Pada tahun 1940-an di Jayakarta, Bella Anastasya, seorang pemburu jejak (tracker) tangguh, bertaruh nyawa demi mencari ibunya yang hilang secara misterius selama sepuluh tahun.
Demi melacak petunjuk, Bella terpaksa bekerja sama dengan Gilang Fahrezi, pengusaha kaya pemilik jaringan informan terbesar di kota. Penelusuran berdarah ini membawa mereka menyusup ke fasilitas militer rahasia, tempat eksperimen parasit ilegal yang mengubah manusia menjadi monster mengerikan. Di sana, Bella harus berjuang melawan ancaman monster sekaligus menghadapi kenyataan pahit tentang takdir sang ibu.
akankah Bella menemukan sang Ibu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Pintu Bar Cahaya Bulan terdorong terbuka. Langkah kaki Gilang terayun membawa tubuhnya keluar, menyongsong riuhnya jalanan kota.Tepat di depan bar, sosok pria bertopi dan berbaju hitam yang tadi mengantarnya dan sempat ia perlakukan layaknya sopir pribadi tampak sudah bersiap di tepi trotoar.
Mungkin untuk kali ini, Gilang harus kembali menganggap pria itu sebagai sopir pribadinya.
Tatapan mata-mata itu tertuju lurus pada Gilang.
"Oh, kebetulan aku mau pulang sekarang. Bisa antar aku?" perintahkan Gilang santai. Tanpa menunggu jawaban, ia mendahului melangkah menuju mobil Jeep hitam yang terparkir.
Mata-mata itu tak langsung bergerak. Ia memandangi Gilang sejenak, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling, memastikan tidak ada satu pun anak buah Ichikawa yang mengawasi gerak-gerik mereka.
Suara derit pintu Griya Harta Emas terdengar saat Gilang melangkah masuk. Dari arah dalam, Bibi Sinta bergegas menghampiri.
"Kau sudah kembali?" sapa Bibi Sinta mendekat.
"Oh, Bibi Sinta... masih di sini?" tanya Gilang menghentikan langkah.
"Sebenarnya aku sengaja menunggumu, Mas Gilang," ujar Bibi Sinta pelan. Matanya sedikit bergerak ragu. "Aku sempat bicara dengan Pandi. Dia mengenalkanku pada sepasang detektif. Katanya, mereka sangat ahli dalam melacak keberadaan orang hilang."
Garis pandang Bibi Sinta beralih ke sudut ruangan, membuat Gilang ikut menoleh. Di sana, berdiri seorang pria paruh baya mengenakan kupluk. Tepat di sampingnya, seorang wanita bertopi menundukkan kepala.
Gilang tertegun. Dua orang itu adalah Bella dan ayahnya. Padahal belum ada sejengkal waktu berlalu sejak percekcokan hebat mereka tadi, kini takdir justru mempertemukan mereka kembali di dalam kediamannya sendiri.
Tak lama kemudian, mereka semua sudah duduk mengitari meja makan. Uap hangat mengepul tipis dari teh yang dituangkan Bibi Sinta dari poci keramik putih.
Bella melirik tajam, melempar tatapan sinis yang menghujam langsung ke arah Gilang. Merasakan intimidasi itu, Gilang memilih menunduk sebentar sebelum akhirnya mengangkat wajah, menatap ayah Bella.
"Jadi... bagaimana cara kalian bekerja mencari orang hilang?" tanya Gilang memecah hening.
"Metode kami menyesuaikan kondisi di lapangan," jawab ayah Bella tenang.
"Tapi bukankah harusnya ada metode baku? Pendekatan khusus, mungkin?" Gilang menggeleng pelan, rasa penasarannya tak bisa disembunyikan. "Maksudku... metode apa pun yang pasti berhasil?"
Bella menghembuskan napas jengkel sambil memutar manik matanya.
"Prinsip kami cuma satu: pantang menyerah," tegas ayah Bella dengan raut wajah amat serius. "Kami mengejar petunjuk sampai ke ujung bumi sekalipun."
Gilang menyandarkan punggung, mengetuk jari di meja. "Hmm... dari sekian banyak kasus, berapa yang berhasil kalian temukan?" tanyanya menyindir.
"Kalau tidak percaya, lupakan saja!" cetus Bella ketus. Ia berdiri, bersiap mengangkat kaki dari sana.
"Ini terkait masalah penting, Bella," potong Gilang cepat.
Langkah Bella terhenti. Ia menoleh, menatap Gilang dari balik bahunya.
"Memastikan kualitas itu hal yang wajar dalam bisnis, kan?" tambah Gilang datar.
"Kami tidak berminat melayani tes tidak berguna seperti ini," sembur Bella. Ia yakin betul Gilang hanya sedang mempermainkan mereka.
Namun, sang ayah justru menahan langkah putrinya dan menjawab jujur, "Dalam sepuluh tahun terakhir, kami menangani sekitar dua ratus kasus. Dari jumlah itu, seratus empat puluh orang berhasil kami temukan. Termasuk... yang sudah dalam keadaan tewas."
"Ayah tidak perlu menjawab pertanyaan si Sampah ini! Dia bukan siapa-siapa di Jayakarta!" maki Bella tanpa tedeng aling-aling.
"Bella!" tegur ayahnya bernada memperingatkan.
"Aku menolak bekerja sama dengannya, Yah!" Bella bersedekap, enggan mengalah.
Gilang hanya menyilangkan kaki dengan santai, mengamati raut sengit di wajah wanita di hadapannya. Bibi Sinta yang duduk di sampingnya hanya bisa kebingungan. Ia tidak tahu-menahu perselisihan apa yang terjadi di antara mereka berdua semalam hingga Bella terbakar emosi seperti itu.
"Mas... kamu apakan dia sampai sebal begitu?" bisik Bibi Sinta amat pelan.
Gilang menggeleng polos, lalu mengibaskan tangan. "Nggak ada, Bi. Aku cuma bilang... mata dia indah," jawabnya setengah berbisik, memasang senyum jahil.
Seketika raut wajah ayah Bella berubah keruh. Merasa dilecehkan, ia berdiri tegak. "Ayo pergi, Bella."
"Sachimoto... yang kalian cari, kan?" celetuk Gilang tiba-tiba.
Langkah ayah dan anak itu mendadak terhenti. Mereka berbalik serentak.
"Pria Jepang, usia pertengahan tiga puluhan, seorang seniman," lanjut Gilang santai.
"Bukannya kau bilang tidak sudi mengurusi informasi tingkat rendah?" cibir Bella, matanya menyipit tajam.
Gilang bangkit dari kursinya. Ia melangkah perlahan mengikis jarak, menatap lurus ke dalam iris mata Bella. "Secara prinsip, memang tidak. Tapi situasi terkadang memaksa."
"Kalau berubah tergantung situasi, itu bukan prinsip. Itu anomali," tembak Bella afirmatif.
"Sebut saja fleksibilitas di saat mendesak."
"Atau mungkin... karena kau terdesak butuh uang imbalan?" tawar Bella dingin.
Gilang menghentikan langkahnya, terkekeh samar. "Aku memang seputus asa itu."
"Kau bukan cuma putus asa. Kau menyedihkan, tahu?" maki Bella lagi, tatapannya menyalang tajam.
Gilang tertawa kecil, mengangkat satu tangannya santai. "Dengar ya... Di Jayakarta ini, tidak ada yang punya jaringan orang Jepang seluas aku. Mau itu jenderal pemerintahan, pengusaha kaya, dokter, atau hakim... koneksiku menyebar di mana-mana."
Kata-kata sombong itu justru memancing emosi mendalam di dada Bella. Matanya mulai berkaca-kaca. "Kalau memang aksesmu sejago itu... harusnya kau bisa menemukan Emma sendiri!" suaranya bergetar.
Keheningan merayap. Tatapan Gilang terkunci pada Bella.
Ia mengangguk pelan. "Itu kalau dia masih hidup. Biasanya, begitu jaringanku bergerak, petunjuk akan muncul dalam hitungan jam," gumam Gilang dengan pandangan mendadak kosong. "Tapi sampai detik ini... aku belum mendengar kabar apa pun."
Ayah Bella mendekat, wajah mewakili prasangka buruk yang sama. "Mungkinkah... dia sudah tewas?"
Gilang mengalihkan pandangannya, menatap pria paruh baya itu. "Bagaimanapun caranya, tolong cari dia," pinta Gilang, nada kesombongannya luntur seketika. "Sementara kalian mencari Emma, aku yang akan memburu informasi tentang Sachimoto."
"Tidak perlu. Kami bisa tangani urusan kami sendiri," potong Bella dingin, berbalik untuk benar-benar pergi.
"Kau sedang mencari ibumu, kan?"
Pertanyaan Gilang menghentikan gerakan Bella. Wanita itu berbalik lambat, kembali berhadapan dengan Gilang.
"Aku yakin bisa membantu. Aku jamin," tegas Gilang pelan namun penuh penekanan.
Melihat keseriusan di mata Gilang, pria berkupluk itu maju melangkah. "Boleh aku bertanya satu hal?" Ia menatap Gilang dalam-dalam. "Sebenarnya... Anda ini orang baik atau orang jahat?"
Gilang melempar pandangannya ke langit-langit ruangan. Ia menarik napas panjang, menahan genangan air yang mendadak menumpuk di pelupuk matanya. Memory pahit masa kecil saat kehilangan ibunya sendiri menghantam dada tanpa ampun. Ia tahu persis bagaimana rasanya bertahun-tahun hidup dalam keputusasaan seperti yang dirasakan Bella saat ini.
Gilang menunduk, mengusap kabut di matanya sebelum menatap mereka kembali. "Aku... cuma orang yang bertekad untuk bertahan hidup."
Bella dan ayahnya tertegun. Suasana di dalam ruang makan itu mendadak hening seketika.
"Berapa lama waktu yang kami punya?" tanya ayah Bella akhirnya, luluh.
"Ayah..." bisik Bella pelan, kaget dengan keputusan sang ayah.
Gilang berdiri bergeming. Tatapannya lurus menerawang ke depan, menyembunyikan kerapuhan di balik wajah datarnya.
"Sampai... bunga sakura gugur," ucapnya lirih.