Cattleya tak menduga pesta kemenangan saat timnya menjuarai kejuaraan akan membuatnya meninggalkan dunianya. Ia terbangun di tubuh seorang antagonis dalam sebuah novel yang dibacanya.
Cattleya yang diketahui mengandung anak kaisar diangkat menjadi selir. Dia tak bisa menjadi permaisuri karena sudah ada Adelle seorang putri Duke yang memang digadangkan jadi calon permaisuri.
Namun bisikan-bisikan yang datang ke telinganya yang mengatakan bahwa dirinya lebih pantas menjadi permaisuri membuat gadis pemalu itu menjadi berambisi. Terlebih Kaisar juga tak pernah mengacuhkan dirinya. Hingga pada akhirnya Cattleya meracuni Adelle dan dirinya dieksekusi mati.
Mengetahui hal tersebut, Cattleya pun memilih jalur aman, dia kabur dan bersembunyi. Namun plot novel tersebut tetap saja membuat dirinya ditemukan.
"Plot novel sialaaaan!!!"
Akankah Cattleya bisa mengubah plot novel tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyarui, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
One Night 07
Cattelya meletakkan Leo di tempat tidur. Jika biasanya dia akan langsung ikut tidur, atau setidaknya merebahkan tubuhnya beristirahat, tapi kali ini Cattleya tidak melakukannya. Dia memilih duduk di dapur. Pikiran Cattleya tertuju kepada pertemuannya tadi dengan kaisar.
Meski sudah tiga tahun berlalu, Cattleya tak mungkin bisa melupakan wajah tampan itu.
"Sial, kenapa wajah tampan yang aku ingat. Cat, kamu harus ingat juga kalau dia adalah seorang tiran. Ingat Catty, dia yang akan menebas leher mu."
Tubuh Cattleya langsung merinding. Rasa takut menjalar dari kaki ke ubun-ubun.
Ingatannya tentang cerita novel yang dibacanya sungguh membuatnya takut bukan main. Kekejaman dari Lucien Von Kallistar dijelaskan secara detail. Bahkan Cattleya bisa membayangkannya.
"Tiga tahun berlalu, sekarang berarti dia sudah menikah dan punya anak. Cattleya di novel harusnya juga sudah mati setahun yang lalu. Tapi karena aku yang jadi Cattleya, maka kematian itu tidak terjadi. Haah ya, setidaknya takdir buruk itu tak terjadi. Semua hidup dalam jalannya masing-masing."
Cattleya melihat ke arah putranya sambil tersenyum. Ada hal yang dia syukuri juga, karena Cattleya bisa membesarkan putranya dengan baik sekarang. Di dalam novel, nasib Leoric juga tak kalah buruknya. Meski anak kaisar, tapi Leoric tak pernah mendapatkan perlakuan layaknya seorang pangeran. Leoric diasingkan karena dia adalah anak seorang pembunuh.
Cattleya beranjak dari duduknya lalu merebahkan tubuhnya di sisi sang putra. Dia membawa Leoric ke dalam pelukannya.
"Ibu akan melindungi Leo. Ibu akan membuat Leo menjadi anak paling bahagia di dunia. Ibu akan membuat Leo selalu tersenyum dengan sangat cerah. Ibu janji."
"Ibu."
Leoric meginggau, memanggil Cattleya dalam tidurnya.
Perlahan, mata Catlleya pun ikut terpejam. Nafasnya mulai teratur, dan ia pun terlelap dengan cepat, hingga tak sadar bahwa sedari tadi ada seseorang yang berdiri di depan rumahnya.
Orang tersebut tersenyum. Tangannya menyentuh dinding rumah dan juga mengusapnya pelan.
"Ketemu."
Ia membalikkan tubuhnya, lalu pergi dengan cara melesat. Gerakannya begitu cepat bak petir yang menyambar.
"Dari mana saja Cien? Aku mencari sejak tadi. Jelas sekali bahwa kau pergi lebih dulu, tapi saat diperkemahan aku tak mendapati keberadaanmu."
Lucien membuka bajunya, menampilkan otot tubuh yang sempurna. Namun hiasan bekas luka akibat sayatan pedang terlihat begitu jelas.
Lucien mengambil kain yang diletakkan di dalam baskom berisi air. Dia mengambilnya untuk membasuh bekas darah sekaligus keringat yang ada dk tubuhnya. Dan selama melakukan itu, Lucien hanya diam tak menghiraukan pertanyaan Norman.
Norman menghembuskan nafasnya kasar. Dia paham bahwa Lucien yang diam berarti tak ingin membicarakan sesuatu yang dipertanyakan.
"Kalau begitu kapan kita akan kembali. Urusan di sini lebih cepat dari yang kita duga."
"Besok kembalilah. Tapi aku akan tinggal beberapa waktu dulu."
"Ya?"
Mulut Norman menganga dengan sangat lebar saat mendengar perkataan Lucien. Ia lalu mengerutkan kedua alisnya.
"Maksudmu apa akan tinggal di sini?"
Lucien tak menjawab pertanyaan Norman. Dan hal tersebut membuat Norman merasa sangat aneh dengan tuannya itu.
Namun Norman memilih untuk diam dan tak bertanya lagi. Jika Lucien hendak melakukan sesuatu, pastilah dia sudah memiliki pertimbangan karena akan ada tujuan yang hendak diraih.
"Lalu dimana Kau akan tinggal?"
"Green Village, aku akan tinggal di desa itu?"
Kali ini Lucien langsung menjawab pertanyaan yang diajukan Norman. Tak seperti dua pertanyaan sebelumnya.
"Terus, apa kau mau menggunakan penampilan mu ini? Bagaimana jika ada yang mengenali mu? Atau kamu memang sengaja ingin memberitahu kepada warga desa bahwa kau adalah Kaisar?"
Lucien tersenyum simpul. Dia lalu menggerakkan tangannya, merapal sebuah mantra dan mengayunkan tangannya itu ke tubuhnya sendiri.
"Tentu saja tidak. Aku akan memakai tampilan ini."
Tak banyak yang tahu bahwa Lucien memiliki kekuatan sihir yang besar. Sebenarnya itu memang berkah yang diturunkan kepada keturunan Kallistar. Mereka bisa menggunakan sihir untuk mengubah warna rambut dan juga warna mata.
Lucien memiliki rambut hitam legam. Dan bola mata berwarna hitam adalah simbol dari keluarga kekaisaran, maka dari itu ia mengubah warna rambut dan matanya agar wajahnya pun ikut berubah.
Lucien meilih warna coklat untuk rambutnya dan warna hijau zamrud untuk bola matanya.
"Kalau begini, tak akan ada yang mengenali ku bukan?"
Norman mengangguk cepat, dia tak ingin berdebat lagi. Dia tahu saat Lucien membuat keputusan maka tak akan pernah bisa diganggu gugat.
"Terus apa yang harus aku sampaikan kepada Erson nanti. Dia pasti akan sangat marah jika aku tak kembali bersama mu."
"Sebentar."
Lucien mengambil kertas dan juga pena. Dia menulis dengan cepat. Entah apa yang ditulis namun hanya dalam hitungan jari tangan, sepucuk surat sudah jadi.
"Berikan ini padanya. Aku yakin dia tak akan marah."
Norman begitu percaya ucapan Lucien. Ia mengambil surat dan membawanya keesokan harinya ke ibu kota kekaisaran.
Pagi hari itu juga, Lucien juga pergi ke Green Village. Dia melakukan sebuah rencana dimana hanya dirinya saja yang mengetahunya.
Hiyaaa
Norman bersama dengan pasukan kembali ke istana. Semua prajurit sudah diberi tahu bahwa Lucien sedang melakukan pekerjaan lain sehingga mereka akan kembali lebih dulu.
Perjalanan yang dilakukan selama empat hari itu akhirnya membuat mereka sampai juga di istana. Erson sudah berada di depan untuk menyambut kedatangan tuannya. Namun yang dilihat hanyalah sang jendral, sedangkan Kaisar tidak ada.
"Dimana Baginda?" tanya Erson tanpa basa-basi.
Norman ingat surat yang dititipkan oleh Lucie. Dia langsung memberkannya kepada Erson. Namun reaksi Erson ternyata sangat bertolak belakang dengan apa yang dikatakan oleh Lucien.
"BAGINDAAAAAA!!!!!"
Erson berteriak dengan sangat keras sehingga mengagetkan semuanya.
"Kenapa, Count Erson."
"Marquis Norman, lihatlah kelakuan dari atasan Anda itu."
Erson memberikan secarik kertas yang terdapat tulisan Lucien di sana. Norman mengambil dan membaca tulisan itu.
Norman ingin tertawa saat membaca tulisan itu. Namun melihat wajah Erson yang merah padam, dia pun berusaha menahannya.
"Sabar Count," ucapnya sambil melenggang pergi, disusul oleh prajurit lainnya. Sedangkan Erson, ajudan sang kaisar itu masih berdiri di tempatnya sambil menggerutu.
TBC