NovelToon NovelToon
Cuma Kamu

Cuma Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:751
Nilai: 5
Nama Author: Fazry Fazriyah

"Cinta tidak pernah tentang siapa yang datang paling awal, melainkan tentang siapa yang bertahan hingga akhir. Dan untuk semua rasa nyaman serta bahagia yang ia cari selama ini, jawabannya cuma kamu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Terbongkar

Dentuman musik electronic dance berdetak kencang, memantulkan gelombang spektrum lampu neon warna-warni yang membelah kegelapan klub malam bernuansa eksklusif itu.

Di salah satu sudut sofa VIP, Bianka menyesap minumannya sembari menyandarkan tubuh. Di sisinya, Serli dan Viona dua sahabatnya, tampak asyik bergoyang mengikuti irama bas yang menggelegar.

"Bi, cheers dulu dong! Muka kamu cemberut gitu dari tadi, rugi tahu udah dandan cantik gini tapi masih kepikiran masalah rumah!" seru Viona setengah berteriak, berusaha mengalahkan riuhnya musik.

Bianka menghela napas panjang, memutar-mutar gelas di tangannya.

"Gimana enggak kesel, Vi? Papi tuh selalu aja milih kasih. Mau gue sukses dapat kontrak mahal juga tetep aja si anak kesayangannya yang disanjung-sanjung!"

Serli menyikut lengan Bianka pelan, lalu memajukan tubuhnya. "Duh, udah deh... lupain dulu si kakak kesayangan itu. Mending lu lirik ke arah kesana tuh!... Ada cowok ganteng banget baru masuk area VIP, Bi!"

Refleks, mata Bianka mengikuti arah dagu Serli. Seketika, kekesalannya menguap. Seandainya detak jantungnya bisa terdengar, mungkin akan bersaing ketat dengan suara bas klub malam itu.

Seorang pria tinggi tegap dengan kaos hitam yang dipadupadankan jaket denim, berjalan santai melintasi lorong sofa. Garis wajahnya tegas, dipadu gaya rambut yang tertata rapi.

Zahira dalam ingatan Bianka langsung berputar cepat. Pria itu pria yang pernah membuatnya terpana saat ia berada di showroom mobil mewah beberapa minggu lalu.

"Itu kan..." bisik Bianka, otaknya bekerja cepat. Rezvan! Pria pemilik showroom itu!

Tak ingin melewatkan kesempatan emas yang belum tentu datang dua kali, otak cerdik Bianka langsung menyusun taktik seketika. Ia menyambar gelas jus di mejanya, memegang ujungnya dengan agak longgar.

Tepat saat Rezvan melintas hanya berjarak semeter dari mejanya, Bianka sengaja berdiri secara mendadak sambil mengayunkan tangannya pelan.

"Ups!"

Jus di gelasnya tumpah membasahi gaun dan tangannya. Bersamaan dengan itu, Bianka pura-pura kehilangan keseimbangan, kakinya terantuk tepi sofa.

"Eh—awas!"

Dengan refleks yang sangat cepat, lengan kekar Rezvan menangkap pinggang Bianka sebelum tubuh wanita itu menyentuh lantai. Dalam hitungan detik, tubuh Bianka mendekap erat dada bidang Rezvan.

Pandangan mereka saling bertautan di bawah pendar redup lampu neon biru. Detik seolah berjalan lambat.

Bianka menatap manik mata tegas milik Rezvan dari jarak yang begitu dekat, sementara Rezvan menatap raut wajah Bianka yang berpura-pura terkejut sekaligus panik.

"Kamu enggak apa-apa?" tanya Rezvan dengan suara beratnya yang tenang, tetap menahan tubuh Bianka hingga posisinya stabil.

Bianka buru-buru menegakkan tubuhnya, pura-pura canggung sembari merapikan gaunnya yang sedikit basah di bagian depan.

"A-aku enggak apa-apa... Aduh, maaf ya. Gaun aku ketumpahan jus, jadi licin dan hampir jatuh."

Rezvan memperhatikan gaun Bianka sejenak, lalu matanya menatap lekat wajah wanita di hadapannya. Kerutan tipis muncul di dahinya.

"Tunggu... muka kamu rasanya enggak asing. Kita pernah ketemu sebelumnya?"

Senyum tipis dan menggoda terukir di bibir Bianka. Ia mengetuk dagunya pelan dengan telunjuk, berpura-pura mengingat.

"Hmm... kalau enggak salah, kamu pak Rezvan, kan? Yang pemilik showroom mobil waktu itu? Yang sempat kasih kartu nama ke aku?"

Rezvan menaikkan sebelah alisnya, lalu sebuah senyuman tipis dan menawan terbit di wajahnya.

"Ah, benar! Kamu wanita yang waktu itu? Dunia sempit juga ya."

Serli dan Viona dari belakang hanya bisa saling melirik dan menahan senyum nakal melihat akting sahabatnya yang sangat mulus.

"Iya, sempit banget," sahut Bianka lembut, menatap Rezvan penuh binar. "Sebenernya gaun aku basah begini rada bikin ketakutan sih... tapi untung ada Mas Rezvan yang sigap nangkep. Thanks ya."

"Sama-sama. Lagian refleks aja tadi," jawab Rezvan ramah. "Ngomong-ngomong, waktu di showroom kita belum sempat bertukar nomor telepon, kan? Karena suasana di sini agak bising, jus tumpah tadi kayaknya pertanda kita harus ngobrol lebih lanjut di tempat yang lebih tenang kapan-kapan."

Jantung Bianka rasanya ingin meloncat kegirangan, namun ia tetap menjaga gesturnya agar terlihat anggun dan tidak murahan.

"Boleh banget," ujar Bianka manis sembari mengeluarkan ponselnya. "Sini, ketik nomor pak Rezvan di ponselku."

Rezvan menerima ponsel Bianka, mengetikkan deretan angka lalu menekan tombol panggil ke ponselnya sendiri sebelum mengembalikannya. "Sudah masuk ya. Nomor aku sudah tersimpan. Panggil saya Rezvan aja, biar terdengar akrab."

"Oke, makasih ya, Rezvan. Nanti aku chat," tutur Bianka dengan nada manja yang pas.

"Pasti. Ya sudah, saya ke meja teman dulu di sana. Enjoy your night, Bianka," pamit Rezvan sembari menepuk pelan bahu Bianka sebelum berlalu pergi.

Sepeninggal Rezvan, Bianka langsung berbalik ke arah Serli dan Viona dengan senyum puas yang mengembang lebar di wajahnya.

Ia memeluk ponselnya di dada. Umpan sederhana tadi terbukti berhasil total membawanya masuk ke dalam jangkauan pria idaman yang sudah lama mengusik pikirannya.

.

.

Keesokan paginya, suasana Divisi Keuangan Mersi Corporation di lantai 8 terasa jauh lebih mencekam dari biasanya. Dengung mesin pendingin udara dan dentik papan ketik seolah tertutup oleh desas-desus yang menjalar cepat di antara kubikel.

Zahira baru saja meletakkan tasnya ketika Maya menggeser kursinya mendekat dengan raut wajah panik.

"Ra, kamu udah denger belum?" bisik Maya setengah bergidik, matanya melirik ke arah lorong utama.

"Denger apa, May?" Zahira merapikan kerah kemejanya, tetap tenang.

"Bu Imelda dari tadi pagi udah masuk ke ruangannya Pak Damian. Dan dari luar, kedengeran banget suara Bu Imelda lagi menceritakan rekapitulasi kemarin. Kayaknya dia balik nyerang kamu, Ra!"

Belum sempat Zahira menanggapi, pintu kaca ruang direksi di ujung lorong terbuka. Imelda keluar dengan dagu terangkat, disusul oleh Pak Damian yang melangkah tegas menuju area kubikel. Wajah sang Direktur tampak sangat serius.

"Zahira, ikut saya ke ruangan sekarang. Bawa semua berkas audit fisik dan digital yang kamu kerjakan kemarin," panggil Pak Damian, suaranya tenang namun dingin tak terbantahkan.

Beberapa staf mulai saling senggol. Imelda menyilangkan tangan di dada, melempar senyum miring yang penuh kemenangan ke arah Zahira saat wanita muda itu berdiri dari kursinya.

"Paling juga mental staf baru yang sotoy," cibir Imelda pelan, cukup keras untuk didengar orang-orang di sekitarnya.

Zahira tidak membalas. Ia mengambil map tebal merah dan laptopnya, melangkah mantap menyusuri lorong menuju ruang kerja Direksi.

Pintu kayu jati itu tertutup rapat. Pak Damian duduk di balik meja kerjanya yang luas, sementara Imelda berdiri di sampingnya dengan muka dibuat-buat prihatin.

"Zahira," buka Pak Damian, menopang jemarinya di atas meja. "Bu Imelda baru saja melaporkan bahwa kamu melakukan kecerobohan dalam membaca data impor dari PT Indo Nusa Cipta. Katanya, selisih harga lima belas persen yang kamu temukan itu sebenarnya adalah diskon kuantitas resmi yang sudah disetujui bulan lalu, dan tuduhanmu soal selisih pajak bisa merusak nama baik divisi."

Zahira menatap Pak Damian lurus, lalu melirik Imelda yang berpura-pura menghela napas berat.

"Benar begitu, Bu Imelda?" tanya Zahira lembut, namun penuh penekanan.

"Tentu saja!" tangkas Imelda cepat. "Kamu itu staf baru, Zahira! Baru dua hari kerja sudah merasa paling tahu segalanya. Kamu membikin ketegangan di divisi hanya karena ketidakmampuanmu memahami skema diskon vendor!"

Zahira mengangguk pelan. Ia meletakkan map merah di meja Pak Damian dan membuka laptopnya.

"Pak Damian, boleh saya tunjukkan sesuatu?" ujar Zahira tenang. Tanpa menunggu jawaban Imelda yang hendak memotong, Zahira memutar layar laptopnya ke arah Pak Damian.

"Jika itu memang diskon kuantitas resmi, maka seharusnya ada Lampiran Addendum B yang terdaftar di sistem pusat perpajakan Mersi Corp sebelum barang dikirim dari Vietnam. Tapi coba Bapak periksa log sistem ini." Zahira mengetuk salah satu baris kode di layar.

"Dokumen penyesuaian harga itu baru diunggah tadi pagi jam delapan lewat sepuluh menit menggunakan ID User milik Bu Imelda sendiri, tepat setelah saya menemukan kejanggalan tersebut kemarin siang."

Seketika, raut wajah Imelda membeku. Warna merah padam merayapi lehernya.

"K-kamu... kamu meretas sistem?!" gagap Imelda, suaranya meninggi penuh kepanikan.

"Saya tidak meretas, Bu. Saya hanya memeriksa audit trail digital yang memang menjadi hak akses tim verifikasi data," sahut Zahira tegas. Zahira kemudian membuka map fisik dan menyodorkan sebuah lembar dokumen.

"Dan ini dokumen faktur asli bersumber dari pihak bea cukai pelabuhan. Angka perpajakannya utuh tanpa ada potongan diskon satu persen pun. Artinya, uang lima belas persen selisih itu tidak pernah dipotong dari vendor, melainkan dialirkan ke rekening penampung pribadi atas nama firma cangkang."

Pak Damian menarik dokumen tersebut. Matanya membelalak membaca rincian transaksi serta stempel verifikasi yang otentik. Bintik keringat dingin mulai bermunculan di dahi Imelda.

"Imelda..." suara Pak Damian terdengar bagai bisikan maut. Pria itu mendongak, menatap Manajer Keuangannya dengan kekecewaan mendalam. "Bisa kamu jelaskan kenapa ID User kamu melakukan pengubahan data secara terburu-buru tadi pagi?"

"P-Pak Damian, ini... ini jebakan! Budak baru ini pasti memanipulasi—"

"Cukup!" bentak Pak Damian seraya memukul meja. "Saya tidak bodoh, Imelda! Bukti digital dan fisik ini sudah lebih dari cukup."

Pak Damian menarik napas panjang, merapikan dokumen di mejanya, lalu menatap Imelda tanpa belas kasihan. "Kembali ke ruanganmu. Serahkan seluruh akses sistemmu ke Zahira detik ini juga. Tim audit independen dan Divisi Legal akan mendampingimu sampai proses pemeriksaan selesai."

Imelda mematung, lututnya bergetar hebat. Dengan wajah pucat pasi dan kehormatan yang hancur berkeping-keping, ia berbalik dan melangkah keluar ruangan dengan gontai.

.

.

Di dalam ruangan, Pak Damian mengalihkan pandangannya pada Zahira. Ada pendar rasa bangga dan kagum yang tak bisa disembunyikan dari mata sang manajerial senior.

"Kamu punya kecerdasan dan ketenangan yang luar biasa, Zahira," puji Pak Damian tulus. "Mersi Corporation beruntung punya staf seperti kamu."

Zahira tersenyum tipis dan membungkuk sopan. "Saya hanya menjalankan tugas dengan jujur dan profesional, Pak."

1
sunaryati jarum
Semoga lulus dengan nilai sempurna dengan predikat Cumlaude, Zahira
fazry_fazriyah: aamiin....

terima kasih doakan selalu Zahira ya
total 1 replies
Best
apa sih si Imelda ini, jahat
Best
Mampir lagi Thor. semangat up ceritanya...✨
Best
lanjut Thor... semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!