NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Om Sahabatku

Menikah Dengan Om Sahabatku

Status: tamat
Genre:Perjodohan / CEO / Tamat
Popularitas:195.1k
Nilai: 5
Nama Author: lala_syalala

Aluna Putri adalah mahasiswi yatim piatu yang menghabiskan waktunya bekerja keras, hingga suatu hari ia nyaris tumbang karena kelelahan di depan Kayvan Dipta Madhava, CEO kaku sekaligus om dari sahabatnya, Raline.

Pertemuan canggung itu menjadi awal dari skenario besar yang disusun oleh Baskara Madhava yaitu papa dari Kayvan dengan alasan kesehatan yang menurun, tuan Baskara mendesak Kayvan untuk segera menikahi gadis pilihannya yang tak lain adalah Aluna.

Terdesak masalah finansial yang mengancam pendidikannya, Aluna terpaksa menerima tawaran pernikahan kontrak dari Kayvan.

Meski terpaut usia dua belas tahun, benih cinta mulai tumbuh di sela-sela kesibukan kuliah Aluna dan jadwal padat Kayvan.

Pada akhirnya, Aluna dan Kayvan membuktikan bahwa cinta bukan tentang siapa yang lebih dulu memiliki, melainkan tentang siapa yang sanggup bertahan dan melindungi dalam diam.

Bagaimana Kelanjutannya??
Yukkk Gass Bacaaaa!!!!!

IG: LALA_SYALALA13
YT: NOVELALAAA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tante Aluna Yang Cantik!

Sebelum Aluna bisa bereaksi Kayvan mengulurkan ibu jarinya, mengusap lembut noda tepung di pipi Aluna.

Gerakan itu lambat dan tatapan mata mereka terkunci, untuk sesaat dunia seolah berhenti.

Jantung Aluna berdegup kencang dan ia bisa melihat pantulan dirinya di mata hitam pekat Kayvan.

"Terima kasih Mas." bisik Aluna dengan suaranya hampir hilang.

Kayvan berdeham dan menarik tangannya kembali.

"Aku akan mandi dulu dan simpan sisanya untuk makan malam."

Pria itu bergegas pergi namun Aluna bisa melihat telinga Kayvan sedikit memerah.

Ia tersenyum kecil. Si CEO kaku itu ternyata bisa menjadi sangat manis.

Malam harinya, setelah makan malam bersama Opa yang terus memuji masakan Aluna, Kayvan memanggil Aluna ke ruang kerjanya.

Aluna masuk dengan ragu, ia melihat Kayvan sedang duduk di balik meja kayu besarnya, dikelilingi tumpukan dokumen.

Namun di atas meja itu ada sebuah kotak kecil berwarna biru beludru.

"Ada apa, Mas?" tanya Aluna.

Kayvan memberi isyarat agar Aluna mendekat, ia membuka kotak itu.

Di dalamnya terdapat sebuah jam tangan pintar yang elegan namun tampak sangat canggih.

"Gunakan ini saat studi lapangan nanti." ucap Kayvan.

"Jam tangan?" seru Aluna sambil mengernyitkan dahinya.

"Ini bukan jam biasa, ada GPS terintegrasi yang terhubung ke ponselku dan ada tombol darurat di sampingnya. Jika terjadi sesuatu tekan selama tiga detik dan tim keamananku akan mendapatkan titik koordinatmu." Kayvan menjelaskan dengan nada profesional.

Aluna menghela napas panjang setelah mendengar ucapan Kayvan.

"Mas, kan sudah janji tidak ada pengawal." ucap Aluna.

"Memang tidak ada pengawal fisik yang mengikutimu dan ini hanya alat, anggap saja ini perhiasan dariku." Kayvan berdiri, mengambil jam itu dan melingkarkannya di pergelangan tangan Aluna.

"Aku tidak akan tenang membiarkanmu pergi ke tempat yang tidak aku kenal tanpa jaminan keamanan."

Aluna melihat jam itu lalu melihat wajah Kayvan yang tampak sangat tulus meski tetap kaku, ia menyadari bahwa ini adalah cara Kayvan mencintainya dengan memberikan rasa aman.

"Baiklah aku akan memakainya, terima kasih Mas." ucap Aluna.

Kayvan tetap memegang tangan Aluna setelah jam itu terpasang.

"Janji padaku dan jangan sampai ponsel atau jam ini mati." seru Kayvan.

"Janji."

Tiba-tiba, Kayvan menarik Aluna sedikit lebih dekat dan memberikan kecupan singkat di keningnya.

"Jangan terlalu akrab dengan pria lain di sana, fokus saja pada studimu."

"Jadi ini alasan sebenarnya Mas membelikan jam ini? Untuk memantau apakah aku bicara dengan pria lain?" ucap Aluna sambil tertawa.

Kayvan tidak menjawab, ia hanya kembali duduk dan pura-pura sibuk dengan dokumennya.

"Tidurlah, besok jadwalmu padat."

Aluna keluar dari ruang kerja dengan perasaan berbunga-bunga, ia baru saja menyadari bahwa di balik sosok CEO yang kaku dan efisien, ada seorang pria yang sangat perhatian, sedikit posesif, dan sangat menghargai hal-hal kecil.

Di dalam kamar Aluna menatap jam di tangannya, ia tahu perjalanan minggu depan bukan hanya sekadar studi lapangan, tapi juga ujian bagi perasaannya.

Ia mulai merindukan Kayvan bahkan sebelum ia pergi.

Sementara itu di ruang kerja, Kayvan menutup dokumennya. Ia menghela napas, menyandarkan punggungnya di kursi.

Fokusnya pecah, Aluna Putri benar-benar telah mengacaukan ritme hidupnya yang teratur dan anehnya, Kayvan sama sekali tidak keberatan dengan kekacauan itu.

...****************...

Malam di mansion Madhava biasanya dihiasi dengan keheningan yang elegan, namun bagi Aluna malam ini terasa lebih hangat.

Di dalam kamar utama yang luas, ia sedang duduk di meja rias, perlahan melepaskan anting-anting yang ia kenakan untuk makan malam keluarga tadi.

Melalui pantulan cermin ia melihat Kayvan baru saja keluar dari ruang kerja pribadinya yang terhubung langsung dengan kamar mereka.

Kayvan melepaskan jam tangan mewahnya dan meletakkannya di atas nakas dengan gerakan yang sangat terukur.

Pria itu menatap Aluna sejenak melalui cermin.

"Tadi malam Papa bicara apa padamu saat aku menelepon di taman?" tanya Kayvan datar, namun ada nada ingin tahu yang terselip di sana.

Aluna menoleh, memberikan senyum tipis.

"Opa hanya bercerita tentang masa kecilmu Mas, katanya dulu Mas Kayvan itu anak yang sangat penurut tapi sangat kaku kalau diajak bicara dengan orang baru tapi ternyata sifat itu tidak berubah ya?" seru Aluna.

Kayvan sedikit mengangkat alisnya.

"Papa memang suka melebih-lebihkan, aku tidak kaku, tapi aku hanya efisien dalam berkomunikasi." ucap Kayvan dengan wajah dingin.

"Efisien ya?" Aluna terkekeh pelan.

"Efisien itu artinya irit bicara?"

Kayvan tidak menjawab, ia justru mendekat dan berdiri di belakang kursi Aluna.

Tangannya yang besar namun bersih menyentuh pundak Aluna yang tertutup piyama satin.

Aluna sempat menahan napas, meskipun mereka sudah beberapa minggu tinggal bersama, sentuhan fisik yang tiba-tiba selalu berhasil memicu detak jantungnya.

"Besok jadwal kuliahmu sampai jam berapa?" tanya Kayvan.

"Hanya sampai jam dua siang Mas, kenapa?" tanya Aluna.

"Aku akan menjemputmu, kita harus ke butik untuk memesan beberapa pakaian formal. Papa ingin kita menghadiri jamuan makan malam kerabat bulan depan." ucap Kayvan.

"Baik Mas." jawab Aluna sambil menganggukkan kepalanya patuh.

Kayvan menatap wajah Aluna di cermin lebih lama, ada kelembutan yang jarang ia tunjukkan pada dunia, namun mulai sering bocor saat ia hanya berdua dengan istrinya.

Ia mengusap puncak kepala Aluna dengan lembut yaitu sebuah gerakan yang kini menjadi cara khasnya menunjukkan perhatian sebelum akhirnya beranjak untuk bersiap tidur.

Keesokan harinya di kampus, suasana terasa lebih meriah dari biasanya bagi Aluna.

Sejak Raline menyebarkan berita yaitu secara tidak langsung bahwa sahabatnya kini sudah resmi menjadi bagian dari keluarga Madhava, perlakuan orang-orang mulai berubah.

Raline sendiri tampaknya masih dalam fase transisi antara senang dan geli melihat sahabatnya kini secara teknis adalah Tante-nya.

"Luna! Eh, maksudku... Tante Aluna yang cantik!" Raline berlari menghampiri Aluna di koridor fakultas dengan wajah jahilnya yang biasa.

Aluna memutar bola matanya.

"Raline, berhenti memanggilku begitu di kampus, aku merasa sangat tua."

Raline tertawa terbahak-bahak sambil merangkul bahu Aluna.

"Tapi itu kenyataannya kan? Kamu sekarang istri Om Kayvan. Oh Tuhan, kalau dipikir-pikir aku jadi ingin tertawa setiap kali melihat wajah serius Om Kayvan saat dia menjemputmu, dia benar-benar seperti singa yang menjaga mangsanya." seru Raline.

"Dia hanya menjalankan tanggung jawabnya, Raline." bela Aluna meski pipinya sedikit merona.

"Tanggung jawab? Luna, Om Kayvan itu orang paling sibuk di Asia Tenggara menurut versiku. Mana ada waktu dia cuma untuk antar-jemput mahasiswi kalau mahasiswi itu tidak sangat spesial baginya? Percayalah padaku, aku ini adiknya selama tiga puluh dua tahun eh, maksudku aku sudah mengenalnya seumur hidupku." seru Raline.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

1
༻♛A̷͙ͭͫ̕ḑ̴̞͛̒ỉ͔͖̜͌r̴̨̦͕̝a̤♛༺
seru🙂
author kenapa kalau bikin cerita itu endingnya kalau ngak gantung pasti tamatnya kurang banget🙂
Sa Ri
ceritanya bagus. tapi rancu. tidak konsisten
Ika Yanti Unyil
ceritanya benar2 benar di alur yang lambat banget.dengan banyaknya pengulangan kata dan kondisi di setiap bab.mohon maaf thor jadinya membacanya ngebosenin.dengan setting latar belakang kamar,ruang makan.dan sesekali kampus.kurang greget dan mengena.meski diawal2 uda bagus dan mengena tetapi karena keseringan di ulang2 masalah sikon yang sama jadi boring.🙏🏽🙏🏽
terus semangat berkarya thor 🥰🥰🥰🥰
Rini Sugiyarti
sambung lg dong💪
Puji Utami
lama2 bikin sebel aja si aluna itu
Rini Sugiyarti
💪💪
Rini Sugiyarti
👍👍👍
Rini Sugiyarti
dingin d luar lumer d dalam👍
Rohmi Yatun
eehh dah tamat aja ni.. btw makasih Thor.. 🙏
Mita Paramita
nih udah tamat Thor 🤨🤨🤨
kirain masih berlanjut. belum mereka punya anak🤣🤣🤣
Sirena Kim
Kirain sampai punya anak huhu
mheldaaa
😭😭😭😭
mheldaaa
please jgn tamat kk ,
𝑮𝒊𝒖𝒍𝒊𝒂𝒏𝒐𝒗𝒂🌷
thor mau tanya, org tua raline kemna?
Evi Lusiana
kayvan hrsny klo mo ngajak kencan istriny walopun cm ngopi² gnti kostum yg lbih sante bkn jas mahal,biar cocok sm luna
Evi Lusiana
kasihan kayvan berkali nenangin nasehatin aluna ttp aj ngeyel insecure di piara
Evi Lusiana
mkny luna hrs sadar jgn issecure tp hrs jd wanita tangguh yg pntas mendampingi kayvan
Evi Lusiana
yg model kayvan justru yg bkin pnasaran,gk murahan
imel
selamat ya Aluna dan Raline
Rusty Susanti
kok ceritanya muter2 thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!