Panti asuhan "Lentera Kasih" akhirnya menjadi satu-satunya tempat yang bersedia menerimanya. Di sana, di antara keterbatasan dan hidangan seadanya, Kirana tumbuh menjadi gadis yang kuat dan sangat cerdas. Buku-buku tua di perpustakaan panti menjadi teman setianya. Kirana belajar dengan giat, menyerap ilmu pengetahuan dengan ketajaman berpikir yang mengagumkan. Ia tahu, hanya dengan pendidikan ia bisa mengubah takdirnya.
Namun, kecerdasannya saja tidak cukup untuk membayar biaya masuk universitas. Mimpinya untuk berkuliah di jurusan Kedokteran—cita-cita yang terinspirasi dari keinginan menyembuhkan luka dan menyelamatkan nyawa—membentur dinding tebal bernama biaya. Malam ini, dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan selama berminggu-minggu, Kirana memutuskan untuk mendatangi rumah masa kecil ayahnya. Ia tidak meminta warisan atau kemewahan; ia hanya berharap ada sedikit keajaiban dan rasa iba di hati sang nenek agar mau membiayai pendidikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesempatan di Balik Loket Kemahasiswaan
Pakaian Kirana memang sangat rapi dan sopan. Walau kemeja putih polos yang dikenakannya sudah beberapa kali dicuci hingga warnanya tak lagi sepekat saat baru, kerapian lipatan dan kesederhanaan gayanya justru memancarkan keanggunan yang bersahaja. Ditambah dengan celana kain hitam yang pas dan rambut yang terikat rapi ke belakang, penampilan Kirana mencerminkan sosok gadis berpendidikan tinggi yang penuh penghormatan terhadap tempat yang diinjaknya.
Di balik meja loket tiga, seorang staf wanita paruh baya berkacamata tebal menatap Kirana. Tatapan petugas itu memlembut saat melihat gestur sopan Kirana yang membungkukkan badan sedikit sebelum duduk di kursi di depan meja.
"Selamat pagi, Bu," sapa Kirana dengan suara yang lembut namun terdengar jelas dan mantap. Ia mengulas senyum tulus yang langsung mencairkan suasana kaku di ruangan tersebut.
"Selamat pagi, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?" jawab staf tersebut, menanggapi kesopanan Kirana dengan nada bicara yang ramah.
Kirana segera mengeluarkan amplop cokelat tebal dari ranselnya. Dengan hati-hati dan penuh tata krama, ia meletakkan dokumen-dokumen itu di atas meja, menyajikannya agar mudah dibaca oleh sang petugas.
"Nama saya Kirana, Bu. Saya merupakan calon mahasiswa baru yang dinyatakan lolos seleksi jalur prestasi di kampus ini," ujar Kirana membuka pembicaraan. "Maksud kedatangan saya hari ini adalah untuk mengajukan permohonan beasiswa keringanan biaya kuliah atau Beasiswa KIP-Kuliah, Bu. Saya membawa seluruh berkas persyaratan akademik, surat keterangan kurang mampu, beserta sertifikat prestasi yang saya raih selama sekolah."
Petugas loket itu mengambil amplop cokelat tersebut dan mulai membukanya. Jemarinya menelusuri lembar demi lembar berkas yang disusun Kirana dengan sangat rapi. Tidak ada satu pun kertas yang terlipat sembarangan atau bernoda; semuanya dikelompokkan dengan urutan yang sangat sistematis.
Saat membaca lembar nilai dan jajaran sertifikat kejuaraan olimpiade sains yang pernah dimenangi Kirana, mata wanita berprestasi itu membelalak pelan. Ia mengangkat pandangannya, menatap Kirana dengan raut kekaguman yang tak bisa disembunyikan.
"Nilai-nilaimu sangat luar biasa, Kirana," puji petugas itu tulus, sambil membetulkan letak kacamatanya. "Prestasi akademikmu di sekolah menengah betul-betul di atas rata-rata. Sangat jarang ada calon mahasiswa dengan rekam jejak sesempurna ini."
"Terima kasih banyak, Bu. Saya hanya berusaha semaksimal mungkin memanfaatkan kesempatan belajar yang saya miliki," jawab Kirana rendah hati, walau di dalam dadanya letupan harapan mulai tumbuh semakin mekar.
"Namun..." kalimat petugas itu menggantung, membuat jantung Kirana berdegup kencan seketika. Raut wajah staf itu berubah menjadi penuh rasa bersalah. "Kuota Beasiswa KIP-Kuliah dan beasiswa penuh dari pemerintah untuk gelombang utama sejujurnya sudah ditutup minggu lalu, Kirana. Seluruh kuotanya sudah terisi penuh oleh pendaftar tahap awal."
Sensasi dingin menyengat dada Kirana, mengingatkannya pada guyuran hujan deras semalam. Tangannya yang bertengger di pangkuannya saling menggenggam erat. Apakah pintunya harus tertutup lagi? pikirnya getir. Namun, Kirana menolak untuk menampakkan raut keputusasaan. Ia tetap duduk tegak, mempertahankan ketenangan dan kesopanannya.
"Apakah... apakah sudah sama sekali tidak ada celah atau jalur beasiswa susulan yang bisa saya perjuangkan, Bu?" tanya Kirana pelan, suaranya tetap terjaga sopan tanpa nada mendesak. "Saya sangat ingin berkuliah di sini. Saya bersedia mengikuti seleksi ujian ulang, wawancara khusus, atau syarat apa pun yang diperlukan."
Petugas itu mendesah pelan, tergerak oleh keteguhan dan sikap santun gadis muda di hadapannya. Ia kembali membolak-balik berkas Kirana, lalu mengusap dagunya sejenak sebelum mengangguk perlahan.
"Sebenarnya, ada satu jalur beasiswa khusus kemitraan dari yayasan donatur swasta yang baru saja dibuka pagi ini," bisik petugas itu seraya menarik sebuah formulir baru dari laci mejanya. "Beasiswa ini mencakup biaya kuliah penuh hingga tamat dan uang saku bulanan. Tapi, persyaratannya sangat ketat. Kandidatnya harus memiliki nilai akademik sempurna dan wajib melewati wawancara langsung dengan jajaran dewan penyalur dana."