vanesha diam sejenak, lalu menatap Raka tajam.
"Kamu ancam pakai saham dan klien? Itu cara yang pengecut," ucap Vanesha tenang. "Dan kamu lupa satu hal — perusahaan ini punya nama baik yang dibangun bertahun-tahun. Bukan dibangun di atas nama keluarga saja, tapi di atas kepercayaan dan kerja keras seluruh karyawan."
Raka berdiri kasar. "Kamu akan lihat! Saya bisa hancurkan semuanya!" teriak Raka.
Saat semua orang terdiam ketakutan, Dika melangkah maju berdiri di samping meja rapat — di depan semua orang.
"Maaf ikut bicara," ucap Dika tenang tapi mantap. "Bapak Raka, kalau perusahaan ini bisa hancur cuma karena satu orang pergi — berarti dari awal memang nggak kuat. Tapi saya lihat sendiri — Nona Bos kerja keras tiap hari, karyawan semuanya setia, dan klien datang karena kualitas kerja, bukan karena nama keluarga. Jadi ancaman Bapak itu — cuma angin lalu yang nggak akan merobohkan gedung yang kokoh!"
Semua orang di ruangan diam menatap Dika. Raka melotot marah. "Kamu? Penjaga? Kamu berani bicara di sini?" teriak Raka.
"Saya orang yang melihat Nona Bos berjuang dari dekat. Dan saya tahu — kebenaran itu lebih kuat dari ancaman!" ucap Dika nggak mundur walau satu inci pun.
Vanesha menoleh ke Dika sebentar, matanya berbinar bangga. Lalu kembali menatap Raka. "Dika benar. Kalau kamu mau pergi — silakan. Tapi jangan kira perusahaan ini akan runtuh karenanya. Kita akan bangkit lebih kuat," ucap Vanesha tegas.
Raka mengepal tangan kuat-kuat, menatap mereka berdua dengan tatapan penuh dendam. "Kalian akan menyesal ini!" sahut Raka kasar, lalu berbalik dan berjalan keluar dari ruangan dengan langkah berat.
Pintu tertutup keras di belakangnya. Hening sejenak, lalu satu per satu pemegang saham mengangguk hormat ke Vanesha. "Kami tetap di sini, Vanesha," ucap salah satu dari mereka pelan tapi tegas. "Keputusanmu benar."
Setelah semua orang pergi, ruangan rapat kembali hening. Vanesha berdiri, lalu berjalan mendekat ke Dika yang masih berdiri di sana. Tatapannya lembut banget — campur aduk antara lega, terharu, dan kagum.
"Kamu gila, tahu? Berani bicara di depan mereka semua," ucap Vanesha pelan sambil tersenyum tipis.
"Janji itu hutang, Nona Bos. Saya nggak bisa diam lihat orang dibikin susah dengan cara nggak adil," ucap Dika sambil senyum kocak. "Lagipula — bicara jujur itu nggak pernah salah kan?"
Vanesha tertawa kecil, lalu tanpa ragu meraih tangan Dika dan menggenggamnya erat. "Terima kasih, Dika. Kamu bukan sekadar penjaga buat saya. Kamu... kekuatan saya," ucap Vanesha lembut.
Wajah Dika memerah pelan, tapi dia nggak menarik tangannya. Justru menggenggam balik — lembut tapi pasti. "Selama saya berdiri, Nona Bos nggak akan sendirian. Kita hadapi bareng-bareng, apa pun yang terjadi," ucap Dika tulus.
Di luar sana badai mungkin masih datang, tapi di ruangan itu, dua hati saling menguatkan — dan itu lebih kuat dari apa pun ancaman di luar sana.