Jauh sebelum sejarah manusia dimulai, Dewi Angin Utara telah menjaga bumi dari balik bayang-bayang.
Namun ketika perang besar mengancam Agharta, Utara harus berpisah dari Zhuin, sosok yang telah dicintainya sejak ribuan tahun lalu.
Zhuin akan terus Ada, dengan berbagai wujudnya.
Dan setiap kehidupan, dia akan melupakan Utara.
Sementara Utara tetap mengingatnya.
Satu Dewi. Satu jiwa. Ribuan kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Se Chang Kembali
Se Chang tidak menunggu lebih lama. Begitu keluar dari kawasan hutan, tubuhnya berubah menjadi bayangan hitam yang melesat menuju wilayah Klan Ular.
Ia tidak terluka parah. Justru sebaliknya. Ia sudah mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kemenangan.
Informasi.
Sesampainya di sarang, Se Chang langsung menuju ruang arsip bawah tanah. Tetua Xie Mo yang sedang membaca gulungan kuno mengangkat kepala.
"Tuan?"
"Ambil semua catatan tentang Agharta."
Xie Mo mengerutkan kening. "Lagi?"
"Yang lebih tua."
Se Chang berjalan mendekati rak paling belakang. "Bukan catatan tentang kerajaan bunga."
"Kalau begitu?"
"Catatan tentang rasnya."
Xie Mo terdiam.
Se Chang menatapnya tajam. "Aku sudah salah memahami satu hal." Ia mengeluarkan gulungan tua yang hampir hancur. "Feng Yao bukan siluman."
Tetua Xie Mo berdiri. "Apa?"
"Qi-nya tidak bekerja seperti qi siluman."
Se Chang membuka gulungan itu di atas meja. "Racun penekan qi berhasil membuat tubuhnya lemah. Tapi ketika dia menarik kekuatan dari tanah dan tumbuhan..." Jarinya berhenti pada sebuah simbol kuno. "...tanah menjawab."
Xie Mo mendekat.
Se Chang melanjutkan. "Siluman menggunakan qi dalam tubuhnya. Manusia menggunakan qi dari lingkungan setelah mengolahnya." Tatapannya semakin dalam. "Tapi dia..."
Ia mengingat bagaimana akar-akar tumbuh mengikuti kehendak Feng Yao. Bunga-bunga yang melindunginya. Dan bagaimana segel yang menekan qi justru tidak mampu memutus hubungan gadis itu dengan bumi.
"Dia seperti bagian dari bumi itu sendiri."
Xie Mo membuka gulungan lain. Tulisan di atasnya sudah hampir tidak terbaca. Namun satu kalimat masih terlihat.
*Ras kuno yang menjaga keseimbangan kehidupan di bumi.*
Se Chang membeku. "Apa itu?"
Xie Mo membaca perlahan. "Catatan tentang ras yang hidup jauh sebelum sebagian besar klan siluman berdiri." Ia membalik halaman. "Mereka bukan manusia."
Halaman berikutnya.
"Bukan siluman."
Se Chang menatapnya. "Lalu apa?"
Xie Mo menggeleng. "Catatan menyebut mereka sebagai..." Ia berhenti ketika melihat simbol di sudut gulungan. "...peri kuno."
Ruangan itu mendadak sunyi.
Se Chang perlahan tersenyum. "Peri kuno." Ia mengulang kata itu seolah baru menemukan potongan terakhir dari sebuah teka-teki. "Jadi selama ini kita salah."
Xie Mo menatapnya.
"Catatan tentang Agharta memang menyebut mereka sebagai penjaga bunga."
"Karena itu hanya bagian kecil dari tugas mereka." Se Chang menunjuk tulisan yang sudah pudar. "Menjaga kehidupan." Ia tertawa pelan. "Menjaga bumi." Tatapannya berubah tajam. "Dan Feng Yao adalah salah satu dari mereka."
Xie Mo tidak langsung menjawab.
Se Chang menggulung kembali catatan itu. "Ini jauh lebih sempurna."
"Lebih sempurna daripada apa?"
Se Chang teringat wajah Feng Yao. Gadis yang terlihat polos. Gadis yang bisa menarik qi dari tanah. Gadis yang membuat bunga-bunga bergerak tanpa menyentuhnya.
"Daripada siluman mana pun." Ia tersenyum. "Bukan karena qi-nya lebih banyak."
Se Chang berjalan meninggalkan ruang arsip. "Tapi karena sumber kekuatannya berbeda."
Ia berhenti di ambang pintu. "Dan kalau catatan ini benar..." Matanya menoleh ke arah wilayah utara. "...maka Feng Yao bukan sekadar keturunan Agharta."
Senyumnya semakin tipis. "Dia adalah sisa terakhir dari ras peri kuno yang pernah menjaga bumi."
Untuk pertama kalinya, Se Chang tidak melihat Feng Yao sebagai mangsa. Ia melihatnya sebagai sesuatu yang jauh lebih berharga. Sesuatu yang selama ribuan tahun hanya tersisa dalam catatan kuno.
Dan sekarang, sesuatu itu hidup.