Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.
Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.
Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.
Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Malam Pertama Sebagai Istri
Sebelum memasuki kamar, Ares berhenti sejenak di depan pintu. Tangannya berada di gagang pintu. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya ia harapkan dari malam ini. Hubungan mereka sudah memiliki aturan yang jelas. Tidak ada perasaan. Tidak ada tuntutan di luar kesepakatan.
Ares membuka pintu. Pandangan matanya langsung tertuju pada perempuan yang duduk di tepi ranjang. Alisha. Perempuan yang kini sah menjadi istrinya meski sebatas pernikahan agama.
Gaun yang dikenakannya membuat sosok itu terlihat jauh berbeda dari perempuan yang ia temui di rumah sakit. Namun yang paling menarik perhatian Ares tetaplah penutup mata yang menutupi kedua mata Alisha.
Begitu mendengar pintu tertutup, Alisha langsung menegakkan tubuh.
Ares tidak mengatakan apa-apa. Ia melangkah mendekat. Satu langkah, kemudian satu lagi.
Alisha mendengar suara langkah yang semakin dekat. Jari-jarinya perlahan mencengkeram ujung selimut.
“Tuan Ares?”
Tidak ada jawaban. Alisha menunggu. Langkah itu terus mendekat. Jantungnya mulai berpacu. Ia tidak bisa melihat apa pun. Bahkan tidak tahu seberapa dekat pria itu sekarang.
“Apa... Anda di sana?”
Alisha perlahan berdiri. Tubuhnya menegang ketika mendengar langkah terakhir berhenti tepat di hadapannya.
Ares memerhatikannya. Perempuan itu berdiri dengan waspada, kepalanya sedikit terangkat seolah berusaha mengetahui posisi Ares hanya dari suara.
Entah kenapa, pemandangan itu membuat Ares tidak langsung bergerak. Ia teringat alasan mengapa dirinya meminta perempuan itu menutup mata. Ia tidak ingin melihat tatapan Alisha.
Namun sekarang, justru dirinya yang merasa penasaran dengan ekspresi yang tidak bisa dilihatnya.
Ares mengangkat tangan. Jemarinya baru bergerak mendekati lengan Alisha ketika perempuan itu tiba-tiba bergerak.
Refleks. Alisha menangkap pergelangan tangannya, memutar tubuh, lalu memanfaatkan momentum pria di depannya. Dalam hitungan detik—
Bruk!
Tubuh Ares terhempas ke lantai. Beruntung ia sempat memutar tubuh ketika jatuh sehingga kepalanya tidak terbentur. Namun punggung dan pinggangnya tetap menghantam lantai cukup keras.
Ares meringis. “Brengsek...”
Alisha yang masih berdiri dengan posisi waspada terdiam. Ia tidak menyangka pria yang tadi mendekatinya benar-benar terjatuh.
Beberapa detik kemudian, Ares bangkit sambil mengusap pinggangnya.
“Kau...” Tatapannya tertuju pada perempuan di hadapannya. “Beginikah caramu menyambut suamimu?”
Alisha mundur setengah langkah. “Maaf. Anda gak mau jawab pas saya nanya. Saya kira orang lain.”
Ares menatapnya lama. Bukannya marah, ia justru merasa sedikit geli. Perempuan ini baru saja membantingnya ke lantai, lalu meminta maaf dengan nada sesopan itu.
Alisha masih tampak ragu. “Anda beneran Tuan Ares 'kan?”
“Bukannya tadi kau dengar sendiri saat aku ngucapin akad?” Ares malah balik bertanya dengan nada sedikit kesal.
“Saya tahu.” Alisha menyentuh penutup matanya. “Saya hanya memastikan.”
Ares mengangkat alis. “Gimana caranya?”
Alisha berpikir sebentar. “Apa pesan pertama yang Anda kirim ke saya?”
Ares menjawab tanpa jeda. “Besok kita menikah.”
Alisha terdiam. Itu memang kalimat yang pernah dikirimkan kepadanya. Bahu yang sejak tadi tegang perlahan turun. Ia mengembuskan napas lega.
“Baik, saya percaya.”
Namun sebelum Alisha sempat benar-benar tenang, Ares tiba-tiba menggerakkan tangannya cepat ke arahnya.
Alisha langsung bergeser. Gerakan itu begitu cepat sehingga Ares bahkan belum sempat menyentuhnya.
Perempuan itu justru memutar tubuh, menangkap pergelangan tangan Ares, lalu mengarahkannya menjauh dari tubuhnya.
Ares segera menarik tangannya. Kali ini ia tidak tersenyum. “Gimana kamu bisa tau?”
Alisha mengernyit di balik penutup matanya. “Tau apa?”
“Aku bergerak.”
Alisha terdiam sejenak. “Dari suara.”
“Suara?”
“Sedikit perubahan suara langkah, gerakan pakaian... dan arah gerak tubuh.” Alisha mengangkat bahu. “Ayah saya cukup menguasai bela diri. Waktu kecil, saya sering berlatih dengannya.”
Ares masih menatapnya. “Dengan mata tertutup?”
“Nggak selalu.” Alisha tersenyum tipis. “Tapi pernah ngajarin latihan kayak gini. Katanya, kalo cuma ngandelin mata bakal kesulitan pas gak bisa ngelihat.”
Ares mengangguk perlahan. Kini ia mengerti. Alisha bukan sekadar perempuan yang kebetulan mampu membela diri. Ia terlatih. Dan yang lebih menarik, perempuan itu bisa membaca gerakannya meskipun kedua matanya tertutup.
Ares kembali menatap penutup mata yang dikenakan Alisha. Ia justru bertanya-tanya apakah dirinya sendiri yang akan kesulitan menjaga batas yang sudah dibuatnya.
Karena semakin lama berada di dekat perempuan ini, semakin banyak hal yang ingin diketahuinya.
Ares akhirnya menghela napas. Ia melepas jasnya dan meletakkannya di kursi. Setelah itu, kemejanya menyusul, lalu celana panjang yang dikenakannya. Ia hanya menyisakan boxer yang biasa dikenakannya setiap malam.
Alisha yang masih berdiri di dekat ranjang mendengar setiap suara gerakannya. Ia menelan ludah.
“Tidurlah,” ujar Ares datar.
“Sekarang?” tanya Alisha ragu.
“Emangnya mau nunggu pagi?”
Alisha terdiam. Ia kemudian meraba sisi ranjang sebelum duduk perlahan.
Ares mematikan lampu, seketika ruangan menjadi gelap.
Bagi Alisha, keadaan itu tidak jauh berbeda dari sebelumnya. Matanya masih tertutup. Namun mengetahui Ares berada hanya beberapa langkah darinya membuat tubuhnya tetap kaku.
Ares berbaring di sisi lain ranjang. Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.
Alisha berbaring telentang dengan kedua tangan terlipat di atas perut. Biasanya ia melepas alat bantu dengarnya sebelum tidur, tetapi malam ini ia sengaja membiarkannya terpasang. Setidaknya, ia ingin tetap waspada jika pria di sampingnya bergerak.
Di sebelahnya, Ares juga belum tidur. Tatapannya mengarah ke langit-langit. Pernikahan ini seharusnya sederhana. Mereka hanya perlu menjalankan kesepakatan.
Namun kenapa malam pertama mereka justru terasa seperti dua orang asing yang kebetulan terjebak dalam satu kamar?
Ares melirik ke samping. Alisha masih mengenakan penutup mata. “Kau belum tidur?”
“Belum.”
“Kenapa?”
Alisha ragu menjawab. “Saya gak biasa tidur kayak gini.”
Ares mengalihkan pandangan kembali ke langit-langit. “Aku juga.”
Kalimat itu membuat Alisha sedikit tersenyum. Entah kenapa, jawaban sederhana itu membuat suasana tidak terlalu tegang.
Beberapa menit kemudian, napas keduanya mulai teratur. Tidak ada yang menyadari kapan tepatnya mereka tertidur.
Menjelang dini hari, Ares yang tidur dalam posisi miring bergerak tanpa sadar. Tangannya mencari sesuatu di depannya dan akhirnya melingkar di pinggang Alisha.
Alisha bergerak kecil. Namun bukannya menjauh, tubuhnya justru secara refleks meringkuk lebih dekat. Kepalanya bersandar pada dada Ares, sementara tangannya menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka.
Ares tetap terlelap, begitu pula Alisha. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa jarak yang sejak awal sengaja dibuat justru hilang ketika keduanya sama-sama tertidur.
...✨“Ketika seseorang memasuki hidup kita tanpa sempat kita kenali, jangan terburu-buru menilai akhir dari pertemuan itu. Sebab terkadang, takdir menyembunyikan jawabannya di balik hal yang belum mampu kita lihat.”✨...
.
To be continued
Raka pengertian, kakaknya di suruh sering-sering tidur di rumah, tidak perlu nungguin dirinya.
Alisha jadi bisa punya waktu untuk suaminya, kalau tidak bisa nungguin Raka. Tidak harus cari alasan kalau Raka tanya-tanya.
Alisha setelah sarapan pergi ke rumah sakit.
Raka sudah dipindahkan ke ruang lain, masih di lantai yang sama.
Ares tetap memikirkan kenyamanan Raka dan Alisha dengan memindahkan ruang rawat serta ada sofa.
Pak Darto pengurus rumah memberikan sebuah kartu akses untuk masuk rumah kepada Alisha. Dan memberi tahu Alisha kalau pakaian sudah disiapkan di lemari, termasuk perlengkapan mandi, dan makeup atas perintah Ares.
Ares baik sekali. Alisha juga disediakan sopir untuk mengantarnya pergi. Tapi Alisha memilih naik ojek online.
Ares juga menuruti kemauan Alisha untuk tidak memindahkan adiknya ke kamar perawatan VIP.
Ares memberikan surat pernikahan mereka setelah mendengar penjelasan Alisha kenapa sampai minta surat itu.
Ares tak lupa mengelupas foto dirinya terlebih dahulu, sebelum memberikan surat itu kepada Alisha.
Sampai segitunya, biar Alisha benar-benar nggak mengenal wajahnya.
kalo iya, itu sangat berbahaya, dalam kondisi tertentu, dia bisa berbuat nekat....
semoga Alisa dan Raka masih dalam pengawasan orang-orangnya Ares
cukup mantan mu si Reni yg ribet
kamu jangan ikutan res
Semangat Kak Nana.. Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
kacau ini orang 🤣🤣
takut ga bisa tanggung jawab sama tatapan mu.
pengecut dia takut kalah sama rasa bersalah nya🫣😔