NovelToon NovelToon
Putri Cacat Jadi Konglomerat

Putri Cacat Jadi Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Orang Disabilitas / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:12k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Dibuang oleh darah dagingnya sendiri hanya karena ia terlahir tidak sempurna.

Haruka tumbuh tanpa pelukan orangtua, tanpa tempat pulang. Dunia memandangnya sebelah mata... dihina, direndahkan, dianggap beban yang tak pantas hidup layak. Tapi di tengah semua penolakan itu, ada satu orang yang tak pernah melepaskannya: seorang nenek tua, satu-satunya yang mau memeluknya tanpa syarat.

Dari pelukan itulah tekad Haruka lahir. Ia bangkit, merangkak sejengkal demi sejengkal dari titik terendah, bukan untuk balas dendam, tapi untuk membuktikan satu hal: gadis cacat yang dulu mereka buang, kini akan berdiri lebih tinggi dari siapa pun yang pernah meremehkannya.

Akankah Haruka berhasil membungkam semua yang pernah menghinanya? Atau luka masa lalu akan terus menariknya kembali ke titik nol?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Daftar sekolah

Sejak hari itu, hidup Haruna berubah sepenuhnya. Warna yang dulu memudar dari hari-harinya kini kembali hadir. Dibawa oleh sesosok anak perempuan berkuncir dua yang tak pernah lelah datang berkunjung. Tak ada satu hari pun yang terlewat tanpa kehadiran Kirana... entah bermain boneka di dalam gubuk, membantu Nek Lasmi membungkus peyek, atau sekadar duduk berdua di teras sambil bercerita tentang hal-hal kecil yang membuat mereka tertawa lepas.

Waktu terus berjalan, dan tanpa terasa Haruna kini sudah menginjak usia tujuh tahun. Usia di mana anak-anak lain sudah lama duduk manis di bangku taman kanak-kanak. Namun karena keterbatasan biaya, Nek Lasmi tak pernah mampu menyekolahkan cucunya ke TK.

Meski begitu, kecerdasan Haruna sama sekali tak kalah. Bahkan sering kali melampaui anak-anak seusianya yang sudah mengenyam pendidikan lebih dulu, hasil dari ketekunan Nek Lasmi mengajarinya membaca dan berhitung setiap malam menggunakan ranting kayu di atas tanah, atau kapur tulis yang dibelikan Bu Inah.

Pagi itu, cahaya matahari baru saja menyapa gubuk sederhana mereka ketika Haruna berlari kecil menghampiri Kirana yang baru datang, wajahnya berbinar penuh semangat.

"Kak Kirana! Kak Kirana!" serunya riang, hampir terjungkal karena terlalu bersemangat berjalan cepat dengan kakinya yang tak sempurna.

"Ada apa, sih? Kok heboh banget?" Kirana tertawa kecil, menahan tubuh Haruna yang hampir oleng.

"Nenek mau bawa Haruna daftar sekolah! Hari ini!" jawab Haruna, matanya berbinar penuh harap. "Katanya ada SD deket sini yang gratis!"

Mata Kirana ikut membulat senang. "Beneran? Wah, kalau Haruna sekolah di situ juga, kita bisa sama-sama, dong! Aku kan sekolah di situ!"

"Iya! Haruna juga maunya sekolah bareng Kak Kirana!" sahut Haruna, tertawa gembira sambil menggenggam tangan sahabatnya erat-erat.

Tak lama, Nek Lasmi keluar dari dalam gubuk, sudah rapi mengenakan kebaya lusuh terbaiknya yang biasa ia pakai untuk acara-acara penting. "Ayo, Nak, kita berangkat sekarang biar nggak kesiangan," ajaknya sambil menggandeng tangan Haruna.

Jarak menuju sekolah dasar itu tidaklah dekat. Harus ditempuh dengan berjalan kaki hampir empat puluh menit, melewati jalan setapak berbatu dan sawah yang membentang luas. Namun bagi Haruna, jauhnya perjalanan itu sama sekali tak mengurangi semangatnya. Ia terus bersenandung riang sepanjang jalan, sesekali bertanya kepada neneknya tentang bagaimana rasanya bersekolah nanti.

Sesampainya di sekolah, mereka disambut oleh bangunan sederhana bercat putih yang mulai mengelupas di beberapa sisi, namun tetap terlihat ramai oleh anak-anak yang berlarian di halaman. Nek Lasmi menuntun Haruna menuju ruang tata usaha, tempat pendaftaran murid baru dibuka.

"Selamat pagi, Bu. Saya mau daftarkan cucu saya," ucap Nek Lasmi sopan kepada seorang guru wanita berkacamata yang duduk di balik meja.

Guru itu, Bu Yuli, menatap Haruna sekilas, lalu kembali menatap Nek Lasmi. "Anak ini sebelumnya sekolah TK di mana, Bu?"

"Belum pernah sekolah TK, Bu. Tapi Haruna sudah bisa baca tulis kok, saya ajari sendiri di rumah," jawab Nek Lasmi dengan nada penuh keyakinan.

Bu Yuli mengerutkan kening, menaruh pena di meja dengan gerakan yang terkesan meremehkan. "Wah, kalau begitu agak susah, Bu. Anak-anak yang belum pernah TK biasanya jauh tertinggal dibanding yang lain. Kasihan nanti dia kesulitan mengikuti pelajaran, apalagi kondisi kakinya juga..."

Kalimat itu menggantung di udara. Namun maknanya cukup jelas terdengar oleh siapa pun yang berada di ruangan itu, termasuk Haruna yang duduk di kursi kecil sambil mendengarkan.

Merasa tak terima diremehkan seperti itu, Haruna yang biasanya penurut, kali ini justru bangkit dari duduknya, melangkah maju dengan berani. "Bu Guru, boleh Haruna buktikan kalau Haruna bisa?"

Bu Yuli tampak terkejut mendengar anak kecil di hadapannya berbicara dengan begitu percaya diri. "Buktikan bagaimana maksudnya, Dek?"

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Haruna menunjuk ke arah papan pengumuman di dinding yang berisi beberapa kalimat panjang. "Haruna bisa baca itu, Bu." Dengan lancar, Haruna mulai membaca setiap kata yang tertera di papan itu, suaranya jelas dan tanpa terbata sedikit pun.

Bu Yuli dan seorang guru lain yang kebetulan lewat saling melempar pandang, tak menyangka dengan apa yang baru saja mereka saksikan.

"Haruna juga bisa berhitung, Bu," lanjut Haruna, lalu tanpa diminta ia mulai menyebutkan perkalian sederhana, bahkan menghitung pengurangan dan penjumlahan angka-angka besar dengan cepat, hasil dari latihan tanpa lelah bersama Nek Lasmi setiap malam menggunakan biji-bijian sebagai alat bantu hitung.

"Ini juga," Haruna mengambil pena dan kertas yang ada di meja, lalu menuliskan namanya sendiri dengan huruf sambung yang rapi, disusul beberapa kalimat pendek lainnya.

Ruangan itu mendadak sunyi, hanya suara pena Haruna yang bergesekan dengan kertas. Bu Yuli menatap tulisan itu dengan mulut sedikit menganga, tak percaya dengan kemampuan yang ditunjukkan anak yang baru saja ia remehkan.

Setelah selesai, Haruna meletakkan pena itu, menatap Bu Yuli dengan senyum penuh kepuasan. "Haruna memang nggak pernah sekolah TK, Bu. Tapi Haruna punya keinginan buat jadi pintar. Jadi Haruna belajar sendiri sama Nenek setiap malam."

Bu Yuli terdiam sesaat, wajahnya memerah menahan malu. "Maaf, ya, Dek... Ibu Guru salah menilai kamu," ucapnya akhirnya, suaranya melembut. Ia menoleh kepada Nek Lasmi. "Baik, Bu, saya akan proses pendaftarannya sekarang. Haruna bisa langsung masuk kelas satu."

Wajah Haruna langsung berbinar cerah, hampir melompat kegirangan andai kakinya memungkinkan. "Beneran, Bu? Haruna diterima?"

"Iya, diterima," jawab Bu Yuli, tersenyum tulus kali ini.

Nek Lasmi mendekap Haruna erat-erat, air mata haru menggenang di pelupuk matanya. "Alhamdulillah, Nak. Akhirnya Haruna bisa sekolah."

Kebahagiaan Haruna semakin lengkap begitu mengetahui bahwa sekolah itu adalah sekolah yang sama dengan Kirana. Sepanjang perjalanan pulang, ia tak berhenti bercerita riang kepada neneknya, membayangkan hari-hari indah yang akan ia lalui bersama sahabat terbaiknya itu.

Sesampainya di gubuk, Kirana sudah menunggu di depan pintu, duduk di atas batu besar sambil memeluk sebuah kantong kresek putih.

"Gimana, gimana? Diterima, nggak?" tanya Kirana tak sabar begitu melihat mereka datang dari kejauhan.

"Diterima, Kak! Haruna diterima sekolah!" seru Haruna riang, berlari-lari kecil menghampiri sahabatnya.

Kirana bersorak gembira, lalu menyerahkan kantong kresek yang sedari tadi ia genggam. "Nih, buat Haruna. Seragam bekas punya Kakak, tapi masih bagus, kok, kayak baru!"

Haruna membuka kantong itu dengan mata berbinar. Menemukan seragam putih-merah yang meski sudah pernah dipakai, terlihat masih sangat rapi dan bersih. "Wah, bagus banget, Kak! Makasih, ya!"

"Belum abis," Kirana tersenyum lebar, mengeluarkan sebuah tas ransel bermotif putri-putrian dengan warna merah muda cerah. "Ini juga buat Haruna. Tas baru, belum pernah dipakai. Kakak sengaja beli, soalnya tahu Haruna suka princess."

Mata Haruna langsung berkaca-kaca, kali ini bukan karena sedih, melainkan haru yang meluap tak tertahankan. Ia mendekap tas itu erat-erat ke dadanya, seolah benda itu adalah harta paling berharga yang pernah ia miliki.

"Makasih, Kak Kirana," bisik Haruna, suaranya bergetar penuh rasa syukur. "Haruna janji, Haruna bakal sekolah yang rajin, biar bisa terus main sama Kak Kirana setiap hari."

Kirana tersenyum lebar, merangkul bahu sahabatnya. "Iya! Kita sekolah bareng-bareng terus, ya, sampai kapan pun!"

Di bawah naungan langit sore yang mulai jingga, dua anak perempuan itu berpelukan erat, tertawa bahagia, tak menyadari bahwa persahabatan tulus yang mereka rajut sejak kecil itu kelak akan menjadi salah satu kekuatan terbesar yang akan menopang Haruna dalam menghadapi berbagai badai kehidupan yang masih menantinya di masa depan.

1
Muft Smoker
aq cuma bisa kasih semangat buat Haruna ,, kekurangan mu gx bakal jd penghalang kesuksesan mu ,,
Ilfa Yarni
sedih aku bacany hiks klo Haruna kemakam sedih banget
Ilfa Yarni
semangat haruna wujudkan mimpimu jd orang sukses agar nenekmu bahagia diatas sana
Muft Smoker
wooah semangat trus harunaa ,,
mungkin ni langkah yg bkal jlan km bisa lebih mudah ,,
Ilfa Yarni
emang gmn cara km tes drive
Muft Smoker
test Drive ,, test Drive ,, Dy fikir si Haruna sirkuit Mandalika kali yx/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ilfa Yarni
jgn coba comblangin haruna dgn laki2 lain ya vania
Sayekti 0519
bukannya tobat ,malah laknat.seharusnya ada jln untuk sadar.terima dengan niat baik
Ilfa Yarni
awas ya reynan jgn sampe luluh km
Muft Smoker
astgaaaa ,,
jgn nangis kalo d tolak yx neng ,,
aq yg maluuu looo km bgtuuu😹😹😹🫣🫣🫣🫣🫣🫣
Sayekti 0519
ngerawat nenek lah.balas budi.kuliah bisa menyusul.
Muft Smoker
semoga Bagas cepat dpat karma ny ,,
Ilfa Yarni
aku ingin bagas cepat hancur jahat banget jadi manusia
Muft Smoker
tunggu karma menghampiri mu Bagas ,,
Ilfa Yarni
dasar orangtua jahat tunggu lah kehancuranmu suatu saat keboho ganmu terbongkar
Muft Smoker
semangat Haruna ,, jgn biarkan pak Bagas meremehkan mu ,,
buktikan KLO km mampu melewati semua ujian hidup km meski d tengah keterbatasan fisik
Ilfa Yarni
Ya ampun ga nyangka Ada orangtua yg seperti ini aku doakan Haruna cepat jadi konglomerat Dan bagas hancur oleh perbuatannya sendiri
Muft Smoker
yakin laa reynan kalo Haruna bakal bisa melewati semua ini ,, udh banyak pahit kehidupan yg di lalui haruna ,,
meski berat km harus bisa jd support sistem ny Haruna ,,
Ilfa Yarni
tenang aja reynan haruna akan membuktikannya klo dia bisa sukses km cukup doakan saja dan of saat nya tiba bagas akan menyesal perbuatannya
Ilfa Yarni
nah lol feeling ga ya nyonya larasati pd Haruna bahwa Haruna adalah ank kandungnya biasanya antara ibu Dan ank itu Ada ikatan bathin yg kuat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!