Angkasa adalah CEO sukses yang sudah beristri. Rumah tangganya terlihat sempurna di mata semua orang.
Tapi di balik kesempurnaannya, ia harus berjuang setiap hari.
Dikelilingi oleh perempuan-perempuan yang menyayanginya dengan caranya masing-masing.
Ada yang menyayanginya seperti seorang ibu, ada yang mencintainya dengan gairah, ada yang memujanya dengan ketulusan, dan ada yang menantangnya dengan kebencian yang berubah menjadi cinta.
Godaan datang tanpa diduga. Di kantor, di rumah, bahkan di saat ia paling lengah.
Mampukah Angkasa menjaga rumah tangganya tetap utuh?
Mampukah ia menghalau setiap godaan dan tetap menjadi suami yang setia?
Dan mampukah ia bersabar menunggu... sampai akhirnya ia dipanggil dengan sebutan "AYAH"?
Karena menjadi CEO itu mudah.
Menjadi suami yang setia dan ayah yang dirindukan? Itu pertaruhan sesungguhnya.
Siimak kisah lengkapnya, hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 PULANG TAPI TIDAK BENAR PULANG
Aslinya Angkasa itu lelaki baik hati. Kebaikannya tidak hanya pada istrinya, tapi istri orang lain juga. Semoga saja kebaikannya tidak dimanfaatkan oleh orang lain.Angkasa masuk rumah, buru-buru ke dapur mencuci tangan. Lalu mengambil piring dan mangkuk kecil untuk meletakkan martabak telur yang ia janjikan untuk istrinya, Bintang.
"Tang... martabak di meja makan ya. Aku mandi dulu," teriaknya kemudian berlari masuk kamar.
Bintang terlihat berjalan ke meja makan, memastikan martabak yang Angkasa bawa itu dibeli di tempat favoritnya.
"Kok udah dingin banget sih, Sa?" tanya Bintang yang hafal betul dengan martabak kesukaannya. Bahkan penjualnya pun tidak pernah memberikan martabak yang sudah jadi kalau Bintang atau Angkasa yang beli. Pasti dibuatkan yang baru, biar segar dan masih beruap.
"Kelamaan kena AC di mobil, Tang," jawab Angkasa sambil menggosok handuk kecil di kepalanya yang basah. Iya, Angkasa keramas menjelang malam itu, seperti ingin menghapus jejak seharian.
"Oh. Kamu udah makan?" tanya Bintang pelan, menahan kecewa.
"Belum sih."
"Mau makan apa?"
"Apa yang ada aja," Angkasa itu tidak pemilih dan tidak suka merepotkan Bintang. Mereka punya ART paruh waktu yang jarang tatap muka, tapi sangat apik memanjakan perut mereka. Semua masakannya ditaruh di kulkas, tinggal dihangatkan. Beres urusan perut.
"Wah, ada nasi bakar nih, Sa," dari suaranya Bintang terdengar senang melihat dua bungkus nasi terbungkus daun pisang itu.
"Bibi memang the best. Gas... bakar Tang," Angkasa tak kalah antusias melihat bungkusan yang sedang Bintang letakkan di atas kompor itu.
Keduanya selesai menikmati makan malam berat mereka. Suasana sempat hangat lagi.
"Sumpah kenyang banget, Tang. Gak bisa tidur cepet kalau gini," Angkasa punya tubuh sempurna.
Setelah makan malam itu ia tidak langsung masuk kamar, melainkan memilih treadmill dulu 30 menit. Supaya kalorinya terbakar. Sedangkan Bintang, lebih suka memandang lelaki pujaan hatinya itu berolahraga. Angkasa saat basah oleh keringat menurutnya makin seksi.
Angkasa kadang senyum, kadang juga mengedipkan satu matanya pada Bintang. Seolah tahu jika perempuannya itu memang sedang memujanya. Di telinganya ada headset yang tersambung dengan ponselnya. Bintang kira Angkasa sedang mendengarkan musik.
Ternyata tidak.
"Langit... tadi siang badan Damar panas. Kukasih obat demam, turun sih. Tapi sekarang kok malah jadi dingin gini tangannya?" itu voice note dari Bumi. Suara Bumi terdengar panik dan hampir menangis.
Mendadak raut wajah Angkasa berubah. Mau membalas tapi tatapan Bintang tidak pernah lepas darinya. Tidak membalas tapi kepikiran. Mendadak galau melanda. Tapi demi menjaga hati Bintang, ia tetap cool di atas treadmill.
"Kok udah? Belum 30 menit lo, Sa?" Bintang hafal durasi olahraga suaminya.
"Udah ah, capek," jawabnya mencari tempat yang lebih sejuk sambil menyeka keringatnya.
Miring kiri, miring kanan, gelisah sekali Angkasa di tempat tidur. Awalnya lengannya dijadikan Bintang sebagai bantal. Tetapi irama jantung Angkasa agak berbeda menurut pendengaran Bintang, berdegup terlalu kencang. Lalu senatural mungkin Bintang menggantinya dengan bantal sungguhan.
Saat lengannya tidak dipakai Bintang, Angkasa membuka HPnya di bawah selimut.
Layar menyala.
Foto Damar lagi di infus. Selang di tangan mungilnya.
"Aku gak bisa nunggu Langit bergerak, bagaimanapun Damar butuh pertolongan lebih. Aku udah di UGD sekarang." Begitu isi chat Bumi.
Angkasa memandang punggung Bintang yang memunggunginya, dipandanginya lagi foto Damar. Balita itu tak harus merasakan jarum infus seandainya sejak kemarin ia sungguh memperhatikan Bumi merawat Damar.
Rasa bersalah sebagai wali menghantamnya. Angkasa pelan-pelan bangun, tidak menimbulkan suara. Mengambil kunci mobil di meja rias.
Malam itu, sama seperti malam sebelumnya. Angkasa meninggalkan Bintang yang hanya pura-pura tidur. Raga Angkasa memang sungguh pulang, tetapi jiwanya tidak benar-benar pulang.
Langit bergerak lagi.
Kali ini menuju rumah Bumi.
Bersambung...
bagus Tang......biarkan angkasa merasakan kesendiriaannya tanpa bintang......masihkah Bintang diperlukan atau semakin bebas dengan para wanitanya......