Kejarlah ilmu sampai ke negeri cina, sepertinya berubah makna menjadi cinta. Reza dan keluarganya adalah penduduk lokal asli yang hidup dikawasan kota J, berteman dengan Chintya yang pendatang dari etnis cina bersama keluarganya yang mengelola toko kelontong.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaLiAs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan x Teman VIP 2
Hening menyelimuti lorong itu. Mahasiswa yang sesekali lewat hanya menatap aneh ke arah mereka, namun tidak berani mendekat karena bau comberan yang menusuk hidung.
Dini mematung. Hatinya hancur? Tentu saja. Rasanya perih mengetahui orang yang ia sukai ternyata mengabdikan seluruh hidupnya untuk mencintai wanita lain—wanita masa kecil yang bahkan belum tentu mengingatnya. Dini merasa kecewa dan sedih, egonya sebagai wanita populer di kampus sedikit tercubit karena "kalah saing" dengan sosok dari masa lalu.
Namun, perlahan-lahan, rasa sesak di dadanya mengendur, digantikan oleh perasaan lega yang aneh. Perasaannya akhirnya terjawab tanpa ia harus merendahkan diri dengan menembak duluan dan ditolak mentah-mentah.
Dini menatap pemuda kucel yang sedang berlutut di lumpur hitam di depannya itu. Alih-alih merasa ilfeel, Dini justru merasa sangat kagum. Di tengah dunia modern di mana janji mudah diingkari bak membalik telapak tangan, pria di depannya ini rela mengorbankan masa remajanya, kewarasannya, dan bahkan harga dirinya (dengan masuk selokan) demi sebuah janji di masa lalu. Kesetiaan Reza bukanlah kelemahan, melainkan sebuah kemewahan yang langka.
"Kamu cowok paling gila yang pernah aku kenal, Za," ucap Dini pelan. Ia tidak menangis. Ia memaksakan sebuah senyuman—senyuman tulus yang melegakan hati keduanya.
Tepat pada detik itu, jari tengah Reza menyentuh sesuatu yang keras, bulat, dan licin di antara akar rumput liar di dasar selokan.
Napas Reza terhenti. Dengan hati-hati, ia meraup lumpur di area tersebut. Saat ia mengangkat tangannya dan mencuci benda itu dengan air got yang sedikit mengalir, corak merah-biru yang familiar itu muncul dari balik lapisan lumpur.
"Ketemu..." bisik Reza. Suaranya pecah. "Ketemu, Mbak! Kelereng gue ketemu!"
Reza berdiri di dalam selokan, mengangkat kelereng itu tinggi-tinggi seolah ia baru saja menemukan bongkahan berlian sepuluh karat. Matanya berkaca-kaca menahan tangis haru. Ia mengusap kelereng itu dengan kemejanya yang sudah sama kotornya, lalu mendekapkannya ke dada. Syukurlah. Janjinya tidak ikut hanyut.
Melihat Reza yang menangis bahagia hanya karena kelereng baret, Dini tertawa kecil. Matanya ikut berkaca-kaca, bukan lagi karena patah hati, melainkan karena terenyuh melihat keteguhan hati pemuda itu.
"Alhamdulillah kalau gitu, Za," kata Dini lembut. Ia lalu berdiri, membersihkan sedikit debu dari gaun peach-nya yang kontras dengan keadaan Reza. "Za, dengerin aku ya. Aku emang sedih karena ternyata sainganku ada di benua lain dan nggak bisa dikalahin. Tapi aku lega. Makasih udah jujur sama aku."
Reza mendongak, merasa bersalah. "Maafin saya ya, Mbak."
"Nggak usah minta maaf," potong Dini cepat. "Tapi, sebagai ganti rugi karena kamu udah bikin aku patah hati sebelum nembak, kamu harus kasih aku satu hal."
"Apa itu, Mbak? Asal jangan suruh saya traktir makan di restoran mahal, dompet saya lagi puasa."
Dini tertawa lepas. "Bukan. Aku mau kita temenan. Berteman beneran. Aku mau jadi penonton VIP yang nyaksiin langsung akhir perjuangan kamu ini. Aku pengen tahu, apakah perjuangan cowok gila yang rela nyebur got ini bakal berakhir bahagia di Cina sana atau nggak. Boleh ya?"
Mendengar permintaan itu, beban berat di bahu Reza seakan menguap seketika. Ia mengangguk mantap sambil tersenyum lebar, memamerkan giginya yang kontras dengan wajahnya yang cemong oleh lumpur. "Boleh banget, Mbak. Kehormatan buat saya punya teman sehebat Mbak Dini."
"Oke, kalau gitu kesepakatan deal," ucap Dini. Ia mundur beberapa langkah sambil menutup hidung. "Sekarang kamu mending balik ke kosan deh, Za. Bau kamu udah kayak perpaduan sampah bantar gebang sama kaos kaki basah. Jangan sampai kamu ditangkep satpam kampus dikira siluman got. Semangat buat ujian lisan besok!"
Reza tertawa. Ia memanjat naik dari selokan, tubuhnya meneteskan air hitam yang menodai ubin lorong kampus. "Siap, Mbak! Makasih banyak!"
Mereka pun berpisah dengan damai. Tidak ada drama berlebihan, tidak ada permusuhan.
...