NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang Pewaris Dingin

Istri Kontrak Sang Pewaris Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Konflik etika / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fabdul

​Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Aira Kirana terpaksa menerima tawaran nikah kontrak dari Devan Mahendra. CEO dingin yang membutuhkan istri formalitas demi posisinya di Mahendra Group. Bagi Devan, Aira hanyalah transaksi yang bisa dibeli dengan uang.

​Namun, Aira menolak tunduk. Di tengah intrik dan hinaan keluarga Mahendra, ia berdiri tegap mempertahankan harga diri dan ketulusannya sebagai perajin tenun.

​Saat benih kepedulian Devan mulai tumbuh, bayang-bayang masa lalu bernama Clara kembali hadir, membawa ujian baru bagi hubungan mereka.

​Mampukah Devan meruntuhkan egonya demi mempertahankan Aira? Ataukah Aira memilih pergi, membuktikan bahwa ketulusan tak pernah bisa dibeli?

​Sebuah kisah tentang harga diri, penyesalan suami, dan kekuatan ketulusan yang meluluhkan hati yang beku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fabdul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tawaran Untuk Sanggar Tenun

Pagi itu, Aira menghabiskan waktunya di penthouse seperti biasa. Sesekali, pikirannya tertuju pada sanggar tenun keluarganya di Bantul. Sebelum berangkat ke Jakarta, ia sudah meminta Paman dan Bibi untuk mengurus sanggar tersebut selama dirinya pergi.

Ia berharap semuanya berjalan baik di sana. Meski tidak bisa terlibat langsung, sanggar itu tetap menjadi bagian penting dalam hidupnya.

...___🍀🍀🍀🍀___...

Di kantor Galeri Nusantara, Rendra sedang membahas rencana kegiatan bersama timnya. Mereka tengah mencari pengrajin lokal yang karyanya memiliki ciri khas untuk diperkenalkan melalui galeri.

Salah seorang anggota tim menyerahkan informasi mengenai berbagai pengrajin daerah.

Rendra membaca dokumen tersebut dengan saksama.

"Apakah informasi mengenai sanggar ini sudah diperiksa?" tanyanya.

"Informasi awalnya sudah, Pak. Sanggar tersebut dikelola oleh sebuah keluarga di Bantul. Salah satu anggota keluarganya, Aira Kirana, diketahui ikut mengembangkan motif tenun di sana."

Rendra mengangguk.

"Apakah kita bisa menghubunginya?"

"Kami sedang mencari kontak yang bisa digunakan untuk menghubunginya secara langsung, Pak."

"Baik. Kalau sudah ditemukan, sampaikan kepada saya."

Setelah anggota timnya pergi, Rendra kembali memeriksa dokumen tersebut. Ia ingin mengetahui lebih jauh tentang sanggar itu sebelum memutuskan apakah karya mereka sesuai dengan rencana Galeri Nusantara.

...___🍀🍀🍀🍀___...

Menjelang siang, Aira sedang duduk di ruang tengah ketika ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenalnya.

Ia membuka pesan tersebut.

Selamat siang, Ibu Aira Kirana. Perkenalkan, saya Rendra dari Galeri Nusantara. Saya mendapatkan informasi mengenai sanggar tenun keluarga Ibu di Bantul melalui jaringan kerja kami.

Saat ini, kami sedang mencari pengrajin lokal untuk kemungkinan kerja sama dalam memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat yang lebih luas. Saya ingin mengetahui lebih jauh mengenai sanggar keluarga Ibu. Apakah Ibu bersedia membicarakannya?

Aira membaca pesan itu dengan saksama. Ia tidak menyangka ada pihak dari Galeri Nusantara yang menghubunginya.

Setelah mempertimbangkan sejenak, ia mengetik balasan.

Selamat siang, Pak Rendra. Terima kasih sudah menghubungi saya. Boleh saya mengetahui lebih lanjut mengenai bentuk kerja sama yang Bapak maksud?

Tidak lama kemudian, Rendra membalas.

Untuk saat ini, kami sedang menjajaki kemungkinan memperkenalkan karya pengrajin lokal melalui Galeri Nusantara. Saya ingin mengetahui lebih jauh mengenai sanggar keluarga Ibu dan jenis karya yang dihasilkan. Jika Ibu bersedia, kita bisa membicarakannya lebih lanjut.

Aira kembali membaca pesan tersebut. Rendra belum memberikan penawaran secara terperinci, tetapi ia tertarik untuk mendengar penjelasannya.

Ia pun membalas singkat.

Baik, Pak. Saya bersedia mendengarkan penjelasan lebih lanjut mengenai rencana tersebut.

Setelah mengirim pesan, Aira meletakkan ponselnya di meja. Ia belum bisa mengambil keputusan sebelum mengetahui bentuk kerja sama yang ditawarkan.

Namun, kesempatan itu layak dipertimbangkan, terlebih karena berkaitan dengan sanggar tenun keluarganya.

...___🍀🍀🍀🍀___...

Sore harinya, Devan baru saja keluar dari ruang kerjanya ketika melihat Aira sedang duduk di ruang tengah sambil memeriksa ponsel.

"Ada apa?" tanyanya.

Aira mengangkat wajah.

"Tidak ada apa-apa, Mas Devan."

Devan melirik ponsel di tangannya.

"Sepertinya kamu sedang membaca sesuatu."

"Ada orang dari Galeri Nusantara yang menghubungiku," jawab Aira.

Devan berhenti sejenak.

"Untuk urusan apa?"

"Mereka mendapat informasi tentang sanggar tenun keluarga saya. Mereka ingin membicarakan kemungkinan kerja sama."

Devan duduk di sofa yang berhadapan dengannya.

"Bagaimana mereka bisa mengetahui sanggar keluargamu?"

"Katanya, mereka mendapat informasi melalui jaringan kerja mereka."

Devan mengangguk kecil.

"Jadi, kamu akan bekerja sama dengan mereka?"

"Saya belum tahu. Mereka baru ingin mengetahui lebih jauh tentang sanggar dan karya yang dihasilkan. Saya ingin mendengar penjelasannya terlebih dahulu."

"Kalau memang ada kesempatan yang baik, pertimbangkan saja."

Aira menatapnya sebentar sebelum menjawab, "Iya, Mas Devan."

Devan tidak melanjutkan percakapan. Ia mengambil ponselnya dan memeriksa beberapa pesan yang masuk.

Aira kembali memperhatikan layar ponselnya. Ia tidak menyangka Devan akan menanyakan urusannya, meskipun percakapan mereka berlangsung singkat.

Bagi Devan, hal itu mungkin hanya percakapan biasa. Namun, ia mulai mengetahui bahwa Aira memiliki keterampilan dan kehidupan sendiri yang belum pernah benar-benar ia kenal.

Malam harinya, Aira kembali memikirkan pesan dari Rendra. Ia belum mengetahui apakah pembicaraan itu akan menghasilkan kerja sama, tetapi ia bersedia mendengarkan penjelasannya lebih lanjut.

Ia berharap kesempatan tersebut bisa membawa manfaat bagi sanggar keluarganya yang kini diurus oleh Paman dan Bibi.

Aira meletakkan ponselnya di meja, lalu memandang ke luar jendela. Ia tidak tahu bagaimana kelanjutan rencana itu, tetapi setidaknya ada kesempatan yang bisa ia pertimbangkan.

Sementara itu, Devan masih menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerja. Sesekali, ia teringat percakapan singkat dengan Aira sore tadi.

Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya lebih banyak memandang Aira sebagai bagian dari kesepakatan pernikahan mereka. Ia belum benar-benar mengenal kehidupan perempuan itu sebelum datang ke Jakarta.

Devan kembali menunduk pada dokumennya, membiarkan pikiran itu berlalu tanpa mencari jawaban lebih jauh.

Bersambung...

1
Ariany Sudjana
Devan sudah ada hati sama Aira, cuma masih Denial dengan perasaannya sendiri
Jesselyn Runtuwene
lanjut 👍
Jesselyn Runtuwene
lanjut
fabdul
Luar Biasa
Jesselyn Runtuwene
lanjut
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Jesselyn Runtuwene
ijin promosi novel juga Judul Sang Pemain ( yang awalnya tidak suka bermain bola menjadi pemain profesional ) mampir yuk
Jesselyn Runtuwene
lanjut
Jesselyn Runtuwene
semoga saja Clara tidak menimbulkan masalah
Muft Smoker
Clara mungkin tenang dlm setiap obrolan ,, dan semoga akan ttap seperti tu ,, jgn prnh merusak rumah tangga prempuan lain ,, dan Devan harus selalu bisa mengambil sikap tegas ,,
Ariany Sudjana
kamu harus tegas Devan, jangan sampai si pelacur murahan itu menghancurkan rumah tangga kamu dengan aira, apalagi mama kamu kelihatan sekali masih berharap Clara yang jadi istri kamu, hanya karena pertimbangan sama-sama keluarga konglomerat
Jesselyn Runtuwene
semoga Clara tidak menjadi masalah bagi Devan
Jesselyn Runtuwene
lanjut
Anvika
Ratih berhenti sejenak, keknya lebih bagus diganti napas Ratih tercekat.
fabdul: siap kak makasih ya atas masukannya, nanti aku baca kembali bab ini sebelum revisinya 😊
total 1 replies
Anvika
Mampir kak
Anvika
Lanjut
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,

semoga aj si Clara gx jdi ulet bulu di tengah2 Aira dan Devan ,,
meski pernikahan mereka di dasari Krn kesepakatan bisnis semata ,,
Muft Smoker: ok siap kak ,,
semangat trus /Grin/
total 2 replies
Muft Smoker
waah nyari masalah aj niih siapa pun org ny😏
Muft Smoker
kasih kopi Aira ,, biar jernih fikiran si Devan ,, 🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker
mulai kena gempa kecil yx Devan ,,
awas loo menjilat ludah sendri ,, 🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!