NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak Sang CEO Posesif

Pernikahan Kontrak Sang CEO Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: S RIANA

Tanda tangani ini. Ingat, kita menikah hanya di atas kertas. Jangan pernah bermimpi aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu!"

Demi melunasi biaya pengobatan ibunya yang kritis, Naura Ayu terpaksa menjual kebebasannya. Dia setuju menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Mahendra, seorang CEO tampan yang terkenal dingin, kejam, dan tidak tersentuh wanita.

Bagi Adrian, Naura hanyalah 'istri pajangan' demi memuaskan tuntutan sang kakek agar posisinya sebagai pewaris tahta perusahaan aman.Awalnya, semua berjalan sesuai kesepakatan. Mereka hidup dalam dinding pembatas yang dingin. Namun, pesona Naura yang mandiri, tegar, dan tidak silau akan hartanya perlahan mulai mengusik pertahanan hati Adrian.

Saat kontrak hampir berakhir dan Naura bersiap untuk pergi, Adrian justru mengunci pintu rapat-rapat. Tatapan dingin pria itu berubah menjadi kilat obsesi yang membara."Siapa yang mengizinkanmu pergi? Kontrak bisa berakhir, tapi kamu... selamanya milikku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjanjian di atas kertas

Aroma karbol yang menyengat bercampur dengan bau obat-obatan yang pekat selalu berhasil membuat dada Naura Ayu terasa sesak. Namun malam ini, rasa sesak itu berkali-kali lipat lebih hebat. Di balik dinding kaca ruang Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit Harapan, tubuh ringkih ibunya terbaring lemah. Berbagai selang medis menempel di tubuh wanita paruh baya itu, sementara layar monitor di samping tempat tidur terus berbunyi, menjadi satu-satunya penanda bahwa napas ibunya masih berembus.

Gagal ginjal kronis stadium akhir. Kalimat dokter beberapa jam lalu masih terus terngiang di kepala Naura bagai lonceng kematian. Ibunya membutuhkan operasi darurat dan perawatan intensif jangka panjang. Biayanya? Dua ratus juta hanya untuk uang muka. Sebuah angka yang mustahil didapatkan oleh Naura, seorang gadis yang hanya bekerja sebagai staf administrasi biasa di sebuah perusahaan logistik.

Gajinya yang pas-pasan bahkan sering kali habis untuk membayar kontrakan bulanan dan obat-obatan jalan sang ibu. Kini, ketika tagihan rumah sakit menumpuk dan pihak administrasi mengancam akan menghentikan perawatan jika administrasi tidak segera dilunasi, Naura benar-benar berada di ujung tanduk. Putus asa, hancur, dan tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa lagi.

Hingga sebuah panggilan telepon dari nomor tidak dikenal membawanya ke tempat ini. Ruang VVIP nomor 901 di lantai teratas rumah sakit yang sama. Sebuah ruangan yang lebih mirip kamar hotel berbintang lima daripada ruang perawatan, lengkap dengan sofa kulit premium, pendingin ruangan yang berembus sunyi, dan lantai marmer yang mengkilap.

Plak!

Suara tumpukan kertas yang dijatuhkan ke atas meja kaca memecah keheningan ruangan yang mencekam itu.

"Tanda tangani ini, dan seluruh biaya pengobatan ibumu di rumah sakit ini, termasuk biaya operasi besok pagi, akan lunas malam ini juga."

Naura tersentak. Dia menurunkan pandangannya, menatap selembar dokumen tebal bermaterai yang baru saja dilemparkan ke hadapannya. Jemarinya yang dingin saling bertautan, gemetar menahan gejolak emosi yang berkecamuk di dalam dada.

Perlahan, Naura memberanikan diri mendongak. Di hadapannya, duduk seorang pria dengan setelan jas hitam custom-made yang tampak sempurna tanpa satu pun kerutan. Pria itu menyilangkan kaki panjangnya dengan santai, bersandar pada sofa kulit hitam yang empuk.

Dia adalah Adrian Mahendra.

Siapa yang tidak mengenal nama itu? Di usianya yang baru menginjak dua puluh delapan tahun, Adrian sudah menduduki posisi puncak sebagai CEO Mahendra Group, salah satu gurita bisnis terbesar di negeri ini. Di halaman utama media bisnis dan gosip, wajah tampannya sering kali muncul. Pahatannya begitu sempurna—rahang tegas, hidung mancung yang kokoh, dan sepasang mata elang yang tajam. Namun, di balik ketampanan yang memikat itu, Adrian dikenal sebagai pria bertangan dingin, kejam, tidak kenal ampun dalam bisnis, dan yang paling terkenal: dia tidak pernah membiarkan wanita mana pun mendekat. Dia sedingin es di kutub utara.

"Pernikahan... kontrak?" Suara Naura tercekat di tenggorokan saat matanya menangkap judul besar di halaman depan dokumen tersebut. Tenggorokannya mendadak terasa kering.

"Benar. Pernikahan kontrak," jawab Adrian datar. Suaranya, berat, dan terdengar sangat berwibawa namun sekaligus mengintimidasi. "Kakekku, pemilik tunggal Mahendra Group, sedang sakit keras. Beliau mendesakku untuk segera menikah dan menimang cicit sebelum tahun ini berakhir. Jika aku menolak, posisi CEO yang saat ini kupegang akan dialihkan kepada sepupuku yang tidak berguna itu."

Adrian menjeda kalimatnya sejenak. Matanya yang tajam menatap Naura dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan. Gadis di depannya hanya mengenakan kemeja polos yang warnanya sudah agak memudar dan rok kerja yang tampak usang. Rambut hitamnya diikat asal-asalan, memperlihatkan wajah pucat tanpa riasan, namun memiliki mata bulat yang jernih dan bibir alami yang ranum.

"Aku tidak punya waktu untuk mencari wanita yang setara, dan aku juga tidak berminat terlibat dalam drama percintaan yang merepotkan. Jadi, aku butuh seseorang yang bisa diajak bekerja sama. Seseorang yang cukup putus asa hingga tidak akan berani macam-macam. Dan kebetulan, keluargamu sedang butuh uang dalam jumlah besar, bukan?" lanjut Adrian sinis.

Naura meremas ujung roknya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasanya harga dirinya baru saja dilempar ke lantai dan diinjak-injak oleh pria sombong di hadapannya. Adrian memperlakukan pernikahan seolah-olah itu hanyalah salah satu dari transaksi bisnisnya yang dingin.

"Satu tahun," ucap Adrian lagi, mengetukkan jemarinya yang berhiaskan jam tangan mewah ke lengan sofa. "Kita hanya perlu berpura-pura menjadi suami istri yang harmonis di depan publik dan di hadapan kakekku. Selama satu tahun itu, kamu akan tinggal di mansionku. Setelah satu tahun berlalu, kita akan bercerai secara diam-diam. Kamu bebas pergi, dan aku akan memberikan uang kompensasi sebesar lima miliar rupiah sebagai modal hidupmu."

Lima miliar. Angka yang bahkan tidak pernah berani Naura impikan seumur hidupnya. Uang itu bisa menjamin kehidupan ibunya, membelikan rumah yang layak, dan membuat mereka tidak perlu lagi hidup terlunta-lunta.

Namun, bayaran dari semua itu adalah kebebasannya. Harganya adalah dirinya yang harus menjadi istri pajangan dari pria berdarah dingin ini.

Bayangan wajah pucat ibunya kembali melintas di benak Naura. Suara tangisnya sendiri di lorong rumah sakit saat memohon belas kasihan pihak administrasi kembali terngiang. Jika dia menolak malam ini, besok pagi ibunya mungkin sudah tidak ada lagi di dunia ini. Harga diri tidak akan bisa menghidupkan kembali ibunya yang sekarat.

"Apakah... ada aturan khusus yang harus aku patuhi selama menjadi istrimu, Tuan Adrian?" tanya Naura dengan suara yang diusahakan sekuat mungkin, meskipun getaran ketakutan tidak bisa sepenuhnya dia sembunyikan. Dia menatap langsung ke manik mata hitam Adrian yang kelam, mencoba menunjukkan bahwa dia tidak sepenuhnya tunduk.

Adrian menaikkan satu alisnya, sedikit terkejut dengan keberanian gadis di depannya yang berani menatap matanya secara langsung. Biasanya, para wanita akan menunduk malu atau gemetar ketakutan di bawah tatapannya. Sebuah senyuman sinis yang sangat tipis terukir di sudut bibir pria itu.

Adrian memajukan tubuhnya, menumpu kedua siku di atas lutut, mengikis jarak di antara mereka hingga Naura bisa mencium aroma maskulin yang mahal bercampur wangi mint yang tajam dari tubuh pria itu. Aura dominasi Adrian seketika mengurung Naura, membuatnya mendadak lupa bagaimana cara bernapas.

"Tentu saja ada. Aturan pertama dan yang paling penting..." Adrian menurunkan volume suaranya, namun setiap kata yang keluar terdengar seperti perintah yang tidak boleh dilanggar.

"Jangan pernah jatuh cinta padaku. Jangan pernah bermimpi untuk memiliki hatiku, karena itu tidak akan pernah terjadi. Dan aturan kedua, jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu. Di mataku dan di dalam mansionku, kamu tidak lebih dari sebuah pajangan yang bergerak. Paham?"

Kata-kata Adrian bagai belati yang menghujam tepat di dada Naura. Sakit, namun sekaligus memicu percikan amarah di dalam hatinya. Pria ini berpikir bahwa semua wanita di dunia ini akan berlutut dan memuja dirinya hanya karena dia kaya dan tampan? Sungguh terlalu sombong!

Naura menarik napas dalam-dalam, mengisi dadanya yang sesak dengan oksigen. Dia menegakkan bahunya, membalas tatapan dingin Adrian dengan binar mata yang tidak kalah tegas. Rasa sedih dan putus asanya kini telah melebur menjadi sebuah keteguhan hati.

"Baik. Saya paham," ujar Naura dingin.

Dia mengulurkan tangan, mengambil pulpen hitam mewah yang terletak di atas meja kerja Adrian. Tanpa ragu-ragu lagi, dengan satu tarikan napas, Naura menorehkan tanda tangannya di atas materai yang telah disediakan.

Sret.

Bunyi gesekan pulpen dengan kertas itu terdengar begitu jelas di dalam ruangan yang sunyi. Setelah selesai, Naura meletakkan kembali pulpen itu dengan perlahan, lalu mendorong dokumen tersebut ke arah Adrian.

"Setuju. Dan Anda juga harus mengingat satu hal, Tuan Adrian Mahendra yang terhormat," ucap Naura dengan nada suara yang tenang namun menusuk. "Aku menerima ini semua murni hanya demi pengobatan ibuku. Aku juga tidak akan pernah sudi jatuh cinta pada pria sombong, arogan, dan berdarah dingin seperti Anda. Jadi, Anda tidak perlu khawatir."

Adrian terpaku sejenak. Matanya menyipit, menatap lekat-lekat pada tanda tangan Naura, lalu beralih pada wajah gadis itu yang kini memancarkan aura ketegasan yang tak terduga. Ada sedikit kilat kejengkelan dan tidak suka di mata Adrian saat mendengar ucapan berani dari gadis yang baru saja dia "beli" itu. Biasanya, dialah yang menentukan segalanya, dan tidak ada satu orang pun yang berani membalas perkataannya seperti ini.

Adrian tersenyum dingin sambil mengambil dokumen itu. "Bagus kalau kamu sadar diri. Pengacara saya akan mengurus pemindahan ibumu ke ruang perawatan terbaik dan menjadwalkan operasinya besok pagi. Bersiaplah, lusa kita akan mendaftarkan pernikahan ini."

Naura tidak menjawab. Dia hanya berdiri, membungkukkan tubuhnya sedikit sebagai tanda kesopanan, lalu berbalik melangkah keluar dari ruangan itu dengan kepala tegak.

Saat pintu besar itu tertutup rapat di belakangnya, lutut Naura mendadak lemas. Dia bersandar pada dinding lorong rumah sakit, memegangi dadanya yang berdegup kencang. Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya luruh juga membasahi pipinya. Dia telah menjual satu tahun hidupnya.

Sementara di dalam ruangan, Adrian masih menatap pintu yang baru saja tertutup dengan pandangan yang sulit diartikan. Pria itu menyandarkan tubuhnya kembali, memutar pulpen di jarinya dengan seringai tipis. Adrian tidak tahu saja, bahwa dalam beberapa bulan ke depan, kata-kata dingin yang dia ucapkan malam ini akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.

Pria berdarah dingin itu tidak akan pernah menduga, bahwa dialah yang nantinya akan berlutut, mengemis cinta dari Naura, dan mengurung gadis itu dalam keposesifannya yang tanpa batas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!