NovelToon NovelToon
Aku Pergi Setelah Kau Mendua

Aku Pergi Setelah Kau Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:113.7k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Naya selalu diabaikan Aslan, suaminya. Hingga suatu hari Aslan pergi dinas dan tak pulang selama tiga bulan.

Naya yang khawatir memutuskan untuk menyusulnya, Namun dia justru mendapati Aslan telah menikah siri dengan wanita lain secara diam-diam.

Tanpa marah dan tanpa meminta penjelasan, Naya memilih pergi dari kehidupan suaminya.
Namun, ketika Naya benar-benar menghilang, Aslan justru mulai menyadari bahwa kehilangan istrinya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Tubuh Naya luruh ke bawah setelah pintu tertutu rapat.

Kaki yang sejak pagi dipaksakan tegak akhirnya menyerah. Ia terduduk di lantai dingin dengan punggung bersandar pada pintu kayu. Koper yang dibawanya tertinggal beberapa langkah di depan, masih tertutup ritsleting, seolah menunggu pemiliknya bangkit dan membereskan semuanya. Tapi Naya tidak bergerak. Ia menarik kedua lutut ke dada, menelungkupkan wajah di atasnya, dan membiarkan tubuhnya bergetar hebat.

Isak tangis yang sejak tadi ia tahan di depan Aslan, kini pecah tanpa ampun. Suaranya yang awalnya hanya getaran, perlahan semakin keras hingga memenuhi ruang apartemen itu. Bahunya naik-turun, jari-jarinya mencengkeram kain celana hingga buku-buku jarinya memutih. Air mata mengalir deras, membasahi lutut, seolah seluruh rasa sakit yang sempat ia bekukan akhirnya mencair sekaligus.

Ia menangis untuk semua rasa sakit yang dia simpan selama ini.

Naya menangis sampai napasnya tersengal-sengal. Sampai tenggorokannya sakit. Sampai matanya membengkak dan kepalanya berdenyut. Ia tidak mencoba menghentikan. Tidak mencoba bersikap kuat. Tidak ada lagi yang perlu dilihat, tidak ada lagi yang perlu ditipu dengan wajah datar. Di sini, di unit kecil yang masih berbau cat baru dan belum memiliki satu pun perabotan, ia akhirnya bisa hancur tanpa ada siapapun yang melihatnya.

Tanpa dia sadari waktu berlalu begitu cepat. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela tanpa gorden perlahan bergeser di lantai. Isaknya mulai mereda menjadi isakan kecil yang tersendat-sendat, lalu menjadi napas gemetar yang panjang. Naya masih menunduk, wajah masih tersembunyi di balik lutut, tapi genggaman di celananya perlahan mengendur.

Pelan-pelan, ia mengangkat kepala. Pipinya basah, mata merah, rambut berantakan menempel di dahi. Ia menyandarkan kepala ke pintu, menatap langit-langit putih yang kosong. Senyum pahit sempat muncul di sudut bibirnya—senyum yang sama seperti saat ia menunjukkan rekaman pada Aslan tadi pagi.

“Ini terkahir kalinya aku menangisi tentangmu, Aslan…” bisiknya serak, suara hampir tidak terdengar.

Ia mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangan, lalu menarik napas dalam-dalam berkali-kali. Rasa sakit di dada masih ada, masih menusuk, tapi sekarang sudah tidak lagi terasa seperti akan membunuhnya. Yang tersisa hanyalah kelelahan yang sangat dalam… dan keputusan yang semakin mengeras.

Naya mendorong tubuhnya bangkit dengan tangan yang masih gemetar. Kaki terasa kesemutan, pinggang pegal, tapi ia memaksa diri berdiri. Ia berjalan menuju koper, membuka ritsleting, lalu mengeluarkan handuk kecil dan botol air mineral. Wajah dibasuh, mulut dibilas, rambut dirapikan seadanya.

Di cermin kecil di kamar mandi apartemen itu, ia menatap bayangannya sendiri. Mata masih bengkak, pipi masih memerah bekas tamparan dan air mata, tapi tatapannya sudah kembali datar. Bukan tatapan wanita yang kalah. Melainkan tatapan seseorang yang sudah menangis sampai habis… dan siap berdiri lagi.

Naya kembali ke ruang utama, duduk di lantai karena belum ada kursi, lalu membuka laptop. Layar menyala. Email dari kampus masih menunggu. Dan pesan singkat dari Adrian.

Ia mengetik balasan singkat untuk pengacaranya.

"Saya sudah keluar dari rumah itu. Semua bukti tetap di tangan saya. Silakan lanjutkan prosesnya"

Pesan terkirim.

Naya menutup laptop, menyandarkan kepala ke dinding, dan memejamkan mata sejenak. Di luar jendela, kota terus bergerak. Di suatu tempat di kota yang sama, mungkin ada seseorang yang bahagia melihat kehancuran rumah tangganya.

******

Tiga hari kemudian.

Aslan baru saja sampai di kantor, masih dengan wajah kesalnya yang belum hilang dari kemarin-kemarin. Jasnya sempat dia lepas di mobil, kemeja putihnya agak kusut karena tidak ada lagi yang menyetrikanya.

Tapi belum sempet duduk manis, Faris udah menunggu di depan meja dengan wajah serius. Di tangannya terdapat amplop coklat yang terlihat resmi.

“Tuan, ada surat dari pengadilan,” ucap Faris pelan, sedikit ragu.

Aslan yang lagi mau duduk langsung mengurungkannya. Alisnya berkerut menatap Faris “Pengadilan?" tanya Aslan memastikan.

“Pengadilan Agama, Tuan,” jelas Faris sambil nyodorin amplop itu. “Sepertinya nyonya Naya benar-benar menggugat anda, tuan"

Aslan nerima amplop itu dengan tangan yang agak kaku. Dia liat-liat segelnya, terus sobek pelan-pelan. Begitu isinya keluar dan dia baca baris demi baris, wajahnya berubah total. Tangan yang pegang kertas itu langsung mengepal kuat sampai urat-uratnya keliatan. Rahangnya mengeras, pelipisnya berdenyut.

“Sialan…Naya benar-benar ingin bercerai dariku"

Faris diam saja, tidak berani bicara apa-apa. Dia sudah menduga dari kemarin kalau hubungan bosnya dan sang istri lagi berantakan, tapi nggak nyangka sampai masuk ke pengadilan secepat ini.

Aslan membanting amplop itu ke meja. Kertas panggilan pengadilan terlempar di atas tumpukan dokumen kerja. Matanya merah, bukan karena sedih, tapi karena marah campur kaget yang menjadi satu. Selama tiga hari ini dia yakin mati-matian kalau Naya cuma menggertaknya saja. Dia pikir istrinya itu bakalan balik sendiri, meminta maaf, dan setelahnya akan kembali seperti biasa. Tapi kenyataan diluar dugaan. Naya beneran menggugat cerai dirinya. Dan sekarang surat resmi dari pengadilan udah di mejanya.

“Dia beneran nggak main-main…” ucap Aslan pelan, lebih kayak ngomong sama diri sendiri. “Perempuan itu… beneran menggugatku”

Dia duduk berat di kursi, terus mengusap wajahnya kasar menggunakan kedua tangannya.

Faris masih berdiri di dekat meja, “Tuan… mau saya hubungi pengacara anda?" tawar Faris.

Aslan ngangkat muka. Matanya tajam. “Jangan dulu. saya sedang berpikir”

Dia mengambil ponselnya, mencoba menghubungi Naya. Tapi wanita itu tidak mengangkat panggilannya.

Aslan yang kesal langsung melempar ponselnya ke meja sampe berbunyi keras. “Sialan, perempuan itu benar-benar menguji kesabaranku"

Dia berdiri lagi, jalan mondar-mandir sambil mengumpat kesal.

Faris akhirnya kembali bersuara “Tuan, kalau memang udah masuk pengadilan, lebih baik kita siapkan langkah hukum. Jangan dibiarkan begitu saja.”

Aslan berhenti di depan jendela, membelakangi Faris. Pandangannya kosong menembus kaca, melihat gedung-gedung tinggi di luar. Di dalam dadanya, rasa marah masih membara.

“Siapkan pengacara terbaik yang kita punya,” ucapnya akhirnya, suara rendah tapi penuh tekanan. “Pastikan dia tidak mendapatkan harta gono gini sepeserpun"

Faris mengangguk cepat, terus keluar ruangan meninggalkan Aslan sendirian di ruangan.

Aslan mengambil kertas itu lagi, dan membaca ulang. Setiap baris yang dia baca membuat rahangnya mengeras. Nama Naya tercetak jelas sebagai penggugat, sedangkan namanya sebagai tergugat. Dan jadwal mediasi pertama udah tertera didalam undangan tersebut.

Dia ketawa kecil, ketawa yang pahit dan penuh kesal. “Kamu pikir bisa lepas dariku semudah itu, Naya?” gumamnya.

1
sunaryati jarum
Segera saja nikahnya, Aslan kamu masih belum menyerah walau selalu kalah.Ingatlah perusahaan kamu yang masih digantungkan untuk mencari nafkah banyak karyawan kamu,kau tidak takut Erland melawan, kemarin - kemarin Erland hanya bertahan saja kamu kalah, apalagi jika melawan, kesabaran ada batasnya,Aslan
sunaryati jarum
Bagus seperti dapat kode Erland gercep langsung lamar Naya.Semoga sampai pernikahan tidak kendala
Talnis Marsy
resiko jadi selir atau selingkuhan ya kayak gitu Liza..cuma di jadikan pelampiasan sesaat..
sakit kan????
sunaryati jarum
Aslan dendam kamu pada Naya atas kesalahan kamu hanya membakar dirimu hingga hancur.Erland bukan lawanmu dia punya pertahanan kuat.Jika kamu berlanjut tidak akan lama lagi perusahaan kamu hancur, karena banyak pengeluaran untuk menyerang Erland
Agus Tina
Di cerita ini, Liza spt diposisikan sbg korban. Padahal itu akibat dari perbuatan sendiri ... jika memutuskan untuk menjadi pihak ketiga ya harus siap jika pihak kesatu kadang masih memikirkan pihak kedua, entah karena masih cinta, atau hal lainnya .
Ariany Sudjana
sama bodohnya semua 😂😂🤣🤣
sunaryati jarum
Lebih cepat lebih baik Erland ,ingat usia.Usia hampir empat puluh tahun usia krusial untuk hamil,namun jika Sang Pemberi sudah berkehendak tidak ada yang mustahil.
Ilfa Yarni
Hari Hari menuju bajagia Naya pantas mendapatkannyakarena Utah cukup dia menderita Karen'a Punya suami yg jahat Dan dia Salah memilih Dan skr Ada erlan yg mencintainya dgn tulus
Ntahlah
haaai kak
sunaryati jarum
Tanpa basa-basi langsung ke intinya, emak setuju, kalian sudah dewasa dan sudah mengenal lama.,tak perlu pacaran atau pertunangan langsung nikah.
Ilfa Yarni
asyik mereka akan menikah aku tunggu udangannya ya
sunaryati jarum
Erland sudah kebelet nikah,Nih.Ayo Naya dari pada jantungmu berdetak kencang terus -, terusan jika di dekat Erland,lebih baik segera terima cintanya dan nikah,agar tidak kebablasan
YuWie
sweet bgt er..tapi tetap waspada ya
yumi chan
wah cpt2 nkh aja thor..biar aslan kpnsan
Ilfa Yarni
wah erlan gercep nih udah tidur bareng aja Gpp sih jgn sampe gagal untuk yg kedua Kali ya erlan kekep trus naya ya sampe jadi oh ya jgn lengah aslan msh ga mau Kalah mending hancurkan sekalian drpd mengganggu trus
Ma Em
Thor jgn biarkan Aslan mengusik ketenangan perusahaan yg Erlan pimpin , biarkan Aslan jatuh akibat perbuatan nya sendiri dan istri sirinya yg sdh ketakutan tdk kebagian warisan untuk anak yg msh di dlm kandungan nya makin menderita .
sunaryati jarum
Aslan makin nekat tabiat serakah dan pelit mendominasi jiwanya.Sudah jelas kalah karena kesalahannya sendiri seharusnya membiarkan Naya menjual yang menjadi haknya.Akibat ulahmu yang menghalanginya kau berurusan dengan Erland.Kenekatanmu pada Erland akan membawa kehancuranmu sendiri, Erland hanya bertahan saja kamu kalah,apalagi nanti balik menyerang.
YuWie
jadi berlete2 perang urat sarafnya..ehh tapi faris hebat lho, apa2 dia tau.
Ariany Sudjana
terlalu lama Erland membiarkan Aslan bergerak, kenapa ga langsung dihancurkan saja?
YuWie
ternyata kekuatan erlan sebanding dg aslan..kupikir lebih besar perusahaan dan pengaruhnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!