“Dia cuma budak. Dia harus ngerasain gimana susahnya hidup kalau nggak nurut sama gue.”~Reja Alfarizi Bagaskara
Celin Amara Kusuma tak pernah menyangka utang ayahnya akan menyeretnya ke dalam keluarga Bagaskara—bahkan membuat hidupnya terikat pada Reja, pemuda arogan yang menganggapnya hanya sebagai jaminan.
“Nggak akan ada cinta di sini, Celin. Cuma ada gue sebagai tuan lo.”
Bagi Reja, Celin adalah hukuman atas kebebasan yang dirampas ayahnya. Namun semakin ia berusaha menghancurkan gadis itu, semakin sulit ia mengabaikan keberanian dan keteguhan Celin.
Ketika kebencian perlahan berubah menjadi rasa yang tak bisa dijelaskan, siapa sebenarnya yang akan menjadi babu dari perasaan mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti Tak Punya Harga Diri....
Celin menarik tangannya dengan tenaga penuh. "Itu bukan urusan lo! Gue mau mati atau hidup, itu kendali gue. Lo bisa miliki raga gue karena transaksi sialan itu, tapi lo nggak akan pernah bisa miliki nyawa gue."
Reja terdiam sejenak, menatap lekat luka itu, lalu beralih ke mata Celin yang penuh luka namun tetap keras kepala. Ada rasa aneh yang bergejolak di dadanya—rasa benci yang bercampur dengan rasa penasaran yang gelap.
"Jangan harap lo bisa mati secepat itu," bisik Reja dingin. "Gue belum puas nyiksa lo. Sore ini, lo nggak usah ke kafe. Pulang sekolah, sopir gue nunggu di gerbang belakang. Kalau lo berani kabur ke kafe Kirei..." Reja menggantung kalimatnya, mendekatkan bibirnya ke telinga Celin.
"...besok pagi beasiswa lo gue pastiin dicabut. Paham?"
Reja melepaskan Celin dan melangkah keluar tanpa menoleh lagi, meninggalkan Celin yang gemetar karena amarah yang tertahan.
Celin memungut jam tangannya yang pecah di lantai. Ia mengusap sudut bibirnya yang berdarah, lalu merapikan seragamnya.
Ia harus kembali ke kelas. Ia harus bertemu Kirei. Ia harus kembali berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, padahal di dalam sana, ia sedang menghitung sisa-sisa kekuatannya sebelum benar-benar hancur.
"Kecuali gue yang mau mati..." gumamnya lirih, menatap perban di tangannya yang kini semakin merah.
Celin menarik napas panjang, menelan rasa anyir darah di bibirnya sebelum melangkah kembali ke kelas. Ia menggunakan rambut panjangnya untuk menutupi sisi wajah yang memerah akibat tamparan Reja.
Di ambang pintu kelas XII-IPA 2, ia memaksakan topeng datarnya kembali terpasang. Namun, Kirei bukan orang asing yang mudah dikelabui.
"Celin! Kok lama banget—" Kalimat Kirei terhenti saat Celin duduk di sampingnya. Mata Kirei yang jeli langsung menangkap sesuatu yang tidak beres. "Bibir lo kenapa, Celin? Terus... jam tangan lo mana?"
Celin berpura-pura sibuk merapikan buku. "Tadi nggak sengaja kesenggol rak di gudang OSIS. Jam gue pecah, jadi gue simpan di saku."
"Kesenggol rak sampai berdarah gitu?" Kirei memegang dagu Celin, memaksanya menoleh. "Ini bekas tamparan, Celin. Siapa yang berani lakuin ini? Apa si Reja itu lagi?"
"Bukan, Rei. Gue cuma ceroboh," jawab Celin tegas, melepaskan tangan Kirei. Ia tidak ingin sahabatnya terlibat lebih jauh.
Jika Kirei melawan Reja, beasiswa Celin bukan satu-satunya yang terancam, tapi posisi Kirei di sekolah pun bisa dalam bahaya.
Kirei mengepalkan tangan, matanya berkaca-kaca antara marah dan sedih. "Lo selalu nutupin semuanya sendiri. Gue ini sahabat lo, Celin! Gue kagum sama kekuatan lo, tapi lo nggak harus jadi batu setiap saat."
Celin terdiam. Kata-kata Kirei menghujam sisi rapuhnya yang terdalam. Ingin rasanya ia memeluk Kirei dan menceritakan bahwa ia dipaksa untuk melangsungkan pernikahan.
Ingin ia bercerita bahwa pria yang mereka benci itu kini adalah pemilik sah atas hidupnya. Tapi Celin hanya bisa membisu.
"Rei, sore ini gue nggak bisa ke kafe," ucap Celin pelan, mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa? Lo mau istirahat? Baguslah kalau gitu, biar gue bilang ke Nyokap—"
"Gue... ada urusan lain. Urusan keluarga," potong Celin. Kata 'keluarga' terasa sangat pahit di lidahnya.
Kirei mengernyit. "Urusan bokap lo lagi? Dia bikin masalah lagi di tempat judi?"
Celin hanya mengangguk samar. Biarlah Kirei menganggap ini masalah lama tentang ayahnya, daripada tahu kenyataan yang lebih menjijikkan.
Bel pulang berbunyi seperti lonceng kematian bagi Celin. Selesai memfotokopi catatan, Celin melangkah menuju gerbang belakang sekolah.
Sebuah mobil hitam mewah sudah menunggu dengan mesin yang menderu halus. Begitu masuk, ia langsung disambut oleh tatapan tajam Reja yang sudah menunggu di dalam.
"Lama banget. Lo sengaja bikin gue nunggu?" desis Reja dingin.
Celin tidak menjawab, ia hanya melempar buku catatan itu ke pangkuan Reja. Matanya menatap lurus ke luar jendela, mengabaikan kehadiran pria yang statusnya kini adalah suaminya. Mobil melaju menuju sebuah mansion megah yang terasa begitu asing bagi Celin.
Sesampainya di sana, pintu besar terbuka. Sosok Adrian Bagaskara, ayah Reja, berdiri menyambut mereka dengan senyum hangat—satu-satunya hal yang membuat Celin merasa masih dianggap sebagai manusia di rumah ini.
"Celin, sudah pulang? Masuklah, Nak. Jangan sungkan, ini rumahmu sekarang," ucap Adrian lembut.
Ia menatap putranya dengan kilat peringatan. "Reja, jangan macam-macam. Papa harap kamu bisa belajar banyak dari ketangguhan istri kamu."
Reja hanya memutar bola matanya malas, lalu melenggang masuk tanpa memedulikan Celin. Adrian mendekati Celin dan berbisik pelan, "Maafkan sifat Reja. Papa tahu ini berat, tapi Papa yakin hanya kamu yang bisa menjinakkan anak nakal itu. Papa butuh kamu untuk membimbingnya agar tidak hancur."
Celin hanya mengangguk kaku. Ia tahu Adrian tulus, tapi baginya, pernikahan ini tetaplah transaksi. Namun, kehangatan itu seketika sirna saat seorang wanita cantik paruh baya turun dari tangga dengan wajah masam.
Itu adalah Livia Anggriani, ibu Reja.
"Apa yang Papa banggakan dari 'gadis beasiswa' itu?" Livia menatap Celin dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan jijik.
"Seharusnya Reja bersanding dengan Tania, gadis yang selevel dengan keluarga kita. Bukan dengan anak dari pria pemabuk yang menjual anaknya sendiri."
"Livia! Jaga bicara kamu!" tegur Adrian keras.
Celin mengepalkan tangannya di balik rok. Luka di pergelangan tangannya terasa berdenyut. Hinaan itu sudah biasa ia dengar, tapi entah kenapa, mendengarnya di rumah ini terasa jauh lebih menyakitkan.
---
Malam harinya, suasana semakin memanas ketika Tania—gadis populer dari sekolah mereka yang juga teman dekat Reja—datang berkunjung atas undangan diam-diam dari Livia.
Mereka duduk di ruang tamu yang luas. Reja tampak asyik mengobrol dan tertawa dengan Tania, sementara Celin diminta Livia untuk membawakan minuman, layaknya seorang pelayan di rumahnya sendiri.
"Eh, Celin cewek beasiswa itu kan? Kok lo ada di sini?" Tania menatap Celin dengan kening berkerut. "Lagi kerja paruh waktu jadi ART di rumah Reja?"
Reja hanya menyeringai, tidak ada niat untuk membela. "Ya, begitulah. Dia emang rajin banget kalau soal nyari duit buat lunasin utang bokapnya."
Celin meletakkan nampan dengan tangan yang stabil meski hatinya mendidih. Ia menatap Reja tepat di mata, menunjukkan bahwa kata-katanya tidak akan bisa menjatuhkannya.
"Gue di sini karena permintaan Pak Adrian," jawab Celin tenang namun tegas. "Dan kalau urusan lo cuma buat menghina, gue rasa lo salah alamat. Karena di rumah ini, posisi gue jauh lebih tetap daripada lo yang cuma tamu."
Reja tersedak minumannya, kaget dengan keberanian Celin di depan ibunya dan Tania. Livia tampak meradang, namun Celin sudah berbalik pergi menuju kamarnya—kamar yang terpaksa ia bagi dengan Reja.
Begitu pintu kamar tertutup, Celin menyandarkan punggungnya di pintu. Ia mengambil benda tajam kecil dari tas sekolahnya.
Rasa sesak itu kembali datang. Antara benci pada Reja, kasih sayang yang tersisa untuk ayahnya, dan hinaan Livia, kepalanya serasa mau pecah.
"Kecuali gue yang mau mati..." gumamnya lirih.
Tepat saat ia hendak menyentuh kulitnya, pintu kamar terbuka kasar. Reja masuk dengan wajah merah padam, langsung mencengkeram tangan Celin.
"Lo berani maluin gue di depan Tania?!" bentak Reja. Matanya kemudian tertuju pada benda di tangan Celin dan perban yang sedikit terbuka.
Bersambung...