Hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidup Zoey berubah menjadi mimpi buruk.
Di depan ratusan tamu undangan, sahabat yang paling ia percaya mengaku tengah mengandung anak calon suaminya.
Tak ingin keluarganya dipermalukan, Zoey melakukan sesuatu yang bahkan tak pernah terlintas di benaknya. Ia menarik tangan seorang pria asing yang kebetulan hadir sebagai tamu.
“Aku akan menikah dengannya.”
Pria itu adalah Damian, konglomerat tampan berusia tiga puluh delapan tahun yang dikenal dingin, berwibawa dan sulit didekati. Demi alasan masing-masing, mereka sepakat menjalani pernikahan tanpa cinta.
Namun, sesaat setelah resmi menjadi suami istri, Zoey dibuat syok oleh kenyataan yang sengaja tidak diberitahukan Damian. Pria itu adalah seorang duda dengan anak kembar berusia enam belas tahun.
Mampukah Zoey menaklukkan sang duda yang menutup hatinya sekaligus memenangkan hati kedua kembar nakalnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 3
Mobil mewah itu melaju mulus meninggalkan hotel, tempat Zoey baru saja mengikat janji suci dengan seorang pria yang bahkan belum benar-benar ia kenal.
Di dalam, suasana terasa canggung dan sangat kaku. Tak ada percakapan romantis layaknya pengantin baru.
Damian duduk dengan tenang sambil menyilangkan kaki, sibuk membaca deretan angka dan grafik pada tablet miliknya, seolah rentetan drama pernikahan gila yang baru saja berlangsung hanyalah selingan kecil dalam jadwal padatnya.
Sementara itu, Zoey berkali-kali melirik pria di sampingnya. Semakin dipikirkan, semakin banyak pertanyaan yang meledak-ledak di kepalanya.
Akhirnya, ia tak tahan lagi.
“Damian.”
“Hmm?” gumam Damian tanpa menoleh.
“Ada satu hal yang sejak tadi sangat menggangguku.”
Damian menoleh sekilas, menatap wajah istri dadakannya yang tampak resah. “Katakan saja.”
Zoey mengembuskan napas panjang, meremas gaun pengantinnya yang mulai terasa gatal.
“Kenapa dari awal kau tidak bilang kalau kau ini duda beranak dua?”
Mobil mendadak kembali sunyi. Damian sama sekali tidak terlihat terkejut mendengar pertanyaan menuntut itu. Ia mematikan layar tablet-nya dan menatap lurus ke depan dengan tenang.
“Aku sudah memperingatkan mu, Zoey. Jangan menyesali pilihanmu,” ucap Damian mengulang kalimat yang sempat ia katakan di balkon hotel. “Bukankah peringatan itu sudah cukup jelas?”
Zoey memejamkan mata sejenak, menahan rasa frustrasi. “Itu tidak jelas sama sekali, Tuan Damian yang terhormat! Itu terdengar seperti ancaman mafia, bukan pengakuan status perkawinan!”
“Bagiku cukup jelas.”
Zoey memijat pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri. “Setidaknya kau bisa mengatakan kalau kau sudah pernah menikah dan punya dua anak.”
Damian mengangkat bahunya santai.
“Apa bedanya? Memangnya kalau aku jujur dari awal, kau mau membatalkan niatmu menyeret ku ke altar?”
“Aku... aku kan bisa berpikir dua kali!”
“Tapi pada akhirnya kau tetap akan memilihku untuk menikahi mu, kan?” sahut Damian dengan nada datar.
Kalimat itu membuat Zoey terdiam mati kutu. Sialnya, pria ini memang seratus persen benar. Saat itu Zoey sudah tersudut. Tidak ada pria lain di ballroom itu yang berani menentang Arga dan menyelamatkan harga diri keluarganya selain Damian.
Zoey menghela napas panjang, mencoba berdamai dengan nasibnya.
”Baiklah. Tidak masalah. Mau kau duda anak dua, anak tiga, atau perjaka sekalipun. Perjaka juga kalau brengsek seperti Arga buat apa,” ucap Zoey berusaha menyunggingkan senyuman tegar. “Lagipula, mengurus dua anak kecil seharusnya bukan hal yang sulit. Aku sangat suka anak-anak. Menyanyikan lagu Baby Shark atau menemani mereka bermain Lego adalah keahlianku.”
Damian menatap wajah istrinya beberapa detik. Ada kilatan geli di mata pria itu, namun hanya sesaat sebelum wajahnya kembali sedingin es.
“Semoga saja kau bisa menghadapi mereka dengan lagu Baby Shark-mu itu.”
Jawaban singkat Damian entah mengapa membuat tengkuk Zoey merinding.
****
Tiga puluh menit kemudian, mobil memasuki kawasan elite perbukitan. Di ujung jalan, berdiri sebuah mansion megah bergaya klasik modern yang dikelilingi taman luas, lengkap dengan air mancur menjulang di bagian depan.
Zoey hanya bisa berdecak kagum, matanya membulat.
“Rumahmu ini lumayan besar.”
“Rumah kita,” koreksi Damian singkat seraya membuka pintu mobil.
Dua kata sederhana itu lagi-lagi membuat dada Zoey sedikit berdebar.
“Selamat datang, Tuan. Selamat datang, Nyonya.”
Belasan pelayan berseragam rapi sudah berbaris menunduk hormat menyambut kedatangan mereka di pintu utama.
Zoey tersenyum kikuk, melambaikan tangan canggung. Sementara Damian langsung menyerahkan jasnya kepada pria paruh baya yang tampaknya adalah kepala pelayan.
“Lukas.”
“Ya, Tuan Damian.”
“Panggil Victor dan Victoria turun.”
“Baik, Tuan.”
Zoey kembali menghela napas. Dalam benaknya, ia mulai memvisualisasikan dua balita menggemaskan berambut ikal yang sedang berlarian memegang botol susu.
Atau paling mentok, anak kecil berseragam taman kanak-kanak yang lucu.
“Lukas, apakah perlu aku siapkan susu hangat atau cookies untuk mereka? Dimana ruang bermainnya? Aku takut tersandung mainan balok mereka,” ucap Zoey.
Lukas menatap Zoey dengan raut kebingungan yang amat sangat, lalu melirik Damian meminta pertolongan. Damian hanya mengangkat tangan, memberi isyarat agar Lukas diam.
“Semoga mereka menyukaiku,” gumam Zoey pelan, menyemangati dirinya sendiri. Ia bahkan sudah berlatih mengubah nada suaranya menjadi lebih imut di dalam kepala.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang berat dari lantai dua. Zoey spontan memperbaiki posisi berdirinya. Senyum paling manis dan keibuan langsung terukir cerah di wajah cantiknya.
“Mungkin mereka akan malu-malu dan sembunyi di balik kakimu," bisik Zoey pada Damian.
Namun detik berikutnya, senyum keibuan di wajah Zoey perlahan membeku, lalu retak dan akhirnya hancur berkeping-keping.
Yang turun dari tangga itu bukan dua bocah mungil lucu pecinta Baby Shark.
Melainkan seorang remaja laki-laki bertubuh raksasa, nyaris menyamai tinggi Damian.
Tingginya minimal seratus delapan puluh lima sentimeter. Rambut hitamnya dibiarkan berantakan, kemeja seragam sekolah menengah atasnya sengaja dikeluarkan dari celana, sementara dasinya menggantung asal di leher.
Auranya persis berandalan sekolah.
Di belakangnya, menyusul seorang gadis remaja cantik berambut panjang dengan wajah super datar. Ia memakai rok mini kotak-kotak yang dipadukan dengan jaket kulit hitam kebesaran yang disampirkan di bahu, lengkap dengan earphone yang masih menyumpal telinganya, mengunyah permen karet dengan gaya arogan.
Keduanya menuruni tangga dan berhenti tepat di depan Damian. Remaja laki-laki raksasa itu memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
“Papa, ada apa memanggil kami turun? Aku sedang push rank,” tanyanya santai.
Zoey membelalakkan matanya hingga nyaris copot.
Papa katanya?
Tatapan Zoey berpindah dari Damian lalu kedua remaja jangkung itu dan kembali lagi kepada Damian. Otaknya seketika konslet.