Zaira Montes tumbuh di lingkungan kumuh dengan satu tekad: keluar dari kemiskinan lewat kuliah dan pekerjaan yang menguras habis tenaganya. Tapi malam ketika sahabatnya sendiri "menjualnya" ke sebuah klub eksklusif, hidup gadis itu berubah selamanya—karena di balik pintu ruang VIP, seorang lelaki menunggunya.
Leonardo Santos. Taipan berusia lima puluh tahun, dingin, berkuasa, dan menyimpan luka yang tak pernah sembuh. Dunia mengenalnya sebagai hartawan tak tersentuh; hanya sedikit yang tahu kerajaannya berdiri di atas bisnis-bisnis kelam dan rahasia berdarah. Ia tak mencari cinta. Ia hanya ingin memiliki Zaira—dan lelaki seperti dia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.
Zaira bersumpah dirinya bukan barang yang bisa dibeli. Namun antara penolakan dan gairah yang tak sanggup ia bendung, garis itu perlahan kabur. Dari kesepakatan penuh nafsu, tumbuh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: perasaan yang bisa menghancurkan mereka berdua.
Sebab di dunia Leonardo, mencintai berarti menjadi kelemahan. Dan seseorang dari masa lalunya telah lama menunggu—menanti Sang Mafia jatuh cinta, agar akhirnya ia punya sesuatu untuk direnggut.
Ketika peluru mulai berbicara dan pengkhianatan menampakkan wajahnya, Zaira harus memilih: lari dari pria paling berbahaya yang pernah ia kenal, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang lahir dari kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celina González ♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Lift berhenti dengan derit tipis di lantai empat belas, seolah mesin itu pun turut merasakan beban malam. Leonardo keluar dengan langkah lambat, masih terselubung kilau intim dari pertemuan tadi. Jaket kulitnya terbuka, memperlihatkan dada telanjang yang bertanda samar bekas kuku. Udara koridor, sarat oleh aroma pengap cairan pembersih dan bau samar beton tua, terasa lebih dingin di kulitnya yang berkeringat, mempertegas kontras antara hasrat dan kesepian yang kembali mengepungnya.
Sepatu botnya menggema di atas marmer mengilap, kering dan mantap, menandai irama malas yang tak menyembunyikan kepuasannya. Ketika melewati jendela koridor, cahaya kota menerangi siluetnya: rambut yang acak-acakan oleh jemari Zaira, bibir yang masih sedikit bengkak oleh ciuman, dan leher yang bernoda samar oleh mulut gadis yang kelaparan itu.
Saat membuka pintu apartemen, gelombang kehangatan menyambutnya. Udara sarat aroma kopi lama dan kayu, dengan jejak samar kertas dan pelapis furnitur tua yang memberi tempat itu keakraban yang nyaman. Di sofa, Marcelo menunggunya, dengan sebotol bir yang setengah kosong, satu kaki menyilang, dan pengendali televisi di tangan.
"Sialan..." lontarnya dengan wajah tak percaya. "Kau lihat jam berapa ini?"
Leonardo bersandar di kusen pintu, senyum merekah pelan, kurang ajar, di bibirnya yang pecah oleh gairah. Satu alis terangkat, tatapan menyala, dan aura penuh kemenangan yang hanya bisa dipanggul oleh daging yang telah terpuaskan.
"Masih ada satu jam," jawabnya dengan suara serak, masih diselubungi sisa desah.
Marcelo terkekeh rendah dan sinis, menggeleng. Ia bangkit, menaruh pengendali televisi di samping.
"Bro... tak perlu jadi jenius untuk tahu apa yang barusan kaulakukan. Kau keluar secepat kilat, dengan wajah begitu, pulang tanpa kemeja dan jaket nyaris tak dikancingkan cuma buat menyamarkan. Di dalam mobil, kan?"
Leonardo tak menjawab. Ia menutup pintu di belakangnya dan menjatuhkan kunci ke atas rak dengan denting logam. Bunyi itu seakan memecah mantra kecil malam itu. Ia berjalan ke dapur, tanpa tergesa, sementara pantulan layar televisi berkedip di permukaan perabot.
Kulkas yang terbuka menyemburkan sekepul udara dingin. Ia mengambil sebotol air, membukanya, dan gasnya menggelegak dengan desis kecil. Ia meneguknya panjang, membiarkan cairan itu mengalir turun di kerongkongannya yang kering, sedikit meredakan panas yang masih membakar dadanya.
"Di dalam mobil, kan?" desak Marcelo dari sofa, menyandarkan siku ke lutut. "Sama si gadis itu?"
"Bukan urusanmu," gumam Leonardo tanpa menoleh, mengusap mulutnya dengan punggung tangan.
Marcelo tergelak keras, tetapi bukan mengejek. Lebih tepatnya takjub. Ia terlalu mengenal sahabatnya itu.
Leonardo mengusap wajahnya, masih merasakan geli aroma parfum Zaira yang menempel di kulitnya. Di lehernya, tanda-tanda kemerahan mulai bermunculan, malu-malu tetapi penuh arti. Matanya menyimpan kilau yang jauh, kilau orang yang belum sepenuhnya menjejak kembali ke kenyataan.
Marcelo mengamatinya dalam diam beberapa saat, membiarkan ejekannya luruh. Lalu, dengan nada lebih rendah, nyaris seperti saudara, ia bertanya:
"Kau mulai terikat?"
Leonardo berhenti, menaruh botol di meja bar, dan menatapnya lurus. Matanya yang gelap dan dalam tak goyah sedikit pun.
"Kurasa aku sudah terikat."
Berkilo-kilometer dari sana, Zaira menyusuri trotoar dengan langkah ringan tapi tergesa. Sepatu botnya menjejak trotoar dalam irama gugup, menghindari genangan yang memantulkan kelipan lampu jalan yang putus-nyala. Di tangannya, ia menggenggam hati-hati kemeja Leonardo, terlipat asal-asalan tapi dengan lembut, seakan itu sebuah rahasia. Kain katun itu masih menyimpan kehangatan dan aroma pria itu, campuran candu antara kulit, wewangian kayu, dan aroma maskulin yang membuatnya sesekali memejamkan mata untuk kembali pada sosok itu.
Udara lembap, berbau tanah basah dan sunyi. Hanya dengung sebuah trafo listrik yang menemaninya. Bibirnya, masih bengkak oleh ciuman, menyisakan bekas gincu yang pudar, dan lehernya masih merasakan tekanan belaian tadi.
Tiap langkah adalah gema dari momen di dalam mobil: tangan Leonardo yang kokoh mencengkeram pinggangnya, napas yang terputus, desah yang tenggelam dalam alunan lirih dari tape mobil, derit jok di bawah gerak mereka.
Sesampainya di pintu rumah, jantungnya mendadak berpacu. Ia mengeluarkan kunci dengan jari gemetar, mendengar klik logam gerendel yang samar. Ia masuk dengan napas tertahan, menutup pintu begitu hati-hati hingga nyaris tanpa suara.
Bagian dalam rumah dibasuh keremangan yang hangat. Televisi masih menyala, menampilkan gambar tanpa suara yang memantulkan bayangan-bayangan tipis di dinding. Sebatang lilin aroma yang sudah habis meninggalkan wangi lembut vanila dan lavender mengambang, membungkus segalanya dalam nuansa rumah yang terlelap.
Di sofa, ibunya tertidur dengan lengan menyilang di atas perut, kepala miring dan wajah tenang oleh kantuk. Selimut menutupinya sampai lutut dan dadanya naik-turun dengan damai. Zaira terdiam, seakan embusan sekecil apa pun bisa membangunkannya.
Kelegaan itu datang seketika. Kakinya nyaris melemas saat ketegangan lepas begitu saja. Ia berjingkat menyusuri lorong, menghindari papan lantai yang ia tahu berderit. Napasnya masih pendek, seakan hasrat itu menolak lenyap.
Sampai di kamar, ia menutup pintu dengan kelambatan yang khusyuk dan menyandarkan punggung padanya. Baru kemudian ia melepas embusan napas panjang yang bergetar. Rasanya seperti kembali ke dunia yang tak lagi mewakili dirinya.
Cahaya kebiruan dari jam weker digital menggarisi siluetnya dalam gelap. Semua masih sama: ranjangnya, cermin, buku-bukunya. Tetapi ia sudah bukan dirinya yang dulu. Ia duduk perlahan, merasakan kelembapan hangat yang masih tersisa di pakaian dalamnya. Ia mendekatkan kemeja Leonardo ke wajahnya, mencari bagian yang bersih yang belum ia pakai untuk membersihkan diri, lalu menghirupnya dalam-dalam. Aromanya membuatnya bergidik.
Ia meletakkan kemeja itu dengan hati-hati di atas keranjang, seolah menyimpan sebuah piala yang intim. Lalu ia melucuti pakaian, satu per satu dalam gerak lambat yang khusyuk. Tiap helai yang jatuh menghidupkan kembali sebuah belaian. Ia masuk ke pancuran dengan kulit yang masih bergetar, membiarkan air hangat merengkuhnya bagai pelukan.
Tetes-tetes air jatuh di tubuhnya, dan bersamanya, kenangan-kenangan itu: cara pria itu memandangnya sebelum menyentuhnya, napasnya di telinga, gumam berat saat ia menyebut nama Zaira di sela desah. Cara pria itu menyelimutinya sesudahnya, membantunya berpakaian dengan lembut, mengecup pahanya bagai orang yang berpamitan dari tempat yang suci.
Ia memejamkan mata dan tersenyum di bawah hujan buatan itu. Tak pernah ia bayangkan malam itu akan menandainya sedemikian rupa. Bahwa tubuhnya, yang dijual bagai sekeping uang, akhirnya diklaim oleh seseorang yang menyentuhnya seolah tubuh itu telah menjadi miliknya sejak dulu.
Apa yang sedang kaulakukan, Zaira? tanyanya pada diri sendiri.
Semalam sebelumnya ia dikhianati, dipertontonkan, dijual. Tetapi keesokan harinya, ia ditemukan, dipuja, dihormati... dicintai. Mungkin terlalu cepat. Mungkin terlalu dalam. Tapi nyata.
Dan kini, sementara uap memenuhi kamar mandi dan mengaburkan cermin, di dua sudut kota yang berbeda, dua tubuh masih bergetar oleh gema satu sama lain.
Di tengah hasrat, sesuatu yang lain telah menyala. Sesuatu yang mendalam. Yang tak bisa ditarik kembali.
Dan tak ada kesunyian gang, tak ada air, tak pula fajar, yang akan cukup untuk memadamkannya.