Tiga pemuda bokek di Desa Kertajaya nekat mencari cara mendapatkan uang. Alih-alih menemukan keberuntungan, mereka justru selalu terjebak dalam masalah kocak yang bikin hidup mereka semakin kacau. Tanpa mereka sadari, petualangan aneh yang lebih besar sudah menunggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Pemuda Bokek
BAB 1
Lembaran uang kertas pecahan dua ribu rupiah yang lecek dan sudah agak lunak itu terbentang di atas lantai keramik kamar kos yang dingin. Raka menatap lembaran terakhir tersebut dengan pandangan kosong, seolah benda bergambar pahlawan nasional itu adalah benda purbakala yang baru saja ditemukan di dasar laut.
"Ini serius?" suara Raka memecah keheningan pagi yang tanggung. "Dua ribu rupiah. Sumpah, ini pecahan terkecil yang kita miliki di muka bumi sekarang."
Bayu, yang sejak tadi duduk bersila di dekat pintu sambil memeluk lututnya sendiri, langsung mendekat dengan gerakan cepat. Kepo akutnya langsung menyala terang begitu melihat uang yang tersisa. Dia menatap lembaran dua ribu itu lekat-lekat, lalu mendongak menatap Raka dengan mata membelalak.
"Tunggu dulu," kata Bayu dengan nada dramatis. "Dua ribu? Kamu yakin itu bukan uang mainan monopoli keponakan Bu RT? Coba balik, siapa tahu di belakangnya ada tulisan Bank Indonesia Cabang Mainan Anak-Anak."
"Kalau ini uang mainan, mending kita tukar sama hotel bintang lima di Jalan Malioboro," gerutu Raka sambil menghempaskan tubuhnya ke kasur busa tipis yang sudah melesak di bagian tengah. "Tapi kenyataannya, ini uang asli. Dan uang asli ini tidak akan cukup buat beli bensin motor, apalagi buat beli sarapan."
Di sudut ruangan, Dimas tampak sedang sibuk menjungkirbalikkan sebuah bungkus mi instan kosong. Berharap masih ada sisa remahan bumbu yang bisa dijilat atau diseduh dengan air panas.
Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang lambungnya sudah berdengung sejak semalam.
"Jangan dihabiskan energinya buat emosi, Rak," ujar Dimas santai sambil melempar bungkus mi kosong itu ke tong sampah yang sudah penuh. "Emosi itu membakar kalori. Kalau kalori kita habis, kita bukan cuma bokek, tapi juga kelaparan massal."
"Masalahnya sekarang kita memang sedang kelaparan massal, Dim!" sergah Bayu, langsung berpaling ke arah Dimas dengan semangat interogasi. "Kamu masih ingat tidak kemarin malam makan apa? Kita patungan beli telur satu butir, terus dibagi tiga pakai kuah air panas dicampur garam! Rasanya mirip air laut diaduk kenangan pahit!"
"Itu namanya sup aristokrat minimalis," jawab Dimas tanpa beban. Tangannya merogoh kantong celana jeansnya yang sudah luntur, mengeluarkan sebutir permen mint yang bungkusnya sudah setengah basah oleh keringat kantong. Tanpa ragu, Dimas memasukkan permen itu ke mulutnya. "Lagian, hidup itu dinamis. Kemarin kita susah, besok siapa tahu kita makin susah. Kan asyik, ada variasinya."
Raka memijat pelipisnya yang mendadak cenat-cenut. Tinggal di Desa Kertajaya desa yang cukup ramai, punya sinyal 4G yang stabil, warung kopi di setiap sudut perempatan, dan bengkel motor yang buka sampai malam ternyata tidak menjamin dompet tiga pemuda merdeka ini aman dari ancaman kebangkrutan total.
Desa ini hidup. Motor-motor bebek berseliweran di jalanan aspal kampung, suara ayam tetangga bersahutan dengan deru mesin traktor mini milik petani, dan aroma sedap masakan warung sebelah sering kali menguji iman pencernaan mereka setiap jam makan siang. Tapi semua kemeriahan itu terasa hampa kalau saldo di m-banking menunjukkan angka nol besar dengan latar belakang warna merah menyala.
"Bensin motor tinggal seliter lagi di tangki," ucap Raka lirih, menerawang ke langit-langit kamar kos. "Kalau kita pakai buat keliling kampung cari kerja sampingan, paling pol cuma nyampe pos ronda depan, terus mogok. Sesudah itu kita dorong motor beramai-ramai kayak orang ziarah."
"Atau kita jual saja spion motornya?" usul Bayu spontan, alisnya naik-turun dengan gaya sok ide.
"Motor kan tetap bisa jalan tanpa spion. Lagian gaya berkendara kita kan lurus ke depan, tidak suka menengok ke masa lalu."
"Otakmu yang perlu dijual, Bay," potong Raka cepat. "Mana ada maling mau beli spion motor kita yang sebelah kacanya retak bekas tersangkut jemuran tetangga."
Suasana kamar kembali hening sejenak. Angin pagi Desa Kertajaya berhembus pelan dari celah ventilasi, membawa aroma tanah basah dan daun singkong rebus dari dapur sebelah. Di luar, suara klakson motor Pak Jaya yang lewat mengantar galon air mineral terdengar jelas, menambah kontras antara kesibukan warga desa dan kemalasan absolut yang melanda kamar kos mereka.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar.
Bukan ketukan biasa. Ketukan itu tegas, berirama, dan memiliki frekuensi ketukan yang langsung membuat bulu kuduk tiga pemuda itu merinding bersamaan.
Tok. Tok. Tok.
Tidak ada suara lain. Tapi mereka bertiga tahu persis siapa pemilik tangan di balik pintu kayu bercat hijau lumut yang mulai mengelupas itu.
Bu Ratna.
Darah Raka mendadak berdesir cepat. Dalam sepersekian detik, naluri bertahan hidupnya aktif secara otomatis. Tanpa aba-aba, Raka langsung melompat dari kasur, menarik selimut tipis sampai menutupi seluruh tubuhnya, dan berbaring kaku seperti pocong baru belajar akting.
"Bay! Cepat akting!" bisik Raka setengah berteriak dari balik selimut.
Bayu yang tadinya duduk santai langsung panik luar biasa. Matanya melotot menatap pintu, lalu menatap ponselnya yang mati total karena baterai habis. Tanpa pikir panjang, Bayu mengambil ponsel mati itu, menempelkannya di telinga kiri, dan mulai berbicara dengan nada super serius seolah sedang melakukan konferensi pers internasional.
"Halo? Ya, Direktur Utama PT Maju Mundur Sentosa? Mengenai proyek investasi triliunan rupiah itu... ah, ya, dana cair minggu depan, Pak. Tolong transfer langsung ke rekening rekan saya, Raka..." Bayu bicara sendiri dengan ekspresi paling meyakinkan yang bisa dia buat.
Sementara itu, Dimas tidak bergeming dari posisinya di lantai. Dengan wajah tanpa dosa, Dimas justru membuka laci meja kecil, menemukan sisa kerupuk putih yang sudah melempem sebesar koin lima ratusan, lalu memasukkannya ke dalam mulut dengan santai.
Tok. Tok. Tok. Ketukan kedua terdengar lebih keras. Disusul suara suara ketukan sandal jepit di lantai teras luar.
"Raka! Bayu! Dimas!" suara Bu Ratna memecah udara pagi dengan nada khas pemilik properti yang tagihannya sudah lewat jatuh tempo tiga hari. "Jangan pura-pura tuli ya di dalam! Saya dengar suara bisik-bisik tadi! Pintunya jangan dikunci dari dalam, atau saya dobrak pakai linggis bengkel sebelah!"
Raka di balik selimut merintih tertahan. Bayu semakin kencang mengobrol dengan ponsel matinya, keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.
Pintu perlahan didorong dari luar. Bu Ratna wanita paruh baya berambut digelung rapi dengan daster batik motif bunga besar dan tatapan mata setajam silet penjahit muncul di ambang pintu. Dia melipat kedua tangannya di dada, menyapu pandangan ke seluruh sudut kamar kos yang berantakan: kaus kaki menggantung di gagang jendela, piring kotor menumpuk tiga buah di dekat sudut, dan tiga pemuda yang masing-masing sedang memperagakan adegan paling absurd abad ini.
Bu Ratna menghela napas panjang, alisnya terangkat sebelah.
"Wah, wah, wah," kata Bu Ratna dengan nada datar yang justru lebih mengerikan daripada teriakan marah.
"Kamar kos ini sudah berubah fungsi jadi teater keliling rupanya. Yang satu jadi mayat tertutup selimut, yang tengah jadi direktur perusahaan halusinasi, yang pojok malah asyik mengunyah kerupuk melempem."
Bayu perlahan menurunkan ponselnya dari telinga. Dia tersenyum kaku, memamerkan deretan giginya. "Eh, Bu Ratna... pagi yang cerah ya, Bu. Udara di Kertajaya hari ini seger banget, bikin pikiran tenang..."
.
"Pikiran tenang dompet kosong, iya kan?" potong Bu Ratna tajam sambil melangkah masuk dua langkah.
Dia menatap Raka yang masih kaku di balik selimut. "Heh, Raka! Bangun kamu! Jangan tiru gaya tidur cicak jatuh dari loteng. Uang kos sudah jatuh tempo tiga hari lalu. Mana?"
Raka perlahan menurunkan selimutnya dari kepala. Wajahnya memerah antara menahan malu dan bingung. Dia duduk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Begini, Bu Ratna..." Raka memulai dengan suara melunak, mencoba memasang senyum paling ramah setanah Sunda. "Soal uang kos... sebenarnya dananya itu... sedang dalam perjalanan."
"Dalam perjalanan dari mana? Dari planet Mars naik ojek online?" cerca Bu Ratna galak. "Sudah tiga bulan terakhir alasanmu selalu 'dalam perjalanan'. Kalau terus di jalan, uang itu nanti keburu capek terus balik lagi ke banknya!"
"Bukan begitu, Bu," timpal Bayu ikut membela sambil berdiri kikuk. "Kemarin itu kami sudah susun rencana bisnis besar-besaran buat mutar modal. Sebentar lagi juga cair, Bu. Tinggal menunggu... ketukan hoki dari alam semesta."
Bu Ratna mendengus keras, tangannya berkacak pinggang. "Alam semesta tidak urus urusan bayar listrik sama token air kosan saya, Bayu! Intinya, kalau sampai besok sore kalian belum bayar separuh dari total tunggakan, terpaksa kasur busa ini saya angkut buat jaminan di teras depan. Biar kalian tidur pakai tikar pelepah pisang sekalian!"
Setelah memberikan ancaman telak nan elegan itu, Bu Ratna memutar badan dengan kibasan daster batiknya, lalu melangkah keluar kamar sambil membanting pintu dengan kekuatan sedang yang sukses membuat debu di kusen berjatuhan.
Brak.
Kamar kembali sunyi. Tiga pemuda itu saling berpandangan dalam keheningan total.
"Nah, kan," ucap Dimas akhirnya sambil menelan sisa kerupuk melempemnya. "Sudah kubilang, jangan suka remehkan kekuatan alam semesta. Sekarang alam semesta ngancam mau nyita kasur."
Raka mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Kejadian tadi benar-benar menampar kenyataan hidup mereka pagi ini. Bokek, dikejar ibu kos, motor sekarat, perut keroncongan, dan masa depan yang terlihat remang-remang seperti lampu neon colokan kendor.
"Kita harus keluar," kata Raka tegas, bangkit berdiri dari kasur dengan semangat spartan yang tiba-tiba membara. "Kalau kita cuma diam di kamar meratapi nasib, yang ada Bu Ratna beneran bawa linggis buat bongkar lemari kita yang isinya cuma baju kaus partai."
"Keluar ke mana, Rak?" tanya Bayu, matanya langsung berbinar penuh rasa penasaran. "Mau cari kerja? Mau nyari utangan baru? Atau mau ngamen di perempatan pasar?"
"Kita ke luar, keliling Desa Kertajaya," jawab Raka sambil merapikan kerah bajunya yang agak kusut.
"Kita lihat situasi. Siapa tahu ada warga yang butuh tenaga angkut beras, atau minimal ada warung yang lagi bagi-bagi sisa gorengan kemarin."
Dimas berdiri perlahan, merapikan celananya, lalu menyambar kunci motor yang tergantung di paku dinding. "Ide bagus. Minimal kalau kita pingsan di jalan karena kelaparan, banyak orang yang lihat. Jadi jatuhnya bukan mati kelaparan di kamar kos, tapi jadi tontonan warga desa."
"Ngomong yang benar dikit kenapa, Dim!" protes Bayu, meski kakinya tetap melangkah mengikuti Raka dan Dimas keluar kamar.
Pagi di Desa Kertajaya menyambut mereka dengan hiruk-pikuk yang menenangkan sekaligus menyiksa perut kosong. Begitu mereka bertiga keluar dari gang sempit kos Bu Ratna dan menjejakkan kaki di jalanan aspal kampung, suasana desa langsung terasa hidup.
Di sebelah kiri, lapak sayur keliling milik Bu Rini sudah dikerumuni Ibu-ibu yang sedang bergosip dengan volume suara mengalahkan toa masjid. Di ujung jalan, motor-motor berlalu-lalang mengangkut keranjang hasil bumi ke arah pasar kecamatan. Aroma bumbu bakaran ikan dari warung Pak Jaya yang terletak sekitar seratus meter dari pos ronda mulai menguap terbawa angin pagi, menyiksa penciuman tiga pemuda malang itu tanpa ampun.
Raka, Bayu, dan Dimas berjalan berdampingan menyusuri pinggir jalan kampung dengan gaya seperti model agency gagal yang sedang meninjau lokasi syuting sinetron kolosal. Langkah mereka gontai, senyum mereka pas-pasan, tapi insting bertahan hidup mereka sedang bekerja di level maksimal.
"Cium bau itu tidak, Bay?" bisik Dimas pelan, matanya melirik ke arah warung Pak Jaya di kejauhan.
"Cium," jawab Bayu dengan hidung kembang-kempis. "Itu bau ikan kembung bakar dicampur sambal terasi buatan Mak Enok. Rasanya lambungku langsung protes ngajak demonstrasi."
Raka menoleh ke arah dua sahabatnya itu, lalu menatap dompet tipis di saku celananya yang hanya berisi dua lembar seribuan dan sebutir kancing baju lepas. Perutnya berbunyi kencang, membalas ucapan Bayu tanpa kompromi.
"Dengar itu?" ujar Raka lesu tapi tetap berusaha pasang muka tegar. "Perutku sudah kasih kode morse.
Hari ini, kalau kita tidak dapat uang entah dari mana, kita bertiga resmi jadi gelandangan paling wangi se-Kertajaya."
Bayu menunjuk ke arah papan pengumuman di depan balai desa yang dilewati rombongan mereka, di mana selembaran kertas kuning tertempel di sana. "Eh, lihat tuh! Ada apa ramai-ramai di balai desa?
Jangan-jangan ada sayembara berhadiah uang tunai buat pemuda paling tampan se-kecamatan!"
Raka dan Dimas menghentikan langkah mereka, menatap papan pengumuman itu dengan rasa penasaran yang mendadak bangkit di tengah gelombang keborokan dompet mereka.
Matahari pagi Desa Kertajaya bersinar terang, menyinari punggung tiga pemuda yang kini berdiri berdampingan di tepi jalan, siap menyambut hari baru yang penuh ketidakpastian dan kekonyolan tanpa batas.