Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh, Naya yang hancur melarikan diri ke bar untuk menenggelamkan kesedihannya sebelum akhirnya memutuskan menginap di rumah Nessa.
Dalam keadaan setengah sadar, Naya masuk ke rumah Nessa dan menemukan Kafka yang baru pulang dari luar negeri, tetapi karena gelap dan pengaruh alkohol ia mengira pria itu adalah "jasa hiburan" yang sengaja dipesan Nessa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Pernyataan tajam yang meluncur dari bibir berpoles lipstik merah Nyonya Besar Adiraja itu seolah membekukan seluruh molekul udara di ruang tengah.
Naya berhenti bernapas. Jantungnya berdetak dengan ritme yang menyakitkan, menabrak tulang rusuknya dengan keras. Ia menoleh ke arah Kafka dengan mata membulat sempurna. Mengancam menghancurkan perusahaan? Kafka melakukan hal segila itu hanya untuk melindunginya dari campur tangan keluarganya sendiri?
Nessa, yang berdiri di dekat sofa, menelan ludah dengan suara yang cukup keras terdengar di tengah keheningan, wajahnya memucat seolah bersiap melihat perang dunia ketiga meletus di ruang tamunya.
Namun, alih-alih panik atau terlihat gentar, Kafka justru semakin menegakkan posturnya. Pria itu sama sekali tidak melepaskan genggamannya pada tangan Naya. Ia balas menatap ibunya dengan sorot mata yang tak kalah tajam, memancarkan aura dominasi yang ternyata diwarisinya dari wanita di hadapannya ini.
"Aku tidak mengancam, Ma," jawab Kafka tenang, suara baritonnya mengalun datar tanpa nada pembelaan. "Aku hanya menyampaikan prioritas. Perusahaan adalah tanggung jawabku, tapi Naya adalah hidupku. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mengusik hidupku."
Tuan Adiraja, yang sejak tadi berdiri diam dengan postur berwibawanya, tiba-tiba mendengus pelan. Pria paruh baya itu menggelengkan kepalanya, lalu terkekeh pelan. Ia menepuk bahu istrinya dengan lembut.
"Sudah kubilang, Ma. Dia punya darah keras kepalaku mengalir deras di nadinya," ucap Tuan Adiraja, lalu menatap Kafka dengan pandangan menilai yang diakhiri dengan sebuah anggukan kecil. "Pria sejati tahu kapan harus menempatkan wanitanya di atas segalanya. Kau membuktikannya hari ini, Kafka."
Nyonya Adiraja menghela napas panjang, mengibaskan tangannya dengan gestur elegan. Garis-garis keras di wajahnya perlahan mengendur, meskipun tatapan matanya tetap setajam silet saat ia kembali menatap Naya.
Wanita itu melangkah anggun melewati mereka menuju ruang makan. "Ayo kita makan malam. Perjalanan dari London membuatku lapar, dan kita punya banyak hal untuk dibicarakan."
Suasana di meja makan malam itu jauh lebih tegang dibandingkan makan malam di Solo bersama ayah Naya. Meskipun hidangan yang disiapkan Nessa dan Naya sangat lezat, Naya merasa seolah ia sedang mengunyah serbuk gergaji.
Kafka duduk di sebelah Naya, sesekali meletakkan tangannya di atas paha Naya di bawah meja, mengusapnya perlahan untuk menyalurkan ketenangan.
"Jadi," Nyonya Adiraja meletakkan garpunya, menyeka ujung bibirnya dengan serbet kain putih. Matanya menatap lurus ke arah Naya. "Empat tahun. Usiamu empat tahun lebih tua dari putra bungsuku, Naya."
Naya menelan ludah. "B-benar, Tante."
"Dan kudengar dari gosip rekan-rekan bisnisku di Jakarta, kau baru saja membatalkan pernikahanmu karena mantan tunanganmu itu bermain gila dengan wanita lain," lanjut Nyonya Adiraja tanpa tedeng aling-aling, menguliti fakta paling menyakitkan dalam hidup Naya dengan nada bicara yang sangat kasual.
"Ma!" Kafka menggeram rendah, rahangnya seketika mengeras. Kilat amarah menyala di mata legamnya.
Namun, sebelum Kafka bisa bangkit untuk membela Naya, Naya dengan cepat membalikkan telapak tangannya di bawah meja, menggenggam erat tangan Kafka. Naya menoleh sekilas ke arah pria itu, memberikan isyarat melalui matanya agar Kafka membiarkannya menghadapi ini sendiri. Ia tidak bisa selamanya bersembunyi di balik punggung lebar Kafka. Jika ia ingin pantas berdiri di sisi pria ini, ia harus membuktikan keberaniannya di depan keluarga Kafka.
Naya menarik napas panjang, menstabilkan bahunya, lalu mendongak menatap berani tepat ke sepasang mata tajam ibu Kafka.
"Tante benar," ucap Naya, suaranya tidak lagi bergetar. Ia memaksakan sebuah senyum yang sopan dan anggun. "Usia saya memang empat tahun lebih tua dari Kafka, dan saya baru saja mengalami kegagalan hubungan yang sangat memalukan."
Nyonya Adiraja menyipitkan matanya, menunggu kelanjutan kalimat wanita di hadapannya.
"Saya tahu, dengan profil seperti itu, saya jauh dari ekspektasi Tante untuk menjadi pendamping seorang pewaris perusahaan," lanjut Naya dengan artikulasi yang sangat tenang dan jujur. "Bahkan awalnya, saya sendiri ketakutan setengah mati untuk menerima Kafka. Tapi Tante... putra Tante telah mengajarkan saya satu hal penting. Dia mengajarkan bahwa nilai seorang wanita tidak ditentukan oleh pria masa lalunya yang gagal menghargainya, melainkan oleh bagaimana ia bangkit dan memilih pria yang benar-benar pantas untuk dijadikannya rumah."
Naya melirik sekilas ke arah Kafka, menemukan mata pria itu sedang menatapnya dengan pemujaan yang luar biasa dalam.
"Saya mungkin bukan wanita yang sempurna," Naya kembali menatap Nyonya Adiraja. "Tapi saya berani berjanji pada Tante, saya mencintai putra Tante bukan karena nama belakang atau perusahaannya. Saya mencintainya karena dia adalah Kafka. Dan saya akan berdiri di sisinya, mendukungnya, sama kuatnya dengan bagaimana dia melindungi saya saat saya berada di titik terendah."
Keheningan yang magis menyelimuti ruang makan. Nessa bahkan menahan napasnya, matanya membelalak tak percaya melihat sahabatnya berani berpidato di hadapan ibunya yang terkenal bertangan besi.
Tuan Adiraja tersenyum lebar, menyesap anggur merahnya dengan puas.
Nyonya Adiraja terdiam cukup lama. Tatapannya menembus pertahanan Naya, mencari keraguan atau kebohongan. Namun yang ia temukan hanyalah sebuah ketulusan dan keteguhan hati seorang wanita dewasa.
Perlahan, sudut bibir Nyonya Adiraja terangkat, membentuk senyuman pertama yang nyata dan hangat malam itu.
"Benar kata Kafka," gumam wanita paruh baya itu dengan nada yang akhirnya melunak. "Kau tidak mudah hancur seperti yang terlihat."
Nyonya Adiraja mengambil gelas air putihnya. "Menjadi istri dari seorang pria yang mendominasi, keras kepala, dan terkadang kejam dalam berbisnis seperti Kafka membutuhkan mental baja. Kau tidak bisa menjadi wanita yang cengeng. Kau harus menjadi penyeimbangnya, Naya. Dan dari caramu menatap mataku hari ini, kurasa kau akan bisa melakukannya dengan sangat baik."
Napas Naya seolah kembali dihembuskan ke paru-parunya. "T-Tante... merestui kami?"
"Panggil aku Mama, Sayang. Sebentar lagi cincin Cartier itu bukan satu-satunya hal yang mengikatmu dengan keluarga ini," jawab ibu Kafka elegan, kembali mengambil garpunya dengan santai seolah ia tidak baru saja menjatuhkan bom mental pada Naya.
Di sebelah Naya, ketegangan di bahu Kafka sepenuhnya mencair. Pria itu menarik punggung tangan Naya ke atas meja, lalu mengecupnya dalam-dalam tanpa memedulikan dehaman pelan ayahnya dan sorakan tertahan Nessa.
Sisa malam itu berjalan dengan sangat luar biasa. Nyonya Adiraja ternyata adalah sosok yang sangat hangat setelah ia melepaskan topeng intimidasinya. Ia bahkan bertanya banyak hal tentang keseharian Naya, membicarakan koleksi gaun pengantin, hingga membuat Naya tersipu malu sementara Kafka mendengarkan dengan senyum puas.
Menjelang pukul sepuluh malam, Tuan dan Nyonya Adiraja pamit untuk kembali ke kamar hotel suite mewah yang sudah mereka pesan di kawasan Thamrin.
"Kami akan mengundang orang tuamu makan malam resmi akhir pekan ini, Naya. Sampai jumpa besok," pamit Nyonya Adiraja, memeluk Naya dengan hangat di ambang pintu, perlakuan yang membuat hati Naya membengkak karena rasa haru.
Begitu mobil yang membawa orang tua Kafka melesat keluar dari pekarangan, Nessa yang sejak tadi menahan diri akhirnya berteriak kegirangan, melompat-lompat memeluk Naya.
"Lo lulus, Nay! Sumpah, lo keren banget tadi pas debat sama Mama! Gue aja nyaris pipis di celana saking tegangnya!" oceh Nessa antusias. "Wah, gue mau langsung tidur ah, mimpiin baju bridesmaid!"
Nessa berlari menaiki tangga dengan riang, meninggalkan Naya dan Kafka berduaan di lorong lantai bawah.
Naya menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke dinding, merasa seluruh energinya terkuras habis. Ia menutup matanya, mensyukuri keajaiban hari ini.
Namun, ketenangannya tidak berlangsung lama. Sebuah tangan besar dengan lembut menangkup rahangnya. Naya membuka mata, dan lautan kelam dari sepasang mata Kafka langsung menguncinya.
Aroma cedarwood dan mint menguar kuat saat Kafka memangkas sisa jarak di antara mereka. Pria itu menyandarkan sebelah tangannya di dinding tepat di atas kepala Naya, mengurung wanita itu dalam teritorinya.
"Aku sangat bangga padamu hari ini," bisik Kafka, suaranya serak, mengalun rendah menyapu bibir Naya. "Kau membuatku semakin gila, Kak Naya. Caramu menatap mata ibuku, caramu mengklaimku di depan mereka... aku nyaris tidak bisa menahan diriku untuk tidak menciummu di atas meja makan tadi."
Wajah Naya memanas. Ia menelan ludah, menatap bibir Kafka yang berada sangat dekat. "Kaf... makasih. Makasih udah percaya sama aku."
"Aku selalu percaya padamu," balas Kafka. Ibu jarinya membelai lembut bibir bawah Naya, membangkitkan ribuan letupan kembang api di dalam perut wanita itu.
Tanpa aba-aba, Kafka memiringkan kepalanya, meraup bibir Naya dalam sebuah ciuman yang memabukkan, basah, dan penuh dengan hasrat yang mendidih. Naya memejamkan mata, mengalungkan lengannya di leher Kafka, merespons ciuman itu dengan tak kalah menggebu. Tangan Kafka merayap memeluk pinggang Naya, menarik tubuh wanita itu hingga merapat sempurna pada dadanya yang keras, menghilangkan segala sekat.
Di tengah ciuman yang semakin dalam dan panas itu, Kafka tiba-tiba melepaskan pautannya. Pria itu menempelkan keningnya di kening Naya, napasnya tersengal, dadanya naik-turun dengan cepat.
Matanya menatap Naya dengan kilat gelap yang menuntut.
"Karena semua ujian sudah selesai, baik dari ayahmu maupun keluargaku..." Kafka berbicara dengan suara yang nyaris menyerupai geraman tertahan, napas panasnya menerpa bibir Naya. Pria itu melepaskan pelukannya, lalu menarik sesuatu dari saku celananya.
Itu adalah sebuah buku agenda kecil berbahan kulit hitam. Kafka membukanya dengan satu tangan, lalu menunjukkannya pada Naya.
Mata Naya mengerjap, menatap deretan jadwal padat yang dicetak di atas kertas tersebut. Di sebuah kotak kalender tepat dua minggu dari hari ini, terdapat lingkaran tebal berwarna merah dengan tulisan tangan Kafka yang tegas.
"Pernikahan."
Naya membelalakkan matanya lebar-lebar. Jantungnya serasa melompat ke tenggorokan. "K-Kaf?! Dua minggu?!"
Seringai tipis dan sangat berbahaya perlahan terukir di bibir Kafka. Pria itu menangkup kembali wajah Naya, matanya menyorotkan keposesifan yang tak bisa lagi ditawar.
"Ya, Sayang. Dua minggu," bisik Kafka mengancam. "Aku sudah memberimu cukup waktu untuk bernapas. Mulai besok, jadwalku adalah memastikan kau resmi menggunakan nama belakangku sebelum bulan ini berakhir."