NovelToon NovelToon
SEBATAS KONTRAK DI ATAS RANJANG

SEBATAS KONTRAK DI ATAS RANJANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas / Orang Disabilitas / Nikah Kontrak
Popularitas:53.2k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.

Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.

Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.

Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Malam Pertama Sebagai Istri

Sebelum memasuki kamar, Ares berhenti sejenak di depan pintu. Tangannya berada di gagang pintu. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya ia harapkan dari malam ini. Hubungan mereka sudah memiliki aturan yang jelas. Tidak ada perasaan. Tidak ada tuntutan di luar kesepakatan.

Ares membuka pintu. Pandangan matanya langsung tertuju pada perempuan yang duduk di tepi ranjang. Alisha. Perempuan yang kini sah menjadi istrinya meski sebatas pernikahan agama.

Gaun yang dikenakannya membuat sosok itu terlihat jauh berbeda dari perempuan yang ia temui di rumah sakit. Namun yang paling menarik perhatian Ares tetaplah penutup mata yang menutupi kedua mata Alisha.

Begitu mendengar pintu tertutup, Alisha langsung menegakkan tubuh.

Ares tidak mengatakan apa-apa. Ia melangkah mendekat. Satu langkah, kemudian satu lagi.

Alisha mendengar suara langkah yang semakin dekat. Jari-jarinya perlahan mencengkeram ujung selimut.

“Tuan Ares?”

Tidak ada jawaban. Alisha menunggu. Langkah itu terus mendekat. Jantungnya mulai berpacu. Ia tidak bisa melihat apa pun. Bahkan tidak tahu seberapa dekat pria itu sekarang.

“Apa... Anda di sana?”

Alisha perlahan berdiri. Tubuhnya menegang ketika mendengar langkah terakhir berhenti tepat di hadapannya.

Ares memerhatikannya. Perempuan itu berdiri dengan waspada, kepalanya sedikit terangkat seolah berusaha mengetahui posisi Ares hanya dari suara.

Entah kenapa, pemandangan itu membuat Ares tidak langsung bergerak. Ia teringat alasan mengapa dirinya meminta perempuan itu menutup mata. Ia tidak ingin melihat tatapan Alisha.

Namun sekarang, justru dirinya yang merasa penasaran dengan ekspresi yang tidak bisa dilihatnya.

Ares mengangkat tangan. Jemarinya baru bergerak mendekati lengan Alisha ketika perempuan itu tiba-tiba bergerak.

Refleks. Alisha menangkap pergelangan tangannya, memutar tubuh, lalu memanfaatkan momentum pria di depannya. Dalam hitungan detik—

Bruk!

Tubuh Ares terhempas ke lantai. Beruntung ia sempat memutar tubuh ketika jatuh sehingga kepalanya tidak terbentur. Namun punggung dan pinggangnya tetap menghantam lantai cukup keras.

Ares meringis. “Brengsek...”

Alisha yang masih berdiri dengan posisi waspada terdiam. Ia tidak menyangka pria yang tadi mendekatinya benar-benar terjatuh.

Beberapa detik kemudian, Ares bangkit sambil mengusap pinggangnya.

“Kau...” Tatapannya tertuju pada perempuan di hadapannya. “Beginikah caramu menyambut suamimu?”

Alisha mundur setengah langkah. “Maaf. Anda gak mau jawab pas saya nanya. Saya kira orang lain.”

Ares menatapnya lama. Bukannya marah, ia justru merasa sedikit geli. Perempuan ini baru saja membantingnya ke lantai, lalu meminta maaf dengan nada sesopan itu.

Alisha masih tampak ragu. “Anda beneran Tuan Ares 'kan?”

“Bukannya tadi kau dengar sendiri saat aku ngucapin akad?” Ares malah balik bertanya dengan nada sedikit kesal.

“Saya tahu.” Alisha menyentuh penutup matanya. “Saya hanya memastikan.”

Ares mengangkat alis. “Gimana caranya?”

Alisha berpikir sebentar. “Apa pesan pertama yang Anda kirim ke saya?”

Ares menjawab tanpa jeda. “Besok kita menikah.”

Alisha terdiam. Itu memang kalimat yang pernah dikirimkan kepadanya. Bahu yang sejak tadi tegang perlahan turun. Ia mengembuskan napas lega.

“Baik, saya percaya.”

Namun sebelum Alisha sempat benar-benar tenang, Ares tiba-tiba menggerakkan tangannya cepat ke arahnya.

Alisha langsung bergeser. Gerakan itu begitu cepat sehingga Ares bahkan belum sempat menyentuhnya.

Perempuan itu justru memutar tubuh, menangkap pergelangan tangan Ares, lalu mengarahkannya menjauh dari tubuhnya.

Ares segera menarik tangannya. Kali ini ia tidak tersenyum. “Gimana kamu bisa tau?”

Alisha mengernyit di balik penutup matanya. “Tau apa?”

“Aku bergerak.”

Alisha terdiam sejenak. “Dari suara.”

“Suara?”

“Sedikit perubahan suara langkah, gerakan pakaian... dan arah gerak tubuh.” Alisha mengangkat bahu. “Ayah saya cukup menguasai bela diri. Waktu kecil, saya sering berlatih dengannya.”

Ares masih menatapnya. “Dengan mata tertutup?”

“Nggak selalu.” Alisha tersenyum tipis. “Tapi pernah ngajarin latihan kayak gini. Katanya, kalo cuma ngandelin mata bakal kesulitan pas gak bisa ngelihat.”

Ares mengangguk perlahan. Kini ia mengerti. Alisha bukan sekadar perempuan yang kebetulan mampu membela diri. Ia terlatih. Dan yang lebih menarik, perempuan itu bisa membaca gerakannya meskipun kedua matanya tertutup.

Ares kembali menatap penutup mata yang dikenakan Alisha. Ia justru bertanya-tanya apakah dirinya sendiri yang akan kesulitan menjaga batas yang sudah dibuatnya.

Karena semakin lama berada di dekat perempuan ini, semakin banyak hal yang ingin diketahuinya.

Ares akhirnya menghela napas. Ia melepas jasnya dan meletakkannya di kursi. Setelah itu, kemejanya menyusul, lalu celana panjang yang dikenakannya. Ia hanya menyisakan boxer yang biasa dikenakannya setiap malam.

Alisha yang masih berdiri di dekat ranjang mendengar setiap suara gerakannya. Ia menelan ludah.

“Tidurlah,” ujar Ares datar.

“Sekarang?” tanya Alisha ragu.

“Emangnya mau nunggu pagi?”

Alisha terdiam. Ia kemudian meraba sisi ranjang sebelum duduk perlahan.

Ares mematikan lampu, seketika ruangan menjadi gelap.

Bagi Alisha, keadaan itu tidak jauh berbeda dari sebelumnya. Matanya masih tertutup. Namun mengetahui Ares berada hanya beberapa langkah darinya membuat tubuhnya tetap kaku.

Ares berbaring di sisi lain ranjang. Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.

Alisha berbaring telentang dengan kedua tangan terlipat di atas perut. Biasanya ia melepas alat bantu dengarnya sebelum tidur, tetapi malam ini ia sengaja membiarkannya terpasang. Setidaknya, ia ingin tetap waspada jika pria di sampingnya bergerak.

Di sebelahnya, Ares juga belum tidur. Tatapannya mengarah ke langit-langit. Pernikahan ini seharusnya sederhana. Mereka hanya perlu menjalankan kesepakatan.

Namun kenapa malam pertama mereka justru terasa seperti dua orang asing yang kebetulan terjebak dalam satu kamar?

Ares melirik ke samping. Alisha masih mengenakan penutup mata. “Kau belum tidur?”

“Belum.”

“Kenapa?”

Alisha ragu menjawab. “Saya gak biasa tidur kayak gini.”

Ares mengalihkan pandangan kembali ke langit-langit. “Aku juga.”

Kalimat itu membuat Alisha sedikit tersenyum. Entah kenapa, jawaban sederhana itu membuat suasana tidak terlalu tegang.

Beberapa menit kemudian, napas keduanya mulai teratur. Tidak ada yang menyadari kapan tepatnya mereka tertidur.

 

Menjelang dini hari, Ares yang tidur dalam posisi miring bergerak tanpa sadar. Tangannya mencari sesuatu di depannya dan akhirnya melingkar di pinggang Alisha.

Alisha bergerak kecil. Namun bukannya menjauh, tubuhnya justru secara refleks meringkuk lebih dekat. Kepalanya bersandar pada dada Ares, sementara tangannya menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka.

Ares tetap terlelap, begitu pula Alisha. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa jarak yang sejak awal sengaja dibuat justru hilang ketika keduanya sama-sama tertidur.

 

...✨“Ketika seseorang memasuki hidup kita tanpa sempat kita kenali, jangan terburu-buru menilai akhir dari pertemuan itu. Sebab terkadang, takdir menyembunyikan jawabannya di balik hal yang belum mampu kita lihat.”✨...

.

To be continued

1
Cicih Sophiana
ahkir nya aq iket Lega Al... semoga gak ada gangguan lagi... ayo langsung ke dokter lg periksa baby nya😄
anonim
Alisha tidak mau menerima panggilan telepon dari Ares. Pesannya juga tidak dibalas. Salahmu sendiri Ares. Nikmati saja kegelisahanmu sekarang.

Panggilan telepon dari pak Darto juga tidak diangkat.

Ares semakin tidak tenang, tidak tahu di mana Alisha sekarang.

Ares tidak ingin kehilangan Alisha. Alisha mengerti kalau kehidupan bersamanya dipenuhi rahasia, aturan, dan penantian tanpa kepastian.

Namun permasalahannya malam ini Alisha sangat kecewa dengan Ares.
anonim
Masih saja di suruh menutup mata. Alisha bukannya menutup matanya, tapi kini menutup hatinya untuk mengabaikan pesan-pesan dari Ares.

Begitu kecewanya Alisha, sampai tidak mau mengangkat panggilan telepon dari Ares.

Ares bingung sendiri. Dadanya sesak memikirkan bakal ditinggalkan Alisha.
anonim
Alisha hanya membaca pesan dari Ares. Tidak membalas pesan itu.

Terlambat. Ares datang, Alisha sudah pergi naik taksi.

Reki selalu menyadarkan Ares dengan kata-kata yang masuk akal.

Reki sampai berani berkata kepada Ares - Malam ini, anda melakukan kesalahan besar, Tuan.

Ares tidak bisa menghampiri Alisha karena tubuhnya tidak sanggup. Ares bisa memanggil Alisha, untuk datang. Masalahnya Ares masih belum mau wajahnya dilihat Alisha, Reki.

Reki terus mengucapkan kata-kata tentang kemungkinan-kemungkinan buruk.

Alisha berhenti berharap, dan memilih pergi dari Ares.
anonim
Reki saja panggil Alisha nyonya. Pria itu belum tahu siapa suami Alisha. Reki memberi ancaman pada pria itu.

Pria itu menganggap gurauan. Padahal dia jelas menghina Alisha.

Arga ini apa urusannya kalau Alisha istri Ares.

Alisha tidak menuruti kata Reki untuk tetap menunggu di mobil.
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana.. Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Yaaa, kalau kamu nggk mau kecewa sendirian, maka aja saja Ares, Alisha... 😂😂😂 Dengan begitu kan, kami kecewanya nggk sendirian Alisah... 😂😂😂 Ada yang menemani Ke Kecewaanmu... 😁😁😁
Fadillah Ahmad
Iyaaa maka dari itulah Alisha... Kalau Raka tidak mengerti maka, kamu harus menjelaskan kepada Raka, sampai Rala mengerti Alisha... 😂😂😂 Kamu saja belum pernah menjelaskan kepada Raka, Alisha... Yaaa manalah Raka bisa mengerti Alisha... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Apa yang di kstakan Adikmu Raka itu ada benarnya Alisha... Kamu jangan keras kepala dong Alisha... 😁😁😁 Mau sampai kapan kamu terus menyiksa dirimu Alisha? ha? 😂😂😂
anonim
Ares yang tak berdaya dengan tubuh mulai kehilangan keseimbangan, hanya bisa menahan amarahnya.

Ares tidak kuat melangkah, pandangannya berkunang-kunang. Keinginannya menghajar pria itu tak kesampaian.

Reki menolong Alisha dengan mengambil taplak meja di dekatnya. Tidak peduli apa yang ada di atas meja itu berjatuhan. Berantakan.

Reki segera membentangkan taplak untuk menutupi tubuh Alisha. Reki berusaha menyelamatkan Alisha dari tatapan orang-orang.

Amarah Alisha sedikit mereda saat menyadari Reki sedang berusaha melindunginya dari tatapan orang-orang.

Reki berbalik menghadap pria yang menghina Alisha dan menatap tajam, pria itu keder tentunya.
anonim
Ini ada pria hidung belang melecehkan Alisha dengan kata-kata yang tak pantas didengar. Mata jalangnya tanpa sungkan mengamati tubuh Alisha.

Masih juga mengeluarkan kata-kata yang sangat menghina Alisha.

Kapuoook kau pria hidung belang, tamparan dari tangan Alisha mendarat dengan keras di pipinya.

Malu juga tuh pria, dilihat para tamu yang berada di sekitar mereka.

Alisha tidak terima dihina sedemikian rupa. Pria itu pun nggak terima ditampar pipinya, padahal jelas kalimatnya penuh hinaan, pelecehan juga tuh.

Alisha nggak takut sedikitpun sama pria yang nggak tahu diri itu. Dia lawan pria itu .
anonim
Alisha memandang Ares yang juga sedang memandangnya. Alisha tahu Ares sedang tidak baik-baik saja kondisinya. Ares tampak menahan sakit, bahkan kesulitan bernapas.

Alisha dan Ares sama-sama saling mengkhawatirkan kondisi mereka.

Alisha mengkuatirkan Ares yang terlihat sakit, Ares juga mengkuatirkan keadaan Alisha yang pasti malu dengan gaun basah tampak garis tubuhnya.
anonim
Dalam kondisi tubuhnya yang kian memburuk Ares tak berdaya menghampiri Alisha untuk menolongnya.

Reki berjalan menuju Alisha. Ares hanya bisa memandang Alisha.

Arga kecewa tidak sesuai yang diharapkan. Ares tidak menghampiri Alisha sendiri, tapi menyuruh Reki untuk melindungi.

Arga melihat kondisi Ares yang tampak buruk, namun perhatiannya tetap tertuju kepada Alisha.
Oma Gavin
nah kan kalau saling jujur dan terbuka kan lebih enak sekarang baik" kalian berdua turunin ego masing" saling melengkapi saling percaya dan Inga musuh terbesar kalian arga yg pasti tidak akan menyerah setelah tau hubungan kalian berdua
Sri Kadek
lanjut
Septi Wijaya
bapak Ares, bagaimana tanggapan anda? atas kehamilan istri anda
Eka Burjo
terimakasih update nya, oke lanjut 👍👍
+1
noted🌚
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak... Ceritanya makin seru Kak 😁😁😁🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!