NovelToon NovelToon
Satpam Penjaga CEO

Satpam Penjaga CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Romansa Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Bimo, seorang pemuda kaya yang enggan dijodohkan, menyusun rencana konyol dengan meminta sahabatnya semasa SMA, Arga, seorang anak panti asuhan bertubuh tegap yang akrab dipanggil Dewa, untuk menyamar menjadi dirinya. Tugas Dewa sederhana: bersikap norak dan menyebalkan di depan Nadia Nugroho, CEO wanita dingin pemimpin imperium bisnis Nugroho Group, agar kencan perjodohan itu batal total.

Namun, rencana konyol itu berantakan. Nadia yang tak mudah terkecoh justru melayangkan ancaman pembalasan yang sanggup membangkrutkan perusahaan keluarga Bimo seketika. Terdesak, Dewa terpaksa menandatangani Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak atas nama Bimo.

Di tengah situasi yang kian kacau dan pernikahan resmi yang dihitung hari, Dewa berusaha menyambung hidup dengan melamar kerja sebagai petugas keamanan. Tanpa ia sadari, hari pertama tugasnya sebagai Satpam justru menempatkannya di lobby utama Menara Utama Nugroho Group, gedung megah milik keluarga sang CEO dingi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Lompatan Maut di Atas Aspal Panas

Suara deru mesin motor metik Arga meraung keras, membelah keheningan malam. Keringat dingin mengucur deras dari pelipis Arga, matanya terkunci tajam pada sedan hitam mewah yang melaju liar di jalur kanan, hanya berjarak beberapa meter di depannya. Mobil itu bergoyang-goyang tidak terkendali, seolah-olah sopirnya telah kehilangan kendali total atas roda kemudi.

"Bu Nadia! Bu Nadia!" teriak Arga sekuat tenaga, suaranya hampir tenggelam oleh bunyi klakson kendaraan lain yang saat itu melintas mencoba mendahului mereka bercampur dengan desingan angin. Ia memiringkan motornya, berusaha sejajar dengan jendela samping mobil agar bisa terlihat jelas. "Turunkan kacanya! Dengar aku!"

Di dalam mobil, suasana mencekam menyelimuti kabin ber-AC itu. Nadia Nugroho mencengkeram setir kulit dengan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Wajahnya pucat pasi, napasnya tersengal-sengal pendek. Di sebelahnya, Pak Ade, sopir setia keluarga Nugroho, tampak berusaha tetap tenang meski keringatnya juga membasahi dahinya.

"Pak Ade, remnya tidak berfungsi sama sekali! Aku sudah injak sampai dasar, tapi kecepatannya tidak berkurang!" suara Nadia bergetar, nada panik mulai merembes keluar dari balik ketegasan biasanya.

"Tenang, Bu Nadia. Jangan panic braking. Coba turunkan gigi secara bertahap, biarkan mesin membantu mengerem," instruksi Pak Ade dengan suara berat namun stabil, meski matanya terus melirik spion samping dengan cemas. "Arahkan stir ke bahu jalan yang kosong. Kita butuh ruang."

"Tidak ada ruang, Pak! Di depan ada mobil!" Nadia menjerit frustrasi saat sebuah truk kontainer melintas terlalu dekat di sebelah kiri, membuat mobil mereka oleng hebat. Jantung Nadia berdegup kencang, rasa takut akan kematian mulai menghantui pikirannya. Ia melirik ke kaca spion samping dan melihat sosok familiar mengenakan seragam satpam lengkap dengan helm setengah wajah sedang mengejarnya dengan nekat.

Tanpa berpikir panjang, insting survival Nadia mengambil alih. Ia menekan tombol elektrik untuk menurunkan kaca jendela samping. Angin kencang langsung menerobos masuk, menerbangkan rambut hitamnya.

"Help! Tolong!" teriak Nadia, suaranya parau karena ketakutan. Ia menatap lurus ke arah Arga yang kini benar-benar berada di sisi mobilnya. "Rem blong, Arga! Rem mobil ini blong total!"

Arga mendengar teriakan itu jelas. Matanya menyipit, otaknya bekerja cepat menghitung kecepatan mobil yang diperkirakan sudah mencapai 80 kilometer per jam di tengah jalan raya yang lumayan ramai. Waktu sangat sempit. Jika mobil itu menabrak pembatas atau kendaraan lain di depan, nyawa Nadia dan Pak Ade taruhannya.

"Bu Nadia, dengarkan aku!" teriak Arga, suaranya tegas dan berwibawa, menembus kebisingan jalanan. "Kamu harus keluar dari mobil sekarang juga!"

Nadia terbelalak, matanya melebar penuh ketidakpercayaan. "Apa? Kamu gila? Kecepatan mobil ini tinggi banget!"

"Aku punya rencana, tapi kamu harus percaya padaku! Buka seluruh jendelanya. Lalu lepaskan sepatu mu! Sekarang!" perintah Arga, nada suaranya tidak memberikan ruang untuk debat.

Nadia ragu sejenak, namun melihat tatapan serius Arga dan situasi mobil yang semakin tidak stabil, ia akhirnya menurut. Dengan tangan gemetar, ia melepas sepatu heels mahalnya dan melemparkannya ke lantai mobil. Kakinya yang kini polos tanpa sepatu terasa lebih ringan, namun juga sedikit licin.

"Pak Ade!" seru Nadia sambil menoleh ke arah sopirnya. "Apa yang harus kulakukan?"

Pak Ade, yang sejak tadi mengamati interaksi mereka melalui kaca spion, memahami situasi genting ini. Ia melihat sepertinya Arga bukan orang sembarangan, pria itu memiliki fisik atletis dan keberanian yang jarang dimiliki orang biasa.

"Lakukan apa kata dia, Bu," kata Pak Ade singkat namun tegas. "Saya akan mencoba menstabilkan arah mobil menggunakan rem tangan dan mengarahkannya ke area 'runaway truck ramp' atau bahu jalan lebar di depan. Saya tahu ada area penyelamatan darurat sekitar dua ratus meter di depan. Itu satu-satunya harapan kita jika rem gagal total."

Arga mendengar percakapan itu melalui telinga yang masih tertutup helm. Ia mengangguk kecil, merasa lega Pak Ade mengerti situasinya. Area penyelamatan itu adalah tanjakan berpasir atau kerikil yang dirancang khusus untuk menghentikan kendaraan besar yang kehilangan rem. Untuk mobil sedan, itu mungkin kasar, tapi lebih baik daripada menabrak tembok beton.

"Baik, Pak Ade! Arahkan ke sana! Saya akan amankan dulu Bu Nadia sekarang dari sisi kiri!" teriak Arga memastikan koordinasi.

"Siap, Mas! Hati-hati!" balas Pak Ade, tangannya kini siap menarik rem tangan dengan teknik 'handbrake turn' yang halus jika diperlukan, sementara kakinya tetap menginjak rem utama sesekali untuk mengurangi sedikit laju mobilnya, meskipun efeknya sangat minim.

Arga mempercepat motornya sedikit, menyamakan persis kecepatannya dengan mobil Nadia. Jarak antara bodi motor dan jendela mobil kini hanya tersisa beberapa sentimeter. Bahaya tergencet sangat nyata.

"Bu Nadia, coba keluar pelan-pelan! Jangan langsung seluruh badan, anginnya bisa menggangu kesetabilan mobil!" instruksi Arga, suaranya kini lebih dekat karena posisi mereka yang bersisian.

Nadia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang hampir meledak. Ia membuka seatbeltnya perlahan, lalu mengangkat tubuhnya melalui jendela. Angin kencang langsung menerpa wajahnya, Nadia berusaha menahannya dengan sisa tenaganya.

"Aku takut, Arga..." bisik Nadia, air matanya mulai menggenang di pelupuk matanya. Rasa dingin menjalar di seluruh tubuhnya.

"Lihat mataku, Bu Nadia! Jangan lihat ke bawah, jangan lihat aspal! Lihat aku!" perintah Arga lembut namun tegas. Ia melepaskan satu tangan dari setir motor, mencoba meraih tangan Nadia. "Aku di sini. Aku tidak akan membiarkanmu jatuh. Percayalah padaku."

Kalimat itu menyentuh hati Nadia. Di tengah kekacauan dan ketakutan akan kematian, kehadiran Arga menjadi jangkar satu-satunya yang membuatnya merasa aman. Ia mengangguk pelan, menghapus air matanya dengan punggung tangan yang satunya.

"Bagus. Sekarang, dengarkan instruksiku dengan teliti," lanjut Arga, matanya fokus pada celah antara kursi dan pintu. "Kamu akan memanjat keluar melalui jendela yang terbuka, lalu melompat ke motorku. Karena kamu sudah lepas sepatumu, kakimu akan lebih mudah bergerak. Saat aku beri aba-aba 'Lompat', kamu harus segera pindah. Jangan ragu. Ragumu sedikit saja, kita berdua bisa celaka."

Nadia mengangguk lagi, kali ini dengan lebih mantap. Ia memosisikan tubuhnya menghadap ke arah Arga, satu kaki sudah mulai diangkat melewati jendela pintu.

"Pak Ade, stabilkan mobilnya sekarang!" teriak Arga memberi sinyal akhir.

"Siap! Lepaskan stirnya, Bu! Saya akan langsung ambil alih!" sahut Pak Ade dari dalam, suaranya terdengar tegang namun penuh konsentrasi.

Mobil itu sedikit berguncang saat Pak Ade melakukan manuver halus, menjaga agar mobil tetap berada di lintasan lurus menuju area penyelamatan di kejauhan. Arga merasakan getaran dari mesin mobil yang hampir bersentuhan dengan spion motornya. Ini adalah momen paling kritis. Kesalahan hitungan milidetik bisa berakibat fatal.

Arga menegakkan tubuhnya lebih tegas, mencoba terus menyeimbangkan berat badan di atas motor metiknya yang ringkas. Ia mengulurkan tangan kirinya, siap menangkap pinggang Nadia begitu wanita itu muncul dari jendela.

"Bu Nadia... siap?" tanya Arga, suaranya rendah namun tajam.

Nadia menatap mata Arga dalam-dalam. Di balik kaca helm itu, ia melihat ketenangan dan keyakinan yang membuatnya berani melakukan hal gila ini. Ia menggigit bibirnya, mengumpulkan seluruh keberaniannya.

"Aku siap," jawab Nadia, suaranya bergetar namun jelas.

"Satu... Dua..." Arga mulai menghitung, matanya tidak lepas dari gerakan Nadia.

Dunia seakan melambat bagi Nadia. Suara klakson, teriakan orang-orang di trotoar, dan deru mesin kendaraan semua menjadi latar belakang yang samar. Fokusnya hanya pada tangan Arga yang terulur dan jok motor di bawahnya.

"...Tiga! Lompat sekarang!"

Dengan hentakan tenaga terakhir, Nadia mendorong tubuhnya keluar dari kabin mobil yang melaju kencang. Angin menerpa wajahnya dengan keras. Tangannya meraih bahu Arga dengan kuat, sementara kakinya yang mencari pijakan di atas paha Arga.

Untuk sesaat, tubuh Nadia melayang di antara dua kendaraan yang bergerak cepat, sebuah tarian maut di atas aspal panas. Arga mengerahkan seluruh kekuatan otot lengan dan intinya untuk menahan beban tambahan itu, menjaga keseimbangan motor agar tidak oleng.

Nadia berhasil mendarat di pangkuan Arga, tubuh mereka bersatu saling menyeimbangkan, lengannya melingkar erat di leher pria itu sebagai pengaman. Napasnya masih tersengal-sengal, jantungnya berpacu liar, namun ia selamat. Ia berhasil keluar dari mobil maut itu.

Di dalam mobil, Pak Ade menghela napas panjang, keringatnya kini bercucuran deras. Ia melihat ke spion samping, melihat Nadia sudah aman di pelukan Arga. Senyum tipis terukir di wajahnya yang lelah.

"Alhamdulillah," bisik Pak Ade, sebelum kembali fokus menyetir mobil kosong itu menuju area penyelamatan darurat di depan, meninggalkan Nadia dan Arga yang kini melaju bersama, menjauh dari bahaya yang baru saja mereka hindari dengan nyaris.

1
Dian Paramita Dewi
Salam kenal, bantu like ya Kak 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!