Pernikahan Vivian Valerie Ananditha dan Radhit Gezha Revandhana bukanlah sebuah dongeng indah. Bagi Radhit seorang pengusaha muda yang arogans, gila kerja, dan terbiasa memegang kendali Vivian hanyalah sebuah "beban" dan "kewajiban konyol" yang terpaksa dia jalani demi memenuhi wasiat almarhum ayahnya.
Di mata Radhit, Vivian adalah wanita lemah, membosankan, dan tidak bernilai. Setiap hari, kehidupan rumah tangga mereka dipenuhi dengan kedinginan, pengabaian, hingga bentakan verbal yang merendahkan. Tidak ada tempat untuk Vivian di dalam hati Radhit, terlebih ketika hadir sosok Clarissa Olivia seorang model cantik nan manipulatif yang pandai memainkan peran di balik panggung bisnis Radhit.
Namun, di balik diamnya Vivian yang penurut, ada sebuah rahasia kecil yang dia jaga dengan nyawanya: sebuah kehidupan baru sedang tumbuh di dalam rahimnya.
Vivian bertahan menelan semua luka, caci maki, dan aroma parfum wanita lain dari pakaian Radhit semata-mata demi janin di perutnya. Dia berhar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tangisan bayi
Hujan deras mengguyur desa pesisir itu tanpa henti sejak tengah malam. Suara gemuruh angin laut bertiup kencang, menghantam dinding-dinding kayu puskesmas kecil di ujung desa.
Di dalam ruang bersalin yang remang dan berdinding putih kusam, heningnya malam pecah oleh jeritan melengking seorang wanita yang bertarung di antara batas hidup dan mati.
"Aaghhh! Sakit... Ya Allah, sakit..."
Vivian mencengkeram erat pinggiran seprei ranjang besi puskesmas hingga buku-buku jarinya memutih. Keringat dingin mengucur deras membasahi seluruh tubuhnya yang kurus. Rambutnya lepek menempel di dahi, dan wajahnya pucat pasi bagaikan mayat.
Kontraksi di rahimnya datang bertubi-tubi tanpa belas kasihan. Rasa sakitnya seolah meremas dan merobek organ dalamnya dari dalam.
Setiap kali rasa sakit itu memuncak, memori-memori kelam masa lalu mendadak terputar paksa di kepalanya bagaikan mimpi buruk yang mematikan:
Bayangan Radhit yang memalingkan wajah saat dia pendarahan di marmer.,Bentakan Radhit yang menyebut anaknya sebagai benalu pembawa sial,Dan dinginnya rasa sepi saat dia berjuang sendirian tanpa pernah ada tangan yang menggenggamnya.
"Mas Radhit... kenapa tega sama aku..." isak Vivian di sela-sela rintihannya. Air mata kepedihan meleleh deras, mengalir melintasi pelipisnya dan menyerap di atas bantal kusam.
Rasa trauma yang teramat dalam itu ikut memacu rasa sakit fisiknya. Pernapasannya mendadak tersedat, dadanya membusung mencari udara, dan detak jantungnya di layar monitor kecil berbunyi makin cepat tak beraturan.
Bip... bip... bip...
"Tekanan darah pasien drop! Detak jantung janin melemah!" teriak seorang bidan desa dengan nada panik. "Dokter Julian, ketubannya sudah pecah, tapi pembukaannya tertahan! Ibunya kehabisan tenaga!"
Julian yang mengenakan pakaian operasi hijau melangkah cepat ke sisi ranjang. Wajah dokter muda itu tampak sangat cemas, namun dia berusaha sekuat tenaga untuk tetap tenang demi menyelamatkan dua nyawa di hadapannya.
"Mbak Vivian! Tolong dengarkan saya!" panggil Julian tegas, mengguncang pelan bahu Vivian.
Julian menarik sebuah kursi, lalu tanpa ragu meraih telapak tangan Vivian yang dingin dan bergetar hebat. Dia menggenggam tangan wanita itu erat-erat—memberikan tumpuan hangat yang selama ini tak pernah didapatkan Vivian dari suaminya.
"Mbak Vivian, tatap mata saya!" pinta Julian lembut namun mantap.
Vivian dengan kesadaran yang mulai kabur membuka matanya yang sembap oleh air mata. Pandangannya buram menatap wajah Julian.
"Jangan menyerah sekarang..." suara Julian bergetar menahan haru. "Masa lalu Mbak sudah selesai. Pria yang menyakiti Mbak sudah tidak ada di sini. Di sini cuma ada Mbak Vivian dan anak ini! Anak ini butuh Ibunya... Berjuanglah sekali lagi demi anak Mbak!"
Anak ini butuh Ibunya...
Kalimat itu bagaikan semburan api yang membakar sisa-sisa daya tahan di dalam jiwa Vivian yang hampir padam.
Vivian memejamkan mata rapat-rapat. Dia meremas cengkeraman tangan Julian sekuat-kuatnya, meluapkan seluruh rasa sakit, rasa terbuang, dan dendam pada nasib yang selama ini menghimpit dadanya.
"Aaaaaaghhhhhh!"
Vivian menjerit histeris, mengejan dengan seluruh sisa napas dan jiwa ragonya di antara deru hujan malam itu.
Dia tidak peduli jika rahimnya yang dulu pernah kritis harus robek. Dia tidak peduli jika nyawanya harus melayang malam ini, asal anak yang pernah dikutuk sebagai benalu itu bisa melihat indahnya dunia!
"Sedikit lagi, Mbak! Kepalanya sudah keluar! Ayo, dorong sedikit lagi!" teriak bidan seraya menyangga dengan cermat.
"Aaaaaaghhhh!"
Oeeeekk! Oeeeeeekkk! Oeeeeekkk!
Tiba-tiba, suara tangisan bayi yang nyaring dan melengking pecah, menggelegar menembus deru suara hujan dan petir di luar sana.
Suara tangisan kehidupan yang begitu suci.
Ruang bersalin yang tadi tegang mendadak terkunci dalam keheningan yang mengharu biru.
Tangan Vivian yang meremas jemari Julian seketika melumpuh lemas. Dada wanita itu kembang kempis menghirup pasokan udara, sementara matanya yang sayu menatap ke arah bidan yang sedang membersihkan tubuh mungil berselimut darah itu.
"Anaknya... laki-laki, Mbak Vivian... Lahir sempurna, sangat tampan dan sehat..." bisik bidan itu dengan suara yang menggeletar menahan tangis haru.
Bidan itu perlahan meletakkan bayi mungil yang masih merah itu di atas dada telanjang Vivian.
Saat kulit halus bayi itu menyentuh dadanya... saat jemari mungil sang anak yang belum bisa membuka mata itu bergerak-gerak menyentuh lehernya... seluruh pertahanan batin Vivian runtuh tanpa sisa.
Vivian melipat kedua tangannya, memeluk erat tubuh mungil anaknya ke dalam dekapan dadanya.
Isak tangis Vivian pecah. Bukan lagi tangisan ketakutan atau keputusasaan... melainkan tangisan haru yang meremas ulu hati siapa pun yang melihatnya.
"Anakku... anak Ibu..." raung Vivian pelan di antara isak tangisnya yang memilukan. Dia menciumi dahi, pipi, dan jemari kecil anaknya bertubi-tubi dengan bibirnya yang gemetar.
"Maafin Ibu ya, Nak... Maafin Ibu karena sempat bikin kamu menderita di dalam perut Ibu... Selamat datang, Sayang... Ibu janji akan jaga kamu dengan seluruh hidup Ibu..."
Julian yang berdiri di samping ranjang menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dokter muda itu tak sanggup menahan air matanya sendiri. Matanya berkaca-kaca menatap pemandangan di hadapannya seorang ibu muda yang menangis membentengi anaknya dari kejamnya dunia.
Di saat yang bersamaan... ratusan kilometer jauhnya dari desa pesisir itu...
Radhit berdiri mematung di pinggir jalan raya kota yang basah oleh hujan. Mobil mewahnya mogok di tengah jalan akibat banjir dalam perjalanannya menuju desa tempat Vivian berada.
Tiba-tiba, di tengah kegelapan malam dan deburan hujan yang menimpa kaca mobilnya... dada Radhit mendadak berdenyut ngilu yang sangat dahsyat.
JLEB.
Rasa sakit itu begitu tajam, seolah-olah ada pedang invisible yang menancap tepat di ulu hatinya, menghentikan aliran napasnya seketika.
Radhit mencengkeram dadanya sendiri, tubuhnya membungkuk menahan rasa sakit asing yang meremas jiwanya. Air mata mendadak meleleh deras keluar dari pelupuk matanya tanpa alasan yang jelas.
Jantungnya berdegup gila, dipenuhi rasa hampa yang teramat sangat... seolah-olah sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya telah terlahir ke dunia, namun dia tidak pernah diberi kesempatan untuk menyambutnya.
"Vivian..." bisik Radhit dengan suara yang pecah dan gemetar di tengah guyuran hujan. Tangannya meremas kemudi mobilnya hingga berdarah.
"Apa yang terjadi sama kamu... Kenapa dada saya rasanya sakit banget kayak gini..."
Radhit menangis meraung di dalam mobil mewahnya yang dingin dan sepi, tanpa pernah tahu bahwa di detik yang sama... darah dagingnya yang dulu pernah dinistakannya, telah lahir ke dunia tanpa pernah mengharapkan kehadirannya lagi.
Masalah Clarissa cari kelemahannya,dan hancurkan apa yang dimilikinya yang bisa mengancam perusahaan
Untuk Julian sungguh mulia,kamu yang menolong Vivian, melindunginya,dan memberi rasa nyaman,namun tidak memaksa Vivian, untuk memilihnya, karena dia tahu masih ada nama Radit di hati Vivian