Dicampakkan Aris karena dianggap tidak selevel, Aura memilih balas dendam paling elegan: Menikahi Hendra (38th), ayah Aris yang tampan dan kaya raya.
Kini, sang mantan harus tunduk di bawah kekuasaan ibu tiri barunya.
"Dulu kamu menginjakku, Aris. Sekarang, panggil aku Ibu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LELANG DI BUKIT SELATAN
“Siapa nama perwakilan dari Wijaya Group yang mendaftar di menit-menit akhir tadi?”
Suara Aura mengalun tegas di dalam ruang rias privat Ballroom Hotel Mulia, Jakarta. Wanita berusia dua puluh delapan tahun itu berdiri anggun membelakangi cermin besar, merapikan gaun malam sutra berwarna biru pastel yang membalut indah tubuh jenjangnya. Paras cantiknya yang matang dipadu riasan alami memancarkan wibawa dingin seorang Komisaris Utama Fahreza Group.
Di sebelahnya, Laras—sekretaris pribadinya—segera memeriksa lembaran draf peserta lelang investasi proyek pelabuhan internasional di tablet khususnya.
“Di dokumen pendaftaran resmi, mereka mencantumkan nama Aris Pratama sebagai Direktur Operasional baru Wijaya Group, Nyonya,” jawab Laras dengan suara yang cukup cemas. “Beliau baru saja disahkan oleh Pak Wijaya kemarin sore.”
Aura mengulas senyuman tipis yang sangat anggun. Tidak ada riak kaget atau ketakutan di mata jernihnya. Kebebasan bersyarat Aris minggu lalu dan pergerakan Wijaya Group memang sudah ia prediksi. Bagi Aura, Aris yang sekarang berdiri di bawah ketiak musuh bisnis istrinya hanyalah sekadar gangguan kecil yang tak akan mampu meruntuhkan dominasinya.
Pintu kamar rias terbuka pelan.
Hendra Fahreza melangkah masuk dalam balutan setelan tuksedo hitam kustom buatan penjahit Eropa. Di usianya yang menginjak empat puluh tiga tahun, ketampanan dan keagungan sang taipan puncak berada di titik tertinggi. Pria matang itu melangkah mendekati istrinya, melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Aura dengan sangat protektif dari belakang.
Hendra menanamkan kecupan hangat di leher jenjang Aura, menghirup aroma wangi mawar yang amat ia cintai.
“Laras sudah lapor soal pendaftaran Aris, Sayang?” bisik Hendra dengan suara beratnya yang seksi di dekat telinga Aura.
Aura memiringkan kepalanya sedikit, mengusap rahang tegas Hendra yang hangat dengan jemari lentiknya. “Sudah, Mas. Aris pakai nama Aris Pratama dan masuk lewat posisi Direktur Operasional Wijaya Group.”
Hendra menyunggingkan senyuman dominan khas penguasa, menatap pantulan kecantikan istrinya di cermin besar.
“Kamu tidak perlu risau,” tutur Hendra mantap. “Saya sudah perintahkan tim keamanan untuk memantau setiap gerak-gerik Aris dan Pak Wijaya selama acara lelang berlangsung. Tidak ada yang boleh mengganggu kenyamanan Ratu saya malam ini.”
Aura tertawa pelan—sebuah tawa merdu yang memikat hati sang taipan. Ia membalikkan tubuhnya di dalam dekapan Hendra, merangkulkan kedua tangannya di leher tegap suaminya.
“Aku nggak risau sama sekali, Mas,” sahut Aura tulus, menatap mata cokelat gelap suaminya. “Dengan dua puluh lima persen porsi saham lepas dan modal investasi lima puluh triliun yang kita siapkan, lelang proyek pelabuhan ini pasti jatuh ke tangan Fahreza Group.”
Hendra menundukkan kepalanya, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang dalam, hangat, dan penuh gairah kepemilikan mutlak. Aura memejamkan matanya, membalas ciuman suaminya dengan seluruh kehangatan jiwanya.
Sepuluh menit kemudian di Grand Ballroom Hotel Mulia.
Suasana di dalam ruangan berplafon tinggi itu sangat megah dan tegang. Puluhan konglomerat papan atas, pejabat kementerian perhubungan, dan awak media nasional memenuhi area lelang investasi proyek pelabuhan bernilai ratusan triliun rupiah tersebut. Pendar lampu kristal memantulkan cahaya keemasan di atas karpet merah.
Pintu ganda utama ballroom terbuka lebar.
Hendra dan Aura melangkah masuk berdampingan. Kehadiran pasangan paling berpengaruh di Asia Tenggara itu seketika mencuri perhatian seluruh ruangan. Tepuk tangan dan pendar lampu kilat kamera wartawan membahana menyambut langkah anggun mereka menuju barisan kursi VIP terdepan.
Namun, saat Aura baru saja akan mengambil posisi duduk di samping Hendra, sebuah langkah kaki tegap yang sangat familiar berhenti tepat di lorong samping meja mereka.
Aura menoleh perlahan.
Aris berdiri di sana. Dalam balutan jas kustom berwarna abu-abu gelap, penampilan pria berusia tiga puluh tahun itu benar-benar berbeda dari Aris lima tahun lalu. Tidak ada lagi raut kekanak-kanakan atau kemanjaan di wajahnya. Wajah Aris tampak lebih tirus, garis rahangnya mengeras, dan matanya memancarkan ketenangan pekat yang berbahaya.
Di samping Aris, Pak Wijaya—pemilik Wijaya Group—tersenyum sinis sambil menopang tangan pada tongkat peraknya.
Aris menatap Aura lurus-lurus, lalu beralih menatap ayahnya, Hendra Fahreza. Pria muda itu membetulkan posisi kancing jasnya, lalu mengulas senyuman tipis yang sangat dingin.
“Selamat malam, Pak Hendra... Nyonya Aura,” sapa Aris dengan suara parau yang amat berat dan tenang.
Hendra berdiri tegap dari kursinya, memotong jarak dan membentengi Aura di belakang tubuh tegapnya. Mata cokelat gelap sang taipan menatap putra pertamanya dengan pandangan amat dingin dan tak tersentuh.
“Selamat malam, Aris,” balas Hendra datar, suaranya sarat akan wibawa yang menekan. “Saya lihat kamu sudah belajar memakai jas dengan rapi setelah keluar dari penjara.”
Aris tidak terprovokasi oleh sindiran tajam ayahnya. Ia justru terkekeh pelan—sebuah tawa rendah yang dingin dan tertata rapi.
“Penjara mengajari saya banyak hal, Pak Hendra,” sahut Aris santai namun berbobot. “Termasuk mengajari saya cara merebut kembali apa yang seharusnya menjadi hak milik saya di bursa bisnis ini.”
Aura melangkah satu titik ke depan di samping Hendra. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap mantan kekasihnya itu dengan pandangan kemenangan mutlak yang tak tergoyahkan.
“Hak milik?” ulang Aura dengan suara selembut sutra yang menawan. “Dunia bisnis cuma mengakui kemampuan dan legalitas hukum, Aris. Bukan imajinasi dari seorang mantan narapidana yang baru bebas bersyarat.”
Pak Wijaya berdeham keras, memotong pembicaraan seraya menyunggingkan senyuman culas.
“Kemampuan dan legalitas hukum akan kita buktikan di meja lelang malam ini, Nyonya Aura,” sela Pak Wijaya tajam. “Wijaya Group di bawah arahan Direktur Aris telah menyiapkan penawaran angka yang bakal membuat Fahreza Group bertekuk lutut.”
Hendra menyunggingkan senyuman dominan khas penguasa puncak. Ia merangkul pinggang Aura dengan sangat rapat di depan mata Aris dan Pak Wijaya.
“Silakan coba kalau kamu sanggup, Wijaya,” pancing Hendra dingin. “Tapi ingat... tempat anak muda yang berniat melawan ayahnya sendiri biasanya selalu berakhir tragis.”
Aris mengepalkan tangannya di balik saku jasnya saat melihat keintiman di antara Hendra dan Aura, namun ia berhasil mempertahankan raut wajah dinginnya. Pria muda itu menundukkan kepala tipis sebelum berbalik melangkah bersama Pak Wijaya menuju meja lelang kubu mereka di seberang ruangan.
Acara lelang resmi dibuka oleh pejabat kementerian.
Suasana di dalam ballroom seketika berubah menjadi arena pertempuran finansial yang sangat panas. Angka penawaran awal untuk hak kelola pelabuhan internasional dibuka pada angka dua puluh triliun rupiah.
Beberapa perusahaan menengah gugur di babak awal karena tidak sanggup mengimbangi kenaikan angka penawaran yang melonjak cepat. Dalam waktu kurang dari tiga puluh menit, pertarungan lelang kini tersisa dua raksasa utama: Fahreza Group dan Wijaya Group.
“Tiga puluh lima triliun rupiah dari Fahreza Group!” seru pembawa acara lelang melalui pengeras suara.
Aura yang memegang papan penawar angka tersenyum anggun. Ia mengetuk tablet kerjanya, memeriksa batasan likuiditas perusahaan dengan sangat teliti.
Di meja seberang, Aris mengangkat papan penawarnya tanpa ragu sedikit pun.
“Empat puluh triliun rupiah dari Wijaya Group!” lantang pembawa acara mengumumkan.
Para peserta lelang di dalam ballroom seketika riuh. Angka empat puluh triliun rupiah adalah angka penawaran yang sangat fantastis dan berisiko tinggi bagi marjin keuntungan proyek pelabuhan tersebut.
Hendra menoleh pada Aura, merangkul bahu istrinya dengan lembut. “Bagaimana, Sayang? Mau kita naikkan ke empat puluh lima triliun?”
Aura memiringkan kepalanya sedikit, meneliti gestur Aris dan Pak Wijaya di seberang ruangan. Ketajaman intuisi Aura menangkap sesuatu yang aneh. Aris tampak terlalu percaya diri, seolah-olah ia sudah tahu batas maksimal penawaran yang disiapkan oleh Fahreza Group malam ini.
Aura membisikkan sesuatu di dekat telinga Hendra. “Mas... Aris terlalu tenang. Dia sepertinya punya draf bocoran angka analisis risiko kita.”
Hendra memicingkan matanya tajam. “Maksudmu ada penyusup lagi di tim keuangan kita?”
“Mungkin,” bisik Aura anggun, menyunggingkan senyuman tipis yang sangat mematikan. “Tapi kita bisa pakai kepercayaan diri Aris itu buat menjebak Wijaya Group malam ini.”
Aura mengangkat papan penawar angkanya kembali dengan gerakan yang sangat berkelas.
“Empat puluh lima triliun rupiah dari Fahreza Group!” panggil pembawa acara.
Seluruh ruangan menahan napas.
Aris di meja seberang tersenyum puas. Pria muda itu langsung mengangkat papan angkanya tinggi-tinggi tanpa berkonsultasi lagi dengan Pak Wijaya.
“Lima puluh triliun rupiah dari Wijaya Group!” teriak pembawa acara lelang.
BUM!
Suasana ballroom seketika pecah oleh sorakan kaget para pengusaha! Lima puluh triliun rupiah adalah angka yang jauh melampaui nilai wajar proyek pelabuhan tersebut. Jika Wijaya Group menang di angka lima puluh triliun, mereka akan mengalami krisis likuiditas yang amat parah dalam waktu enam bulan ke depan!
Pembawa acara menatap ke arah meja Fahreza Group. “Lima puluh triliun rupiah penawaran tertinggi dari Wijaya Group! Apakah ada penawaran lebih tinggi dari Nyonya Aura dan Pak Hendra?”
Seluruh mata kamera dan pengusaha tertuju pada Aura.
Aura perlahan merapikan gaun sutra biru pastelnya, lalu menurunkan papan penawar angkanya ke atas meja dengan sangat tenang. Wanita anggun itu berdiri, melipat kedua tangannya di depan tubuh, lalu mengulas senyuman kemenangan mutlak ke arah Aris dan Pak Wijaya.
“Fahreza Group melepas penawaran,” ujar Aura dengan suara selembut sutra yang jernih dan terdengar ke seluruh ruangan. “Selamat kepada Wijaya Group yang telah memenangkan lelang di angka lima puluh triliun rupiah.”
TOK! TOK! TOK!
“Selamat! Hak kelola proyek pelabuhan internasional resmi dimenangkan oleh Wijaya Group dengan nilai investasi lima puluh triliun rupiah!” panggil pembawa acara seraya mengetukkan palu lelang.
Tepuk tangan riuh membahana di dalam ballroom.
Pak Wijaya yang baru saja menyadari implikasi dari angka lima puluh triliun tersebut seketika membelalakkan matanya! Wajah sang taipan tua berubah pucat pasi. Angka lima puluh triliun itu akan menyedot seluruh cadangan dana tunai Wijaya Group dan mengancam kebangkrutan anak-anak perusahaannya!
Pak Wijaya memutar tubuhnya dengan marah, mencengkeram bahu Aris. “Aris! Kenapa kamu menaikkan angka sampai lima puluh triliun?! Itu bakal menghancurkan arus kas perusahaan kita!”
Aris terpaku di tempatnya berdiri, matanya membelalak tak percaya menatap Aura yang sedang berjalan tenang menghampirinya bersama Hendra.
Aris baru menyadari bahwa ketenangan Aura sejak awal adalah sebuah umpan manis untuk memancingnya agar menaikkan angka penawaran hingga batas berbahaya bagi Wijaya Group!
Aura menghentikan langkahnya di depan Aris dan Pak Wijaya. Ketenangan dan keanggunan wanita muda itu memancarkan dominasi yang amat mematikan.
“Selamat atas kemenangannya, Aris... Pak Wijaya,” sapa Aura dengan senyuman anggun. “Semoga arus kas Wijaya Group sanggup bertahan menanggung beban investasi lima puluh triliun rupiah itu tahun depan.”
Aris mengepalkan tangannya rapat-rapat di samping tubuh, menahan malu dan kemarahan yang membakar dadanya. Pria muda yang baru keluar penjara itu merasa seperti seekor anak ayam yang kembali dipermainkan dengan mudah oleh mantan kekasihnya.
Hendra merangkul pinggang Aura secara protektif, menatap Aris dan Pak Wijaya dengan pandangan merendahkan dari sang taipan tertinggi.
“Belajarlah menganalisis risiko bisnis dengan benar sebelum mencoba bertarung di level saya, Aris,” tegas Hendra dingin, sebelum membimbing Aura melangkah pergi meninggalkan ballroom.
Satu jam kemudian di dalam kabin mobil Rolls-Royce Phantom yang melaju mulus membelah jalanan malam Jakarta.
Suasana di dalam kabin mobil beraroma mawar itu sangat hangat dan tenang. Hendra menarik tubuh Aura ke dalam dekapannya yang rapat, menghirup aroma harum dari leher sang istri seraya mengusap lembut jemari lentiknya.
“Taktik kamu di meja lelang tadi benar-benar jenius, Ratu saya,” puji Hendra dengan suara beratnya yang penuh kekaguman. “Kamu berhasil mengunci Wijaya Group dalam krisis likuiditas tanpa harus mengeluarkan uang sepeser pun.”
Aura menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya, mengulas senyuman bahagia dari dasar hatinya. “Aku cuma memanfaatkan kesombongan Aris yang merasa sudah tahu strategi kita, Mas. Sekarang Wijaya Group bakal sibuk mengurus arus kas mereka selama berbulan-bulan.”
Hendra terkekeh rendah, menundukkan kepalanya untuk mengecup bibir merah Aura secara mesra. Aura memejamkan matanya, membalas ciuman suaminya dengan seluruh kehangatan jiwanya.
Namun, ketika mobil mewah mereka baru saja berbelok memasuki gerbang besi tempa kediaman utama Fahreza, ponsel pribadi Aura yang berada di dalam tas mewahnya mendadak bergetar halus.
Aura meregangkan ciumannya pelan, merogoh tasnya dan mengambil ponsel tersebut.
Layar ponsel memperlihatkan sebuah pesan singkat dari nomor pribadi Aris yang dikirimkan tepat saat lelang berakhir tadi:
‘Kamu pikir kamu menang malam ini, Aura? Coba kamu cek dokumen kepemilikan tanah di area pengembangan rumah utama Fahreza yang dibeli Papamu sepuluh tahun lalu... Siapa pemilik sah atas sertifikat induk tanah itu sekarang?’