NovelToon NovelToon
Aku Pergi Setelah Kau Mendua

Aku Pergi Setelah Kau Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:447k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Naya selalu diabaikan Aslan, suaminya. Hingga suatu hari Aslan pergi dinas dan tak pulang selama tiga bulan.

Naya yang khawatir memutuskan untuk menyusulnya, Namun dia justru mendapati Aslan telah menikah siri dengan wanita lain secara diam-diam.

Tanpa marah dan tanpa meminta penjelasan, Naya memilih pergi dari kehidupan suaminya.
Namun, ketika Naya benar-benar menghilang, Aslan justru mulai menyadari bahwa kehilangan istrinya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Tubuh Naya luruh ke bawah setelah pintu tertutu rapat.

Kaki yang sejak pagi dipaksakan tegak akhirnya menyerah. Ia terduduk di lantai dingin dengan punggung bersandar pada pintu kayu. Koper yang dibawanya tertinggal beberapa langkah di depan, masih tertutup ritsleting, seolah menunggu pemiliknya bangkit dan membereskan semuanya. Tapi Naya tidak bergerak. Ia menarik kedua lutut ke dada, menelungkupkan wajah di atasnya, dan membiarkan tubuhnya bergetar hebat.

Isak tangis yang sejak tadi ia tahan di depan Aslan, kini pecah tanpa ampun. Suaranya yang awalnya hanya getaran, perlahan semakin keras hingga memenuhi ruang apartemen itu. Bahunya naik-turun, jari-jarinya mencengkeram kain celana hingga buku-buku jarinya memutih. Air mata mengalir deras, membasahi lutut, seolah seluruh rasa sakit yang sempat ia bekukan akhirnya mencair sekaligus.

Ia menangis untuk semua rasa sakit yang dia simpan selama ini.

Naya menangis sampai napasnya tersengal-sengal. Sampai tenggorokannya sakit. Sampai matanya membengkak dan kepalanya berdenyut. Ia tidak mencoba menghentikan. Tidak mencoba bersikap kuat. Tidak ada lagi yang perlu dilihat, tidak ada lagi yang perlu ditipu dengan wajah datar. Di sini, di unit kecil yang masih berbau cat baru dan belum memiliki satu pun perabotan, ia akhirnya bisa hancur tanpa ada siapapun yang melihatnya.

Tanpa dia sadari waktu berlalu begitu cepat. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela tanpa gorden perlahan bergeser di lantai. Isaknya mulai mereda menjadi isakan kecil yang tersendat-sendat, lalu menjadi napas gemetar yang panjang. Naya masih menunduk, wajah masih tersembunyi di balik lutut, tapi genggaman di celananya perlahan mengendur.

Pelan-pelan, ia mengangkat kepala. Pipinya basah, mata merah, rambut berantakan menempel di dahi. Ia menyandarkan kepala ke pintu, menatap langit-langit putih yang kosong. Senyum pahit sempat muncul di sudut bibirnya—senyum yang sama seperti saat ia menunjukkan rekaman pada Aslan tadi pagi.

“Ini terkahir kalinya aku menangisi tentangmu, Aslan…” bisiknya serak, suara hampir tidak terdengar.

Ia mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangan, lalu menarik napas dalam-dalam berkali-kali. Rasa sakit di dada masih ada, masih menusuk, tapi sekarang sudah tidak lagi terasa seperti akan membunuhnya. Yang tersisa hanyalah kelelahan yang sangat dalam… dan keputusan yang semakin mengeras.

Naya mendorong tubuhnya bangkit dengan tangan yang masih gemetar. Kaki terasa kesemutan, pinggang pegal, tapi ia memaksa diri berdiri. Ia berjalan menuju koper, membuka ritsleting, lalu mengeluarkan handuk kecil dan botol air mineral. Wajah dibasuh, mulut dibilas, rambut dirapikan seadanya.

Di cermin kecil di kamar mandi apartemen itu, ia menatap bayangannya sendiri. Mata masih bengkak, pipi masih memerah bekas tamparan dan air mata, tapi tatapannya sudah kembali datar. Bukan tatapan wanita yang kalah. Melainkan tatapan seseorang yang sudah menangis sampai habis… dan siap berdiri lagi.

Naya kembali ke ruang utama, duduk di lantai karena belum ada kursi, lalu membuka laptop. Layar menyala. Email dari kampus masih menunggu. Dan pesan singkat dari Adrian.

Ia mengetik balasan singkat untuk pengacaranya.

"Saya sudah keluar dari rumah itu. Semua bukti tetap di tangan saya. Silakan lanjutkan prosesnya"

Pesan terkirim.

Naya menutup laptop, menyandarkan kepala ke dinding, dan memejamkan mata sejenak. Di luar jendela, kota terus bergerak. Di suatu tempat di kota yang sama, mungkin ada seseorang yang bahagia melihat kehancuran rumah tangganya.

******

Tiga hari kemudian.

Aslan baru saja sampai di kantor, masih dengan wajah kesalnya yang belum hilang dari kemarin-kemarin. Jasnya sempat dia lepas di mobil, kemeja putihnya agak kusut karena tidak ada lagi yang menyetrikanya.

Tapi belum sempet duduk manis, Faris udah menunggu di depan meja dengan wajah serius. Di tangannya terdapat amplop coklat yang terlihat resmi.

“Tuan, ada surat dari pengadilan,” ucap Faris pelan, sedikit ragu.

Aslan yang lagi mau duduk langsung mengurungkannya. Alisnya berkerut menatap Faris “Pengadilan?" tanya Aslan memastikan.

“Pengadilan Agama, Tuan,” jelas Faris sambil nyodorin amplop itu. “Sepertinya nyonya Naya benar-benar menggugat anda, tuan"

Aslan nerima amplop itu dengan tangan yang agak kaku. Dia liat-liat segelnya, terus sobek pelan-pelan. Begitu isinya keluar dan dia baca baris demi baris, wajahnya berubah total. Tangan yang pegang kertas itu langsung mengepal kuat sampai urat-uratnya keliatan. Rahangnya mengeras, pelipisnya berdenyut.

“Sialan…Naya benar-benar ingin bercerai dariku"

Faris diam saja, tidak berani bicara apa-apa. Dia sudah menduga dari kemarin kalau hubungan bosnya dan sang istri lagi berantakan, tapi nggak nyangka sampai masuk ke pengadilan secepat ini.

Aslan membanting amplop itu ke meja. Kertas panggilan pengadilan terlempar di atas tumpukan dokumen kerja. Matanya merah, bukan karena sedih, tapi karena marah campur kaget yang menjadi satu. Selama tiga hari ini dia yakin mati-matian kalau Naya cuma menggertaknya saja. Dia pikir istrinya itu bakalan balik sendiri, meminta maaf, dan setelahnya akan kembali seperti biasa. Tapi kenyataan diluar dugaan. Naya beneran menggugat cerai dirinya. Dan sekarang surat resmi dari pengadilan udah di mejanya.

“Dia beneran nggak main-main…” ucap Aslan pelan, lebih kayak ngomong sama diri sendiri. “Perempuan itu… beneran menggugatku”

Dia duduk berat di kursi, terus mengusap wajahnya kasar menggunakan kedua tangannya.

Faris masih berdiri di dekat meja, “Tuan… mau saya hubungi pengacara anda?" tawar Faris.

Aslan ngangkat muka. Matanya tajam. “Jangan dulu. saya sedang berpikir”

Dia mengambil ponselnya, mencoba menghubungi Naya. Tapi wanita itu tidak mengangkat panggilannya.

Aslan yang kesal langsung melempar ponselnya ke meja sampe berbunyi keras. “Sialan, perempuan itu benar-benar menguji kesabaranku"

Dia berdiri lagi, jalan mondar-mandir sambil mengumpat kesal.

Faris akhirnya kembali bersuara “Tuan, kalau memang udah masuk pengadilan, lebih baik kita siapkan langkah hukum. Jangan dibiarkan begitu saja.”

Aslan berhenti di depan jendela, membelakangi Faris. Pandangannya kosong menembus kaca, melihat gedung-gedung tinggi di luar. Di dalam dadanya, rasa marah masih membara.

“Siapkan pengacara terbaik yang kita punya,” ucapnya akhirnya, suara rendah tapi penuh tekanan. “Pastikan dia tidak mendapatkan harta gono gini sepeserpun"

Faris mengangguk cepat, terus keluar ruangan meninggalkan Aslan sendirian di ruangan.

Aslan mengambil kertas itu lagi, dan membaca ulang. Setiap baris yang dia baca membuat rahangnya mengeras. Nama Naya tercetak jelas sebagai penggugat, sedangkan namanya sebagai tergugat. Dan jadwal mediasi pertama udah tertera didalam undangan tersebut.

Dia ketawa kecil, ketawa yang pahit dan penuh kesal. “Kamu pikir bisa lepas dariku semudah itu, Naya?” gumamnya.

1
Cicih Sophiana
semoga kamu bahagia Nay... dapat laki laki yg baik dan setia
Cicih Sophiana
cie yg mau menikah sape segitu semangat nya...
Cicih Sophiana
klo di masakin suka aja deh... klo masak sendiri kan males🫢
Cicih Sophiana
kelamaan nih perang nya... hancurkan aja deh Aslan dan si pelakor nya
Cicih Sophiana
cie udah panggil sayang nih..
Cicih Sophiana
aq menunggu karma untuk si Aslan dan si Lusi... enak sekali jadi mereka orang jahat gak dapat balasan..
Cicih Sophiana
eh Aslan klo mau nyalahin... salah kan diri sendiri kamu yg egois... harta gono gini kamu mau menguasai sendiri...
Rini Maryani
lanjut thoor semangat
Cicih Sophiana
semoga bahagia Naya lupakan masa lalu mu bersama si Aslan... sosong masa depan mu bersama Erlan..
Cicih Sophiana
masih kurang tuh penderitaan Aslan dan si Liza seharus nya anak nya tdk selamat... kan kasian sama anak nya krn dia jd anak haram...
Cicih Sophiana
hak kamu apa Liza? nikah pun nikah siri yg gak punya hak... anak nya pun gak ada hak krn tdk terdaftar di negara... kamu mau nuntut siapa ? gak akan bisa biar kepengadilan pun
Cicih Sophiana
semoga yg jahat mendapat balasan yg setimpal... yg baik kedepan nya bahagia
Cicih Sophiana
yah awasin aja terus....
Cicih Sophiana
nih Aslan Liza..🤛🤛
Sholawat Nariyah
AUTHOR GUOBLOK membiarkan tokohu utamanya tdk tegas, dan tenggelam dlm kebodohan yg berlarut 👎
Cicih Sophiana
knp selamat... dulu Naya di larang punya anak... seharus nya keguguran dong si pelakor nya jgn di kasih bahagia mereka
Cicih Sophiana
terus lah begitu semakin hancur, rumah tdk terbayar, si Liza keguguran 😂 si Aslan bangkrut
Cicih Sophiana
sukur lah akhir nya rumah itu terjual... wah si Liza klo tau langsung stres dan langsung keguguran
Cicih Sophiana
untuk si Aslan cobalah sadar diri... itu emang sdh hak nya Naya... dia bukan merehut tp menganmbi hak nya Aslan..
Cicih Sophiana
hancur kan mereka... mereka yg serakah dan mereka yg zolim sama istri sah tapi mereka sll menyalah kan Naya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!