NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang Mafia

Istri Kontrak Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mafia / CEO
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: ocha Via

Hidup tidak pernah mudah bagi Alya, dan menjadi jauh lebih berat sejak *ibunya meninggal saat Alya baru berumur 12 tahun.*

Sejak hari itu, Alya yang masih kelas 6 SD harus langsung menjadi ibu untuk adik-adiknya. Ia yang menyuapi Dinda yang masih balita, ia yang menemani Bima yang masih di dalam kandungan saat ibunya meninggal.

Karena itulah, ia tidak pernah merasakan masa remaja. Tidak ada waktu untuk manja.

Tinggal di rumah sederhana bersama ayah dan kedua adiknya, Alya adalah anak pertama yang harus menjadi tulang punggung keluarga. Ayahnya yang sejak ditinggal istrinya semakin sering sakit-sakitan membuat keadaan ekonomi mereka semakin sulit.

Jadi pernikahan kontrak itu bukan hanya untuk pengobatan ayahnya, tapi juga rasa bersalahnya karena merasa gagal menggantikan posisi ibunya untuk Dinda dan Bima.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fitnah di Lantai 42

Hari ke-11. Seharusnya jadi hari tenang pertama setelah kontrak disobek.

Pagi jam 08.00, Alya masuk ke lantai 42 Virel Corp dengan senyum. Semalam ia tidur di pelukan Rafael tanpa batas bantal. Rasanya masih berbekas. Ia bahkan memakai lipstik sedikit hari ini.

Tapi begitu pintu lift terbuka, semua mata menatapnya.

Bukan tatapan kagum seperti biasanya. Tatapan sinis. Bisik-bisik.

"Eh itu dia... istri kontrak..."

"Katanya 2 Miliar lho..."

"Matre banget ya..."

Alya membeku. Langkahnya berhenti di depan meja resepsionis.

Di layar TV besar di pantry, yang biasanya menampilkan harga saham Virel, kini menampilkan foto... foto kertas kontrak pernikahannya.

Foto yang jelas-jelas diambil diam-diam sebelum disobek Mama Olivia. Ada tulisan Pasal 1, Pasal 2, Pasal 3, dan tanda tangan Alya serta Rafael. Di bawahnya ada caption besar dibuat oleh seseorang:

*"TERBONGKAR! ISTRI CEO VIREL HANYA ISTRI BAYARAN 2 MILIAR! PERNIKAHAN PALSU!"*

Jantung Alya jatuh.

Sinta.

Hanya Sinta yang pernah masuk ke penthouse dan punya akses ke meja kerja Rafael saat Alya tidak ada. Dan hanya Sinta yang punya dendam.

Seperti dipanggil, Sinta keluar dari ruang HRD dengan senyum menang, memakai blazer merah menyala. Ia bertepuk tangan pelan.

"Wah, selamat pagi, Nyonya Virel yang terhormat. Atau harusnya saya panggil Nyonya Kontrak?"

Seluruh karyawan lantai 42 berhenti bekerja dan menonton.

"Apa maksud kamu, Sinta?" suara Alya bergetar.

"Maksud saya? Saya hanya membuka kebenaran! Kasihan Pak Rafael, dijebak sama cewek miskin dari Tebet yang butuh uang buat bapaknya! 2 Miliar lho, Alya! Harga yang mahal untuk satu tahun tidur sama Pak Rafael, ya?" Sinta tertawa keras. "Pantas saja bisa langsung jadi Nyonya, ternyata beli!"

Alya gemetar. Air matanya mulai menggenang. Ia ingin lari, tapi kakinya lemas. Semua orang merekam dengan HP.

"Pernikahan kalian itu palsu! Kamu itu bukan istri! Kamu itu—"

BRAK!

Pintu lift private Rafael terbuka dengan kasar.

Rafael masuk. Wajahnya dingin sedingin es kutub. Kemeja hitam, jas hitam, perban di tangannya sudah lepas, tapi bekas lukanya masih ada. Di belakangnya, Pak Hendra, kepala legal, membawa map.

Ruangan yang tadi berisik langsung senyap total. Tidak ada yang berani bernapas.

Rafael berjalan pelan melewati karyawan yang otomatis minggir. Ia berhenti di depan TV besar yang menampilkan foto kontraknya. Ia menatap foto itu lama, lalu menatap Sinta.

"Sinta Amelia," panggil Rafael dengan suara pelan, tapi semua orang dengar. "Kamu yang sebar ini?"

Sinta yang tadinya berani, langsung ciut melihat tatapan Rafael, tapi ia masih berusaha tegar.

"Saya hanya memberitahu kebenaran, Pak! Karyawan berhak tahu kalau Bapak ditipu! Dia—"

Rafael mengangkat tangannya, menyuruh Sinta diam.

"Hendra," kata Rafael tanpa menoleh.

Pak Hendra maju dan menyalakan layar TV yang sama, tapi mengganti tampilannya. Kini muncul rekaman CCTV.

Rekaman CCTV kamar kerja Rafael, tanggal 3 hari yang lalu. Terlihat jelas Sinta masuk diam-diam saat Bu Ratna keluar, membuka laci meja kerja Rafael, memfoto map hitam itu dengan HP-nya, lalu tersenyum licik.

Seluruh lantai 42 terkejut.

"Fitnah pertama: menyebarkan dokumen rahasia perusahaan dan rumah tangga CEO tanpa izin," kata Pak Hendra dengan suara lantang. "Fitnah kedua: pencemaran nama baik istri CEO."

Sinta pucat. "Pa-Pak... itu—"

Rafael berjalan mendekat ke Alya yang masih berdiri gemetar di tengah kerumunan. Ia tidak peduli pada ratusan mata yang menonton. Ia melepas jas hitamnya dan memakaikannya ke bahu Alya yang gemetar.

Lalu, di depan semua orang, Rafael merangkul pinggang Alya dengan erat dan menariknya ke pelukannya.

"Perkenalkan," kata Rafael dengan suara keras, jelas, dan penuh amarah posesif yang belum pernah karyawan dengar. "Ini istri saya, Alya Virel. Nyonya Virel."

Ia menatap satu per satu karyawan yang tadi berbisik.

"10 hari yang lalu, saya memang menikahinya dengan kontrak. Saya yang butuh dia. Saya yang tawar dia 2 Miliar. Bukan dia yang matre, tapi saya yang tidak laku sampai harus beli istri."

Pengakuan jujur itu membuat semua orang melongo.

"Dan 2 hari yang lalu, kontrak itu sudah disobek ibu saya," lanjut Rafael, suaranya naik. "Jadi mulai hari ini, tidak ada lagi istri kontrak. Yang ada hanya istri saya. Istri sah saya. Dan kalau saya dengar ada satu orang lagi di gedung ini yang berani panggil dia Nyonya Kontrak, matre, atau perempuan bayaran..."

Rafael berhenti, menatap Sinta dengan tatapan yang membuat Sinta hampir pingsan.

"...saya pastikan orang itu tidak akan pernah dapat kerja di Jakarta lagi. Mengerti?"

Sunyi. Tidak ada yang berani jawab, hanya anggukan serempak.

Rafael menoleh ke Sinta yang sudah menangis.

"Sinta Amelia, kamu dipecat. Tidak dengan hormat. Dan saya akan tuntut kamu atas pelanggaran privasi dan pencemaran nama baik. Security, keluarkan dia. Sekarang."

Dua security besar langsung menarik Sinta yang menjerit-jerit, "Pak Rafael! Jangan! Pak!"

Tidak ada yang menolong Sinta.

Setelah Sinta diseret keluar, Rafael menatap semua karyawan lagi.

"Rapat pagi dibatalkan. Semua kembali kerja. Dan cabut foto itu dari layar."

Semua orang langsung lari ke mejanya masing-masing, pura-pura sibuk.

Tinggal Alya dan Rafael di tengah pantry yang berantakan.

Alya masih gemetar dalam jas Rafael yang kebesaran. Air matanya akhirnya tumpah deras. Bukan karena malu, tapi karena lega dan terharu.

Rafael menghela napas panjang, amarahnya hilang seketika saat melihat Alya menangis. Ia menghapus air mata Alya lagi, sudah jadi kebiasaan.

"Jangan nangis di kantor. Nanti dikira saya jahat lagi sama istri," bisiknya pelan, hanya untuk Alya dengar.

Alya memukul dada Rafael pelan. "Kamu... kamu ngaku di depan semua orang kalau kamu yang beli istri... malu tau!"

"Biarin. Biar mereka tahu saya yang butuh kamu, bukan sebaliknya," jawab Rafael santai, lalu ia menarik Alya keluar dari pantry menuju lift private. "Hari ini kamu tidak usah kerja. Kita pulang."

"Bol—"

"Ini perintah suami, bukan perintah CEO."

Alya tidak bisa membantah lagi.

Di dalam lift private yang hanya ada mereka berdua, Alya bersandar lemas di dinding lift. Rafael langsung memeluknya.

"Maaf," bisik Rafael di atas kepala Alya. "Saya seharusnya kunci laci itu. Gara-gara saya kamu difitnah."

Alya menggeleng di pelukannya. "Tidak apa-apa. Tadi... tadi kamu keren banget. Pas ngamuk."

Rafael tersenyum miring di balik pelukan itu. "Keren?"

"Iya. Kayak di drakor. Suami yang belain istri."

Rafael tertawa pelan. "Baru kali ini saya dibandingin sama drakor."

Pintu lift terbuka di penthouse.

Dan di depan pintu penthouse, sudah ada Dinda dan Bima yang diantar supir sekolah karena mendengar gosip dari grup WA sekolah Dinda yang sudah viral: _Kakak Dinda difitnah jadi istri bayaran._

"Kak Alya! Kakak gak apa-apa?" Dinda dan Bima langsung memeluk Alya.

Alya berjongkok memeluk adik-adiknya.

Rafael yang melihat itu, berdiri di belakang Alya, menatap keluarga kecil yang kini ia anggap keluarganya juga.

Fitnah hari ini memang menyakitkan. Tapi fitnah itu juga membuat satu hal jadi jelas di depan satu kantor: Rafael Virel sudah tidak main-main. Ia sudah jatuh cinta mati pada istri kontraknya.

Dan tidak ada pasal yang bisa melarang itu lagi.

Bersambung...

1
ocvia
sudah kak
Mia Camelia
lanjut thor
Nda
mampir disini thor..😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!