Stella itu berisik, ceria, dan keras kepala. Seluruh sekolah tahu dia cinta mati-matian pada Gibran, sang kapten futsal populer.
Sialnya, Stella selalu berakhir dengan penolakan mentah-mentah dari Gibran. Namun, di balik bayang-bayang koridor sekolah, ada Lingga. Cowok pendiam, misterius, dan sedingin es yang diam-diam selalu memperhatikan Stella.
Saat Gibran terus mematahkan hati Stella, Lingga hadir membawa kehangatan yang tak terduga. Lewat perhatian-perhatian kecil yang terselubung, Lingga perlahan mengobati luka Stella hingga mereka resmi jadian.
Di saat Lingga dan Stella sedang manis-manis nya sebagai best couple satu sekolah, Gibran justru datang kembali dan berbalik mengejar Stella.
Bisakah Lingga yang dingin tetap mempertahankan kehangatan cintanya untuk Stella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setelah Seminggu Sakit 22.
Stella kembali ke sekolah setelah satu minggu terkena tipes. Bagi Stella, setelah tujuh hari penuh terkurung di kamar ditemani bubur hambar dan kompres penurun panas, kembali ke sekolah rasanya seperti asing.
Kaki Stella melangkah agak diseret. Tubuhnya sudah dinyatakan sembuh oleh dokter, tapi energinya baru terisi sekitar enam puluh persen. Efek samping seminggu absen adalah tumpukan tugas yang membayangi di tas ranselnya, membuat pundaknya terasa dua kali lebih berat.
"Stella! Demi apa lo hidup lagi?!"
Suara cempreng Rara, melengking dari ujung koridor lantai dua. Rara berlari heboh, hampir menubruk tubuh Stella yang masih agak ringkih.
"Pelan-pelan, Rara. Sisa-sisa nyawa gue belum kekumpul semua," gerutu Stella, berusaha menyeimbangkan diri sambil terkekeh.
Karakter aslinya yang pecicilan dan tidak bisa diam sebenarnya sudah gatal ingin keluar, tetapi kondisi fisik memaksanya untuk membatasi gerakan.
"Gila, lo pucat banget tahu enggak. Lagian gaya banget pakai acara demam seminggu. Kangen sekolah ya lo?" Rara merangkul pundak Stella, menuntunnya berjalan menuju kelas.
"Kangen kantinnya doang, kalau sama gurunya sih ogah," sahut Stella asal.
Mereka berdua berjalan santai sambil rangkulan pundak, melewati deretan loker dan kerumunan siswa yang sibuk dengan urusan masing-masing. Namun, langkah Stella mendadak melambat saat mereka berbelok di dekat ruang mading.
Dari arah berlawanan, Stella bepas-pasan dengan Gibran. Radar di dalam dada Stella langsung berbunyi bip-bip heboh.
Jantungnya yang tadinya berdetak santai akibat sisa-sisa lemas pasca-sakit, mendadak melompat ke tenggorokan.
Selama ini, Stella terkenal sebagai cewek yang paling hobi mengganggu Gibran. Dengan sifatnya yang pecicilan dan bermuka tembok, Stella selalu punya cara untuk mencari perhatian cowok sedingin es kutub itu.
Saat jarak mereka mengikis menjadi tiga langkah, Stella sudah bersiap memasang senyum lebarnya yang biasa. Dia ingin bersikap sekonyol mungkin untuk menutupi rasa canggungnya setelah seminggu menghilang. Tapi sebelum kalimat candaan keluar dari mulutnya, Gibran berhenti tepat di depannya.
Rara ikut menghentikan langkah, matanya melirik bergantian antara Stella dan Gibran dengan pandangan penuh arti.
Gibran menatap Stella. Matanya yang tajam memindai wajah Stella yang masih agak layu dan bibirnya yang sedikit kering.
Ekspresi cowok itu datar, tidak terbaca, seperti biasa.
"Lo ke mana aja?" tanya Gibran.
Stella mengerjapkan mata, mencoba menguasai diri. Sifat pecicilannya langsung mengambil alih untuk menutupi rasa gugup.
"Ciyeee, nyariin ya? Kangen ya lo seminggu gak ada yang rusuhin?" goda Stella sambil menaik-turunkan alisnya, sengaja memasang wajah sejahil mungkin meski jantungnya mulai berdegup dua kali lebih cepat. "Gue habis liburan privat di kasur, Gib. VIP, dilayanin dokter segala. Kenapa? Lapangan futsal sepi gak ada pemandu sorak seksi kayak gue?"
Gibran tidak membalas candaan itu. Dia tidak tersenyum, tidak juga mendengus kesal seperti biasanya. Dia hanya menatap Stella lurus-lurus selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya.
Tatapan itu terasa berbeda. Ada kilat tipis di matanya yang sulit diartikan— sesuatu yang tampak seperti rasa lega yang disembunyikan dengan rapi.
Gibran memalingkan wajahnya sedikit, lalu berbalik tanpa pamit dan melanjutkan langkahnya menuju ruang ganti.
"Jangan maksain sekolah kalau jalan aja masih lemes," ucap Gibran setengah bergumam saat melewatinya. Suaranya pelan, hampir tenggelam oleh suara bel masuk yang tiba-tiba berbunyi nyaring.
Stella terpaku di tempatnya berdiri. Senyum jahil yang tadi dipaksanya mekar perlahan luruh.
'Gimana dia bisa tahu kalau jalan gue masih lemes?' batin Stella.
Dia yakin sejak tadi sudah berjalan sefokus mungkin agar tidak terlihat limbung. Apakah Gibran memperhatikan cara jalannya sejak di ujung koridor? Atau cowok itu menyadari tangannya yang agak gemetar saat merangkul pundaknya Rara?
"Woy, Stel! Malah bengong. Bel, tuh!" Rara menyenggol lengannya, membuyarkan lamunan Stella.
"Eh? Ah, iya. Kuy kelas," sahut Stella agak terbata.
Sepanjang tiga jam pelajaran pertama, fokus Stella benar-benar buyar. Penjelasan Bu Endang tentang rumus integral hanya lewat begitu saja di kepalanya seperti angin lalu. Matanya menatap papan tulis, tapi pikirannya tertinggal di belokan koridor mading pagi tadi.
Stella yang biasanya tidak bisa diam—yang hobi menjahili cowok di depannya dengan menusuk-nusuk punggung mereka pakai pulpen, atau melempar kertas gumpal ke meja Rara—kini mendadak jadi pendiam. Dia menopang dagunya, menatap keluar jendela kelas yang langsung menghadap ke arah lapangan luar.
'Gila ya si Gibran' pikir Stella dalam hati. Jantung nya mendadak terasa hangat, sejenis perasaan menggelitik yang aneh yang sudah seminggu ini tidak dirasakannya.
Hanya dengan satu pertanyaan pendek bernada dingin, dan satu kalimat peringatan yang diucapkan sambil lalu, pertahanan Stella runtuh total.
Padahal selama seminggu sakit, dia sudah bertekad untuk bersikap biasa saja dan menghapus segala ekspektasi konyolnya tentang kapten futsal itu.
Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menganggap interaksi manis mereka saat pensi lalu hanyalah profesionalitas kerja semata.
Namun sekarang? Usaha move on kilatnya gagal total dalam waktu kurang dari lima menit.
Stella mengembuskan napas panjang, merutuki dirinya sendiri dalam hati. Dia menenggelamkan wajahnya di antara lipatan kedua tangannya di atas meja, mencoba menyembunyikan semburat merah yang perlahan menjalar di pipinya.
'Sialan' umpat Stella pelan di balik lipatan lengannya, sementara senyum bodohnya tidak bisa ditahan lagi. 'Baru juga sembuh dari demam, sekarang malah baper lagi gara-gara es batu berjalan.'
......................
...****************...
Tbc,